| Website : http://artikel.handoko.net | main site » |
| 2010
| 2009
| 2008
| 2007
| 2006
| 2005
| 2004
| 2003
| 2002
|
: scientific article
Published in
fisik@net (L.T. Handoko, 8 Februari 2010)
Secara kasat mata, dan umumnya awam memandang, benda (materi) bisa dibedakan menjadi 3 jenis : padat, cair dan gas. Pandangan ini jelas tidak salah dan merupakan salah satu hukum fisika paling dasar yang telah dikenal sejak awal peradaban manusia.
Tetapi tahukah Anda bahwa hukum-hukum fisika yang dipakai untuk menjelaskan aneka fenomena, khususnya yang berskala makro, dari ketiga jenis materi diatas adalah sama. Ketiganya dijelaskan dan direpresentasikan memakai hukum mekanika klasik Newton ! Secara fisika ini berarti ketiga jenis materi diatas bukan merupakan materi elementer, alias pada hakekatnya merupakan materi yang sama...
Pembedaan pada ketiga jenis benda diatas hanya pada jenis gaya yang bekerja pada masing-masing jenis sesuai skala fisika yang mendasari fenomena yang dikaji. Misal, untuk fenomena benda cair dalam kapiler dikenakan gaya viskositas dan tekanan sehingga diperoleh persamaan gerak Navier-Stokes. Untuk benda padat yang jatuh bebas, gaya yang bekerja didominasi oleh gravitasi bumi sehingga diperoleh persamaan gerak gravitas dan seterusnya. Demikian juga dengan aneka fenomena terkait aliran udara makro, iklim dan sebagainya yang sebagian besar dikaji dengan memakai gaya-gaya fluida. Karena secara kasat mata, dinamika aliran udara bisa dianggap sama dengan aliran cairan.
Tetapi fokus utama tulisan ini bukan membahas gaya-gaya klasik dan aneka persamaan gerak yang muncul di aneka fenomena makroskopik seperti diatas. Tulisan ini akan mengungkap "kemungkinan" penjelasan "fenomena fluida" di level mendekati partikel elementer yang dikenal sebagai quark-gluon-plasma (QGP) memakai teori partikel elementer berbasis interaksi materi elementer "padat".
Fenomena partikel jumlah banyak sebagai dinamika fluida
Seringkali awam menganggap kemampuan manusia menciptakan teori untuk menjelaskan fenomena alam sudah sangat maju, terlebih dengan aneka terobosan teknologi aplikatif yang telah dinikmati dan menjadi ikon peradaban manusia modern dewasa ini. Tetapi yang terjadi sebenarnya adalah seluruh teknologi aplikatif yang ada merupakan efek pencapaian teori sampai awal abad XX, alias sebelum era Einstein ! Teknologi yang dikembangkan masih berkutat seputar aplikasi teori mekanika klasik Newton (untuk semua teknologi mekanis) dan teori Maxwell (untuk teknologi elektronik). Itulah sebabnya era teknologi saat ini disebut sebagai "elektron"-ika, karena semuanya berbasis aliran elektron yang merupakan dasar dari teori Maxwell untuk menjelaskan gaya listrik dan magnet (elektromagnetik).
Kembali ke masalah QGP, QGP merupakan fenomena dimana tumbukan dari dua hadron yang dipercepat menghasilkan suatu keadaan fisis yang disebut plasma sebelum menjadi hadron lain yang bisa diobservasi eksperimen. Fenomena ini terjadi di semua tumbukan partikel, tetapi selama ini tidak terlihat karena keterbatasan kemampuan detektor. Detektor modern dengan resolusi waktu yang tinggi memungkinkan manusia untuk "memotret" fenomena yang terjadi segera setelah hadron bertumbukan namun sebelum menghasilkan partikel hadron akhir. Eksperimen tercanggih untuk melihat fenomena ini dilakukan oleh kolaborasi ALICE di LHC CERN (lihat tulisan dengan judul Large Hadron Collider - LHC : Awal dari sebuah Akhir ?).
Berlawanan dengan kemajuan eksperimen, penjelasan teoritis untuk QGP masih sangat prematur. Secara garis besar ada 2 penjelasan umum, yaitu yang berdasarkan teori fluida relativistik (seperti mekanika fluida klasik tetapi memiliki sifat relativistik), serta kalkulasi berbasis QCD (quantum chromodynamics / teori gaya kuat). Karena produksi plasma merupakan hasil interaksi kuat (antar hadron), maka dipercaya interaksi yang dominan adalah interaksi kuat dengan mediasi partikel gluon. Tetapi karena plasma berisi banyak partikel gluon dan kuark, tidak bisa dilakukan kalkulasi standar di fisika partikel. Untuk itu dilakukan kalkulasi secara numerik dengan lattice QCD.
Dilain pihak, pendekatan ala dinamika fluida dimotivasi oleh kondisi plasma yang berupa campuran gluon dan kuark yang membentuk "awan" seperti layaknya fluida. Meski pendekatan ini lebih mudah dikalkulasi, secara teori kurang "menjual" karena bersifat ad-hoc, yaitu sekedar menjelaskan fenomena eksperimen dan bukan menjelaskan "apa dan mengapa" hal tersebut terjadi...
Untuk itulah grup kami melakukan kajian diantara kedua "mashab" diatas. Pendekatan kami adalah memulai semuanya dari teori interaksi kuat berbasis QCD. Karena QCD bersama dengan teori Glashow-Weinberg-Salam, disebut Model Standar, telah diverifikasi kebenarannya melalui ribuan eksperimen fisika partikel selama 6 dekade terakhir. Tetapi jelas QCD tidak dapat begitu saja dipakai akibat jumlah partikel berinteraksi yang sangat besar. Sebagai gambaran, kalkulasi analitik yang bisa dilakukan umumnya hanya mencakup 3 atau 4 partikel saja, sedangkan di dalam sebuah sistem QGP bisa meliputi 103 sampai 104 partikel baik gluon maupun kuark dan anti-kuark !
Pendekatan kedua adalah, dari teori QCD yang direpresentasikan dalam bentuk lagrangian seperti gambar diatas, kami membangun teori efektif fluida relativistik. Karena lagrangian di fisika partikel selalu relativistik, kami cukup mencari persamaan gerak relaivistik dari lagrangian tersebut. Setelah melakukan kajian selama lebih kurang 3 tahun (!!!), kami menemukan bahwa teori efektif tersebut bisa dicapai dengan mengganti bentuk vektor polarisasi εμa di dalam gluon Gμa menjadi kecepatan 4 dimensi vμa. Kecepatan disini menunjukkan kecepatan "partikel fluida" pembentuk fluida yang sebenarnya. Dengan kata lain teori ini menginterpretasikan fluida elementer dalam bentuk partikel boson.
Mengapa kesimpulan diatas bisa diambil ? Seperti bisa dibaca di publikasi yang telah diterbitkan tahun lalu [1], dari lagrangian diatas bisa dibentuk persamaan gerak relativistik, yang apabila diambil batas non-relativistik (kecepatannya jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya), persamaan gerak tersebut mereproduksi persamaan Euler untuk fluida klasik ! Entah ini kebetulan ataukah memang demikian hukum alam yang berlaku, kita tunggu konfirmasi dari eksperimen...;-).
Cerita dibalik ide
Detail cerita dan kesimpulan diatas mungkin menarik dan cukup kontroversial untuk para pelaku penelitian di bidang ini. Tetapi untuk awam mungkin sama sekali tidak ada artinya...;-(. Mungkin yang lebih menarik bagi awam adalah mengapa grup kami mulai melakukan dan sampai pada hasil seperti diatas, terlebih mengingat saya yang fisikawan partikel murni dilain pihak Sulaiman yang berkutat dengan pemodelan laut...
Semuanya bermula saat Sulaiman yang peneliti di TISDA BPPT dan lulusan Jurusan GM ITB datang ke lab saya dan meminta saya menjadi pembimbing S2 di awal 2004 saat dia baru masuk menjadi mahasiswa S2 di Fisika UI. Mengingat latar-belakang dan minat Sulaiman yang lebih ke arah dinamika fluida, tentu saja saya cenderung menolak permintaannya. Tetapi rupanya Sulaiman berbeda dengan umumnya mahasiswa berbasis simulasi numerik, yang bersangkutan sangat tertarik dengan aspek teori dan selama di ITB mengikuti hampir semua kuliah fisika teori di Jurusan Fisika !
Catatan : Sulaiman sebenarnya pernah menjadi tenaga honorer peneliti di P2 Fisika LIPI di Bandung sesaat setelah lulus kuliah. Namun akibat tidak diangkat menjadi PNS sampai lebih kurang 2 tahun, akhirnya dia pindah ke BPPT...
Dengan segala kebimbangan dan keraguan akhirnya saya menerima Sulaiman sebagai mahasiswa. Seperti perlakuan ke mahasiswa lain, mereka wajib melakukan seminar mingguan di Kampus UI Depok. Khusus untuk Sulaiman, saya mensyaratkan dia untuk "memberikan kuliah" mekanika fluida ke saya. Karena saya merasa tidak paham, selain dari dulu saya tidak berminat mendalami fluida, atau memang dari awal dulu tidak begitu mengerti juga... Karena saya hanya mengikuti kuliah mekanika fluida di Kumamoto selama 1 semester, itupun sudah sekitar tahun 1990-an... Akhirnya Sulaiman bertindak sebagai guru saya selama lebih kurang 3 bulan dan memberi kuliah intensif mekanika fluida. Saya memiliki impresi yang kuat atas kuliah tersebut, dan menikmati serta mengagumi bagaimana bagusnya Sulaiman memaparkan isinya.
Catatan : Belakangan saya baru menyadari bahwa di Pengantar tesis Sulaiman (Construction of Navier-Stokes Equation using Gauge Field Theory Approach) tertulis : "penulis terpaksa harus mengajar pembimbing mekanika fluida dari level dasar, tetapi 3 bulan setelahnya beliau sudah jauh lebih jago fluida daripada saya...dst".
Tetapi karena saya sudah telanjur terbentuk sebagai fisikawan partikel yang merepresentasikan teori dalam bentuk teori medan, saya merasa tidak nyaman dengan representasi fluida yang selalu berbasis persamaan gerak.
Akhirnya kami berdua sepakat untuk mencoba representasi teori fluida, khususnya yang relativistik, memakai teori medan. Cukup banyak try and error yang dilakukan sejak akhir tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 dimana grup fluida kami bertambah dengan kehadiran seorang mahasiswa S3 (T.P Djun) dan seorang S1 (A. Fajarudin). Selama kurun waktu 2005-2007 kami berdua mencoba mempublikasikan hasil sementara saat itu. Tetapi... tidak ada satupun yang berhasil menembus jurnal (internasional) ! Permasalahan utama adalah akibat minimnya pengetahuan dasar kami berdua di bidang yang lintas disiplin tersebut. Inilah pentingnya pengetahuan dasar akan komunitas dan keberadaan seorang senior dalam sebuah grup penelitian. Saya, meski sudah seharusnya menjadi senior, menjadi tidak berarti karena anak bawang di bidang tersebut...;-(.
Kebuntuan ini akhirnya terpecahkan setelah secara tidak sengaja dalam sebuah konferensi di luar negeri saya bertemu seorang ilmuwan eksperimentalis di bidang tumbukan ion berat yang tergabung dalam kolaborasi ALICE di LHC. Beliau dengan cepat langsung menukas bahwa model kami sangat relevan untuk kasus QGP. Masukan ini seolah memberi darah segar kepada saya waktu itu, dan langsung dalam bulan-bulan berikutnya kami mengubah strategi substansi dan penulisan paper kami ke arah penjelasan untuk QGP. Sebelumnya kami pernah mengarahkan ke mekanika fluida, yang tentu saja sama sekali tidak bisa dipahami oleh komunitas klasik. Juga ke arah kosmologi, tetapi saat itu masih terlalu prematur meski sebenarnya fenomena QGP sangat relevan di kosmologi.
Hikmah...
Apa hikmah di balik sejarah kecil ini ? Penelitian tidak selalu berjalan mulus dan lancar, terlebih bila Anda melakukan penelitian yang bersifat pionir dan bukan mengikuti tren global. Tetapi seyogyanya tanpa penelitian semacam ini, sejarah menunjukkan tidak akan ada terobosan. Meski tentu saja tidak semua hasil penelitian semacam ini akan berhasil menjadi salah satu pembentuk tren di masa depan.
Kesabaran dan keuletan diperlukan dalam sebuah penelitian. Saya sering melakukan penelitian yang bisa selesai menulis paper dan sekaligus diterbitkan dalam waktu kurang dari 3 bulan. Sebaliknya seperti cerita diatas, keberanian untuk "berjudi" dengan menghabiskan waktu 3 tahun tanpa publikasi adakalanya diperlukan. Seperti juga kehidupan dengan gelombang pasang surutnya, penelitian juga mengalami pasang surut. Disinilah perlunya spirit dasar bahwa kita melakukan penelitian sebagai bagian dari "kesenangan" dan "capaian hidup", lebih daripada sekedar untuk memiliki paper, atau apalagi hanya untuk mendapat kredit untuk kepangkatan.
Saat ini turunan dan aplikasi teori ini sedang kami aplikasikan untuk menghitung fenomenologi QGP, juga fenomena kosmologi seperti bintang neutron serta fenomena relativistik skala nano seperti dinamika DNA. Semoga semua bisa lancar terpublikasi dan tidak mengalami "babak-belur" seperti saat awal membangun teori ini. Akan saya laporkan kembali bila telah dipublikasikan...;-).
Referensi :
Published in Koran Tempo (L.T. Handoko, 28 October 2009)
Bagai master, ia menguasai segala jenis pengolahan dan optimalisasi buah kelapa menjadi bahan bakar. Juara LKIR 2009.
Penampilannya, tak bisa disangkal, memang sangat meyakinkan. Semua pertanyaan yang dilancarkan dewan juri seperti dapat dikembalikannya--meski cuma bermodal rujukan pada studi referensi.
Ibarat dunia hiburan, panggung Lomba Karya Ilmiah Remaja ke-41 di bidang ilmu pengetahuan teknik, Senin lalu, memang pantas menjadi milik Muhamad Wildan Yahya, 17 tahun. Bahasa yang disampaikan siswa Unit Pelaksana Teknis Dinas SMA Negeri 2 Pare Kediri, Jawa Timur, itu runut. Tutur kata dan pengalamannya juga terang-benderang, menggambarkan bahwa hari itu ia memang sangat siap.
Dua anggota kelompoknya, yang terpaksa menunggu di Kediri karena alasan efisiensi biaya, tidak menggerus kemampuannya mempresentasikan karya tulis ilmiah berjudul "Optimalisasi Produksi Biofuel dari Kelapa (Cocos nucifera) dengan Pengolahan Bertingkat" dengan sangat baik dan, satu lagi, tepat waktu. Tidak seperti pesaingnya, yang rata-rata mudah sekali disudutkan karena kelemahan metodologi penelitian ataupun ketidakefektivannya sebagai sebuah produk, Wildan mampu meyakinkan bahwa apa yang ia kerjakan bersama Ardhy Purwo dan Diana Sekar Sari adalah untuk memanfaatkan kelimpahan kelapa di daerah asal mereka. "Tidak ada limbah yang dihasilkan yang tidak berguna," begitu katanya.
Karya tulis ini, begitu pula Wildan dkk, dipilih sebagai yang terbaik di bidangnya, semalam. Mereka berhak atas hadiah uang tunai Rp 8 juta dan berpeluang mewakili pelajar pra-universitas Indonesia untuk bergabung dalam program tahunan Intel International Science and Engineering Fair 2010, yang diselenggarakan di San Jose, Amerika Serikat.
Setelah lolos seleksi pertama dari 60-an karya tulis ilmiah remaja di bidang teknik yang diterima panitia dari seluruh Indonesia, "pengolahan bertingkat kelapa" ini berhasil menyisihkan dua finalis lainnya untuk menjadi jawara. Satu finalis lainnya adalah "Oven Sakti (Alat Pembuat Telur Asin 48 Jam)", yang dibuat oleh M. Pandi Alam, Laily Immawati, dan Fitria Trisna Putri, siswa-siswi dari Diklat LPI Bina Bangsa, Jombang, Jawa Timur.
Karya tulis finalis lainnya adalah "Modifikasi Lesung Tradisional Menggunakan Prinsip Katrol" buatan Risalatul Amanah, Zidnie Dzakya Urbayani, dan Annisa Dejanira. Karya tulis milik tiga srikandi dari SMAIT Nur Hidayah, Sukoharjo, Jawa Tengah, ini dipilih sebagai juara kedua dan berhak atas hadiah uang tunai Rp 6 juta. Pandi dkk kebagian Rp 4 juta.
"Kami bukan cuma menilai ide dan orisinalitas, tapi juga proses ilmiahnya," kata Yudi Darma, anggota tim juri yang juga dosen di Program Studi Fisika Institut Teknologi Bandung. "Wildan punya data, literatur, dan menghasilkan sesuatu."
Menurut Yudi, apa yang dikerjakan Wildan dan kawan-kawan memang tidak unik lagi. Unsur kejutan yang berpotensi dihasilkan dari hasil penelitiannya tidak sebesar dua finalis lainnya. Apalagi kalau ingin mencari aspek efisiensi dan ekonomi.
"Tapi apa yang dia ingin coba buktikan dengan buah kelapa itu seluruhnya berhasil," kata Yudi soal kelebihan dan kekurangan setiap finalis menjelang pengumuman pemenang kemarin. "Wildan tahu apa yang dia kerjakan, membahasnya secara komprehensif, dan yang terpenting dia mengerti proses."
Total ada enam labu Erlenmeyer di atas sebuah nampan yang satu per satu diperkenalkan Wildan sebagai bukti setiap tingkat pengolahan yang telah dilakukan. Ia sudah fasih karena mengaku telah melakukan riset pengolahan sekaligus secara bertingkat pada buah kelapa itu sejak Mei. Sebelumnya, ia, di antaranya, mencoba menghasilkan biogas dari talas dan bioetanol dari sukun. "Penelitian insektisida dan pakan ternak juga pernah," kata siswa kurus, berkacamata, dan tampaknya betah sekali berada dalam laboratorium itu.
Pemanfaatan minyak kelapa untuk biosolar, oke, sudah jamak dilakukan. Pun dengan biogas. Tapi, bagaimana dengan bioetanol? Anggota tim juri lainnya, Erzi Agson-Gani, Kepala Pusat Teknologi Industri Manufaktur Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, mengungkapkan bahwa 4,6 persen kadar gula (karbohidrat) dalam air kelapa jelas tidak ekonomis untuk diolah menjadi bahan bakar jenis bensin itu. "Secara teori memang bisa dilakukan, tapi orang tidak pernah melakukan dengan bahan baku yang kurang dari 15 persen," katanya.
Wildan menjawab pertanyaan ini dengan mengutarakan kelimpahan buah kelapa di daerahnya. Alasan yang sama digunakannya ketika mengungkap bahwa minyak jarak sebenarnya bisa lebih efisien menghasilkan biosolar sembari mengakui biosolar yang dihasilkannya cuma setara dengan yang dari jelantah. "Tapi, masalahnya, jarak belum dibudidayakan secara luas di Jawa Timur kecuali di Mojokerto," katanya, "Kalau kelapa sudah banyak, berlimpah, termasuk di daerah saya."
Wildan juga bisa memuaskan Erzi tentang pengolahan biosolar dan bioetanol sebagai dua buah proses yang terpisah. Di sini ia menjelaskan keterkaitan hasil percobaannya terdahulu dengan rupa-rupa jamur Saccharomyces.
Ampas dari perasan santan kelapa, menurut dia, dapat digunakan sebagai bahan baku bioetanol melalui proses hidrolisis, dan fermentasi paling tepat menggunakan Saccharomyces cerevisiae. "Sedangkan air kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku bioetanol dengan fermentasi menggunakan Saccharomyces telluris, Saccharomyces tuac, dan Zymomonas mobilis," ujarnya.
Penjelasannya ini memunculkan kekhawatiran juri lainnya, L.T. Handoko dari Pusat Penelitian Fisika LIPI, bahwa jangan-jangan membutuhkan energi yang lebih besar untuk memproduksi bioetanol itu jadi sedikit terbenam. Faktanya, memang, menurut hasil penelitian Wildan dkk, dibutuhkan lebih dari 8 liter air kelapa untuk bisa dihasilkan sulingan 1 liter bioetanol yang memenuhi syarat sebagai bahan bakar, yakni bioetanol 95 persen. WURAGIL
Tak Mau Mengerjakan Bukan Berarti Tak Bisa
Apa yang dikerjakan kelompok Wildan pada prinsipnya adalah mengolah buah kelapa habis-habisan. Berawal dari minyaknya yang diesterifikasi menjadi fame yang kemudian dicampur dengan solar untuk dijadikan biosolar jenis B-5 seperti yang sudah diproduksi Pertamina, penelitian diakhiri dengan pengolahan sludge--limbah dari pembuatan biogas--yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. "Memang tidak ada yang mau membuat bioetanol dari kelapa karena tidak ekonomis, tapi mereka membuktikan bahwa itu mungkin," kata Yudi Darma.
Published in Koran Tempo (L.T. Handoko, 12 October 2009)
Setiap orang pasti pernah mendapatkan pengalaman menemukan suatu ide sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ide ini bisa dalam bentuk apapun, dari hal yang sangat sederhana sampai yang membutuhkan solusi teknis nan rumit. Sayangnya tidak semua orang mampu, berminat serta memiliki semangat untuk merealisasikan ide-idenya. Padahal ide-ide sederhana tetapi tepat guna semacam ini seringkali memiliki kontribusi riil serta dampak ekonomi langsung bagi pencipta serta masyarakat di sekelilingnya.
LIPI sebagai otoritas ilmiah utama di Indonesia memberikan kesempatan untuk menyebarluaskan ide-de semacam ini dalam wadah kompetisi di tingkat nasional bertajuk National Young Innovator Awards (NYIA). NYIA yang sudah diselenggarakan untuk kedua kalinya pada tahun ini kembali menjadi ajang kompetisi khususnya bagi para remaja dengan kreatifitas tinggi.
Berbeda dengan lomba karya ilmiah umumnya seperti Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang juga diselenggarakan oleh LIPI sejak 1968, NYIA tidak mensyaratkan aspek serta metoda ilmiah. Poin utama adalah orisinalitas dan keunikan ide, serta bagaimana ide tersebut mampu menjawab secara lugas masalah yang menjadi target solusi. Karenanya peserta cukup mengirimkan desain rancang bangun karya dan tanpa pembedaan jenjang sekolah. Bahkan remaja putus sekolah atau tidak pernah mengenyam bangku sekolah sekalipun bisa berpartisipasi. NYIA hanya mensyaratkan pengiriman karya dalam bentuk 1-2 halaman uraian desain singkat dan bila perlu disertai gambar atau foto. Tidak dituntut penulisan ala karya tulis ilmiah dengan metode-metode ilmiah yang baku dan sebagainya.
Hal ini tidak sekedar ditujukan untuk mempermudah calon peserta, namun lebih dari itu mencerminkan filosofi mendasar dari invensi sebagai titik awal proses sebuah inovasi. Berbeda dengan inovasi di ranah ilmiah murni, yang lebih ditujukan sebagai inovasi ilmu untuk ilmu itu sendiri, ataupun inovasi dengan latar belakang aspek teknis yang rumit dan diajukan sebagai paten reguler, invensi dalam kategori NYIA merupakan hasil pemikiran sesaat dengan teknologi minimal. Karya-karya semacam ini umum ditemui dalam bentuk paten sederhana. Meski dikategorikan sebagai paten sederhana, olah rekayasa teknik semacam ini mendominasi pengajuan paten di hampir semua negara. Bahkan banyak diantaranya menjadi produk-produk dengan nilai penjualan tertinggi. Lebih penting lagi, penemu-penemu teknologi ini sebagian besar adalah masyarakat awam, mulai dari pelajar sampai dengan ibu rumah tangga. Aneka invensi ini bisa dengan mudah ditemui dalam bentuk produk alat sehari-hari di pasar swalayan. Misalnya alat untuk meletakkan sendok sayur di dapur tanpa mengotori meja yang ditemukan oleh seorang ibu rumah tangga di Jepang dan menjadi salah satu produk dengan penjualan tertinggi beberapa tahun lalu di negara tersebut. Invensi semacam ini tidak akan muncul dari seorang profesor botak dalam sebuah laboratorium. Karena invensi semacam ini hanya bisa muncul sebagai sebuah solusi praktis atas masalah nyata dalam profesi seorang ibu rumah-tangga. Perbedaannya adalah ibu rumah-tangga penemu ini memiliki kejelian melihat masalah, kreatif mencari solusi praktisnya serta memiliki semangat dan keberanian berkarya ! Keinginan mendapatkan keuntungan finansial bukan merupakan motivasi utama, meski pada akhirnya keuntungan cukup besar bisa diraih oleh ibu rumah-tangga diatas.
Meski sebagian kalangan menganggap era perlindungan atas hak kekayaan intelektual (HKI) dewasa ini merugikan negara-negara berkembang seperti Indonesia, peningkatan produktifitas dan kreatifitas masyarakat dalam bentuk paten-paten sederhana berpotensi besar menjadi penggerak ekonomi berbasis industri kreatif, bahkan menjadi sumber devisa. Industri kreatif tidak hanya yang terkait dengan bidang seni, tetapi justru bisa melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam bentuk produksi aneka invensi sederhana. Bahkan karena kesederhanaan invensi, sebagian besar produk semacam ini diproduksi oleh industri-industri skala kecil menengah.
Karena itu sudah selayaknya perlu dilakukan kampanye dan pendidikan massal dalam rangka menggalakkan kreatifitas masyarakat untuk melakukan aneka invensi sebagai solusi atas berbagai masalah sehari-hari. Bila upaya ini dibarengi dengan kemudahan proses pendaftaraan HKI dalam bentuk paten sederhana, tidak mustahil Indonesia dengan 200 jutaan penduduknya bisa menjadi produsen invensi utama dunia. Di negara-negara maju sudah umum dikenal kelompok-kelompok kecil inventor atau penggemar invensi dari kelompok karyawan, pelajar, ibu rumah-tangga dan sebagainya. Mereka berkumpul sebagai ajang berdiskusi untuk mendapatkan ide baru atau mematangkan ide yang sudah ada dengan masukan dari anggota yang lain. Mungkin di Indonesia sudah saatnya ajang perkumpulan seperti karang-taruna, PKK dan arisan diarahkan untuk menjadi embrio kelompok-kelompok inventor.
Dalam rangka menginisiasi gerakan masyarakat inventor inilah LIPI memulai kompetisi NYIA sejak tahun 2008 lalu. NYIA difokuskan untuk usia 18 tahun ke bawah, karena merekalah yang diharapkan menjadi generasi penghela lokomotif perubahan bangsa ini di masa mendatang.
Published in
Tempo Interaktif (Wuragil, 12 October 2009)
Nur Aini Akbar bukan dengan sengaja singgah di Pusat Peraga Iptek di dalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu lalu. Siang itu, calon doktor di Universitas Negeri Jakarta itu membawa keluarganya 'melarikan diri' dari penat dan lelah sebuah acara formal yang dihadirinya di bagian lain di kompleks itu.
Saya orang Jakarta tapi saya tidak pernah kesini dan ternyata anak saya tidak mau diajak pulang, kata Nur.
Faktanya bukan cuma anaknya yang betah. Nur juga ternyata memilih bertahan hingga jelang pusat peraga itu ditutup untuk umum sore harinya. Ia mengaku menemukan keunikan diantara rupa-rupa inovasi para finalis ajang National Young Innovator Awards 2009 yang dipamerkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia hari itu.
Nur sengaja menunggu sampai usai pengumuman para pemenang sebelum bergegas menghampiri satu meja milik finalis yang ikut dijagokannya. Finalis yang nyatanya memang diumumkan termasuk tiga Inovator Terpilih oleh dewan juri itu adalah Agus Arif Rahman dan Edwin Aditya Herbanu dari SMA Muhammadiyah 2, Sidoarjo, Jawa Timur.
Kedua siswa kelas tiga itu mendesain inovasi yang diberi nama Refreshing Helmet. Helm Arif dan Edwin itu memiliki tabung oksigen di bagian belakang dan berpelengkap masker di bagian muka. Ketika konsentrasi oksigen di sekitarnya merosot dari 20 persen, sensor memicu prosesormikro membuka katup tabung seara otomatis dan si pemakai yang notabene pengendara motor bisa menghirup kesegaran oksigen.
Try it, then like it...the refreshing helmet, begitu keduanya mempromosikan inovasinya itu. Nur mengaku terkesan dengan pemikiran Arif dan Edwin itu. Suami saya kan kerja di Honda, nanti saya coba saya sampaikan inovasi ini kepadanya, katanya.
Pengalamannya bekerja dibidang public relations membuat Nur berpikir cepat sore itu. Otak bisnisnya ikut berputar tangkas. Kalau Honda bisa membuat helm ini lebih menarik dan laku dipasarkan kepada jutaan pengendara sepeda motor yang ada saat ini, keuntungannya kita bagi dua ya, katanya ringan sambil meninggalkan alamat email kepada kedua siswa.
Kepala Bidang Pengelolaan Hak atas Kekayaan Intelektual di Pusat Inovasi LIPI, yang juga Ketua Dewan Juri NYIA 2009, Subiyatno, menyatakan, Refreshing Helmet, bersama Safety Child di sepeda motor karya bersama tiga siswi dari SMAN 6 Yogyakarta dan Tabung ASI Sederhana Menggunakan Aluminium Foil milik duo siswa SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta, tergolong desain inovasi sederhana yang dekat dengan aplikasi langsung.
Helm pembawa kesegaran milik Arif dan Edwin bahkan dinilainya lebih karena memiliki segmen pengguna yang khusus, yakni mereka yang punya problem dengan pernafasan. Meski diakui perlu desain ulang terkait penempatan dan ukuran tabung oksigen yang digunakan, Subiyatno menambahkan, helm dari Sidoarjo ini bisa sangat berguna. Memang tidak harus memakai helm seperti ini, tapi menurut saya ini adalah pilihan yang sangat bagus, katanya.
Laksana Tri Handoko, anggota dewan juri, menambahkan bahwa Refreshing Helmet termasuk inovasi paling unik dan menarik dalam ajang NYIA tahun ini. Peneliti di Pusat Penelitian Fisika, LIPI, ini menjelaskan kalau penilaian Sabtu lalu adalah lebih kepada konfirmasi orisinalitas ide lewat wawancara langsung terhadap para peserta lomba.
Total 15 tim finalis yang hadir di Taman Mini Indonesia Indah sebelumnya telah disaring oleh Subiyatno, Handoko dan tiga anggota juri lainnya (masing-masing dari Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia dan Pusat Peraga Iptek-TMII) dari 145 desain inovasi yang mereka terima untuk lomba tahun ini. Mereka dikirim dari 14 provinsi oleh para siswa dalam rentang usia 8-18 tahun.
Disini (Taman Mini) kami ingin lebih memastikan kalau inovasi memang lahir dari ide mereka sendiri ketika menemukan masalah yang dihadapi, ujarnya sambil menambahkan kalau beberapa finalis terungkap mengerjakan ide orang tua atau guru.
Kepada Tempo Arif mengutarakan, idenya didapat ketika ia berada di belakang sebuah truk. Saat itu ia sedang mengendarai sepeda motornya, macet, dan terganggu oleh asap knalpot truk yang pekat. Helm ini juga saya buat karena melihat begitu besar angka kecelakaan lalu lintas sepeda motor yang disebabkan pengendaranya mengantuk, katanya usai penganugerahan hadiah.
Edwin, yang saat ide itu muncul sedang duduk di jok belakang sepeda motor Arif, menambahkan, proses perakitan helm dilakukan dalam hitungan harisejak pengumuman para finalisdengan bagian tersulit adalah mendesain tempat tabung oksigen. Kami sempat menyia-nyiakan satu buah helm, katanya.
Saat dihubungi kemarin Edwin sedang menikmati sebagian hadiah uang yang diterimanya (Rp 3 juta dibagi berdua Arif) di sebuah pusat belanja di Jakarta. Sebagian lainnya diakui akan digunakan untuk kursus bahasa Inggris. Untuk persiapan, siapa tahu kami yang berangkat ke Vietnam tahun depan, katanya merujuk ajang International Exhibition for Young Inventors.
Sejatinya LIPI akan 'mengadu' para jawara desain inovasi dari NYIA ini dengan pemenang dari ajang Lomba Karya Ilmiah Remaja nanti. Mereka akan mencari yang terbaik dari yang terbaik untuk diberangkatkan mewakili siswa Indonesia ke ajang itu.
Published in Dikti (Irwandi, 5 October 2009)
Malam Anugerah Kekayaaan Intelektual Luar Biasa baru saja digelar di Grand Hyatt Hotel Jakarta (02/10). Prof. Hermawan Sulistiyo dan Shahnaz Haque sebagai pemandu acara pada malam itu memanggil satu demi satu dan membacakan sinopsis karya dari 21 nama peraih anugerah kekayaan intelektual luar biasa 2009. Mereka adalah inovator dan inventor yang berprestasi luar biasa
Mereka telah membuktikan bahwa ilmu bukan sekedar untuk ilmu. Penelitian bukan sekedar untuk penelitian. Karya mereka disamping bernilai invensi, inovasi tinggi, tapi juga telah terbukti memberikan nilai tambah bagi lingkungan, industri, dan perekonomian nasional.
Berkat kerja keras dan kerja cerdas ini, anugerah yang mereka dapatkan berupa Surat Keputusan Menteri; Piagam Penghargaan; Trophy; dan uang sebesar Rp. 250 juta sebelum dikurangi pajak.
Ada empat kategori bidang yang diberikan dalam AKIL ini yaitu 1) Bidang Teknologi yang dilindungi Hak Paten; 2) Bidang Teknologi Pemulian dan Pengembangan Varietas Tanaman yang dilindungi Hak Perlindungan Variatas Tanaman, PVT; dan 3) Bidang Ilmu Pengetahuan: 4) Bidang Industri Kreatif yang masing-masing dilindungi Hak Cipta.
Malam itu merupakan malam kemenangan bagi para peneliti, dosen dan masyarakat yang selama ini telah mendedikasikan dirinya (waktu, fikiran dan tenaga) untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Dirjen Dikti, Prof. Dr. Fasli Jalal, mereka selama ini kesepian, jarang diapresiasi. Ini adalah salah satu bentuk apresiasi dan motivasi kepada mereka agar terus berkarya dan menghasilkan penemuan baru untuk kemajuan bangsa.
“Kegiatan ini bertujuan juga untuk mendorong dosen, peneliti dan masyarakat untuk menghasilkan dan menghargai karya intelektual, dan menumbuhkan budaya kreatif dan inovatif dalam rangka meningkatkan daya saing nasional, tegas Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Bambang Sudibyo dalam kata sambutannya pada malam penganugerahan ini.
21 nama yang terpilih memiliki profil yang cukup bervariasi, dari sisi gender terdapat 4 wanita dan 17 pria, umur dari 37 hingga 74 tahun, pendidikan dari D-3 hingga S-3 dan pekerjaan meliputi wiraswasta, karyawan swasta, pegawai negeri, peneliti, dosen hingga pensiunan.
Program ini terselenggara berkat kerjasama yang baik antara Departemen Pendidikan Nasional (Ditjen Dikti, DP2M); Kementerian Negera Riset dan Teknologi (Deputi Pendayagunaan dan Pemasyarakat IPTEK: AD-DSI); Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual: Ditjen Paten); 4) Departemen Perdagangan (Sekretariat jenderal Departemen: PPVT) dan dukungan dari Departemen/kementerian anggota Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran hak kekayaan Intelektual (Tim Nas PPHKI).
Mereka yang telah mengukir prestasi sebagai peraih anugerah kekayaan intelektual luar biasa.
Kegiatan anugerah ini baru pertama kalinya diadakan. semoga terus berlanjut.
Published in
In Memoriam Hans Wospakrik (2009)
Memahami fisika itu tidak hanya di kepala, tapi sampai merasuk ke dalam jiwa” —Hans J. Wospakrik
Di pengujung Agustus 2003 media massa memperkenalkan seorang fisikawan Indonesia dengan reputasi mengagumkan: Hans Jacobus Wospakrik. Dia telah 20 kali menembus empat jurnal fisika tingkat dunia bagi publikasi hasil-hasil penelitian dalam Teori Relativitas Einstein, teori medan, dan fisika partikel.
Keempat jurnal itu adalah Physical Review D, Journal of Mathematical Physics, Modern Physics Letters A, dan International Journal of Modern Physics A. Di jurnal-jurnal inilah pekerjaan sebagian pemenang Nobel Fisika dimaklumkan. Keberhasilan ini menghendaki dua perjuangan yaitu mencapai mutu akademik yang tinggi dan memenuhi tuntutan finansial yang sungguh berat.
Sebagai fisikawan dengan reputasi internasional yang pada awal 1980-an pernah mengadakan riset bersama peraih hadiah Nobel Fisika 1999 Martinus J. G. Veltman di Utrecht (Belanda) dan di Ann Arbor, Michigan (AS), Hans tetaplah seorang dosen yang sederhana. Dia masih bersedia mengajar fisika dasar untuk mahasiswa tingkat satu, juga selalu menyediakan waktu membimbing mahasiswa, bahkan sampai larut malam, dengan risiko harus pulang berjalan kaki dari kampus Ganesha ITB ke rumahnya yang jauhnya enam kilometer.
Tak salah jika Terry Mart, pengajar dan staf riset di Departemen Fisika Universitas Indonesia, menggolongkan Hans sebagai peneliti militan yang hidup di garis kemiskinan.
Sedangkan L.T. Handoko, peneliti pada Puslitbang Fisika Terapan, LIPI, setelah melihat deretan publikasi Hans, menyebutkan penelitian semacam itu tak mungkin dihasilkan tanpa kesabaran dan ketekunan dalam tingkat paling ekstrem.
Sebagai fisikawan teori, modal utama riset-riset Hans adalah teks dan paradigma. Bukan laboratorium yang bernilai miliaran atau triliunan rupiah seperti akselerator partikel yang terdapat di Amerika Serikat, Jerman, dan perbatasan Swiss- Prancis itu. Hans mampu memperlihatkan bagaimana fisikawan dapat memahami fenomena ilmu fisika dengan sematamata mengandalkan perangkat lunak (matematika).
Sayang, dengan prestasi akademik yang luar biasa ini, pemerintah Indonesia tidak terpanggil memberi penghargaan yang pantas kepada fisikawan kelahiran Papua ini. Inilah yang membuat Profesor Ryu Sasaki dari Institut Fisika Teori Yukawa di Jepang tak habis heran.
Ketika berkunjung di Bandung sekitar 17 tahun yang lalu, Sasaki mengatakan, “Kalau menggunakan kriteria di Jepang Hans mungkin satu dari sedikit ilmuwan di Indonesia yang pantas mendapat gelar Profesor.”
Melalui buku Dari Atomos hingga Quark ini, kita bisa mengetahui karya Hans yang sangat mengagumkan. Fisika dan kimia yang oleh banyak orang ditangkap sebagai sesuatu yang sukar, di tangan Hans dapat dikemas dalam bahasa Indonesia yang sederhana dan indah sehingga nikmat untuk dipahami, sekalipun oleh orang yang awam. Isi buku ini merupakan rangkuman berbagai buku rujukan dan artikel yang disajikan secara populer dengan menghindari uraian rinci teknis yang berkaitan dengan peranti ukur (instrumen) dan peranti nalarnya (matematika).
Menapaki rentetan kisah yang dijalin dari halaman yang satu ke halaman berikutnya secara kronologis dan mempesona, pembaca diajak mengagumi derap lintas waktu dan lintas batas negara para fisikawan dunia dalam kerjasama membangun lumbung pengetahuan untuk memecahkan teka-teki alam yang tiada habisnya.
Akhirnya, sosok Hans sebagai fisikawan di garis kemiskinan ini bisa dijadikan pelajaran bagi para ilmuwan agar tetap tangguh mempertahankan budaya akademik. Penelitian bukanlah kegiatan yang menjanjikan atau mendatangkan keuntungan ekonomik, melainkan upaya yang tiada mengenal lelah untuk mencapai kebenaran.
Dan, kata Daniel Coit Gilman, seorang pendidik, “kebenaran akan memerdekakan (veritas vos liberabit).”
Published in
Suara Karya (Indra, 15 August 2009)
PENGHARGAAN ACHMAD BAKRIE 2009--Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Ibu Mufidah Kalla, Ibu Roosniah Bakrie (ibunda Aburizal Bakrie), dan Aburizal Bakrie foto bersama dengan para penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2009 usai penyerahan penghargaan tersebut di Jakarta, Jumat (14/8) malam. Para penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2009 antara lain Ag Soemantri di bidang Kedokteran (kedua dari kiri), Pantur Silaban di bidang Sains (kedua dari kanan), dan Warsito P Taruno di bidang Teknologi (kanan). (Suara Karya/Andry Bey)
Penghargaan Achmad Bakrie yang kali ini memasuk tahun ke-7 diharapkan membuka mata masyarakat terkait pentingnya prestasi dalam disiplin ilmu tertentu. Dengan pretasi, ilmuwan dalam negeri bisa berdiri sejajar dengan ilmuwan dunia. Artinya, ilmuwan lokal diakui dunia internasional.
Demikian pernyataan Dewan Juri Penghargaan Achmad Bakrie 2009 terkait pemberian penghargaan tersebut kepada sejumlah tokoh ilmuwan, semalam, di Jakarta. Perhelatan tersebut diselenggarakan Yayasan Bakrie untuk Negeri bekerja sama dengan Freedom Institute.
Ajang pemberian Penghargaan Achmad Bakrie untuk yang ke-7 ini menetapkan lima anak bangsa berprestasi di bidang masing-masing, yakni pemikiran sosial, kesusastraan, kedokteran, sains, dan teknologi.
Pemberian Penghargaan Achmad Bakrie diharapkan membuka mata masyarakat tentang pentingnya apresiasi terhadap prestasi seseorang untuk kepentingan masyarakat. "Kita punya orang yang bisa dipertandingkan dengan ilmuwan-ilmuwan dunia lainnya," kata anggota Dewan Juri Penghargaan Achmad Bakrie, Hamid Basyaib.
Menurut Hamid, para penerima Penghargaan Achmad Bakrie lolos seleksi kriteria utama, yakni terus berkarya di bidang yang ditekuni secara konsisten. "Penyerahan penghargaan tidak harus setiap tahun, tapi tergantung temuan dan prestasi," tuturnya.
Kelima tokoh berprestasi penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2009 meliputi Pantur Silaban untuk bidang sains. Dia merupakan mahasiswa pertama program doktoral dari Indonesia (1967) yang mempelajari secara formal relativitas umum di Universitas Syracuse, AS. Pantur berhasil membangun persamaan-persamaan gerak relativistik untuk partikel-partikel titik. Selain itu, Pantur juga merintis pengembangan metode-metode matematika dalam melacak konsep simetri dalam fisika.
Penerima kedua adalah Danarto (kesusastraan) yang memperluas pengertian realisme dalam sastra Indonesia. Penerima ketiga adalah Agustinus Soemantri Hardjojuwono (kedokteran). Dia merupakan perintis terobosan cangkok sumsum tulang belakang, cangkok sel punca, dan pelopor pemahaman tentang zat besi bagi anak.
Penerima keempat adalah Warsito P Taruno (teknologi) myang terus mengembangkan teknologi tomografi volumetric berdimensi empat yang telah dipatenkan dan dipakai oleh lembaga antariksa AS, NASA. Sementara penerima kelima adalah Sajogyo (pemikiran sosial) yang identik dengan isu perdesaan serta pengukuran kemiskinan di Indonesia. "Teori ini penting bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakan," ujar Hamid.
Saat menerima penghargaan, Warsito mengatakan, apa yang dia lakukan bukan karena keinginan ataupun untuk mencapai ketenaran, tapi karena rasa penasaran. Menurut dia, alasan menekuni teknologi ini setelah mendapatkan dorongan kuat bapaknya untuk selalu maju. Sedangkan ibunya selalu memotivasi agar dia melakukan segala sesuatu pekerjaan dengan dasar ketulusan dan ketabahan. "Kedua orang tua itulah yang selalu mendidik dan membimbing Warsito untuk terus optimis," ucapnya.
Kelima orang penerima Penghargaan Achmad Bakrie itu masing-masing mendapatkan hadiah uang tunai Rp 150 juta.
Sebelumnya, pemenang Penghargaan Achmad Bakrie sejak 2003 adalah Ignas Kleden (pemikiran sosial) dan Sapardi Damono (kesusastraan). Kemudian Nurcholish Madjid (pemikiran sosial) pada tahun 2004. Lalu Goenawan Mohammad (kesusastraan) dan Sartono Kartodirjo (pemikiran sosial) pada tahun 2005.
Arief Budiman (pemikiran sosial), alm WS Rendra (kesusastraan) dan Iskandar Wahidah (kedokteran) menjadi penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2006. Sementara Frans Magnis-Suseno (pemikiran sosial), Putu Wijaya (kesusastraan), Sangkot Marzuki (kedokteran), Jorga Ibrahim (sains), dan Balai Besar Padi (teknologi) terpilih jadi penerima pada tahun 2007.
Pada tahun 2008, Penghargaan Achmad Bakrie diberikan kepada Taufik Abdullah (pemikiran sosial), Sutardji Colzoum Bachrie (kesusastraan, Mulyanto (kedokteran), Laksana Tri Handoko (sains), dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (teknologi).
Published in
Surabaya Post (15 August 2009)
Kelambu ranjangku tersingkap
di bantal berenda tergolek nasibku.
Apabila firmanmu terucap
masuklah kalbuku ke dalam kalbumu.
PENGGALAN puisi Nyanyian Suto untuk Fatimah karya WS Rendra itu dibacakan dengan lancar, tanpa teks, dan penuh penghayatan oleh Aburizal Bakrie, putra Achmad Bakrie sang penggagas Achmad Bakrie Award. Ical, panggilan Aburizal Bakrie, menyebut puisi Rendra yang terdiri atas 3 bait (14 baris) itu sebagai kesimpulan dari kegiatan yang merupakan wasiat ayahandanya itu.
Waktu lahir kau telanjang dan tak tahu
tapi hidup bukanlah tawar-menawar.
Dua baris terakhir puisi Nyanyian Suto untuk Fatimah yang dibacakan Ical –panggilan Aburizal Bakrie– terasa dalam. Kalimat itu memang bisa disebut pokok pikiran yang disampaikan Rendra melalui puisinya itu.
Seorang anak manusia lahir di dunia bagaikan kertas putih. Lingkungan yang kemudian membentuknya. Manusia lalu mendapatkan kebebasan memilih dalam hidupnya. Tetapi, jangan lupa ’’hidup bukanlah tawar-menawar’’. Hidup adalah perjanjian yang harus dipertanggungjawabkan di depan-Nya.
Tepat sekali bila Ical menyebut puisi Rendra ini sebagai kesimpulan dari kegiatan pemberian Achmad Bakrie Award. Kehidupan akan menjadi lebih bernilai dengan lahirnya para pemikir untuk kemajuan hidup umat manusia.
’’Hidup ini mempunyai tantangan, harus diselesaikan,’’ ujar Ag Soemantri Hardjojuwono, salah satu peraih Achmad Bakrie Award bidang kedokteran 2009, dalam pidatonya usai menerima penghargaan di Hotel Nikko Jakarta, Jumat (14/8) malam.
Ada lima tokoh nasional yang menerima Achmad Bakries Award tahun 2009 ini. Selain Ag Soemantri, juga pemikir sosial Sajogyo, fisikawan Pantur Silaban, Warsito P Taruno (pemikir elektro), dan sastrawan Danarto. Penghargaan diberikan dalam bentuk trofi dan uang senilai Rp150 juta.
Puisi Rendra dibacakan pada kesempatan itu untuk mengenang meninggalnya sang Burung Merak itu belum lama. Selain Ical yang membacakan Nyanyian Suto untuk Fatimah, penyair Sitok Srengenge membacakan puisi Rendra lainnya, Kupanggil Namamu. Rendra sendiri adalah penerima Achmad Bakrie Award bidang sastra pada 2006.
Acara yang dimeriahkan berbagai hiburan dan dihadiri ratusan undangan itu juga dihadiri tokoh-tokoh penting. Antara lain Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri BPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Ketua DPR Agung Laksono, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, perwakilan asing, dan Rizal Mallarangeng dari Freedom Instute selaku pelaksana tradisi pemberian penghargaan Achmad Bakrie Award tiap tahun tersebut.
Jusuf Kalla mengatakan, penghargaan ini merupakan pencapaian bersama dalam upaya meningkatkan mutu bangsa. ’’Bangsa sejahtera ingin maju tak mungkin tanpa penciptaan, nilai tambah, kemajuan, ilmuwan, sastrawan bagi kita semua,” katanya dalam pidato sambutannya.
Pemberian penghargaan Achmad Bakries 2009 ini digelar juga untuk menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-64. Pemberian Achmad Bakrie Award sudah berlangsung sejak 2003 dan akan terus berlangsung. Hingga kini sudah 23 tokoh nasional yang telah menerimanya.
Para pemenang penghargaan Achmad Bakrie sejak 2003 adalah Ignas Kleden (bidang pemikiran sosial) dan Sapardi Damono (kesusastraan); pada 2004, Nurcholish Madjid (pemikiran sosial) dan Goenawan Mohammad (kesusastraan); pada 2005 Sartono Kartodirjo (pemikiran sosial); pada 2006 Arief Budiman (pemikiran sosial), Rendra (kesusastraan) dan Iskandar Wahidah (kedokteran) dan; pada 2007, Frans Magnis-Suseno (pemikiran sosial), Putu Wijaya (kesusastraan), Sangkot Marzuki (kedokteran), Jorga Ibrahim (sains), dan Balai Besar Padi (teknologi).
Adapun pemenang tahun 2008 adalah Taufik Abdullah (pemikiran sosial), Sutardji Colzoum Bachrie (kesusastraan, Mulyanto (kedokteran), Laksana Tri Handoko (sains) dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (teknologi).
Pengembang Steme Cell
Peraih Achmad Bakrie Award bidang kedokteran 2009, Ag Soemantri Hardjojuwono, mengatakan, kemajuan bangsa Indonesia ini bergantung pada kemampuan pemimpin dalam mengelola generasi muda. Pencapaiannya sehingga mendapatkan penghargaan tidak lepas dari dukungan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dan tim riset di berbagai daerah.
Agustinus adalah dokter di Rumah Sakit Karyadi, Solo. Dia juga masih mengajar di Universitas Diponegoro, Semarang. Soemantri mendapat Penghargaan Achmad Bakrie tahun ini karena merintis terobosan medis di tiga bidang, yaitu pencangkokan sumsum tulang belakang, pencangkokan sel puncak (stem cell), dan kepeloporan dalam pemahaman tentang zat besi bagi pertumbuhan anak.
Salah satu anggota dewan juri, Hamid Basyaib menjelaskan, studi yang dilakukan Soemantri telah melahirkan rintisan cangkok sumsum tulang belakang untuk penderita talasemia dan leukimia pada 1987.
Memang Soemantri bukan yang menemukan teknik cangkok sumsum tulang belakang, namun dia telah merintis penerapan metodenya. ’’Hingga kini Soemantri telah menerapkan metode ini pada sekitar 400 pasien,’’ kata Hamid saat memberikan keterangan pers di kantor Freedom Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (13/8) lalu.
Soemantri sedang merintis cangkok cangkok liver dan sel punca. Metode ini sudah dipakai di berbagai negara tetapi belum pernah diadopsi di Indonesia. Karena dinilai akan mengundang perdebatan kontroversial.
Parameter Kemiskinan
Sedangkan Sajogyo, salah satu peraih penghargaan Achmad Bakrie Award 2009 dinilai memiliki terobosan dalam pemikiran soal parameter kemiskinan. Peraih gelar Insinyur pertanian pada tahun 1955 dari Universitas Indonesia (kini IPB), itu memiliki konsep kemiskinan yang spesifik dan sangat cocok dengan karakteristik Indonesia.
’’Parameter kemiskinan yang digunakan di negara lain tidak bisa dipakai untuk mengukur kemiskinan di Indonesia,’’ kata Hamid Basyaib.
Sajogyo dinilai sudah memberikan idenya dalam mengukur kemiskinan dari parameter yang dibuat. Sajogyo juga dianggap memiliki ukuran sendiri untuk menentukan kemiskinan itu dilihat konsumsi berasnya.
’’Tingkat kesejahteraan menurut dia, masyarakat bisa mengkonsumsi sekitar 2.100 kalori dari beras,’’ ujar Hamid. Ide yang dinilai sangat baik itu ternyata sudah ada sejak 30 tahun lalu masa kerja dirinya.
Sajogo membagi kemiskinan menjadi garis kemiskinan, kemiskinan relatif, kemiskinan absolut, indeks ukur, elastusitas, dan berbagai ukuran distribusi. Tokoh ini pada 30 tahun silam menyebutkan kemiskinan bukan sekedar angka, tetapi realitas yang membutuhkan alat analisa yang realistis yang kemudian dikenal sebagai Garis Kemiskinan Sajogyo.
Teknologi ECVT
Warsito P Taruno, penerima Achmad Bakrie Award 2009, merupakan tokoh yang mengembangkan electrical capacitance volume tomography (ECVT) untuk pencitraan tiga dimensi dan real time tanpa tambahan piranti khusus.
Mengetahui dengan rinci hal-hal yang tak terlihat langsung oleh mata telanjang adalah salah satu impian besar ilmu pengetahuan. Kemampuan itu memungkinkan manusia mengantisipasi dan mengendalikan keadaan, yang akhirnnya akan menopang perbaikan mutu kehidupan manusia. Sumbangan penting Warsito adalah mewujudkan sebagian dari impian besar itu melalui teknologi ECVT-nya.
Teknologi yang dikembangkannya memang belum membantu manusia menembus waktu jauh ke depan, tapi ia jelas mampu menembus ruang. Ruang dalam mesin dan manusia dengan berbagai dinamika yang bekerja di dalamnya bisa menjadi tergelar jelas dengan citraan tiga dimensi dan seketika (real time) tanpa perlu menyisipkan piranti khusus ke dalam mesin atau tubuh tersebut.
Sementara itu, Danarto, penerima Achmad Bakrie Awad 2009, karena telah memberikan pemahaman realisme dalam sastra Indonesia termasuk potret kehidupan sehari-hari, perangkat hukum dengan tujuan mengubah masyarakat lebih baik.
Sedangkan fisikawan Silaban mendapat Achmad Bakrie Award 2009 karena konsisten menekuni bidangnya. Hingga awal dasawarsa 1970-an di Indonesia hanya terdapat empat fisikawan yang mengambil spesialisasi sampai tingkat Ph.D. dalam bidang fisika teori.
Pantur Silaban adalah satu-satunya dari keempat fisikawan teori angkatan pertama itu yang konsisten hingga hari ini bertungkus lumus dalam bidang fisika teori, yang meliputi Teori Relativitas Umum, Teori Medan Kuantum, Fisika Partikel Elementer, Kosmologi, dan Fisika Matematika.
Published in Jakarta Globe (15 August 2009)
A December 2011 deadline has been set for the full implementation of a single identity number across the country, a government official said on Friday.
Although there have been initial problems in rolling out the system, Saut Situmorang, a spokesperson for the Ministry of Home Affairs, said the government was confident it would meet the deadline for the new identity number, also referred to as NIK.
He said the system would significantly improve the government’s population database, which would allow for better processing of administrative services, such as voter registration for the next elections.
The 2006 law regarding population administration gave the government a five-year time frame after it was passed to set up the new system.
However, its rollout in selected cities, such as Jakarta, Yogyakarta and Denpasar, has been hampered by a lack of facilities for digital fingerprinting, important to avoid doubling up of identity numbers or one NIK being used by several individuals.
The system features a single identity number of 16 digits for each citizen. The number will stay the same for individuals regardless of where they reside.
Once it is up and running, the government envisions using the NIK to verify a number of documents, including driver’s licenses, passports, tax registration, insurance and land titles.
The new system, Saut said, would hopefully reduce the incidence of identity fraud and administrative violations.
While it has come under fire over privacy concerns, the single identity number system was backed by the National Commission on Human Rights (Komnas HAM).
“It will even reduce rights violations by government officials when we deal with them,” commissioner Yoseph Adi Prasetyo said. “We no longer have to come back every five years to renew our identity card, so they won’t have to ask for a birth certificate every time.”
Saut said authorities would employ stringent measures to secure the new database. “It won’t be easily hacked,” he said.
Laksana Tri Handoko, an IT expert from the Indonesian Institute of Sciences (LIPI), confirmed that such a system could be reliably secured, but he also said that an independent and transparent agency was needed to audit the system before it was implemented and to deal with any problems that might arise after it was up and running, including data theft.
Published in vivanews (Jufri, 11 August 2009)
Freedom Institue mengusahakan lingkungan yang subur bagi lahirnya keprintisan, pencapaian, maupun pengabdian di bidang pemikiran sosial, kesusastraan, kedokteran, sains dan teknologi. Usaha ini merupakan bagian dari tujuan kami yang lebih luas, yaitu memajukan kehidupan pemikiran, eksperimen dan penciptaan di Indonesia. Kami percaya bahwa kehidupan intelektual yang bebas, sarat dengan perdebatan yang produktif, penuh antusiasme dan dilandasi oleh ingritas yang merupakan penyangga kuat kehidupan demokrasi.
Tradisi penghargaan atas karya pemikiran, keilmuan dan kesenian sudah menjadi praktik lazim dalam dunia intelektual. Penghargaan berskala Internasional seperti Hadiah Nobel menjadi tolak ukur bagi pencapaian di bidang-bidang sastra, kimia, fisika, ilmu kedokteran, ekonomi dan perdamaian. Tradisini serupa juga dikenal di Indonesia, meski belum mengakar dan mencapai reputasi yang kokoh. Sejumlah lembaga atau pribadi negeri kita juga telah merintis pemberian penghargaan di bidang kreativitas akal budi ini dengan Penghargaan Achmad Bakrie sejak 2005.
Kami meneruskan tradisi pemberian penghargaan di bidang kreativitas akal budi ini dengan Penghargaan Achmad Bakrie sejak 2003. Penghargaan ini diberikan setiap tahun menjelang Hari Kemerdekaan.
Para pemenang penghargaan Achmad Bakrie sejak 2003 adalah Ignas Kleden (bidang pemikiran sosial) dan Sapardi Damono (kesusastraan); pada 2004, Nurcholish Madjid (pemikiran sosial) dan Goenawan Mohammad (kesusastraan); pada 2005 Sartono Kartodirjo (pemikiran sosial); pada 2006 Arief Budiman (pemikiran sosial), Rendra (kesusastraan) dan Iskandar Wahidah (kedokteran) dan; pada 2007, Frans Magnis-Suseno (pemikiran sosial), Putu Wijaya (kesusastraan), Sangkot Marzuki (kedokteran), Jorga Ibrahim (sains), dan Balai Besar Padi (teknologi).
Adapun pemenang tahun 2008 adalah Taufik Abdullah (pemikiran sosial), Sutardji Colzoum Bachrie (kesusastraan, Mulyanto (kedokteran), Laksana Tri Handoko (sains) dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (teknologi).
Published in
Kompas (Budi Suwarna/Dahono Fitrianto/Lusiana Indriasari, 12 April 2009)
Ketika memutuskan menjadi peneliti, mereka sudah tahu bakal berkutat di dalam laboratorium yang kaku, kegiatan lapangan, dan tenggelam di antara tumpukan buku. Mereka juga sudah tahu bahwa menjadi peneliti di negeri ini sulit menjadi kaya raya. Harap maklum, gaji kebanyakan peneliti di sini baru cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sejak 1996, Basril Abbas terlibat dalam proyek bank jaringan yang dikembangkan Badan Tenaga Nuklir (Batan). Hari-harinya banyak dia habiskan di laboratorium untuk mengumpulkan, meneliti, dan memproses berbagai jaringan tubuh manusia dan hewan, seperti jaringan tulang dan amnion (selaput ketuban). Jaringan tulang digunakan untuk menyembuhkan penyakit tulang, sedangkan amnion untuk luka bakar.
”Saya bekerja di laboratorium sekitar 4-5 jam sehari. Kalau ada pekerjaan di laboratorium yang tidak bisa ditinggal, saya lembur,” ujar Basril di kantor Batan di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Laboratorium tempat Basril bekerja sederhana saja. Hanya ada beberapa lemari, mesin, dan lemari pendingin. Catnya serba putih. Suasananya sunyi, kaku, dan dingin.
Jika tidak ada kegiatan di laboratorium, Basril duduk di meja kerja untuk membuat laporan hasil penelitian. Meja kerjanya terletak di ruangan berukuran sekitar 4 x 6 meter. Di sana masih ada lima meja kerja peneliti lain, seperangkat kursi tamu sederhana, dan rak buku yang saling berimpitan. Suasananya agak sesak dan berantakan.
Sekilas aktivitas sehari-hari Basril tampak monoton. Datang pukul 08.00 dan pulang pukul 16.00. Kalau tidak di laboratorium, dia berkutat menulis laporan di meja kerja. Yang dia teliti sejak tahun 1996 pun tak beranjak dari jaringan tubuh manusia dan hewan.
Apa tidak bosan? ”Tidaklah. Itu kan sudah pekerjaan sehari-hari,” katanya.
Seperti Basril, peneliti di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Rintis Noviyanti (40), juga tidak ada bosannya meneliti nyamuk malaria sejak 1993 sampai sekarang. Setahun sekali, selama dua bulan, ia keluar masuk daerah-daerah yang banyak nyamuk malarianya, seperti Timika (Papua) dan Sumba (NTT), untuk mengumpulkan sampel. Risikonya, kapan saja Rintis bisa terjangkit malaria.
Sepulang mengumpulkan sampel, doktor biologi molekuler parasit malaria dari University of Melbourne, Australia, ini menenggelamkan diri di laboratorium 5-6 jam sehari. Setelah penelitian usai, Rintis berkutat di ruang kerjanya untuk menulis paper hasil penelitian. Selama 17 tahun meneliti malaria, dia telah memublikasikan enam hasil penelitiannya di jurnal internasional.
Untuk menekan kejenuhan bekerja, Rintis mengisi waktu senggangnya dengan nonton film, mendengarkan musik, dan belanja di mal. ”Biar hidup gue seimbang. Kalau enggak gitu, enggak asyik ha-ha-ha,” ujar peneliti yang tampak gaul dan suka berbicara elu-gue ini.
Soal gaji
Apa sebenarnya yang dicari para peneliti dengan menenggelamkan diri bertahun-tahun di laboratorium atau lapangan?
Rintis mengatakan, dia mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul seputar malaria. Sialnya, semakin mendalami malaria, pertanyaan yang muncul justru semakin banyak. Ini yang membuat Rintis penasaran. ”Sampai sekarang gue bertanya-tanya mengapa vaksin malaria belum ada,” ujarnya.
Penelitian memang seperti kegiatan tanpa ujung. ”Selama dunia berputar, hasil sebuah penelitian terus dikembangkan lagi. Saya dulu melanjutkan penelitian orang lain. Kalau saya pensiun, penelitian ini akan dilanjutkan peneliti lain,” ujar Basril.
Sri Sunarti Purwaningsih, peneliti bidang kependudukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan, peneliti pada dasarnya mengabdi pada ilmu pengetahuan. ”Kami enggak mikirin duit,” katanya.
Mungkin itu sebabnya peneliti di Indonesia tidak bisa kaya. Apalagi, gaji peneliti—terutama yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS)—tidak besar. Sri Sunarti tidak bersedia menyebutkan berapa gajinya sebagai peneliti berstatus PNS. Namun, dia memberikan gambaran, gajinya tidak cukup untuk membeli buku-buku ilmu pengetahuan yang mahal-mahal.
”Buku (terbitan luar negeri), ibaratnya, seharga 100 dollar-an (sekitar Rp 1.100.000), gaji cuma Rp 3 juta. Kalau beli pakai kocek pribadi, saya kewalahan.”
Basril mengatakan, gajinya hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya dengan tiga anak. Itu pun kadang kurang. ”Waktu anak kedua saya masuk SMA, saya harus menghadap kepala SMA meminta keringanan uang pangkal,” kata Basril, peneliti berstatus PNS dengan Golongan III D.
Rintis menambahkan, gaji sebagai peneliti di Eijkman juga tidak besar. ”Masih jauhlah dibanding gaji teman-teman saya yang bekerja di perusahaan multinasional,” ujarnya.
Laksana Tri Handoko, peneliti di Pusat Penelitian Fisika LIPI yang berkantor di Serpong, Banten, justru menepis anggapan bahwa gaji peneliti kecil. Peneliti berpendidikan S-3 dengan status PNS Golongan III C, gaji dasarnya memang hanya Rp 1,7 per bulan. Namun, mereka masih mendapat tambahan dari honor penelitian.
Untuk peneliti pemula (kategori terendah), honor penelitiannya Rp 27.500 per jam dengan batasan maksimal empat jam per hari atau 20 jam per minggu. ”Dari satu judul penelitian saja, seorang peneliti muda sudah mendapat tambahan Rp 2,2 juta per bulan. Padahal, dalam setahun seorang peneliti rata-rata menggarap dua judul penelitian,” katanya.
Berdasarkan pengalaman Handoko, peneliti pemula di timnya rata-rata mengantongi uang Rp 6 juta per bulan. Kalau dia mengajar di universitas, pemasukannya bertambah lagi.
Meski begitu, kata Handoko, standar gaji peneliti di Indonesia memang tidak memungkinkan peneliti menjadi kaya raya, tetapi juga tidak akan membuat miskin. Handoko sendiri hidup sederhana. Rumahnya di Jalan Merdeka, Depok II, tidak ada sentuhan kemewahan sedikit pun, tetapi juga tidak ada tanda-tanda kemiskinan.
Bagi sebagian peneliti, hambatan utama mereka dalam berkarier bukan masalah gaji kecil, melainkan dana penelitian yang minim dan dukungan pemerintah yang kurang. Sri Sunarti mengungkapkan, berdasarkan hitungan Dikti Depdiknas, dana untuk satu orang peneliti per proyek penelitian adalah Rp 50 juta. ”Tetapi di LIPI masih sekitar Rp 26 juta,” katanya.
Basril mengeluhkan hal yang sama. Karena dana minim, katanya, sering kali penelitian molor. Harusnya bisa dua tahun selesai, molor jadi bertahun-tahun.
Handoko tidak mempersoalkan minimnya dana penelitian. Kalau dana besar tetapi sumber daya manusianya belum siap melakukan riset berkualitas, malah mubazir.
”Makanya, saya tidak pernah protes atau menuntut DPR agar menaikkan dana penelitian di APBN. Lebih baik tingkatkan dulu SDM-nya.”
Handoko menambahkan, di Indonesia peneliti belum dievaluasi berdasarkan sistem penilaian karya. ”Akibatnya, mau penelitiannya berkualitas atau tidak, hasilnya dimuat di jurnal bergengsi internasional atau jurnal ecek-ecek lokal, honornya sama. Itu yang membuat peneliti kurang termotivasi untuk membuat penelitian kelas dunia,” ujar Handoko.
Sebagian peneliti juga berharap pemerintah ikut menyosialisasikan hasil penelitian mereka ke masyarakat agar bisa dimanfaatkan. Kalau tidak, kasihan peneliti. Sudah menghabiskan umur di laboratorium yang sunyi, eh... hasil penelitiannya hanya masuk laci.
Published in
Kompas (Budi Suwarna/Dahono Fitrianto/Lusiana Indriasari, 12 April 2009)
Peneliti banyak jumlahnya, subjek penelitian pun bisa beraneka ragam. Asal mau meneliti dan menguasai bidang garapan, penelitian bisa jadi tidak terlalu sukar. Persoalannya, peneliti juga dituntut untuk selalu menemukan hal-hal baru, atau melengkapi penelitian yang telah ada. Masih ada satu syarat lagi, hasil penelitian itu haruslah bermanfaat.
”Jadi enggak asal meneliti, kalau tidak bermanfaat ya buat apa,” kata peneliti kependudukan di Pusat Penelitian Kependudukan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sri Sunarti Purwaningsih.
Ia saat ini tengah sibuk mempersiapkan proyek penelitian kompetitif sesuai rencana strategis LIPI yang dibikin lima tahunan. Ia akan meneliti soal kemiskinan dan pelayanan kesehatan untuk penduduk miskin perkotaan.
”Mau penjajakan dengan pemda Kota Bandung karena menjadi satu dari delapan kota besar di Indonesia yang pertumbuhan penduduknya tinggi. Tahun depan ke Makassar dan tahun ketiga bikin model antara dua kota itu,” kata Narti. Untuk penelitian di Bandung ini, Narti dan empat teman lain mendapatkan kucuran dana Rp 240 juta.
Sebelumnya sudah seabrek penelitian dilakukan Narti. Misalnya, pada tahun 2006 ia meneliti kesehatan reproduksi di dua daerah perbatasan, yakni Sanggau di Kalimantan Barat dan Kota Batam di Kepulauan Riau. ”Saya mengambil contoh perbatasan darat dan perbatasan laut,” kata Narti yang menjadi koordinator proyek. Ia juga meneliti kaitan kesehatan reproduksi dengan jender dan otonomi daerah beserta implementasinya di Mataram Nusa Tenggara Barat dan juga Jambi.
”Penelitian seperti itu mungkin pernah dilakukan. Tantangannya, bagaimana kami bisa mendapatkan kebaruan,” ujar doktor bidang demografi dari The Australian National University, Canberra, Australia, ini.
Bank jaringan
Penelitian tentang jaringan oleh Basril Abbas, Kepala Kelompok Bahan Kesehatan Bidang Proses Radiasi Badan Tenaga Nuklir (Batan), di Bank Jaringan Batan juga terus dikembangkan. Padahal, ia beserta timnya menelitinya sejak tahun 1996. Hal-hal baru bisa muncul di dalam penelitian.
Bank Jaringan adalah satu institusi yang tugasnya mengumpulkan dan memproses jaringan yang diambil dari tubuh manusia atau hewan yang telah mati, untuk kemudian ditransplantasikan di tubuh orang yang membutuhkan. Misalnya, jika ada orang terkena kanker tulang sehingga tulangnya rusak, dokter tidak perlu serta-merta mengamputasi tulang tersebut. Jaringan tulang yang rusak bisa diganti dengan jaringan tulang sapi atau manusia. Nanti jaringan tulang baru akan muncul lagi.
Jaringan di sini bisa jaringan amnion atau selaput ketuban manusia, jaringan tulang manusia dan sapi, dan jaringan peristeum atau jaringan yang menempel antara tulang dan daging. Semua jaringan disimpan di dalam kotak pendingin bersuhu minus 80 derajat celsius.
Peneliti lain, Harianto Hardjasaputra, guru besar Teknik Sipil Universitas Pelita Harapan, pernah meneliti beton bermutu sangat tinggi (ultra high performance concrete) pada tahun 2008 sewaktu menjadi peneliti tamu di University of Kassel, Jerman. Hasil penelitiannya sudah diaplikasikan pada jembatan Gartnerplatz, yakni jembatan pejalan kaki sepanjang 132 meter di Kassel, Jerman.
Harianto berencana meneliti beton mutu sangat tinggi dengan material lokal dari Indonesia.
Jurnal internasional
Hasil penelitian para peneliti banyak yang dimuat di jurnal internasional. Penelitian Basril, misalnya, dimuat di jurnal Cell and Tissue Bank serta di kumpulan tulisan World Scientific. Lalu, hasil penelitian Laksana Tri Handoko, Kepala Group Penelitian Fisika Teoritik dan Komputasi, Pusat Penelitian Fisika-LIPI, Puspiptek Serpong, sudah beberapa kali diterbitkan di jurnal ilmiah bergengsi, seperti Physical Review, Journal of Modern Physics, Nuclear Physics, dan IEEE Journal. Sebagian besar penelitiannya berada di ranah fisika teoritik garda depan, yang judul-judulnya saja susah diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari.
Kita tengok saja makalahnya yang dimuat di jurnal Physical Review D65 tahun 2002 (Phys.Rev. D65 [2002] 077506, ditulis bersama CS Kim dan T Yoshikawa), berjudul ”Longitudinal polarization asymmetry of leptons in the pure leptonic B decays”. Handoko aktif mencari Grand Unified Theory (GUT), sebuah teori pamungkas yang akan bisa menjelaskan asal-usul semua partikel dan materi yang ada di alam semesta ini.
Handoko, yang meraih gelar S1-S3 dari Hiroshima University, Jepang, ini sehari-hari menggeluti tiga bidang, yakni fisika parlemen elementer, sains nonlinier (biofisika), dan ilmu komputasi (simulasi, data mining, dan manajemen informasi).
Handoko juga menulis tiga buku serta meraih penghargaan antara lain Habibie Award untuk kategori Ilmu-ilmu Dasar (2004) dan Achmad Bakrie Award untuk kategori Sains (2008).
Indra Bachtiar, peneliti utama di Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN), bahkan pernah menjadi peneliti di National Heart Lung and Blood Institute di Maryland, Amerika Serikat. Setelah bergabung dengan MRIN, lulusan bidang Biologi Molekular Universitas Tohoku, Jepang, ini meneliti kombinasi glycoprotein dan fetoprotein sebagai alat untuk meningkatkan diagnostik kanker hati.
Hasil penelitian telah dipublikasikan secara internasional pada tahun 2007-2008. ”Diharapkan deteksi dini terhadap kanker bisa dilakukan secepat mungkin,” kata Indra. (Budi Suwarna/Dahono Fitrianto/Lusiana Indriasari)
Published in
Biskom (April 2009)
xxxxxxxxx xxxxxxxxxxxx
Published in
Jakarta Globe (Camelia Pasandaran, 23 March 2009)
Efforts by the General Elections Commission, or KPU, to prepare for next month’s voting were once again cast in doubt as KPU officials and experts disagreed over whether the information technology network to transmit poll results would be ready in time.
“We’re expecting the tender winner to finish installing the network system by the end of this week,” Husni Fami, who heads the KPU’s IT technical team, said on Sunday.
Laksana Tri Handoko, an IT network analyst of the Indonesia Institute of Sciences, or LIPI, which helped develop the technology in question, took issue with that statement. “There is no way you can install it all in a week like they said,” Laksana said.
He explained: “They must bring and install the equipment in all district commission offices, such as in Papua and other provinces that are not easy to reach. They surely cannot use the old network because it’s a different system, the maintenance for which would be costly. They have to develop new network.”
The IT network will be used to send vote counting results from the various district election commissions to Jakarta. The network will connect the central office in Jakarta to all districts, enabling election officials to instantly access results.
The KPU announced on Thursday that PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, or Telkom, won the bid to provide and install the network, create a disaster recovery center and call center, and maintain the network.
The project is valued at Rp 14.6 billion ($1.2 million). “However, with the limited infrastructure, the provider [Telkom] would not be able to work alone. I believe it will ask other providers, such as Indosat and Excelcomindo to help them build the network. The three providers have worked together several times for these kind of projects,” Laksana said.
As of press time, Telkom could not be reached for comment on the matter.
However, Hadar Gumay, chairman of the Center for Electoral Reform, said that even if the installation was finished this week as the KPU said, the little time left for testing the system could miss significant errors.
“You cannot run the trial of a new system only a week before the elections. That’s just impossible. What if the system doesn’t run well?” he said.
Published in Kedaulatan Rakyat (9 February 2009)
Dinara Enggar Prabhakti siswa SMAN 1 Yogya juarai Olimpiade Komputer yang diselenggarakan STMIK Akakom, Sabtu (7/2) di ruang presentasi gedung laboratorium terpadu Kampus Akakom. Dinara berhak mendapat tropi dari LIPI dan uang pembinaan. Juara II-III berturut-turut diraih Toha Lukman Hakim dan Akbar Dharmaputra dari SMAN 3 Yogya. Sedang harapan I dan II diraih Muh Ghozy Ul-Haq dan Fanni Sayuti siswa SMAN 1 Bantul. Olimpiade tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-30 STMIK Akakom. Ketua panitia Sigit Anggoro ST MT Mengatakan, olimpiade diikuti 47 siswa SMA/SMK se-Jateng DIY. Selain itu juga diselenggarakan workshop e-learning yang diikuti guru pendamping siswa. Dalam olimpiade itu, 90 menit pertama siswa langsung berhadapan dengan komputer dan mengerjakan 70 soal multiplechoice. Kemudian 90 menit kedua siswa diminta praktik membuat program. Olimpiade dinilai oleh Dr LT Handoko selaku dewan juri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Melalui kegiatan ini, Sigit mengatakan, STMIK akakom ingin menjalin sinergi dengan SMA/SMK. ~Di perguruan tinggi diajarkan soal programming. Kami ingin ada kesinambungan dengan SMA/SMK. Selain itu lewat olimpiade ini sekaligus dapat memberikan gambaran kepada siswa ke mana mereka bisa melanjutkan studi setelah lulus nanti,~ kata Sigit. Olimpiade kali ini merupakan kegiatan ilmiah di bidang pemrograman komputer sehingga kegiatannya di bawah payung Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) STIMIK Akakom. Tahun ini genap 30 tahun STMIK Akakom sebagai perguruan tinggi komputer pertama di Jawa Tengah dan DIY mengabdi untuk pengembangan pendidikan teknologi informasi. Olimpiade komputer rencananya akan kami selenggarakan setiap tahun. (R-4/Jay)-c
Published in STMIK Akakom (7 February 2009)
Olimpiade komputer 2009 ini diselenggarakan oleh STMIK AKAKOM untuk memeriahkan rangkaian acara ulang tahun STMIK AKAKOM yang ke-30 dan sekaligus sebagai ajang pembuktian diri bagi siswa-siswa SMU/SMA/SMK untuk menunjukkan kemampuan belajar dalam bidang teknologi informasi.
Acara ini terselenggara atas kerjasama STMIK AKAKOM dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta dan Departemen Pendidikan Pemuda dan Olahraga propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dewan yuri terdiri dari
Olimpiade ini menghasilkan juara 1, 2, 3 dan harapan 1, 2 sebagai berikut
Published in Open Access News (Peter Suber, 26 January 2009)
L. T. Handoko, A New Approach for Scientific Data Dissemination in Developing Countries: A Case of Indonesia, Earth, Moon, and Planets, January 14, 2009. Only an abstract and short preview are free online, at least so far.
Abstract: This short paper is a progress report on our experiences in Indonesia of collecting, integrating and disseminating both global and local scientific data across the country through the web. Our recent efforts are concentrated on improving local public access to global scientific data, and encouraging local scientific data to be more accessible for global communities. We have maintained a well-connected infrastructure and web-based information management systems to realize these objectives. This paper is especially focused on introducing the ARSIP system for mirroring global data and sharing local scientific data, and the newly developed Indonesian Scientific Index for integrating local scientific data through an automated intelligent indexing system.
PS: Does anyone know what "ARSIP" stands for in this context? Is it the old US military acronym for "Accuracy, Reliability, Supportability Improvement Program" or is it something more data-specific?
Update.
Update (1/27/09)
Update (3/8/09)
Published in Kompas (Salomo Simanungkalit, 9 January 2009)
Saya dengar dari seorang kawan, pengajaran fisika di perguruan tinggi di Malaysia berlangsung dalam bahasa Inggris. Dengan mempertahankan istilah dan konsep fisika dalam bahasa Inggris, begitulah tujuannya, mahasiswa dan sarjana mereka dapat serta-merta dengan lekas menyerap perkembangan ilmu ini. Setakat ini gerak maju ilmu alam memang dipelopori fisikawan di negara- negara yang sainsnya berada di garda depan. Amerika Serikat yang berbahasa Inggris boleh dibilang sang jawara sekarang.
Saya tidak setuju dengan kebijakan pengajaran ala negeri jiran itu. Fisikawan-fisikawan terbaik kita seperti Achmad Baiquni, Moehammad Barmawi, Tjia May On, Pantur Silaban, Hans Jacobus Wospakrik, Erwin Sucipto, hingga Laksana Tri Handoko dulu menyerap berat jenis, gaya tarik-menarik, lintasan peluru, perpindahan panas, dan sebagainya~yang sebagian merupakan ciptaan Komisi Istilah pada akhir 1940-an~ketika memahami ilmu alam di masa-masa pertama. Mereka toh tak canggung belajar fisika lanjut di bawah bimbingan fisikawan sekelas pemenang Nobel.
Dalam mempelajari ilmu apa pun, sikap utama yang perlu dianut adalah cari dahulu ilmu dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu. Yang utama adalah pemahaman, bukan istilah yang dipertahankan dalam bahasa sononya. Kegenitan seperti yang dilakukan jiran kita hanya memiskinkan lumbung bahasa setempat menampung segala gagasan cemerlang membongkar rahasia semesta.
Maka, ketika membaca Jaya Suprana membahas ungkapan terkenal survival of the fittest gubahan Herbert Spencer yang dikait-kaitkan dengan Teori Evolusi Charles Darwin, sedikit terganggu saraf kebahasaan saya. Bahwa sahabat dekat Gus Dur ini menjelaskan dengan jitu asal-usul slogan itu dan mengartikannya dengan jelas, tentu saja kabar baik bagi sebagian orang Indonesia yang salah memahaminya sebagai ~si kuatlah yang dapat bertahan~. Fit dalam konteks ini bukan kuat, melainkan sesuai, selaras, pas, atau cocok. Makna yang betul dari ungkapan itu tentulah ~yang mampu bertahan hidup adalah yang paling mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya~.
Sepanjang artikelnya, Jaya membiarkan slogan itu tanpa terjemahan: survival of the fittest. Kok tak ada versi bahasa Indonesianya, ya?
Kamus Besar Bahasa Indonesia susunan Pusat Bahasa baru di dalam edisi ketiga memunculkan lema sintas. Makna kata berkelas adjektiva ini: ~terus bertahan hidup~ atau ~mampu mempertahankan keberadaannya~. Yang menyanyi adalah penyanyi; yang menyesuaikan diri, ya, penyesuai. Maka, survival of the fittest bisa direkayasa dalam bahasa Indonesia sebagai kesintasan penyesuai.
Menerjemahkan istilah atau ungkapan ilmiah, bahkan slogannya, dalam bahasa setempat perlu sekali membantu seorang pelajar dan terajar yang tersesat memahami dengan tepat sebuah gagasan dalam ilmu pengetahuan. Tak semua memang harus diterjemahkan. Ada istilah ilmu yang punya latar sejarah kuat yang tak perlu dialihbahasakan. Spektrum (Newton) dan quark (Gell-Mann). Ini hanya secuil contoh.
Published in fisik@net (Agus Purwanto, 21 December 2008)
~Akhir yang manis dari penantian panjang~, ungkap penulis ketika mengetahui nama-nama penerima nobel fisika 2008. Betapa tidak, tahun 1998 sebelum meninggalkan almamaternya L.T. Handoko sejawat penulis di Universitas Hiroshima bercerita bahwa komunitas fisika teori Jepang berharap Kobayashi dan Maskawa mendapat nobel fisika.
Sebenarnya, tidak ada ahli fisika di dunia yang bekerja dengan misi khusus mendapat nobel, tidak terkecuali Yoichiro Nambu, Makoto Kobayashi dan Toshihide Maskawa. Mereka bekerja karena mencintai pekerjaannya, mencintai ilmu. Tetapi dalam perkembangannya ada alasan yang membuat komunitas fisika teori Jepang berharap nobel bagi sejawat senegara mereka.
Nobel fisika 2008 berbeda dari nobel fisika 1979 yang juga diberikan kepada tiga ahli fisika teori yaitu Abdus Salam, Sheldon Glashow dan Steven Weinberg. Ketiga fisikawan ini berasal dari negara berbeda, Salam dari Pakistan dan tinggal di Itali sedangkan dua lainnya dari Amerika tetapi mendapatkan nobel fisika untuk satu teori yang sama yaitu teori unifikasi gaya elektrolemah. Teori ini sekarang sering disebut sebagai teori Glashow-Salam-Weinberg.
Sebaliknya Nambu, Kobayashi dan Maskawa berasal dari satu negara tetapi mendapatkan nobel untuk dua teori berbeda. Nambu yang kelahiran Tokyo 1921 dan mendapatkan gelar dotornya di Universitas Tokyo tahun 1952 serta menjadi profesor di Universitas Chicago sejak 1958 dianugerahi nobel karena gagasan perusakan simetri spontannya (sponatenous symmetry breaking, SSB) dalam model sigma.
Gagasan ini dimuat dalam prosiding konferensi internasional kesepuluh fisika energi tinggi di Jenewa tahun 1960. Satu tahun kemudian Jeffrey Goldstone dari Amerika menulis generalisasi SSB untuk fermion di jurnal Nuovo Cimento. Hasil sampingnya berupa boson tak bermassa. Di buku-buku teks SSB kadang diidentifikasi dengan dua nama Nambu-Goldstone tetapi lebih sering hanya satu nama yaitu Goldstone dengan sebutan teorema Goldstone.
Gagasan Goldstone disempurnakan Peter Higgs tahun 1964 dengan mekanisme pembangkitan massa Higgs yang terkenal dalam fisika partikel modern. Mekanisme terakhir ini memberi bonus partikel Higgs yang menjadi perburuan di eksperimen terbesar dalam sejarah umat manusia Large Hadron Collider (LHC) di CERN Jenewa. Dengan demikian, jika SSB mendapatkan nobel maka yang seharusnya menerima adalah trio Nambu, Goldstone dan Higgs.
Kobayashi dan Maskawa (KM) mendapatkan penghargaan karena ide mereka yang dipublikasi di jurnal Progress of Theoretical Physics tahun 1973 dengan judul CP violation in the renormalizable theory of weak interaction. KM mengintrodusir matriks bauran dimensi tiga yang memuat dua hal baru. Pertama, kuark generasi ketiga bottom dan top, kedua, fasa CP (charge conjugation dan parity). Fasa dan simpangan CP merupakan salah satu syarat terjadinya alam semesta saat ini yang asimetri dari kondisi awal simetri.
Konfirmasi kuark top di CDF Fermilab tahun 1998 membangkitkan harapan nobel bagi KM. Konfirmasi simpangan CP melalui B-factory di akselerator linier Stanford (SLAC-B) dan Belle di pusat riset fisika energi tinggi (KEK) Tsukuba tahun 2001 meneguhkan harapan ini.
Tahun 1963, Nicola Cabibbo dari Itali menulis matriks bauran dua dimensi di Physical Review Letter (PRL). Dengan demikian, matriks KM dapat dipandang sebagai perluasan dari matriks Cabibbo sehingga sampai sekarang matriks ini disebut matriks CKM (Cabibbo-Kobayashi-Maskawa). Karenanya, nobel mestinya tidak hanya diberikan kepada KM melainkan juga Cabibbo.
Nobel fisika tahun ini juga menyisakan sisi lain yang menarik bagi orang Indonesia. Setelah peraih nobel fisika 2008 diumumkan, ahli fisika teori L.T. Handoko mendapat email dengan bunyi, ~Thank you for the works contributed to the establishing the theory...~ dari para koleganya di Jepang. Handoko memang mempunyai hubungan personal yang kuat khususnya dengan Kobayashi sebagai host-profesor ketika berada di KEK Tsukuba antara tahun 1996-1997.
Ungkapan terimakasih tersebut terkait dengan riset Handoko dan koleganya dari Jepang, Jerman, Korsel dan Kanada pada kurun 1995-2002 yang mengkaji perusakan simetri global pada materi nuklir meson B. Kuark b berada di alam dalam bentuk materi nuklir meson B. Karenanya eksperimen untuk membuktikan teori ini selalu melibatkan meson B dan peluruhannya. Kalkulasi teori terkait dengan aneka mode peluruhan dan hasil akhirnya ini banyak dilakukan oleh Handoko pada era tersebut.
Dilain pihak, ada beberapa ilmuwan Indonesia yang turut berperan pada proses pembuktian eksperimental yang menjadi kunci penentu anugerah nobel untuk KM. Pada eksperimen pencarian kuark top misalnya, salah seorang anggota kolaborasi D-zero (D0) adalah van de Brink mahasiswa Indonesia alumni jurusan fisika UI.
Eksperimen yang lebih penting dan merupakan kunci utama konfirmasi kebenaran teori KM adalah B-factory. Selama ini ada dua fasilitas eksperimen utama yang bersaing ketat yaitu eksperimen BaBar di SLAC Stanford dan Belle di KEK Tsukuba. Di dalam kolaborasi BaBar terdapat dua ilmuwan Indonesia, Romulus Godang dan Rahmat.
Romulus yang asisten profesor di Universitas South Alabama dan alumni jurusan fisika USU bergabung sejak awal dimulainya kolaborasi BaBar sampai sekarang. Rahmat yang menyelesaikan program doktoralnya di University of Oregon melanjutkan program post-doctoral di Universitas Mississippi juga masih aktif di eksperimen BaBar. Demikian pula Haryo Sumowidagdo, alumni jurusan fisika UI, sampai saat ini masih bergabung di eksperimen D0.
Maskawa barangkali sosok yang paling unik dari trio peraih nobel fisika tahun ini. Penulis pernah dua kali bertemu Profesor Maskawa, tahun 1999 di universitas Hiroshima dan tahun 2001 di Yukawa Institue for Theoretical Physics (YITP) universitas Kyoto institusi tempat Maskawa. Ada hal yang tidak dapat penulis lupakan dari kedua pertemuan tersebut.
Ketika di universitas Hiroshima seorang teman membisiki penulis bahwa Maskawa tidak dapat berbicara dalam bahasa Inggris sehingga bila mau bicara dengannya harus dengan bahasa Jepang. Hal yang sama juga terjadi ketika di YITP, host-profesor penulis di sana berbisik sama. ~Shinjirarenai (tidak dapat dipercaya)~, demikian reaksi dalam hati ketika dibisiki untuk pertama kalinya.
Dari kisah di depan, ada dua pelajaran yang dapat diambil oleh fisikawan dan ilmuwan Indonesia umumnya. Pertama, gagasan Nambu maupun KM yang akhirnya mendapatkan nobel dimuat di prosiding dan jurnal dengan impact factor atau peringkat tidak tinggi. Reputasi ilmuwan secara umum ditentukan oleh jumlah publikasi dan peringkat jurnalnya. Hitoshi Murayama dari University of California Berkeley dan Ernest Ma dari University of California Riverside, misalnya, selalu berusaha menulis tema terdepan dan mempublikasikannya di PRL yang ber-impact factor paling tinggi di antara jurnal fisika.
Semangat seperti Murayama maupun Ma sangat positif tetapi sejarah membuktikan idealisme semacam ini tidaklah perlu. Beberapa senior kita tidak mau publikasi bila tidak di jurnal papan atas dan akhirnya memang tidak mempunyai publikasi atau karya satu pun sampai masa pensiunnya. Semangat umum ilmuwan Jepang patut ditiru, publikasikan hasil riset di jurnal internasional apapun. Makna jurnal internasional disini adalah untuk menjamin visibilitas karya tulis sehingga bisa diketahui oleh komunitas global. Selanjutnya kita tidak perlu menghakimi karya sendiri tetapi biarkan orang lain menilainya. Bagi kita yang terpenting adalah berkarya dan berkarya.
Kedua, kolaborasi akan menutupi kekurangan dan kelemahan individual para ilmuwan. Di Indonesia, ilmuwan khususnya fisikawan teori jumlahnya baru belasan. Mereka tidak boleh lagi bangga dengan institusi sendiri maupun almamater tetapi tanpa karya, tanpa publikasi. Sekarang banyak universitas kita yang mengakselerasi lahirnya guru-guru besar baru untuk meningkatkan status universitas. Sayangnya, dari setiap pengukuhan dapat dilihat bahwa guru-guru besar ini umumnya tidak mempunyai publikasi internasional kecuali saat menempuh program doktoralnya di luar negeri.
Kondisi paradoks tersebut dapat diatasi melalui kolaborasi. Salah satu contoh kolaborasi adalah Indonesia Center for Theoretical dan Mathematical Physics (ICTMP) yang melibatkan beberapa ahli fisika teori dalam dan luar ITB. Upaya ini memberi hasil dengan mulai munculnya hasil-hasil riset mereka di beberapa jurnal internasional. Jumlah ahli fisika teori Indonesia sekarang belum berubah secara signifikan dibanding tiga puluh tahun lalu. Tetapi kolaborasi telah membedakan dua generasi ini, publikasi menandai generasi yang belakangan. Juga komunitas ilmiah yang kuat sebagai motivator semangat berkarya seperti Grup Fisikawan Teoritik Indonesia (GFTI) yang menanungi pertemuan tahuan komunitas teori Indonesia, yaitu Workshop on Theoretical Physics.
Nobel bukanlah tujuan utama, yang lebih penting adalah tumbuhnya sikap dan tradisi ilmiah. Penyelesaian berbagai masalah akan jauh lebih efektif bila berdasar pemahaman sains dan tidak sekedar mengandalkan common sense. Di antara negara dengan jumlah penduduk terbesar seperti Cina, India, Amerika dan Indonesia hanya negeri kita yang belum menguasai ilmu pengetahuan. Padahal tanpa ilmu pengetahuan teoritis maupun praktis kita tidak akan mampu mengelola sumber daya alam yang melimpah yang pada gilirannya kita menjadi bangsa yang bergantung pada bangsa lain.
Published in Koran Tempo (Wuragil, 4 Desember 2008)
Berdasarkan riset dan hitung-hitungan yang sudah dilakukannya, Irwan Ary Dharmawan, fisikawan dari Universitas Padjadjaran Bandung, menyarankan sel-sel bakar (fuel cell) menggunakan media berporositas rendah sebagai anoda ataupun katodanya. "Peningkatan polarisasi gasnya jauh lebih tinggi dengan media ini daripada yang porositasnya tinggi," katanya.
Irwan keluar dengan kesimpulan itu setelah melakukan simulasi difusi beberapa macam gas sekaligus dalam geometri yang kompleks. Sayang, output berupa saran itu diberikannya kepada para ahli teknik kimia yang sedang bereksperimen dengan fuel cell di negara tetangga, Singapura.
Irwan mengungkapkan pengalaman penelitiannya itu dalam Konferensi Komputasi dan Fenomena Nonlinear yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kemarin. Untuk pertama kalinya, konferensi itu menggabungkan pertemuan tahunan "Workshop on Computational Sciences" dan "Workshop on Nonlinear Phenomena" yang masing-masing diselenggarakan sejak 2004 dan 2006.
Laksana Tri Handoko, ketua panitia konferensi, menyatakan selama ini fenomena-fenomena nonlinear yang mendominasi sampai 99 persen kehidupan manusia (seperti pergerakan saham dan kemacetan lalu lintas) membutuhkan komputer dan pendekatan numerik--bukan analitik--sebagai penyelesaiannya. Sedangkan sains komputasi meliputi proses konstruksi model matematis dan teknik solusi numeriknya membutuhkan algoritma kalau ingin diolah lebih jauh. "Keduanya, fenomena nonlinear dan komputasi, saling terkait," kata peneliti di Pusat Penelitian LIPI itu.
Selain pengembangan sel bakar, kolaborasi kedua ilmu itu, ditambah dengan teknik komputasi, juga akan mudah sekali terlihat misalnya pada pengembangan teknologi komunikasi via kabel optik. Komunikasi yang mengandalkan gelombang cahaya ini, menurut Handoko, termasuk nonlinear. "Riset-risetnya di antaranya berguna untuk mencari teknik dan material yang efisien tapi murah," ujarnya.
Ada pula aplikasi untuk pengembangan di bidang teknologi nuklir. "Konferensi seperti saat ini diharapkan menjadi pemicu aktivitas riset yang terpadu untuk mengejar ketertinggalan kita yang bisa berdampak serius terhadap bidang-bidang lainnya di masa mendatang," tutur Handoko.
Mulai tahun depan, Handoko menginformasikan, konferensi juga berencana mempersatukan bidang ilmu fisika teori.
Published in BIP Kominfo (4 Desember 2008)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Masyarakat Komputasi Indonesia (MKI) menggelar konferensi ilmiah dengan fokus pada fenomena non-linier dan seluruh aspek komputasinya.
Konferensi yang bertajuk Conference on Computational, Computing and Non-linear Science (CCCNS 2008) merupakan yang pertama di Indonesia dan diinisiasi oleh konsorsium gabungan lembaga penelitian dan universitas di Indonesia yang bernaung di MKI.
~Pertemuan ilmiah ini merupakan gabungan dari pertemuan tahunan Workshop on Computational Science (WCS) dan Workshop on Non-linear Phenomena (WNP) yang diselenggarakan tahun 2004 dan 2006,~ kata Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, Laksana Tri Handoko di Jakarta, Rabu (3/12).
Menurutnya, penyelenggaraan dan penggabungan pertemuan itu oleh LIPI merupakan percobaan pertama untuk mempertemukan komunitas sains komputasi, dan komunitas non-linier, kemudian ditambah komunitas teknik komputasi.
~Selama ini pertemuan itu dilakukan sendiri-sendiri, yang satu pertemuan komunitas sains komputasi dan satu lagi komunitas non-linier, dan baru tahun ini kita gabung menjadi satu,~ tambahnya.
Tujuannya adalah agar ada komunikasi di antara komunitas tersebut, sekaligus untuk mensosialisasikan kepada masyarakat, bahwa ada bidang semacam itu. Kemudian tindak lanjutnya secara umum biasanya diantara mereka terus ada kolaborasi riset.
Disebutkan, fenomena non-linier merupakan tantangan utama para ilmuwan teoritik di berbagai bidang, karena hampir seluruh aspek kehidupan manusia tidak mengikuti hukum-hukum linier yang bisa direpresentasikan dengan matematika linier, dan karenanya bisa dipecahkan solusinya.
Sejauh ini fenomena non-linier dipecahkan dengan pendekatan nomerik memakai sains komputasi, dan pada banyak kasus memerlukan perangkat komputasi berkinerja tinggi seperti komputer paralel.
Sedangkan sains komputasi sendiri meliputi proses konstruksi model matematis dan teknik solusi numeriknya memakai komputer, kemudian akan diolah lebih lanjut memakai algoritma tertentu oleh komunitas teknik komputasi seperti TI. ~Sehingga jelas keterkaitan serta simbiosis mutualisma diantara ketiga komunitas tersebut, ~ujarnya.
Sayangnya sejauh ini Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia dan infrastruktur untuk melakukan kajian mendalam. Oleh karenanya, LIPI berharap pertemuan ilmiah tersebut menjadi pemicu aktivitas riset untuk mengejar ketertinggalan yang bisa berdampak serius di bidang-bidang lainnya di masa datang. (T.Gs/id/c)
Published in NTT Online News
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Masyarakat Komputasi Indonesia (MKI) mengadakan pertemuan ilmiah pertama di Indonesia yang membahas fenomena non-linier dan seluruh aspek komputasinya, di Jakarta, Rabu.
"Konferensi dengan topik ini adalah yang pertama kali digelar di Indonesia dan diinisiasikan oleh konsorsium gabungan lembaga penelitian dan universitas di Indonesia yang bernaung di bawah MKI," kata Laksana Tri Handoko, peneliti dari Pusat Penelitian Fisika LIPI, di Jakarta, Rabu. "Pertemuan ilmiah ini merupakan penggabungan dari pertemuan tahunan `Lokakarya Ilmu Komputasi` (WCS) dan `Lokakarya Fenomena Non-Linier` (WNP) yang diselenggarakan masing-masing sejak tahun 2004 dan 2006," kata Laksana Tri Handoko menjelaskan.
Lebih lanjut ia mengatakan penyelenggaraan dan penggabungan dua ajang ilmiah itu pada tahun 2008 ini oleh LIPI merupakan upaya percobaan pertama untuk mempertemukan komunitas sains komputasi, komunitas non-linier, dan ditambah dengan komunitas teknik komputasi. "Fenomena non-linier merupakan tantangan utama para ilmuwan teoritik di berbagai bidang, karena hampir semua aspek kehidupan manusia tidak mengikuti hukum-hukum linier yang bisa direpresentasikan dengan persamaan matematika linier, dan karenanya bisa dipecahkan solusinya," ujar dia.
"Sejauh ini fenomena non-linier dipecahkan dengan pendekatan numerik memakai sains komputasi dan pada banyak kasus memerlukan perangkat komputasi berkinerja tinggi seperti komputer paralel," kata Laksana. Ia melanjutkan, "Sains komputasi sendiri meliputi proses `konstruksi model matematis` dan `teknik solusi numeriknya` memakai komputer, yang kemudian akan diolah lebih lanjut memakai `algoritma` tertentu oleh komunitas teknik komputasi seperti Teknologi Informasi."
Laksana mengakui di Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia dan infrastruktur untuk melakukan kajian mendalam di topik ini. "Itu sebabnya LIPI Public Cluster dan seri pertemuan ilmiah bisa menjadi pemicu aktifitas riset untuk mengejar ketertinggalan kita yang bisa berdampak serius di bidang-bidang lainnya di mada mendatang," kata dia. Pertemuan ilmiah ini dihadiri sekitar 100 peserta, mulai dari peneliti senior sampai mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Pertemuan menampilkan 26 makalah ilmiah di sesi pleno dan dua sesi paralel.
Published in Antara (3 Desember 2008)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan Masyarakat Komputasi Indonesia (MKI) menggelar konferensi ilmiah dengan fokus fenomena non-linier dan seluruh aspek komputasinya.
Konferensi yang bertajuk Conference on Computational, Computing and Non-linear Science (CCCNS 2008) merupakan yang pertama di Indonesia dan diinisiasi oleh konsorsium gabungan lembaga penelitian dan universitas di Indonesia yang bernaung di MKI.
"Pertemuan ilmiah ini merupakan gabungan dari pertemuan tahunan Workshop on Computational Science (WCS) dan Workshop on Non-linear Phenomena (WNP) yang diselenggarakan tahun 2004 dan 2006," kata Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, Laksana Tri Handoko di Jakarta, Rabu.
Penyelenggaraan konfrensi sendiri dikatakannya merupakan percobaan pertama yang mempertemukan komunitas sains komputasi, komunitas non-linier yang bertujuan menjalin komunikasi di antara komunitas tersebut, sekaligus mensosialisasikan kepada masyarakat terkait keberadaan komunitas.
"Selama ini pertemuan sudah sering namun dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing komunitas, dan baru tahun ini kita gabung menjadi satu", katanya.
Fenomena non-linier saat ini merupakan tantangan utama para ilmuwan teoritik di berbagai bidang karena hampir seluruh aspek kehidupan manusia tidak mengikuti hukum-hukum linier yang bisa direpresentasikan dengan matematika liniear, dan karenanya bisa dipecahkan solusinya.
Sejauh ini fenomena non-linier dipecahkan dengan pendekatan nomerik memakai sains komputasi, dan pada banyak kasus memerlukan perangkat komputasi berkinerja tinggi seperti komputer paralel.
Sedangkan sains komputasi sendiri dikatakan Laksana meliputi proses konstruksi model matematis dan teknik solusi numeriknya memakai komputer, kemudian akan diolah lebih lanjut memakai algoritma tertentu oleh komunitas teknik komputasi seperti TI.
"Sehingga jelas keterkaitan serta simbiosis mutualisma diantara ketiga komunitas tersebut", ujarnya.
Namun begitu diakuinya sejauh ini Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia dan infrastruktur untuk melakukan kajian mendalam.
Oleh karenanya, LIPI berharap pertemuan ilmiah tersebut menjadi pemicu aktivitas riset untuk mengejar ketertinggalan yang bisa berdampak serius di bidang-bidang lainnya di masa datang.
Published in Trans TV (23 November 2008)
Host :
Guest : L.T. Handoko
Place of interview : my home
Published in Cakrawala Gita Swara 98.3 FM (25 October 2008)
Host : Puji Andreas and Santy Andani
Guest : Muhammad Budi Setiawan (Deputy of Ministry for Youth and Sport), L.T. Handoko
Place of live : Hayam Wuruk Plaza Tower (12th floor)
Published in Koran Tempo (9 Oktober 2008)
Sosok Makoto Kobayashi sangatlah berarti bagi LT Handoko, peneliti pada Pusat Penelitian Fisika di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Serpong. "Dia sangat bersahabat dan low profile," kata Handoko tentang host professor-nya itu kemarin.
Handoko memang pernah menimba ilmu tentang simetri yang rusak secara langsung dari Kobayashi, salah satu pemenang Hadiah Nobel Fisika 2008. Handoko, yang sejak 1995 sampai 2003 mendalami teori penting dalam fisika partikel itu, mendapat kesempatan belajar di bawah bimbingan Makoto di KEK selama dua tahun.
Handoko bercerita, Makoto dan rekannya--Toshihide Maskawa--memprediksi bahwa setidaknya ada tiga famili quark baru selain tiga quark yang telah diketahui. "Mereka juga memprediksi apa yang akan terjadi bila ada enam quark, yaitu rusaknya simetri," kata Handoko. "Prediksi kerusakan simetri itu akhirnya terbukti dalam eksperimen yang dilakukan pada 1998-2002."
Handoko mengakui rusaknya simetri memang agak sulit dipahami oleh orang awam, meskipun teori itu menjelaskan aneka interaksi di alam semesta. "Manusia memang tidak merasakan apakah dunia yang kita tempati ini simetri atau tidak, tapi ketidakseimbangan akibat rusaknya simetri itulah yang membuat segala sesuatu bergerak," kata Handoko. "Ketidakseimbangan itulah yang membuat alam selalu berubah dan mengalir."
Rusaknya simetri juga menjelaskan bagaimana alam semesta terbentuk ketika Big Bang terjadi hampir 14 miliar tahun lalu, di mana antimateri tercipta hampir sebanyak materi.
"Ini seperti ada elektron yang bermuatan negatif, maka ada positron yang sifatnya sama dengan elektron tapi muatannya positif," ujarnya. "Di alam semesta semestinya juga sama, ada keseimbangan antara materi dan antimateri. Tapi ternyata materi lebih banyak, sehingga hal itu menjelaskan bahwa segala sesuatu tidak perlu seimbang."
Published in
Situs KRT (24 September 2008)
Sekali lagi dipicu oleh liputan media yang tidak direncanakan sebelumnya, secara mendadak Menristek Kusmayanto Kadiman melakukan kunjungan ke P2 Fisika LIPI di Serpong. Salah satu fokus kunjungan adalah untuk melihat Public Cluster yang sebelumnya sempat diberitakan di media cetak.
Tanpa seremoni apapun, dan dengan mengendarai sepeda motor ~pinjaman~ dari satpam kawasan Puspiptek, Menristek tiba sekitar pk 10:00 WIB.
Dalam kunjungan ke dalam ruangan Workshop GFTK di mana Public Cluster berada, Menristek meluangkan waktu hampir 2 jam untuk berdiskusi ~hangat~ seputar cluster serta penelitian ~teoritik~ pada umumnya.
Semoga kunjungan ini cukup memberi oleh-oleh dan wawasan kepada Menristek akan geliat penelitian lanjut terkait teoritik yang selama ini relatif sepi dan dalam beberapa konteks kurang dihargai. Meski demikian kami di GFTK tetap bersemangat dan konsisten melakukan kajian ilmiah di bidang kami dengan kondisi yang ada seperti selama ini sudah berjalan.
Dalam kesempatan tersebut Menristek memberikan beberapa masukan penting, antara lain terkait dengan ~marketing~ agar pemakai Public Cluster bisa lebih banyak khususnya yang dari internal LPND di bawah KRT. Meski sebenarnya usaha sosialisasi sudah kami lakukan sejak awal melalui media maya komunitas terkait. Sebenarnya menurut kami hal ini tidak menjadi masalah karena memang kendala utama adalah kurangnya SDM yang memiliki kemampuan melakukan pemrograman paralel. Justru hal inilah yang memotivasi kami untuk mengembangkan sarana mesin paralel yang sifatnya terbuka.
Kami berharap ke depan semakin banyak generasi muda yang memiliki kemampuan tersebut, sehingga akan mendorong munculnya topik penelitian komputasi lanjut di berbagai bidang penelitian.
Minimal, kami berterima-kasih atas kunjungan dan perhatiannya...
Published in Media Indonesia (15 September 2008)
ILMUWAN di Organisasi Eropa untuk Penelitian Nuklir (CERN) beberapa waktu lalu telah mulai menyalakan mesin besar penghancur partikel. Tujuannya untuk meniru kondisi terjadinya big bang atau letusan keras yang menciptakan alam semesta.
Mesin bernama Large Hadron Collider (LHC) yang dibangun selama 19 tahun tersebut merupakan mesin buatan manusia terbesar dan terlengkap. Bahkan ilmuwan menyatakan platform mesin itu sebagai percobaan keilmuwan terbesar dalam sejarah manusia. Percobaan itu tepat dilakukan di dalam sebuah bilik tertutup rapat serta terkubur di bawah perbatasan Swiss dan Prancis. Target para ilmuwan ini ialah mulai membuka kunci rahasia utama dalam fisika modern serta mencari jawaban dari pertanyaan terkait alam semesta beserta isinya.
Untuk pertama kalinya, mesin seharga US$9 miliar ini berhasil menampilkan titik sinar pada layar di ruang kontrol CERN. Sebuah partikel sinar seukuran rambut manusia muncul dalam terowongan bundar sedalam 27 km. "Kami telah mendapatkan sinar pada LHC," kata pemimpin proyek Lyn Evans kepada sejumlah koleganya yang disambut tepuk tangan.
Sekitar ratusan fisikawan dan juru teknik yang berkumpul di ruang kontrol itu pun lantas merayakan keberhasilan sebuah partikel sinar dalam menyelesaikan lintasan akselerator satu arah. Selanjutnya, ilmuwan berencana mengirim kembali sinar mengelilingi LHC dengan arah yang berbeda. Tujuannya untuk mengetes keterbukaan jalur itu.
Jika berhasil, akan terdapat kemungkinan untuk mengirim sinar-sinar lainnya dalam arah yang berbeda secara serempak. Tujuannya menciptakan benturan energi tingkat tinggi yang dekat dengan kecepatan cahaya.
Para ilmuwan dunia dengan penuh hasrat mengantisipasi data dari tabrakan yang kecil itu. Terdapat kemungkinan tabrakan tersebut menyebabkan terciptanya sebuah materi. Layaknya proses 'big bang' alam semesta.
Tentunya, ilmuwan harus mampu menyediakan teori yang benar terkait pertanyaan mengapa ada massa (berat) dalam suatu benda, yang dikenal sebagai teori 'Higgs Boson'. Ini merupakan teori partikel yang sulit dipahami. Higgs juga dikenal sebagai 'partikel dewa', nama yang diberikan untuk fisikawan Peter Higgs asal Skotlandia yang pertama kali mendalilkan keberadaan partikel ini pada 1964.
Di Indonesia, terdapat sekelompok fisikawan juga tengah mengembangkan teori keberadaan partikel Higgs atau partikel hipotesis yang bisa menjawab pertanyaan dari mana asal usul massa materi. Ketekunan memburu partikel Higgs ikut membuahkan hasil bagi fisikawan LIPI Laksana Tri Handoko yang meraih Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) 2008 untuk kategori sains dan teknologi melalui penelitian partikel ini.
Published in KapanLagi.com (15 September 2008)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2008 mulai tanggal 15 September dengan sistem online melalui Sistem Informasi Penerimaan CPNS LIPI (SIPC) yang bisa diakses di www.cpns.lipi.go.id.
Tahapan proses penerimaan CPNS LIPI terdiri dari verifikasi administrasi (15 September - 24 Oktober 2008), ujian tertulis (1 November 2008), wawancara (10 - 12 November 2008), dan pengumuman pelamar diterima (15 November 2008).
Siaran Pers LIPI di Jakarta, Senin (15/9), menyebutkan, CPNS yang diterima di LIPI akan mulai aktif bekerja pada tanggal 1 Maret 2009.
"LIPI mendapat formasi dari MenPAN sebanyak 152 orang tahun ini. Jumlah ini terbagi untuk formasi peneliti, teknisi, dan tenaga administrasi dari berbagai tingkat pendidikan (SLTA, D3, S1, S2, S3) dengan berbagai latar belakang kajian ilmu," jelas Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian (BOK) LIPI Dr. Siti Nuramaliati Prijono.
Terkait perubahan proses penerimaan CPNS secara umum oleh MenPAN/BKN sejak 2004 lalu, LIPI menerapkan Sistem Penerimaan Pegawai Online pada tahun 2005 yang terbukti sangat efektif baik dari segi waktu, dana maupun tenaga, tuturnya. Sistem Penerimaan Pegawai Online adalah perangkat lunak generik yang kemudian diaplikasikan di SIPC LIPI sejak tahun 2005 dan telah memperoleh Hak Cipta yang diterbitkan Departemen Hukum dan Perundangan RI dengan registrasi No. 036749 pada tanggal 9 Juni 2008.
Penggagas SIPC-LIPI Dr. Laksana Tri Handoko menambahkan, sistem SIPC yang berbasis web dinamis ini memungkinkan seluruh proses dilakukan secara online dan transparan bagi semua pihak terkait (pelamar, panitia/LIPI, dan masyarakat).
"Kelebihan sistem ini selain mudah dipakai dan dipelihara oleh seluruh pihak terkait juga sangat transparan?, ungkapnya.
Dengan sistem ini dimungkinkan kontrol internal yang ketat dan check and re-check antar bagian dan level.
"Sebagai bukti, penyimpangan hasil dari SIPC tahun lalu sangat kecil terjadi, karena terdapat sekuriti akses di setiap level," tegas Handoko, yang juga peneliti di Puslit Fisika, LIPI.
Published in Radar Bogor (13 September 2008)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2008.
Kesempatan ini dibuka mulai 15 September dengan sistem online melalui sistem informasi penerimaan CPNS LIPI (SIPC) yang bisa diakses di www.cpns.lipi.go.id. Tahapan proses penerimaan CPNS LIPI terdiri dari berbagai tahapan, yakni tahap verifikasi administrasi (15 September-24 Oktober 2008), ujian tertulis (1 Nopember 2008), wawancara (10-12 Nopember 2008) dan pengumuman pelamar diterima (15 Nopember 2008). CPNS yang diterima di LIPI akan mulai aktif bekerja pada 1 Maret 2009.
~LIPI mendapat formasi dari MenPAN sebanyak 152 orang tahun ini,~ jelas Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian (BOK) LIPI, Siti Nuramaliati Prijono.
Jumlah ini terbagi untuk formasi peneliti, teknisi dan tenaga administrasi dari berbagai tingkatan pendidikan. Mulai dari SMA, D3, S1, S2, S3 dengan berbagai latar belakang kajian ilmu.
Perubahan proses penerimaan CPNS secara umum oleh MenPAN/BKN sejak 2004 lalu dan sejak 2005 LIPI menerapkan sistem penerimaan pegawai online. Hal ini terbukti sangat efekif baik dari segi waktu, dana maupun tenaga.
Sistem penerimaan pegawai online adalah perangkat lunak yang kemudian diaplikasikan di SIPC LIPI sejak 2004 dan telah memperoleh hak cipta yang diterbitkan Departemen Hukum dan Perundangan RI dengan nomor registrasi No 036749 pada 9 Juni 2008.
Penggagas SIPC-LIPI, Laksana Tri Handoko menambahkan, sistem SIPC yang berbasis web dinamis ini memungkinkan seluruh proses dilakukan secara online dan trasnparan bagi semua pihak terkait. Mulai dari pelamar, panitia/LIPI dan masyarakat. ~Kelebihan sistem ini selain mudah dipakai dan dipelihara oleh seluruh pihak terkait juga sangat transparan,~ ungkapnya.
Dengan sistem ini dimungkinkan kontrol internal yang ketat dan check and recheck antar bagian dan level. ~Sebagai bukti penyimpangan hasil dari SIPC tahun lalu sangat kecil terjadi karena tedapat sekuriti akses di setiap level,~ tegas Handoko, yang juga peneliti di Puslit Fisika-LIPI. (rtn/*)
Published in Siaran Pers LIPI (12 September 2008)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2008 mulai tanggal 15 September dengan sistem online melalui Sistem Informasi Penerimaan CPNS LIPI (SIPC) yang bisa diakses di www.cpns.lipi.go.id.
Tahapan proses penerimaan CPNS LIPI terdiri dari verifikasi administrasi (15 September - 24 Oktober 2008), ujian tertulis (1 Nopember 2008), wawancara (10 - 12 Nopember 2008), dan pengumuman pelamar diterima (15 Nopember 2008). CPNS yang diterima di LIPI akan mulai aktif bekerja pada tanggal 1 Maret 2009.
"LIPI mendapat formasi dari MenPAN sebanyak 152 orang tahun ini~, jelas Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian (BOK) LIPI Dr. Siti Nuramaliati Prijono. "Jumlah ini terbagi untuk formasi peneliti, teknisi, dan tenaga administrasi dari berbagai tingkat pendidikan (SLTA, D3, S1, S2, S3) dengan berbagai latar belakang kajian ilmu", paparnya.
"Terkait perubahan proses penerimaan CPNS secara umum oleh MenPAN/BKN sejak 2004 lalu, LIPI menerapkan Sistem Penerimaan Pegawai Online pada tahun 2005. Hal ini terbukti sangat efektif baik dari segi waktu, dana maupun tenaga", tuturnya.
Sistem Penerimaan Pegawai Online adalah perangkat lunak generik yang kemudian diaplikasikan di SIPC LIPI sejak tahun 2005 dan telah memperoleh Hak Cipta yang diterbitkan Departemen Hukum dan Perundangan RI dengan registrasi No. 036749 pada tanggal 9 Juni 2008.
Penggagas SIPC-LIPI Dr. Laksana Tri Handoko menambahkan, sistem SIPC yang berbasis web dinamis ini memungkinkan seluruh proses dilakukan secara online dan transparan bagi semua pihak terkait (pelamar, panitia/LIPI, dan masyarakat). "Kelebihan sistem ini selain mudah dipakai dan dipelihara oleh seluruh pihak terkait juga sangat transparan", ungkapnya.
Dengan sistem ini dimungkinkan kontrol internal yang ketat dan check and re-check antar bagian dan level. "Sebagai bukti, penyimpangan hasil dari SIPC tahun lalu sangat kecil terjadi, karena terdapat sekuriti akses di setiap level", tegas Handoko, yang juga peneliti di Puslit Fisika ~ LIPI.
Published in
Situs LIPI (L.T. Handoko, 11 September 2008)
LHC (Large Hadron Collider) di pusat akselerator dunia, CERN di pinggiran kota Genewa berbatasan dengan Perancis, menjadi bintang berita iptek hari ini (10/9). Hal ini terkait dengan saat pertama LHC dijalankan secara resmi. Bahkan bagi pecandu Google, pasti menyadari perubahan logo baru Google dengan animasi akselerator.
Kehebohan ini mengingat LHC merupakan ~proyek mercusuar~ iptek modern di era global dengan melibatkan seperlima negara di dunia dan jumlah kolaborasi ribuan personil dari beragam bidang. Proyek ini menghabiskan ~pengeluaran langsung~ sebesar $ 60 milyar ! Ini belum termasuk pengeluaran tidak langsung seperti biaya komputasi dan sebagainya yang dilaksanakan di luar LHC tetapi dilakukan secara berkelanjutan selama eksperimen berjalan. Sebagian besar biaya tersebut ditanggung oleh negara-negara Uni Eropa dan 6 negara lain seperti Amerika, Rusia, Jepang, Cina, Taiwan dan Kanada. Ditambah beberapa negara partisipan kecil : Israel, Iran, Korea dan lain-lain.
Skala LHC disumbangkan oleh terowongan berdiameter 3,8 m dengan total panjang 27 km berbentuk lingkaran 50~175 m di bawah tanah seperti gambar diatas. Di dalam terowongan tersebut dipasang pipa hampa udara dengan magnet berdaya super di sekelilingnya. Supermagnet sebanyak 1232 buah ini berfungsi untuk membelokkan proton (salah satu jenis hadron) yang ditembakkan dari dua arah yang berlawanan, dan bertumbukkan di satu titik untuk menghasilkan ~pecahan-pecahan~ partikel yang lebih elementer. Tanpa medan magnet super, proton yang bermuatan tidak akan bisa dibelokkan agar tetap berada di lintasan yang berbentuk lingkaran tersebut. Pipa hampa udara diperlukan untuk menghilangkan kemungkinan interaksi proton dengan molekul gas yang akan ~mengotori~ hasil pengamatan atas tumbukan kedua proton di detektor. Untuk menghasilkan medan magnet super ini digunakan superkonduktor guna mencapai efisiensi daya listrik. Teknologi supermagnet dan superkonduktor ini merupakan akumulasi teknologi tinggi yang telah diperoleh dari eksperimen berbasis akselerator yang sudah dilakukan di berbagai belahan dunia, dan malah telah diaplikasikan sebagai teknologi maju di kereta api magnet dan sebagainya.
Hasil tumbukan proton-proton dari kedua arah tersebut akan ditangkap oleh detektor-detektor super beresolusi tinggi di 4 grup eksperimen, CMS, ATLAS, ALICE dan LHCb. Empat grup eksperimen ini memiliki tujuan untuk melihat aspek yang berbeda dari hasil tumbukan.
Untuk menjalankan fasilitas semacam LHC diperlukan konsumsi energi yang luar biasa. Setidaknya untuk menjalankan cryogenics yang berfungsi sebagai pendingin supermagnet diperlukan listrik sebesar 27,5 MW ! Sedangkan untuk detektor di empat grup eksperimen diperlukan total 22 MW. Daya listrik sebesar ini harus tersedia tanpa jeda selama eksperimen berlangsung. Gangguan di tengah periode eksperimen berakibat pengulangan dari awal. Tidaklah mengherankan bila CERN memiliki pusat pembangkit tersendiri sebanyak dua buah, dimana salah satunya sebagai cadangan.
Skala LHC juga ditunjukkan oleh sistem komputasi yang dipakai. Kebutuhan komputasi dengan kecepatan dan kapasitas raksasa di LHC merupakan pemicu utama pengembangan teknologi komputasi paralel berbasis GRID. GRID merupakan komputasi paralel yang disusun dari komputer-komputer paralel di berbagai belahan dunia yang terhubung melalui koneksi pita super lebar. Salah satu tulang punggung utama adalah koneksi langsung dengan kapasitas 10 Gbps antara komputer paralel di CERN dan SLAC (Stanford Linear Accelerator Center) di Amerika. Komputasi berkinerja tinggi diperlukan untuk mengolah data hasil tumbukan yang berjumlah sangat besar secara waktu nyata. Tanpa ini akan diperlukan kapasitas penyimpanan yang sangat besar yang tidak akan bisa dipenuhi oleh teknologi penyimpanan data saat ini ! Ini sangat berbeda dengan kebanyakan akselerator yang telah ada, dimana data mentah selalu disimpan terlebih dahulu untuk kemudian diolah dan dipilah setelahnya.
Target utama LHC
Mengapa LHC begitu penting dan berskala raksasa ? LHC ditargetkan untuk menguak misteri alam semesta melalui penemuan partikel elementer terakhir prediksi teori partikel yang sejauh ini belum ditemukan keberadaannya. Partikel ini disebut sebagai Higgs, sesuai nama fisikawan partikel teori yang memodelkannya di era 70-an. Partikel ini memegang peranan sebagai media perusak simetri untuk menghasilkan massa 16 partikel elementer yang lain yang telah dibuktikan keberadaannya. Kepastian atas keberadaan partikel Higgs ini akan menutup skenario teori partikel standar modern. Dilain pihak, kepastian akan ketiadaan Higgs akan memicu era baru di komunitas teori fisika partikel, seperti terjadi di dekade 70-an saat teori partikel standar baru dibangun. Karenanya, dalam konteks ini, konfirmasi atas ketiadaan Higgs justru ~diharapkan~ oleh banyak sivitas di komunitas ini. Tanpa eksistensi Higgs, ekstensi teori partikel terpopuler yang disebut supersimetri akan kehilangan pijakannya. Target eksperimen ini menjadi bagian dari grup CMS dan ATLAS.
Berlawanan dengan teori partikel, LHC akan memberikan pijakan awal bagi teori astrofisika. Dengan skala energi yang bisa dicapai oleh LHC, untuk pertama kalinya manusia mampu mereproduksi proses terjadinya alam semesta sejak era big-bang seperti telah diprediksi oleh Hawking dkk. Karena LHC mampu melihat plasma dengan suhu dan kepadatan tinggi yang dihasilkan dari tumbukan proton. Plasma ini merupakan keadaan dari alam semesta segera setelah big-bang sebelum kemudian mendingin dan membentuk struktur-struktur baru berbasis materi nuklir seperti kita kenal saat ini. Eksperimen ini menjadi bagian dari grup ALICE.
Apa yang terjadi bila semua prediksi diatas tidak berhasil diamati ? Itulah yang disebut komunitas fisika partikel sebagai mimpi buruk. Mimpi buruk bagi komunitas eksperimen partikel karena membangun fasilitas eksperimen baru dengan kemampuan lebih besar sudah hampir mustahil, baik secara teknis dan terlebih finansial. Bencana juga bagi komunitas teori partikel yang akan kehilangan ~petunjuk~ untuk mengembangkan teori yang sudah ada. Tentu saja kita hanya bisa menunggu konklusi final yang akan dilaporkan LHC setelah satu tahun pertamanya di akhir 2009 !
Published in Tempo (28/XXXVII, 1 September 2008)
FREEDOM Institute memberikan penghargaan Achmad Bakrie 2008 kepada Taufik Abdullah, Sutardji Calzoum Bachri, Mulyanto, dan Laksana Tri Handoko di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis pekan lalu.
Taufik menerima penghargaan untuk pemikiran sosial, Sutardji untuk sumbangsihnya di bidang kesusastraan, Mulyanto untuk bidang kedokteran, serta Laksana Tri Handoko di bidang sains. Selain kepada empat tokoh tersebut, Freedom Institute memberikan penghargaan Achmad Bakrie Award untuk teknologi kepada Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
Published in Jurnal Nasional (Sjifa Amori, 21 August 2008)
DIDUKUNG sang isteri yang berprofesi sebagai wartawan, berikut seluruh keluarganya, Dr Laksana Tri Handoko secara konsisten dan intensif terlibat sekian lama dalam penelitian fisika teori. Baik yang berbasis eksperimen maupun kajian teoritis fundamental. Beberapa penelitian dilakukannya sendiri. Ada juga yang dilakukan dengan kolaborasi bersama fisikawan dunia melalui keterlibatannya dalam riset di laboratorium fisika partikel terkemuka dunia, seperti DESY di Hamburg, Jerman, dan laboratorium fisika teori yang didirikan Nobelis Fisika Abduis Salam, ICTP, di Trieste, Italia. Tak heran ia dianugerahi Penghargaan Achmad Bakrie tahun ini untuk bidang sains.
Meski sehari-harinya berkutat dengan ilmu yang mensyaratkan inteligensi di atas rata-rata, bukan berarti Laksana, yang dalam situsnya menyatakan akrab disapa Koko, adalah orang yang sulit bercanda. Sebaliknya, ayah dua anak ini mudah tertawa dan sangat rendah hati. Berikut obrolan dengannya seusai ia menerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008 dari Freedom Institute bersama Taufik Abdullah, Sutardji Calzoum Bachri, dan Mulyanto, di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (14/8) lalu.
1. Anda yang paling muda dari semua penerima penghargaan malam ini. Memangnya sejak kapan Anda bergelut di bidang fisika teori?
Iya. Saya agak malu juga tadi disandingkan di depan. Pas ditelepon saya sempat berpikir, nggak salah, nih? Akhirnya saya riset di internet tentang Freedom Institute dan saya tahu bahwa penghargaan ini sangat serius.
Saya sudah lama mendalami bidang ini (sains). Mungkin karena sejak SMA saya sekolah di luar negeri, jadi bisa memulai lebih cepat. Kalau di Indonesia umumnya memulai di usia 35-an. Dan saya sejak awal memang ambilnya ilmu fisika. Bidang yang jarang disentuh. Makanya tadi saat menerima penghargaan banyak yang bilang bahwa nggak ada yang memahami penjelasan mengenai apa yang saya kerjakan.
2. Bagaimana menjelaskan dengan bahasa sederhana apa yang Anda lakukan dalam penelitian fisika teori?
Penelitiannya? Gimana ya? Begini, kita kan punya yang namanya unsur. Misalnya, ada baju yang terdiri atas unsur pembentuknya. Dan unsur itu terdiri atas unsur kimia natrium atau semacamnya. Yang juga terdiri atas molekul-molekul yang terdiri atas atom. Dan atom terdiri lagi atas ion dan elektron. Lalu orang tahu bahwa inti terdiri atas proton dan neutron. Tapi, ternyata proton terdiri atas sesuatu lagi. Sampai sekarang, itulah yang terakhir. Dan itu ada. Meskipun ada ribuan jenis, itu hanyalah kombinasi dari aneka macam dari 16 partikel fundamental. Nah, itulah yang teorinya sudah ada. Oleh teori itu sudah diprediksi. Dan dikonfirmasi oleh eksperimen. Tinggal satu saja yang belum. Jadi, 16 plus satu. Yang 16 sudah selesai, namun yang satu belum ditemukan. Ini partikel belum selesai. Belum jelas, benar enggak-nya teorinya.
3. Kenapa fisika teori disebut sebagai ilmu yang penerapannya sulit?
Karena ini basic science. Masih jauhlah dari aplikasi dalam kehidupan. Kayak dulu, orang menemukan elektron. Butuh waktu berpuluh-puluh tahun sampai elektron lalu bisa jadi elektronika. Jadi, yang saya teliti masih dasar sekali, yaitu untuk memahami interaksi. Memahami alam semesta. Mungkin masuk ke pelajaran teori fisika, tapi untuk mata pelajaran anak SMA sepertinya belum.
4. Anda terkejut dengan penghargaan ini atau sudah menduga sebelumnya?
Saya kaget juga. Karena tiba-tiba mereka telepon. Kayaknya mereka cari tahu sendiri. Saya memang mengetuai riset ini mulai tahun 2003. Kami sempat publikasikan tahun 2005.
5. Makna penghargaan semacam ini buat Anda pribadi?
Yang paling penting adalah pengakuannya. Bahwa orang tahu ternyata ada toh komunitas fisika teori selama ini. Pasti tadinya banyak yang nggak ngerti, toh? Memang sedikit sekali orang yang meneliti di bidang ini.
6. Kenapa jarang orang yang tertarik dengan fisika teori?
Bagaimana mau banyak? Kan ini nggak menghasilkan duit, he-he-he. Saya nggak pernah mikir untuk mengejar penghargaan. Saya melakukan ini hanya karena scientific curiosity. Yang mendukung adalah lembaga kita sendiri dengan menyediakan tempat dan sarana. Penelitiannya juga tidak membutuhkan dana besar. Karena, kalau kita menyebut laboratorium dalam ilmu ini, adalah tempat yang penuh dengan kertas-kertas. Modalnya "nasi-pecel" aja. Jadi, cuma isi kepala aja. Tapi, jelas ini menghabiskan waktu. Meskipun saya tetap mengajar di UI.
7. Biasanya ilmuwan adalah orang yang serius dan kaku, tapi Anda pengecualian?
Saya nggak serius ya? Wah, ini muji atau menghina, nih? Ha-ha-ha. Kalau di kampus, saya malah nggak serius, maksudnya lebih santai. Paling hanya pakai kaos saja. Makanya mahasiswa saya banyak. Bisa dilihat di website saya. Mungkin mereka tertarik karena cara mengajar saya menarik, ha-ha-ha.
8. Dengan latar belakang ilmu Anda yang tidak dipahami kebanyakan orang, bagaimana menyiasati komunikasi dengan peraih penghargaan lain?
Yang jelas, sama-sama nggak mengerti. Jadi, malah nggak ada problem. Jadi, ya ngobrol aja.
9. Bagaimana komentar Anda atas kehadiran Presiden SBY malam ini?
Saya senang jika Presiden tahu ada orang yang mengerjakan hal seperti ini. Itu saja sudah lebih dari cukuplah. Karena, memang tidak banyak orang yang mengerjakan ini, khususnya di Indonesia. Komunitasnya terbilang langka. Dan nggak terlalu diapresiasi juga. Karena dianggap nggak perlu. Artinya, nggak terlalu aplikatif secara langsung. Jadi, lebih susah mendapatkan apresiasi. Ya memang karakteristik ilmunya begitu, mau bagaimana? Kalau di negara maju, ini kayak mercusuar. Penguasaan di suatu bidang adalah pencapaian yang jadi kebanggaan. Meskipun nggak ada aplikasinya juga, karena kita kan di level yang sangat ujung. Pioneer sekali.
Published in Koran Tempo (FANNY FAJARAIANTI, 19 August 2008)
Sekitar sekitar 100 fisikawan yang datang dari 24 negara, menghadiri sebuah konferensi fisika internasional yang dibuka oleh Menristek Kusmayanto, di Pusat Studi Jepang, Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (19/8).
Konferensi yang dijuduli dengan "Internasional The Fourth Asia-Pasific Conference on Few-Body in Physics" itu, akan melaporkan hasil riset ahli-ahli fisika dunia khususnya tentang fisika kebendaan atau sering diistilahkan dengan 'few-body physics'.
Konferensi yang dijadwalkan berlangsung dari 19-23 Agustus ini diharapkan dapat memberikan pembelajaran bagi ilmuwan, khususnya fisikawan di Indonesia. Apalagi usaha untuk membawa konferensi bergengsi ini ke Indonesia cukup berat lantaran harus bersaing dengan India, Korea Selatan, dan Kazahkstan. Terlebih ketiga negara tersebut memiliki banyak fisikawan terkenal ketimbang Indonesia.
Hanya delapan fisikawan Indonesia yang akan menggelar presentasi dalam konferensi ini. Salah satunya LT Handoko, peraih Bakri Award. Adapun mayoritas peserta konferensi konferensi berasal dari Jepang yang mengirimkan 30 fisikawan.
"Ini menunjukkan kalau kita cukup diperhitungkan dalam bidang 'few-body physics'," ujar Imam Fachruddin, fisikawan yang juga ketua panitia konferensi ini. Sebelumnya konferensi ini diadakan di Tokyo, Shanghai, dan Thailand.
Konferensi ini merupakan salah satu upaya fisikawan Indonesia mendapatkan pengakuan internasional. Karena menurut survey comstech.org, lembaga yang mensurvei para insinyur dan ilmuwan di negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI), hanya enam orang saja dari Indonesia yang penelitiannya diakui secara internasional. Padahal, negeri jiran Malaysia memiliki belasan orang.
Published in
Suara Karya (Budi Seno, 16 August 2008)
Dalam dunia yang makin kompleks, manusia tidak boleh kehilangan kepekaan pada keindahan, bahkan terhadap hal-hal yang paling sederhana sekali pun. Itulah pandangan tentang kehidupan dalam filosofi yang terkandung pada penghargaan Achmad Bakrie.
Demikian Aburizal Bakrie mengungkapkan dalam sambutannya pada malam Penghargaan Achmad Bakrie, di Jakarta, Kamis malam. Kepekaan pada kehidupan, menurut dia, ialah rasa yang tajam pada keindahan. Itu merupakan salah satu dimensi kehidupan yang hakiki.
Ical, sapaan akrab Aburizal Bakrie, sebagai anak tertua dari empat bersaudara pasangan Achmad Bakrie dan Roosniah Bakrie, mengemukakan, penghargaan Achmad Bakrie telah diberikan kepada tokoh-tokoh Indonesia, yang menghasilkan karya dan mengabdikan hidupnya dalam pengembangan bidangnya.
Penghargaan diberikan kepada mereka yang mengabdi pada bidang kesusastraan, pemikiran sosial, ilmu dasar, teknologi dan kedokteran.
Penyelenggaraan pemberian penghargaan ini sudah dimulai sejak tahun 2003. Tahun ini penghargaan diberikan kepada Taufik Abdullah di bidang sejarah, Sutardji Calzoum Bachri di bidang kesusastraan, dr Mulyanto di bidang kedokteran, Laksana Tri Handoko dalam bidang fisika, serta Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Sumatera Utara sebagai pusat peneliti terdepan di Tanah Air.
Di samping penghargaan, dari waktu ke waktu, seperti dikatakan Ical, juga diadakan pemberian Beasiswa Achmad Bakrie. Beasiswa itu diberikan kepada siswa-siswa terbaik Indonesia, siswa yang telah mengukir prestasi akademik. Kepada penerima beasiswa diberi kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan sampai ke tingkat program doktor.
"Kami biayai sepenuhnya hingga selesai, di universitas yang mereka pilih sendiri, baik di dalam maupun luar negeri. Sebagian penerima beasiswa tersebut telah menjadi mahasiswa program doktor di universitas-universitas terbaik dunia, macam di MIT Boston, Michigan State University, serta Florida Tech," tutur Ical.
Terkait dengan Hari Kemerdekaan RI, pemberian penghargaan Achmad Bakrie memang diserahkan pada 14 Agustus setiap tahunnya. Ini dimaksudkan, kata Ical, agar acara tersebut bisa turut mengisi perayaan kemerdekaan.
Dia juga mengungkapkan, dengan penghargaan ini pihaknya ingin memberi inspirasi kepada generasi muda. Pengabdian pada dunia ilmu, teknologi, kesusastraan, kedokteran, dan pemikiran sosial merupakan kunci kemajuan yang tak pernah boleh dilupakan.
Published in Sinar Harapan (Dina Sasti Damayanti, 15 August 2008)
Penghargaan Achmad Bakrie Tahun 2008 ini diberikan kepada empat tokoh dan satu institusi, yaitu Taufik Abdullah (pemikiran sosial), Sutardji Colzoum Bachri (kesusastraan), Mulyanto (kedokteran), Laksana Tri Handoko (sains), dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (teknologi).
Penghargaan diserahkan langsung wakil keluarga Bakrie, Aburizal Bakrie dan Direktur Eksekutif Freedom Institute Rizal Mallarangeng kepada para pemenang, Kamis (14/8). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, karya dan prestasi para pemenang penghargaan ini sudah menjadi bagian dari sejarah.
~Mudah-mudahan ini bisa menyemangati, memberikan inspirasi terhadap putra dan putri terbaik bangsa yang lain untuk juga berprestasi pada bidang-bidang, bukan hanya yang diberikan penghargaan oleh Freedom Institute ataupun keluarga besar Bakrie, tapi juga bidang-bidang yang lain,~ ujar Presiden Yudhoyono dalam acara penganugerahan Achmad Bakrie 2008 di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (14/8) malam.
Taufik Abdullah mendapatkan penghargaan ini karena dia adalah sejarawan dan ilmuwan sosial yang telah memperkaya historiografi Indonesia. Sutardji Calzoum Bachri dinilai telah mengeksplorasi batas-batas kemungkinan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan subtil. Selanjutnya, Dokter Mulyanto telah menemukan metode baru dalam dunia kedokteran, yaitu mengembangkan imunokromatografi yang mampu mendeteksi keberadaan atau ketiadaan penyakit yang lazim berkembang di masyarakat, seperti malaria, hepatitis B dan C, bahkan HIV.
Laksana Tri Handoko telah meretas prestasi sebagai fisikawan dengan karya di tingkat dunia dan memperkaya pemahaman akan asal usul massa dan materi. Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, telah menjadi salah satu pusat penelitian terdepan di Indonesia yang telah berkontribusi dalam pengembangan teknologi kelapa sawit dan pengembangan potensi ekspor Indonesia.
Aburizal Bakrie mengungkapkan, pihaknya sedang mempertimbangkan untuk menambah satu kategori, yaitu bidang hukum. Hal ini bermula dari usulan Jaksa Agung Hendarman Supandji agar Penghargaan Achmad Bakrie juga diberikan untuk bidang hukum. Menurut Ical yang juga Menko Kesra, usulan ini akan dipertimbangkan seraya memikirkan kriterianya.
Sejak Penghargaan Achmad Bakrie diberikan pada tahun 2003, baru diberikan untuk lima bidang, yaitu kesusasteraan, pemikiran sosial, ilmu dasar, teknologi dan kedokteran.
Published in Liputan 6 (15 August 2008)
Pada tahun 2008, untuk keenam kalinya penghargaan Achmad Bakrie diberikan untuk putra putri terbaik bangsa di bidang sosial, sastra, kedokteran, sains, dan teknologi. Penghargaan Achmad Bakrie 2008 diberikan kepada Taufik Abdullah untuk pemikiran sosial.
Sementara Sutardji Calzoum Bachrie diberi penghargaan untuk kesusastraan, Mulyanto untuk kedokteran dan Laksana Tri Handoko untuk sains dan pusat penelitian kelapa sawit untuk teknologi. Para penerima penghargaan adalah yang terbaik di bidangnya menurut tim dewan juri dari Freedom Institute.
Salah satu yang menonjol adalah dokter Mulyanto untuk bidang kedokteran. Mulyanto berhasil menemukan alat pendeteksi penyakit seperti malaria, hepatitis B dan C hingga HIV tanpa tes laboratorium yang rumit dan memakan biaya yang besar.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)
Published in Media Indonesia (15 August 2008)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap budaya memberikan penghargaan atau apresiasi yang tulus dapat berkembang di negeri ini. Dengan itu maka Indonesia dapat maju dan sejahtera.
"Kita agak pelit untuk memberikan apresiasi. Padahal itu nilai-nilai yang baik,yang patut dipelihata. Kita cepat menghardik dan saling menyalahkan," kata Presiden dalam sambutan Penghargaan Achmad Bakrie 2008, di Jakarta, Kamis (14/8) malam.
Menurut Presiden, budaya apresiasi atau penghargaan belum berkembang dengan baik di Indonesia. Pemberian penghargaan Achmad Bakrie merupakan satu langkah untuk membangun peradaban bangsa.
Presiden menceritakan, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei lalu, ia telah mengajak seluruh masyarakat untuk menjemput masa depan dan mewujudkan negara yang maju dan sejahtera. "Tidak mungkin jalan ke arah itu mudah tetapi penuh tantangan. Ada tiga modal mewujudkan itu yakni kemandirian, daya saing dan peradaban," kata Presiden.
Pembangunan karakter atau peradaban, lanjut Presiden, harus terus dibangun karena itu sangat penting. "Saya tidak senang dimana kita pernah dimitoskan bahwa pribumi itu malas. Padahal kita mempunyai kekuatan untuk maju," kilah Yudhoyono.
Dikatakan Presiden, dirinya optimistis dan yakin Indonesia bisa maju. Apalagi setelah bertatap muka dan bertemu dengan mahasiswa dan siswa Indonesia yang sering mendapat medali dalam olimpiade sains.
"Itu membuat kita yakin indonesi bisa maju. Optimis mencari akal untuk memecahkan masalah yang ada harus selalu ditumbuhkan. Kita harus memiliki keyakinan bahwa bersama dapat membawa perubahan," kata Presiden Yudhoyono.
Untuk tahun ini, penghargaan Achmad Bakrie diberikan kepada Taufik Abdullah untuk pemikiran sosial, Sutardji Calzoum Bachri untuk kesusastraan, Mulyanto untuk kedokteran, Laksana Tri Handoko untuk sains dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk teknologi.
Published in Kedaulatan Rakyat (15 August 2008)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam rangkaian memperingati Proklamasi Kemerdekaan ke-63 RI menganugerahkan tanda jasa kehormatan kepada 18 orang atas jasa-jasanya yang besar kepada bangsa dan negara selama ini di Istana Negara Jakarta Kamis (14/8).
Berdasarkan Keppres No 026/TK/Tahun 2008 8 Agustus 2008, Presiden menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana kepada tiga orang yaitu Wakil Ketua MPR AM. Fatwa, mantan Menag Prof Dr KH Muhammad Tholhah Hasan dan mantan Panglima TNI Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto.
Presiden menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Jasa kepada 13 putra-putri terbaik bangsa yaitu untuk Penerima Bintang Jasa Utama, Sapta Nirwandar mantan Sekjen Depdikbud dan Dirjen Pemasaran Depbudpar, Suhadi Mangkusuwondo mantan Kepala Badan Litbang Perdagangan Deperdag, Mayjen TNI Nachrowi Ramli Kepala Lembaga Sandi Negara, Djoko Utomo Kepala Arsip Nasional, Jana Tjahjana Anggadiredja Deputy Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam dan Jansen Manansang Direktur Taman Safari Indonesia Cisarua.
Sedangkan dua penerima Bintang Budaya Parama Dharma berdasarkan Keppres No 028/ TK/Tahun 2008, seniman dan sutradara film yang telah menulis 30 skenario film layar lebar, Misbach Yusa Biran dan ~presiden~ penyair Sutardji Calzoum Bahri dengan karyanya delapan buku kumpulan puisi dan cerita pendek.
Kamis malamnya Sutardji Calzoum Bachrie dalam upacara di Hotel Nikko Jalan Thamrin Jakarta yang juga dihadiri Presiden SBY, menerima penghargaan Achmad Bakrie Award atas jasanya dibidang kesusasteraan.
~Saya tetap akan hadir,~ tegas penyair senior berambut gondrong itu ketika ditanya wartawan seusai penganugerahan Bintang Budaya Parama tentang kesediaannya menerima Bakrie Award itu. Ditegaskan lagi bahwa kasus lumpur Lapindo tidak terkait dengan Bakrie Award.~ ujar penyair senior itu sambil menambahkan semua orang punya hak menyampaikan apresiasi terhadap karya seni.
Sedangkan seniman, tidak punya wewenang untuk menolak apresiasi apa pun dari siapa pun termasuk memilih siapa orang yang diperbolehkan memberikan apresiasi pada karya seninya.
~Apakah apresiasi dari presiden atau tukang becak, tetap itu apresiasi dan seniman tidak bisa main tolak,~ tegas Sutardji.
Bagi Sutardji, kasus lumpur Lapindo tidak bisa serta merta dikait-kaitkan dengan Bakrie Award. Karena itu ia menyarankan semua pihak menilai penghargaan itu dari sisi niat baik si pemberi apresiasi terhadap dunia seni. ~Kita harus melihat juga sisi lainnya, nggak bisa satu sisi. Saya melihat niat baiknya saja, kalau selalu dilihat negatifnya ya tidak akan bergerak kita,~ ujar Sutardji lagi.
Penganugerahan Achmad Bakrie Award diserahkan kepada 4 orang dan 1 lembaga. Untuk pemikiran sosial diberikan kepada Taufik Abdullah, Sutardji Calzoum Bachri untuk bidang kesusastraan, Mulyanto untuk kedokteran, LT Handoko untuk sains dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk teknologi.
Taufik Abdullah yang juga peneliti senior LIPI mengaku tidak menolak penghargaan yang sebelumnya pernah ditolak oleh rohaniwan Frans Magnis Suseno. Namun demikian 20 persen dari hadiah itu (Rp 150 juta) akan dikeluarkan untuk keperluan zakat.
Seperti diketahui Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) tahun 2007 lalu sempat mendapat penolakan dari Romo Franz Magnis Suseno. Rohaniwan dan pengajar di STF Driyarkara itu menolak karena korban lumpur Lapindo belum diperlakukan secara layak disamping belum adanya sikap yang jelas dari pihak Lapindo Brantas Inc.
Namun bagi Taufik Abdullah, penghargaan yang diterimanya itu merupakan karunia Allah yang tidak boleh ditolak. Tentang kritikan yang ditujukan kepadanya akibat menerima penghargaan dari Bakrie tersebut, mantan Ketua LIPI itu menilai hal itu merupakan urusannya. ~Itu merupakan urusan saya dan hati nurani saya,~tandas Taufik Abdullah. (Mgn/Ful/Sim)-a
Published in Suara Merdeka (15 August 2008)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono rupanya tak selalu ingin serius dalam menyampaikan sambutannya dan sesekali ingin berpidato di luar teks.
Hal itu diwujudkan Kepala Negara saat menyampaikan sambutannya dalam acara penganugerahan penghargaan Achmad Bakrie yang berlangsung di Jakarta, Kamis malam.
"Kali ini saya tidak ingin serius. Besok (Jumat 15/8) saya akan menyampaikan pidato kenegaraan. Biarlah yang berat-berat besok, sekarang yang ringan saja," kata Presiden Yudhoyono, disambut gelak tawa dan tepuk tangan hadirin yang hadir pada acara tersebut.
Meski demikian, Presiden yang berpidato tanpa teks malam itu menyatakan pentingnya pembangunan karakter (character building) bangsa untuk menghadapi masalah saat ini.
"Saya khawatir ada yang melihat 'character building' sudah selesai. 'Character building' adalah 'unfinished agenda' (agenda terus menerus), karena bangsa ini memerlukan karakter yang kuat," katanya dengan mimik yang serius kali ini.
Penghargaan Achmad Bakrie mulai diberikan sejak 2003 dan diserahkan setiap 14 Agustus. Penghargaan itu diberikan untuk tokoh-tokoh atau lembaga dalam lima kategori, yakni pemikiran sosial, kesusastraan, kedokteran, sains dan teknologi.
Pada 2008 kategori pemikiran sosial diberikan pada Taufik Abdullah, bidang kesustraan diberikan pada Sutardji Calzoum Bachri, bidang kedokteran bagi Mulyanto, untuk sains diberikan pada Laksana Tri Handoko dan bidang teknologi pada Pusat Penelitian Kelapa Sawit. (Ant /CN08)
Published in Jurnal Nasional (Jan Prince Permata, 15 August 2008)
Bangsa Indonesia miskin dan pelit apresiasi terhadap pencapaian. Padahal pencapaian merupakan bagian dari upaya membangun kultur yang berdaya saing, the culture of execellence.
Demikian dikemukakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie 2008 di Jakarta, tadi malam (14/8).
Kepala Negara mengatakan, bangsa besar adalah bangsa yang pandai berterima kasih dan memberikan penghargaan secara tulus. "Marilah kita menjadi bangsa yang berjiwa besar, berakhlak mulia, pandai berterima kasih, dan memberikan penghargaan secara tulus. Karena itulah sesungguhnya nilai-nilai dan peradaban yang baik," katanya.
SBY menilai, penghargaan Achmad Bakrie merupakan bentuk kepeloporan untuk membangun peradaban yang lebih baik, great civilization di tanah air. Presiden berharap penghargaan ini bisa memacu prestasi dan menjadi inspirasi seluruh rakyat Indonesia. "Mudah-mudahan prestasi ini bisa menyemangati dan menjadikan inspirasi terhadap putra putri terbaik bangsa lainnya untuk juga berprestasi pada bidang-bidang yang tidak hanya diberikan Freedom institute dan keluarga besar Bakrie, tetapi juga bidang-bidang yang lain," katanya.
Penerima kategori pemikiran sosial, Taufik Abdullah mengatakan miskinnya apresiasi disebabkan oleh budaya masyarakat komunal. Karena itu apresiasi individual terabaikan. "Achmad Bakrie Award adalah upaya untuk menumbuhkan budaya apresiasi,".
Penghargaan Achmad Bakrie mulai diberikan sejak 2003 dan diserahkan setiap 14 Agustus. Penghargaan itu diberikan untuk tokoh-tokoh atau lembaga di bidang pemikiran sosial, kesastraan, kedokteran, sains dan teknologi.
Pada 2008 kategori pemikiran sosial diberikan pada Taufik Abdullah, bidang kesastraan diberikan pada Sutardji Calzoum Bachri, bidang kedokteran bagi Mulyanto, untuk sains diberikan kepada Laksana Tri Handoko dan bidang teknologi kepada Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
Published in
Seputar Indonesia (15 August 2008)
Seputar Indonesia (15 August 2008)
Empat tokoh dan satu lembaga penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008 merupakan teladan pemberi inspirasi bangsa.
Acara yang diselenggarakan Freedom Institute tersebut dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beserta Ibu Negara Ani Yudhoyono, Menko Kesra Aburizal Bakrie, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Hadir juga sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan Direktur Eksekutif Freedom Institute Rizal Mallarangeng.
Aburizal Bakrie yang merupakan putra sulung almarhum Achmad Bakrie dalam sambutannya mengatakan, Penghargaan Achmad Bakrie telah berlangsung sejak 2003. Tiap tahunnya diselenggarakan pada 14 Agustus. ~Kami bermaksud agar acara ini turut mengisi perayaan kemer-dekaan negeri kita tercinta,~ujar Aburizal Bakrie,tadi malam. Ical~sapaan Aburizal Bakrie~ menjelaskan, dalam enam tahun penyelenggaraannya, termasuk tahun ini, Penghargaan Achmad Bakrie telah diberikan kepada 20 tokoh pemikir, penyair, budayawan, dokter, teknolog, rohaniwan, fisikawan, dan astronomer.
~Mereka adalah teladan bangsa yang terus memberikan inspirasi kepada kita semua akan kekayaan khazanah ilmu dan kebudayaan Indonesia,~ tandasnya. Penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008 adalah sejarawan Taufik Abdullah untuk pemikiran sosial, Sutardji Calzoum Bachri untuk kesusastraan, Dokter Mulyanto untuk kedokteran, Laksana Tri Handoko untuk bidang sains,dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan untuk bidang teknologi.
Para penerima penghargaan masing-masing mendapat hadiah uang Rp150 juta, meningkat dibanding 2007 yang sebesar Rp100 juta. Sementara itu Presiden SBY dalam sambutannya memberikan penghormatan kepada Freedom Institute dan keluarga besar Achmad Bakrie atas prakarsanya.Presiden mengatakan, penghargaan ini merupakan wujud dari budaya apresiasi yang belum mekar di negeri ini.
~Tentu dengan kepeloporan seperti inilah kita bisa membangun peradaban yang makin baik,great civilization di negeri ini,~paparnya. Presiden SBY selaku kepala negara, pemerintah, dan pribadi mengucapkan selamat kepada para penerima penghargaan. Dia berharap penghargaan yang diberikan ini akan bisa memberikan inspirasi kepada putra-putri terbaik bangsa yang lain untuk menciptakan sebuah prestasi.
~Tentu saja bukan hanya pada bidang-bidang yang diberi penghargaan oleh Freedom Institute dan keluarga Achmad Bakrie, tapi juga di bidangbidang yang lain,~tambahnya. Sutardji Calzoum Bachri dalam ucapan terima kasihnya mengatakan, dirinya sangat malu menerima penghargaan ini karena belum mampu mencapai prestasi yang terbaik bagi bangsa.
Penghargaan Achmad Bakrie yang diterima Sutardji merupakan penghargaan kedua yang dia terima kemarin. Sebelumnya, Sutardji mendapatkan bintang jasa dari pemerintah untuk bidang budaya yang disematkan langsung Presiden SBY. ~Saya malu,belum apa-apa sudah diberi penghargaan dan bintang jasa.Tapi kalau kata agama,apa yang telah kita dapatkan itu harus kita syukuri,~ ujar Sutardji, sang Presiden Penyair Indonesia, disambut tepuk tangan meriah hadirin.
Adapun Dokter Mulyanto mengatakan dirinya semakin terpacu untuk melakukan eksperimen dalam bidang kedokteran. Mulyanto merupakan penerima penghargaan karena mampu menciptakan alat untuk deteksi berbagai penyakit. (rarasati syarief/sofian dwi)
Published in
Kompas (15 August 2008)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk pertama kali menghadiri Penghargaan Achmad Bakrie yang digelar tiap tahun sejak tahun 2003 di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (14/8). Presiden mengapresiasi upaya Freedom Institute dan ahli waris keluarga Bakrie dalam menumbuhkan budaya apresiasi lewat penghargaan itu.
~Penghargaan disampaikan kepada Freedom Institute dan keluarga Achmad Bakrie atas prakarsa yang mulia ini. Budaya apresiasi belum mekar di Indonesia. Dengan kepeloporan ini, kami berharap bisa membangun peradaban yang baik,~ ujar Presiden dalam pidato tanpa teks.
Presiden menyebut, kebesaran jiwa memberikan apresiasi kepada pihak lain merupakan peradaban mulia sebagai bekal Indonesia maju, bermartabat, dan sejahtera.
Kemampuan memberi apresiasi, berterima kasih, serta mengakui pencapaian dan kelebihan seseorang merupakan bagian dari budaya unggul yang diharapkan Presiden bisa makin menjadi budaya Indonesia.
~Kita mudah menyalahkan, cepat menghukum, dan lekas menghardik. Kita kurang memberi apresiasi, menghargai, dan berterima kasih kepada yang lain,~ ujarnya.
Empat penerima
Tujuh juri Penghargaan Achmad Bakrie 2008 menetapkan Taufik Abdullah sebagai penerima penghargaan pemikiran sosial, Sutardji Calzoum Bachri untuk kesusastraan, Mulyanto untuk kedokteran, Laksana Tri Handoko untuk sains, dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk teknologi. Penerima penghargaan merasa tidak pantas meskipun akhirnya menerima penghargaan dan hadiah uang Rp 150 juta.
~Penghargaan dan gelar kehormatan yang saya terima membuat saya makin malu karena belum berbuat apa-apa. Tetapi, ini adalah takdir yang harus disyukuri,~ ujar Sutardji yang pada pagi harinya menerima Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden di Istana Negara. (INU)
Gambar :
Published in perempuan.com (14 August 2008)
Freedom Institute bekerja sama dengan keluarga besar Achmad Bakrie kembali memberikan Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) 2008 untuk lima bidang, yaitu pemikiran sosial, kesusastraan, kedokteran, sains, dan teknologi.
Dewan Juri PAB 2008 telah menetapkan nama-nama individu dan lembaga sebagai penerima PAB 2008. Mereka itu adalah Taufik Abdullah (pemikiran sosial), Sutardji Calzoum Bachri (kesusastraan), Mulyanto (kedokteran), Laksana Tri Handoko (sains), serta Pusat Penelitian Kelapa Sawit (teknologi).
Penyerahaan PAB 2008 akan diadakan di Hotel Nikko, Jakarta, pada Kamis malam ini. "Masing-masing penerima PAB 2008 akan mendapatkan hadiah uang Rp 150 juta," kata Direktur Program Freedom Institute, Hamid Basyaib, didampingi Deputi Direktur Luthfi Assyaukanie, dalam jumpa pers, di Jakarta, Rabu.
Hamid Basyaib mengemukakan, para penerima PAB 2008 ini adalah mereka yang telah menghasilkan prestasi puncak sekaligus pembaharu di bidang masing-masing.
Penghargaan Achmad Bakrie diberikan sejak tahun 2003 setiap menjelang Hari Kemerdekaan RI. Pada mulanya hanya ada dua kategori penghargaan, yaitu kategori pemikiran sosial dan kategori kesusastraan.
Pada 2005, Freedom Institute menambah penghargaan untuk kedokteran dan pada 2007 kategori itu ditambah lagi, yaitu bidang sains dan teknologi.
Sutardji Calzoum Bachri asal Provinsi Riau yang pada tahun 1973 menyebut dirinya sebagai "Presiden Penyair Indonesia" meraih penghargaan bergengsi "Achmad Bakrie" 2008 atas jasanya terhadap bidang sastra. "Sutardji menggunakan bahasa Indonesia yang modern, tapi juga kuno," kata Hamid.
Sementara Mulyanto adalah seorang dokter yang melalui laboratoriumnya yang jauh di Mataram telah mengembangkan alat yang mampu mendeteksi penyakit Hepatitis B dan juga HIV-AIDS. "Saat ini ia sedang mengembangkan alat mendeteksi demam berdarah dengue," katanya.
Sedangkan Laksana Tri Handoko dari LIPI termasuk salah satu ilmuwan langka di Tanah Air, yang berkiprah di dunia internasional dengan merintis usaha memburu partikel yang disebut "higgs".
Sementara itu, Pusat Penelitian Kelapa Sawit juga mendapat penghargaan karena berhasil mengembangkan berbagai teknologi perkelapasawitan.
Sejak 2003 hingga 2007, Penghargaan Achmad Bakrie pernah diberikan kepada sejumlah ilmuwan dan pakar antara lain Sapardi Djoko Damono (sastra), Goenawan Kohammad (sastra), Sartono Kartodirdjo (pemikiran sosial), Frans Magnis Suseno (pemikiran sosial), serta Arif Budiman (pemikiran sosial).
Hamid mengatakan, jika sekarang penghargaan ini baru diberikan kepada para tokoh dalam bidang-bidang tertentu saja, maka di masa mendatang akan diperluas, misalnya untuk bidang ekonomi. "Sekarang memang banyak analis atau komentator di bidang ekonomi, namun mereka belum menghasilkan teori-teori yang besar," kata Hamid sambil menolak menyebutkan nama-nama juri.
Hamid menjelaskan pula tim juri penghargaan ini terdiri dari tujuh orang terkemuka, namun sejak tahun pertama, 2003, jati diri atau identitas setiap anggota tim juri tidak pernah dipublikasikan atau diumumkan secara terbuka. "Sekalipun tim juri adalah anonim, keputusan mereka pasti dapat dipertanggungjawabkan," kata Hamid.
Menurut Hamid Basyaib, nama "Achmad Bakrie" diabadikan untuk mengenang jasa Achmad Bakrie, ayah Aburizal Bakrie, pendiri dan donatur utama Freedom Institute.
Achmad Bakrie dilahirkan di Lampung, 1 Juni 1916. Ia adalah seorang pengusaha sukses yang dikenal gigih dan mencintai ilmu pengetahuan. Achmad Bakrie memulai usahanya sebagai seorang pedagang karet dan rempah-rempah di Lampung.
Setelah merasa semakin sukses, pada 10 Februari 1942 ia mendirikan Bakrie & Brothers, sebuah perusahaan yang kelak menjadi induk bagi bisnis Bakrie. Setelah Achmad Bakrie wafat pada 15 Februari 1988, Bakrie & Brothers diteruskan oleh Aburizal Bakrie, putra tertuanya yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Data Belum Tersedia
Published in Sinar Harapan (14 August 2008)
Untuk keenam kalinya Freedom Institute menggelar penghargaan Achmad Bakrie. Penghargaan yang diuji selama berbulan-bulan tersebut akhirnya melahirkan beberapa nama dan sebuah lembaga atas karyanya.
~Peraih penghargaan itu di antaranya, Taufik Abdullah untuk pemikiran sosial, Sutardji Calzoum Bachri untuk kesusastraan, Mulyanto untuk kedokteran, LT Handoko untuk sains, serta Lembaga Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk teknologi,~ kata juru bicara penjurian Penghargaan Achmad Bakrie, Hamid Basyaib.
Hamid Bakrie, yang siang itu memberikan pernyataan pers terkait dengan Penghargaan Achmad Bakrie mengatakan, adanya penghargaan-penghargaan ini menunjukkan bahwa di tengah sikap sinisme dan persoalan bangsa, Indonesia masih memiliki orang-orang pintar. Terlebih setiap tahunnya penghargaan makin meluas ke bidang lain. Pemenang penghargaan Achmad Bakrie, diungkapkan Hamid akan memperoleh hadiah berupa uang senilai Rp 150 juta rupiah per orang. (nuk)
Published in detikNews (Ken Yunita, 14 August 2008)
Penyair Sutardji Calzoum Bachri dan peneliti Taufik Abdullah meraih Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) 2008. Mereka masing-masing akan menerima hadiah Rp 150 juta.
Demikian rilis yang diterima detikcom dari Direktur Freedom Institute Rizal Malarangeng, Kamis (14/2008).
PAB 2008 akan diserahkan kepada 4 individu dan 1 lembaga. Taufik Abdullah akan menerima PAB untuk pemikiran sosial, Sutardji Calzoum Bachri untuk kesusastraan.
Sementara nama lainnya yang mendapat penghargaan ini adalah Mulyanto untuk kedokteran, LT Handoko untuk sains, dan Pusat Penelitian Kepala Sawit untuk teknologi.
Penghargaan itu akan diserahkan di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, pukul 18.30 WIB.
Tahun 2007, penghargaan ini mendapat penolakan dari Prof Dr Franz Magnis-Suseno. Pria yang sejatinya mendapat penghargaan untuk kategori pemikiran sosial itu menolak karena lumpur Lapindo.
Sementara Putu Wijaya sempat pikir-pikir untuk menerimanya. Namun akhirnya Putu menerima penghargaan di bidang kesusastraan itu.(ken/iy)
Published in
QB Headlines (14 August 2008)
Four innovative and full of achievement personages, Thursday (14/8) evening, will receive Achmad Bakrie Award 2008. The award giving tradition since 2003 is conducted by Freedom Institute to appreciate forethoughts and creativity in social, politics, economy, and culture.
The jury team established Taufik Abdullah to receive the social award, Sutardji Calzoum Bachri for literature, Mulyanto for medics, Laksana Tri Handoko for science, and Palm Oil Research Center for technology.
Published in
detikNews (Luhur Hertanto, 13 August 2008)
Kasus lumpur Lapindo yang masih membelit kelompok usaha Bakrie dinilai tidak terkait dengan Bakrie Award. Karena itu, sang penyair Sutardji Calzoum Bachrie memastikan akan menerima dengan senang hati penghargaan tersebut.
Hal ini ia sampaikan menjawab pertanyaan kesediaannya menerima Bakrie Award, saat mendapat penghargaan Bintang Budaya Parama dari pemerintah di Istana Negara, Jakarta, Kamis (14/8/2008). "Saya akan hadir nanti," ujar penyair senior berambut panjang ini.
Menurut Sutardji, semua orang punya hak untuk menyampaikan apresiasi terhadap karya seni. Sedangkan seniman, tidak punya wewenang untuk menolak apresiasi apa pun dari siapa pun termasuk memilih siapa orang yang diperbolehkan memberikan apresiasi pada karya seninya.
"Apakah apresiasi dari presiden atau tukang becak, tetap itu apresiasi dan seniman tidak bisa main tolak," jelas Presiden para penyair itu.
Menyinggung lumpur Lapindo, bagi dia, kasus tersebut tidak bisa serta merta dikait-kaitkan dengan Bakrie Award. Ia menyarankan agar semua pihak menilai penghargaan yang akan dianugerahkan malam ini dari sisi niat baik memberikan apresiasi terhadap dunia seni.
"Kita harus melihat juga sisi lainnya, nggak bisa satu sisi. Saya melihat niat baiknya saja, kalau selalu dilihat negatifnya ya tidak akan bergerak kita," ujar 'presiden' yang mengaku hanya berbeda nasib dengan SBY.
Rencananya, penganugerahan Bakrie Award akan dilakukan di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, pukul 18.30 WIB, Kamis (14/8/2008). Bakrie Award akan diserahkan kepada 4 individu dan 1 lembaga. Taufik Abdullah akan menerima Bakrie Award untuk pemikiran sosial, Sutardji Calzoum Bachri untuk kesusastraan, Mulyanto untuk kedokteran, LT Handoko untuk sains, dan Pusat Penelitian Kepala Sawit untuk teknologi.(lh/asy)
Published in
Berita Baru (13 August 2008)
Bakrie Award beri penghargaan pada fisikawan, dokter, sastrawan dan lembaga penelitian, mereka dinilai punya peran penting dalam kemajuan ilmu dan teknologi di Indonesia.
Hamid Basyaib mewakili dewan juri saat jumpa pers mengatakan, sebenarnya ada 7 orang yang mendapat penghargaan, setelah dipertimbangkan akhirnya hanya 5 yang lolos.
"Itupun hanya dilakukan di Indonesia, bila di luar negeri biayanya terlalu mahal, kemampuan kita terbatas, jadi kita tahu diri," kilahnya.
Menurutnya, sebenarnya penghargaan ini akan diperluas karena keterbatas pihaknya maka urung dilaksanakan. Tahun depan mereka akan memberi penghargaan di bidang kedokteran, dimana dewan juri nantinya berasal dari luar negeri.
Tidak masuknya bidang ekonomi dalam penghargaan kali ini, menurut Hamid, banyak pakar di Indonesia namun tak menghasilkan karya yang berpengaruh, meski banyak diantara mereka dinilai ekonom handal.
"Ekonom jarang memberi prestasi ilmiah, dan tanpa basic ilmu dan pengetahuan teknologi, jika ini berlangsung terus bangsa ini tak akan maju."
Penghargaan ini hanya diberikan bagi mereka yang masih hidup, bila yang telah meninggal dunia juga diberikan tentu lebih sulit dan banyak tokoh yang akan diberi penghargaan.
hadiah berupa uang tunai sebesar 150 juta rupiah diberikan kepada Taufik Abdullah, Sutardji Calzoun Bachri (sastrawan), Mulyanto (dokter peneliti), Laksana Tri Handoko (fisikawan), dan pusat penilitian kelapa sawit PPKS Medan.
Taufik sebagai ilmuwan sosial yang menyadari pentingnya pandangan multi dimensional terhadap sejarah, penulisan sejarah tak hanya kronologis peristiwa namun diramu disiplin ilmu seperti sosiologi, antropologi, politik dan ekonomi.
Sutradji dalam berkarya kerap menggunakan bahasa yang sangat modern, pasca modern dan purba, kiprahnya usaha yang tiada henti merebut kembali kata yang terlanjur dibakukan dalam kamus dan konvensi.
Sementara Mulyanto selaku dokter peneliti, keahliannya memenuhi standar akademis internasional, ketekunan untuk menaikan diri dengan komunitas global, punya komitmen penuh untuk menyediakan sarana kesehatan yang terjangkau masyarakat miskin.
Tri salah satu fisikawan yang merintis usaha memburu partikel Higgs, yakni partikel yang bisa menjawab pertanyaan "dari mana asal usul massa materi" atau dalam bahasa umum "mengapa benda mempunyai berat".
Sedangkan PPKS mampu meneliti dan menghimpun berbagai pengetahuan dan teknologi kelapa sawit, banyak negara mengandalkan rencana pengembangan perekonomian kelapa sawit pada lembaga ini, berkat PPKS Indonesia menjadi negara penghasil minyak sawit mentah terbesar di dunia.(fari/rap)
Published in
KilasBerita (14 August 2008)
Penyair Sutardji Calzoum Bachri dan peneliti Taufik Abdullah meraih Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) 2008. Mereka masing-masing akan menerima hadiah Rp 150 juta. Demikian rilis yang diterima dari Direktur Freedom Institute Rizal Malarangeng, Kamis (14/2008).
PAB 2008 akan diserahkan kepada 4 individu dan 1 lembaga. Taufik Abdullah akan menerima PAB untuk pemikiran sosial, Sutardji Calzoum Bachri untuk kesusastraan.
Sementara nama lainnya yang mendapat penghargaan ini adalah Mulyanto untuk kedokteran, LT Handoko untuk sains, dan Pusat Penelitian Kepala Sawit untuk teknologi.
Penghargaan itu akan diserahkan di Hotel Nikko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, pukul 18.30 WIB.
Tahun 2007, penghargaan ini mendapat penolakan dari Prof Dr Franz Magnis-Suseno. Pria yang sejatinya mendapat penghargaan untuk kategori pemikiran sosial itu menolak karena lumpur Lapindo. Sementara Putu Wijaya sempat pikir-pikir untuk menerimanya. Namun akhirnya Putu menerima penghargaan di bidang kesusastraan itu.
Published in Media Indonesia (13 August 2008)
Seorang penyair nyentrik asal Provinsi Riau, Sutardji Calzoum Bachri yang pada tahun 1973 menyebut dirinya sebagai"Presiden Penyair Indonesia" meraih penghargaan bergengsi "Achmad Bakrie" 2008 atas jasanya di bidang sastra.
"Sutardji menggunakan bahasa Indonesia yang modern tapi juga kuno," kata juru bicara tim juri, Hamid B kepada pers di Jakarta, Rabu (13/8), ketika menjelaskan para pemenang penghargaan ini.
Ia mengatakan pula para pememang "Achmad Bakrie Award" tahun 2008 yang lainnya adalah tokoh pemikir sejarah Taufik Abdullah, Profesor Mulyanto dari bidang kedokteran, ahli fisika Laksana Tri Handoko serta Pusat Penelitian Kelapa sawit di Medan.
Hamid mengatakan setiap pemenang akan mendapat hadiah uang Rp150 juta.
Namun, diingatkannya bahwa uang itu tidaklah sebanding dengan dedikasi mereka selama puluhan tahun di bidangnya masing-masing. Penghargaan ini akan diserahkan dalam waktu dekat di Jakarta.
Mulyanto adalah seorang dokter yang melalui laboratoriumnya yang jauh di Mataram telah mengembangkan alat yang mampu mendeteksi penyakit Hepatitis B dan juga HIV.
Sementara itu, Laksana Tri Handoko dari LIPI termasuk salah satu ilmuwan langka di tanah air yang berkiprah di dunia internasional yang merintis usaha memburu partikel yang disebut "higgs".
Sementara itu, Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan juga mendapat penghargaan karena berhasil mengembangkan berbagai teknologi perkelapasawitan.
Sejak tahun 2003 hingga 2007, "Achmad Bakrie Award" ini pernah diberikan kepada sejumlah ilmuwan dan pakar antara lain Sapardi Djoko Darmono(sastra), Goenawan Kohammad (sastra), Sartono Kartodirdjo( pemikir sosial), Frans Magnis Suseno (pemikiran sosial) serta Arif Budiman (pemikiran sosial).
Hamid mengatakan jika sekarang penghargaan ini baru diberikan kepada para tokoh dalam bidang-bidang tertentu saja, maka di masa mendatang akan diperluas misalnya untuk bidang ekonomi.
"Sekarang memang banyak analis atau komentator di bidang ekonomi, namun mereka belum menghasilkan teori-teori yang besar," kata Hamid sambil menolak menyebutkan nama-nama juri.
Hamid menjelaskan pula tim juri penghargaan ini terdiri atas tujuh orang terkemuka, namun sejak tahun pertama tahun 2003, jati diri atau identitas setiap anggota tim juri tidak pernah dipublikasikan atau diumumkan secara terbuka.
"Sekalipun tim juri adalah anonim, tapi keputusan mereka pasti dapat dipertanggungjawabkan," kata Hamid. (Ant/OL-02)
Published in Suara Karya (Singgih BS, 14 August 2008)
Freedom Institute bekerja sama dengan keluarga besar Achmad Bakrie kembali memberikan Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) 2008 untuk lima bidang, yaitu pemikiran sosial, kesusastraan, kedokteran, sains, dan teknologi.
Dewan Juri PAB 2008 telah menetapkan nama-nama individu dan lembaga sebagai penerima PAB 2008. Mereka itu adalah Taufik Abdullah (pemikiran sosial), Sutardji Calzoum Bachri (kesusastraan), Mulyanto (kedokteran), Laksana Tri Handoko (sains), serta Pusat Penelitian Kelapa Sawit (teknologi).
Penyerahaan PAB 2008 akan diadakan di Hotel Nikko, Jakarta, pada Kamis malam ini. "Masing-masing penerima PAB 2008 akan mendapatkan hadiah uang Rp 150 juta," kata Direktur Program Freedom Institute, Hamid Basyaib, didampingi Deputi Direktur Luthfi Assyaukanie, dalam jumpa pers, di Jakarta, Rabu.
Hamid Basyaib mengemukakan, para penerima PAB 2008 ini adalah mereka yang telah menghasilkan prestasi puncak sekaligus pembaharu di bidang masing-masing.
Penghargaan Achmad Bakrie diberikan sejak tahun 2003 setiap menjelang Hari Kemerdekaan RI. Pada mulanya hanya ada dua kategori penghargaan, yaitu kategori pemikiran sosial dan kategori kesusastraan.
Pada 2005, Freedom Institute menambah penghargaan untuk kedokteran dan pada 2007 kategori itu ditambah lagi, yaitu bidang sains dan teknologi.
Sutardji Calzoum Bachri asal Provinsi Riau yang pada tahun 1973 menyebut dirinya sebagai "Presiden Penyair Indonesia" meraih penghargaan bergengsi "Achmad Bakrie" 2008 atas jasanya terhadap bidang sastra. "Sutardji menggunakan bahasa Indonesia yang modern, tapi juga kuno," kata Hamid.
Sementara Mulyanto adalah seorang dokter yang melalui laboratoriumnya yang jauh di Mataram telah mengembangkan alat yang mampu mendeteksi penyakit Hepatitis B dan juga HIV-AIDS. "Saat ini ia sedang mengembangkan alat mendeteksi demam berdarah dengue," katanya.
Sedangkan Laksana Tri Handoko dari LIPI termasuk salah satu ilmuwan langka di Tanah Air, yang berkiprah di dunia internasional dengan merintis usaha memburu partikel yang disebut "higgs".
Sementara itu, Pusat Penelitian Kelapa Sawit juga mendapat penghargaan karena berhasil mengembangkan berbagai teknologi perkelapasawitan.
Sejak 2003 hingga 2007, Penghargaan Achmad Bakrie pernah diberikan kepada sejumlah ilmuwan dan pakar antara lain Sapardi Djoko Damono (sastra), Goenawan Kohammad (sastra), Sartono Kartodirdjo (pemikiran sosial), Frans Magnis Suseno (pemikiran sosial), serta Arif Budiman (pemikiran sosial).
Hamid mengatakan, jika sekarang penghargaan ini baru diberikan kepada para tokoh dalam bidang-bidang tertentu saja, maka di masa mendatang akan diperluas, misalnya untuk bidang ekonomi. "Sekarang memang banyak analis atau komentator di bidang ekonomi, namun mereka belum menghasilkan teori-teori yang besar," kata Hamid sambil menolak menyebutkan nama-nama juri.
Hamid menjelaskan pula tim juri penghargaan ini terdiri dari tujuh orang terkemuka, namun sejak tahun pertama, 2003, jati diri atau identitas setiap anggota tim juri tidak pernah dipublikasikan atau diumumkan secara terbuka. "Sekalipun tim juri adalah anonim, keputusan mereka pasti dapat dipertanggungjawabkan," kata Hamid.
Menurut Hamid Basyaib, nama "Achmad Bakrie" diabadikan untuk mengenang jasa Achmad Bakrie, ayah Aburizal Bakrie, pendiri dan donatur utama Freedom Institute.
Achmad Bakrie dilahirkan di Lampung, 1 Juni 1916. Ia adalah seorang pengusaha sukses yang dikenal gigih dan mencintai ilmu pengetahuan. Achmad Bakrie memulai usahanya sebagai seorang pedagang karet dan rempah-rempah di Lampung.
Setelah merasa semakin sukses, pada 10 Februari 1942 ia mendirikan Bakrie & Brothers, sebuah perusahaan yang kelak menjadi induk bagi bisnis Bakrie. Setelah Achmad Bakrie wafat pada 15 Februari 1988, Bakrie & Brothers diteruskan oleh Aburizal Bakrie, putra tertuanya yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Kabinet Indonesia Bersatu (KIB).
Published in Joglo Semar (, 14 August 2008)
Sutardji Calzoum Bachri adalah pujangga pembaharu Indonesia. Banyak puisinya susah dimengerti. Tapi tidak sedikit orang yang mengidolakannya. Pada tahun 1973, atau 35 tahun lalu, Sutardji menyebut dirinya sebagai ~Presiden Penyair Indonesia.~
Sudah banyak penghargaan yang diraih pria kelahiran Riau 1941 ini. Bahkan dunia internasional juga mengakui kepenyairannya. Berbagai negara telah mengundang Sutardji hanya untuk membacakan syair-syairnya. Pengakuan terhadap Sutardji makin kukuh. Penulis O Amuk Kapak itu meraih penghargaan bergengsi ~Achmad Bakrie~ 2008 atas jasanya terhadap bidang sastra. ~Sutardji menggunakan bahasa Indonesia yang modern tapi juga kuno,~ kata juru bicara tim juri, Hamid kepada pers di Jakarta, Rabu (13/8) ketika menjelaskan para pemenang penghargaan Achmad Bakrie Award 2008.
Pada tahun 2008, terdapat empat individu pemenang serta sebuah lembaga penelitian di bidang kelapa sawit di Medan, Provinsi Sumatera Utara yang meraih penghargaan ini.
Selain Sutardji, pememang ~Achmad Bakrie Award 2008~ yang lainnya adalah tokoh pemikir sejarah Taufik Abdullah, Profesor Mulyanto dari bidang kedokteran, ahli fisika Laksana Tri Handoko dan Pusat Penelitian Kelapa sawit di Medan. Hamid mengatakan setiap pemenang akan mendapat hadiah uang Rp 150 juta. Uang itu, hanya penghormatan dan tidaklah sebanding dengan dedikasi mereka selama puluhan tahun di bidangnya masing-masing.
Mulyanto adalah seorang dokter yang melalui laboratoriumnya yang jauh di Mataram telah mengembangkan alat yang mampu mendeteksi penyakit Hepatitis B dan juga HIV.
Laksana Tri Handoko dari LIPI adalah salah satu ilmuwan langka di tanah air yang berkiprah di dunia internasional yang merintis usaha memburu partikel yang disebut ~higgs~.
Sedang Pusat Penelitian Kelapa Sawit juga mendapat penghargaan karena berhasil mengembangkan berbagai teknologi perkelapasawitan. SejaK 2003 hingga 2007, ~Achmad Bakrie Award~ ini pernah diberikan kepada sejumlah tokoh. Mereka yang sudah menerima antara lain Sapardi Djoko Darmono dan Goenawan Mohammad bidang sastra. Sartono Kartodirdjo, Frans Magnis Suseno dan Arif Budiman bidang pemikiran sosial.
Published in Media Indonesia (14 August 2008)
Untuk kali keenam, pada tahun ini Freedom Institute kembali memberikan penghargaan Achmad Bakrie 2008. Mereka yang menerima penghargaan pada tahun ini adalah Sutardji Calzoum Bachri (untuk kesusasteraan), Taufik Abdullah (untuk pemikiran sosial), Mulyanto (untuk kedokteran), Laksana Tri Handoko (untuk Sains), dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (untuk teknologi).
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu turut menghadiri penyerahan penghargaan Achmad Bakrie 2008 yang berlangsung di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (14/8) malam. Penghargaan langsung diserahkan oleh putra sulung Achmad Bakrie, yang juga Menko Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, didampingi Direktur Freedom Institute Rizal Mallarangeng.
Dalam sambutannya, Aburizal mengatakan, penghargaan ini diberikan untuk menginspirasi generasi muda bahwa pengabdian pada dunia ilmu, teknologi, kesusasteraan, kedokteran dan pemikiran sosial. Bidang-bidang ini merupakan kunci kemajuan.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang terus mendorong agar pengabdian dan dedikasi di bidang-bidang yang penting terus berkembang dan berlanjut, dari satu generasi ke generasi lainnya. Penghargaan Achmad Bakrie ini telah diberikan kepada tokoh-tokoh Indonesia yang memang telah menghasilkan karya dan mengabdikan hidup dan kehidupan mereka dalam pengembangan bidang-bidang penting tersebut," demikian Aburizal Bakrie.
Dalam enam tahun penyelenggaraannya, penghargaan Achmad Bakrie telah diberikan kepada 20 tokoh pemikir, penyair, budayawan, dokter, teknolog, rohaniawan, fisikawan, dan astronomer. "Lewat penghargaan Achmad Bakrie, saya berharap bahwa dorongan-dorongan untuk mencipta dan berkarya pada kaum sastrawan kita menjadi lebih besar lagi," lanjut Aburizal.
Taufik Abdullah adalah sejarawan dan ilmuwan sosial yang telah memperkaya historigrafi Indonesia. Sutardji Calzoum Bachri telah mengeksplorasi batas-batas kemungkinan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan subtil. Dokter Mulyanto telah menemukan metode baru dalam dunia kedokteran yang penggunaannya telah menyelamatkan begitu banyak nyawa manusia. Laksana Tri Handoko telah meretas prestasi sebagai fisikawan dengan karya di tingkat dunia yang memperkaya pemahaman manusia terhadap asal-usul massa dan materi.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, dinilai telah menjadi salah satu penelitian yang diandalkan dan memberikan kontribusi positif bukan hanya pada pengembangan teknologi kelapa sawit, tetapi juga terhadap pengembangan potensi ekspor Indonesia yang sangat penting. Pada tahun 2007 lalu, penghargaan diberikan kepada Putu Wijaya (kesusasteraan), Franz Magnis Suseno (pemikiran sosial), Sangkot Marzuki (kedokteran) dan Jorga Ibrahim (sains) meski Franz Magnis Suseno tak bersedia menerimanya.
Published in Kompas (14 August 2008)
Untuk kali keenam, pada tahun ini Freedom Institute kembali memberikan penghargaan Achmad Bakrie 2008. Mereka yang menerima penghargaan pada tahun ini adalah Sutardji Calzoum Bachri (untuk kesusasteraan), Taufik Abdullah (untuk pemikiran sosial), Mulyanto (untuk kedokteran), Laksana Tri Handoko (untuk Sains), dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (untuk teknologi).
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Negara Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu turut menghadiri penyerahan penghargaan Achmad Bakrie 2008 yang berlangsung di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (14/8) malam. Penghargaan langsung diserahkan oleh putra sulung Achmad Bakrie, yang juga Menko Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, didampingi Direktur Freedom Institute Rizal Mallarangeng.
Dalam sambutannya, Aburizal mengatakan, penghargaan ini diberikan untuk menginspirasi generasi muda bahwa pengabdian pada dunia ilmu, teknologi, kesusasteraan, kedokteran dan pemikiran sosial. Bidang-bidang ini merupakan kunci kemajuan.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang terus mendorong agar pengabdian dan dedikasi di bidang-bidang yang penting terus berkembang dan berlanjut, dari satu generasi ke generasi lainnya. Penghargaan Achmad Bakrie ini telah diberikan kepada tokoh-tokoh Indonesia yang memang telah menghasilkan karya dan mengabdikan hidup dan kehidupan mereka dalam pengembangan bidang-bidang penting tersebut," demikian Aburizal Bakrie.
Dalam enam tahun penyelenggaraannya, penghargaan Achmad Bakrie telah diberikan kepada 20 tokoh pemikir, penyair, budayawan, dokter, teknolog, rohaniawan, fisikawan, dan astronomer. "Lewat penghargaan Achmad Bakrie, saya berharap bahwa dorongan-dorongan untuk mencipta dan berkarya pada kaum sastrawan kita menjadi lebih besar lagi," lanjut Aburizal.
Taufik Abdullah adalah sejarawan dan ilmuwan sosial yang telah memperkaya historigrafi Indonesia. Sutardji Calzoum Bachri telah mengeksplorasi batas-batas kemungkinan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan subtil. Dokter Mulyanto telah menemukan metode baru dalam dunia kedokteran yang penggunaannya telah menyelamatkan begitu banyak nyawa manusia. Laksana Tri Handoko telah meretas prestasi sebagai fisikawan dengan karya di tingkat dunia yang memperkaya pemahaman manusia terhadap asal-usul massa dan materi.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, dinilai telah menjadi salah satu penelitian yang diandalkan dan memberikan kontribusi positif bukan hanya pada pengembangan teknologi kelapa sawit, tetapi juga terhadap pengembangan potensi ekspor Indonesia yang sangat penting. Pada tahun 2007 lalu, penghargaan diberikan kepada Putu Wijaya (kesusasteraan), Franz Magnis Suseno (pemikiran sosial), Sangkot Marzuki (kedokteran) dan Jorga Ibrahim (sains) meski Franz Magnis Suseno tak bersedia menerimanya.
Published in Republika (13 August 2008)
Seorang penyair nyentrik Sutardji Calzoum Bachri asal Provinsi Riau yang pada tahun 1973 menyebut dirinya sebagai" Presiden Penyair Indonesia" meraih penghargaan bergengsi "Achmad Bakrie" 2008 atas jasanya terhadap bidang sastra.
"Sutardji menggunakan bahasa Indonesia yang modern tapi juga kuno," kata juru bicara tim juri, Hamid B kepada pers di Jakarta, Rabu, ketika menjelaskan para pemenang penghargaan ini.
Pada tahun 2008, terdapat empat individu pemenang serta sebuah lembaga penelitian di bidang kelapa sawit di Medan, Provinsi Sumatera Utara.
Hamid mengatakan para pememang "Achmad Bakrie Award" tahun 2008 yang lainnya adalah tokoh pemikir sejarah Taufik Abdullah, Profesor Mulyanto dari bidang kedokteran, ahli fisika Laksana Tri Handoko, dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan.
Hamid mengatakan setiap pemenang akan mendapat hadiah uang Rp150 juta. Namun, diingatkannya bahwa uang itu tidaklah sebanding dengan dedikasi mereka selama puluhan tahun di bidangnya masing-masing. Penghargaan ini akan diserahkan dalam waktu dekat di Jakarta.
Mulyanto adalah seorang dokter yang melalui laboratoriumnya yang jauh di Mataram telah mengembangkan alat yang mampu mendeteksi penyakit Hepatitis B dan juga HIV.
Sementara itu, Laksana Tri Handoko dari LIPI termasuk salah satu ilmuwan langka di tanah air yang berkiprah di dunia internasional yang merintis usaha memburu partikel yang disebut "higgs".
Sementara itu, Pusat Penelitian Kelapa Sawit" juga mendapat penghargaan karena berhasil mengembangkan berbagai teknologi perkelapasawitan.
Sejak tahun 2003 hingga 2007, "Achmad Bakrie Award" ini pernah diberikan kepada sejumlah ilmuwan dan pakar antara lain Sapardi Djoko Darmono(sastra), Goenawan Kohammad (sastra), Sartono Kartodirdjo( pemikir sosial), Frans Magnis Suseno (pemikiran sosial) serta Arif Budiman (pemikiran sosial).
Hamid mengatakan jika sekarang penghargaan ini baru diberikan kepada para tokoh dalam bidang-bidang tertentu saja, maka di masa mendatang akan diperluas misalnya untuk bidang ekonomi.
"Sekarang memang banyak analis atau komentator di bidang ekonomi, namun mereka belum menghasilkan teori-teori yang besar," kata Hamid sambil menolak menyebutkan nama-nama juri.
Hamid menjelaskan pula tim juri penghargaan ini terdiri atas tujuh orang terkemuka, namun sejak tahun pertama tahun 2003, jati diri atau identitas setiap anggota tim juri tidak pernah dipublikasikan atau diumumkan secara terbuka. "Sekalipun tim juri adalah anonim, tapi keputusan mereka pasti dapat dipertanggungjawabkan," kata Hamid. ant/is
Published in anTV (15 August 2008)
Sejumlah tokoh dan lembaga yang telah berjasa dalam bidang pemikiran, social, kesusasteraan, kedokteran, sains dan teknologi menerima penghargaan Bakrie 2008 semalam. Penghargaan itu juga dimaksudkan untuk menginspirasi generasi muda di berbagai bidang yang menjadi kunci kemajuan sebuah bangsa.
Ini merupakan penghargaan yang keenam kali. Tahun ini penghargaan dianugerahkan kepada Sutardji Calzoum Bachri di bidang kesusasteraan, Taufik Abdullah di bidang pemikiran sosial, Muyanto di bidang kedokteran, Laksana Tri Handoko di bidang sains dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan di bidang teknologi. Selain piagam, kelima penerima penghargaan Achmad Bakrie 2008 juga mendapatkan hadiah uang senilai Rp. 100 juta. Penghargaan diserahkan langsung oleh putra sulung Achmad Bakrie, yang juga Menkokesra Aburizal Bakrie.
Dalam enam tahun penyelenggaraannya, penghargaan Achmad Bakrie telah diberikan kepada 20 tokoh diantaranya pemikir, penyair, budayawan, dokter, teknologi dan rohaniawan.
Published in KapanLagi.com (15 August 2008)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono menghadiri penganugerahan penghargaan Achmad Bakrie 2008 yang berlangsung di Jakarta, Kamis malam (14/8).
Penghargaan Achmad Bakrie mulai diberikan sejak 2003 dan diserahkan setiap 14 Agustus. Penghargaan itu diberikan untuk tokoh-tokoh atau lembaga di bidang pemikiran sosial, kesastraan, kedokteran, sains dan teknologi.
Pada 2008 kategori pemikiran sosial diberikan pada Taufik Abdullah, bidang kesastraan diberikan pada Sutardji Calzoum Bachri, bidang kedokteran bagi Mulyanto, untuk sains diberikan kepada Laksana Tri Handoko dan bidang teknologi kepada Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
Aburizal Bakrie dalam sambutannya selaku perwakilan keluarga Achmad Bakrie menyebutkan dalam enam tahun penyelenggaraannya, termasuk tahun ini penghargaan Achmad Bakrie telah diberikan pada 20 tokoh pemikir, penyair, budayawan, dokter, teknologi, rohaniwan, fisikawan dan astronomer.
"Mereka adalah teladan bangsa kita yang terus memberikan inspirasi kepada kita semua akan kekayaan khazanah ilmu dan kebudayaan Indonesia modern," katanya.
Taufik Abdullah adalah sejarawan dan ilmuwan sosial yang telah memperkaya historiografi Indonesia. Sutardji Calzoum Bachri telah mengeksplorasi batas-batas kemungkinan dalam bahasa Indonesia yang baik dan subtil.
Dokter Mulyanto telah menemukan metode baru dalam dunia kedokteran yang penggunaannya telah menyelamatkan begitu banyak nyawa manusia.
Laksana Tri Handoko telah meretas prestasi sebagai fisikawan dengan karya di tingkat dunia yang memperkaya pemahaman manusia terhadap asal usul massa dan materi.
Sedangkan Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan telah menjadi salah satu pusat penelitian terdepan di Indonesia yang telah memberi kontribusi positif bukan hanya kepada pengembangan teknologi kelapa sawit, tetapi lebih jauh lagi terhadap pengembangan potensi ekspor Indonesia yang sangat penting.
Hadir dalam acara tersebut sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu antara lain Mensesneg Hatta Radjasa, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Meneg Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Mensos Bachtiar Chamsyah dan sejumlah mantan menteri seperti mantan Kepala BKKBN Hayono Suyono dan mantan Mendiknas Wardiman Djoyonegoro. (kpl/rif)
Published in Koran Tempo (Sorta Tobing & Anton Septian, 15 August 2008)
Keempat tokoh yang mendapat penghargaan adalah sejarawan Taufik Abdullah, budayawan Sutardji Calzoum Bachri, dokter Mulyanto, dan fisikawan Laksana Tri Handoko.
Freedom Institute memberikan penghargaan Achmad Bakrie 2008 kepada empat tokoh dan satu lembaga penelitian. Mereka menerima penghargaan karena dianggap memberi kontribusi besar dalam pengembangan bidang masing-masing.
Pemberian piagam penghargaan dan hadiah masingmasing Rp 150 juta itu dilakukan oleh Aburizal Bakrie, putra sulung Achmad Bakrie, di Hotel Nikko, Jakarta, tadi malam. Hadir dalam acara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama sejumlah menteri. ~Prestasi Bapak semua bagian dari sejarah,~ ujar Yudhoyono.
Keempat tokoh yang mendapat penghargaan adalah sejarawan Taufik Abdullah, budayawan Sutardji Calzoum Bachri, dokter Mulyanto, dan fisikawan Laksana Tri Handoko. Sedangkan satu lembaga yang mendapat penghargaan adalah Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
Taufik Abdullah dianggap berjasa untuk pemikiran sosial karena menyadari pentingnya pandangan multidimensional terhadap sejarah. Bagi Taufik, sejarah tak boleh menjadi alat propaganda. "Saya bersyukur ada orang yang menghargai saya," kata Taufik kemarin.
Sutardji Calzoum Bachri dianggap telah mengeksplorasi batas-batas kemungkinan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan subtil. Dokter Mulyanto dinilai telah menemukan metode baru dalam dunia kedokteran. Laksana Tri Handoko dinilai telah meraih prestasi sebagai fisikawan dengan karya di tingkat dunia mengenai asal-usul massa dan materi.
Adapun Pusat Penelitian Kelapa Sawit dianggap berperan membantu Indonesia menjadi negara penghasil minyak sawit mentah terbesar di dunia.
Pada 2007, penerima penghargaan, Franz Magnis-Suseno, menolak penghargaan karena menganggap penghargaan itu disponsori oleh Grup Bakrie, yang merupakan pemilik PT Lapindo Brantas.
Published in Tempo Interactive (15 August 2008, SORTA TOBING and ANTON SEPTIAN)
The Freedom Institute gave the 2008 Achmad Bakrie award and Rp150million to four people and one research institution.
The awards were presented at the Nikko Hotel, Jakarta last night by Aburizal Bakrie, the eldest son of Ahmad Bakrie, who initiated the award. President Susilo Bambang Yudhoyono, ministers and public figures attended the event.
“Your achievements are part of the history and inspiration for the young generation,” said Yudhoyono. The President encourages Indonesians to appreciate national assets.
Four notables receiving the prize were historian Taufik Abdullah; cultural observer Sutardji Calzoum Bachri, physician Dr. Mulyanto; and physics expert Laksana Tri Handoko. One research institution also receiving the prize was Oil Palm Research Center.
Taufik Abdullah was honored for his multidimensional view of history, who said that history cannot be used as propaganda. “I am grateful that people can appreciate what I do,” said Taufik yesterday. “The prize is very helpful for state officials like me whose salary is small,” he added.
Sutardji Calzoum Bachri was honored for exploring the possibilities to speak the Indonesian language well while Dr. Mulyanto was appreciated for his new methods found in the medical world. Laksana Tri Handoko was regarded for his achievement in scrutinizing the characteristics of the origin of mass and the material.
The Oil Palm Research Center has been encouraging Indonesia to be one of the highest crude palm oil producers in the world. The center also has made oil palm as one of Indonesia’s biggest export commodities after oil and gas.
In 2007, the award receiver Franz Magnis Suseno, refused to accept the prize as he considered the award was sponsored by the Bakrie Group that owned PT Lapindo Brantas.
Published in Media Indonesia (13 August 2008)
Seorang penyair nyentrik asal Provinsi Riau, Sutardji Calzoum Bachri yang pada tahun 1973 menyebut dirinya sebagai"Presiden Penyair Indonesia" meraih penghargaan bergengsi "Achmad Bakrie" 2008 atas jasanya di bidang sastra.
"Sutardji menggunakan bahasa Indonesia yang modern tapi juga kuno," kata juru bicara tim juri, Hamid B kepada pers di Jakarta, Rabu (13/8), ketika menjelaskan para pemenang penghargaan ini.
Ia mengatakan pula para pememang "Achmad Bakrie Award" tahun 2008 yang lainnya adalah tokoh pemikir sejarah Taufik Abdullah, Profesor Mulyanto dari bidang kedokteran, ahli fisika Laksana Tri Handoko serta Pusat Penelitian Kelapa sawit di Medan.
Hamid mengatakan setiap pemenang akan mendapat hadiah uang Rp150 juta. Namun, diingatkannya bahwa uang itu tidaklah sebanding dengan dedikasi mereka selama puluhan tahun di bidangnya masing-masing. Penghargaan ini akan diserahkan dalam waktu dekat di Jakarta.
Mulyanto adalah seorang dokter yang melalui laboratoriumnya yang jauh di Mataram telah mengembangkan alat yang mampu mendeteksi penyakit Hepatitis B dan juga HIV.
Sementara itu, Laksana Tri Handoko dari LIPI termasuk salah satu ilmuwan langka di tanah air yang berkiprah di dunia internasional yang merintis usaha memburu partikel yang disebut "higgs".
Sementara itu, Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan juga mendapat penghargaan karena berhasil mengembangkan berbagai teknologi perkelapasawitan.
Sejak tahun 2003 hingga 2007, "Achmad Bakrie Award" ini pernah diberikan kepada sejumlah ilmuwan dan pakar antara lain Sapardi Djoko Darmono(sastra), Goenawan Kohammad (sastra), Sartono Kartodirdjo( pemikir sosial), Frans Magnis Suseno (pemikiran sosial) serta Arif Budiman (pemikiran sosial).
Hamid mengatakan jika sekarang penghargaan ini baru diberikan kepada para tokoh dalam bidang-bidang tertentu saja, maka di masa mendatang akan diperluas misalnya untuk bidang ekonomi.
"Sekarang memang banyak analis atau komentator di bidang ekonomi, namun mereka belum menghasilkan teori-teori yang besar," kata Hamid sambil menolak menyebutkan nama-nama juri.
Hamid menjelaskan pula tim juri penghargaan ini terdiri atas tujuh orang terkemuka, namun sejak tahun pertama tahun 2003, jati diri atau identitas setiap anggota tim juri tidak pernah dipublikasikan atau diumumkan secara terbuka.
"Sekalipun tim juri adalah anonim, tapi keputusan mereka pasti dapat dipertanggungjawabkan," kata Hamid. (Ant/OL-02)
Published in Kompas (13 August 2008)
Empat tokoh yang dinilai berprestasi luar biasa dan inovatif di bidangnya, Kamis (14/8) malam, akan menerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008. Tradisi pemberian penghargaan sejak 2003, diselenggarakan setiap menjelang Hari Kemerdekaan ini, dilakukan Freedom Institute untuk menghargai dunia pemikiran dan kreativitas pada bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya.
"Penghargaan Achmad Bakrie 2008 ini semacam hadiah Nobelnya Indonesia. Mereka dihargai bukan karena satu per satu karyanya, tapi menghargai berbagai macam kepeloporan atau inovasi yang dilakukan sepanjang hidupnya. Ini skenario besar untuk memberikan penghargaan ilmiah," kata Juru Bicara Dewan Juri Penghargaan Achmad Bakrie 2008, Hamid Basyaib, di Jakarta, Rabu (14/8).
Tujuh juri yang namanya sengaja dirahasiakan untuk menjaga independensinya, telah menetapkan Taufik Abdullah penerima penghargaan untuk Pemikiran Sosial, Sutardji Calzoum Bachri untuk kesusastraan, Mulyanto untuk Kedokteran, Laksana Tri Handoko untuk Sains, dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit untuk Teknologi. Hamid Basyaib menjelaskan, Taufik Abdullah terpilih karena ia ilmuwan sosial yang menyadari pentingnya pandangan multidimensional terhadap sejarah.
Penulisan sejarah tak cukup hanya bermodalkan pengetahuan tentang kronologi peristiwa. Disiplin keilmuan seperti sosiologi, antropologi, politik, dan ekonomi, merupakan instrumen penting dalam melihat peristiwa kesejarahan di masa silam. Taufik Abdullah berpandangan bahwa sejarah harus dibiarkan sebagai wacana intelektual. Ia tidak boleh menjadi alat propaganda.
Sedang Sutardji, dalam puisinya bahasa Indonesia tampak sangat modern, pascamodern, sekaligus purba. Kiprahnya adalah usaha yang diada henti dalam merebut kembali hidup kata yang terlanjur dibeku-bakukan dalam kamus dan konvensi. Puisi Sutardji menyadarkan kita bahwa ada banyak modus komunikasi yang terjadi di luar bahasa. Bahasa seakan dikembalikan kepada kondisinya sebelum ia tunduk kepada hukum tata bahasa.
Mulyanto, menurut penilaian dewan juri, keahliannya sebagai dokter telah membuktikan memenuhi standar akademis internasional. Ia terpilih karena ketekunan, semangat untuk mengaitkan diri dengan komunitas ilmiah global, komitmen penuh pada bidang ilmunya, dan kegigihan untuk menyediakan sarana kesehatan yang terjangkau masyarakat miskin dapat membuahkan hasil yang hebat, sangat praktis, murah dan melampaui capaian pada koleganya di negara-negara maju.
Sementara Laksana Tri Handoko, adalah satu dari sejumlah fisikawan di dunia ini yang merintis usaha memburu partikel Higgs, yakni partikel hipotetis yang bisa menjawab pertanyaan dari mana asal usul massa materi. Dirumuskan dalam bahasa umum, pertanyaan ini berbunyi mengapa benda mempunyai berat. Belasan publikasi di jurnal fisika tingkat dunia telah ia hasilkan baik berupa karya mandiri maupun dalam kolaborasi dengan fisikawan lain.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Sumatera Utara ditetapkan penerima di bidang teknologi karena dengan meneliti, menghimpun, dan menemukan berbagai pengetahuan dan teknologi kepala sawit. Lembaga ini termasuk paling maju di dunia dalam bidangnya. Banyak negara mengandalkan rencana pengembangan perekonomian kelapa sawit kepadanya. Dengan sumbangannya pula, sejak 2007 Indonesia menjadi negara penghasil minyak sawit mentah terbesar di dunia, dan produk sawit menjadi komoditas ekspor terbesar negara kita setelah minyak dan gas alam.
Masing-masing penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008 akan mendapat hadiah uang Rp150 juta, meningkat dibanding tahun 2007 yang hanya Rp100 juta. "Hadiah uang ini tak apa-apanya jika dibandingkan dengan pengabdian tokoh-tokoh dan lembaga tersebut, yang terhitung puluhan tahun. Kecuali, sekadar pendorong lembaga-lembaga lain untuk memberikan penghargaan kepada orang-orang Indonesia yang berprestasi dan konsisten," ujar Hamid.
Published in
Kompas (13 August 2008)
Penyair Sutardji Calzoum Bachri asal Provinsi Riau yang pada tahun 1973 menyebut dirinya sebagai" Presiden Penyair Indonesia" meraih penghargaan bergengsi "Achmad Bakrie" 2008 atas jasanya terhadap bidang sastra.
"Sutardji menggunakan bahasa Indonesia yang modern tapi juga kuno," kata juru bicara tim juri, Hamid B kepada pers di Jakarta, Rabu, ketika menjelaskan para pemenang penghargaan ini. Pada tahun 2008, terdapat empat individu pemenang serta sebuah lembaga penelitian di bidang kelapa sawit di Medan, Provinsi Sumatera Utara.
Ia mengatakan pula para pememang "Achmad Bakrie Award" tahun 2008 yang lainnya adalah tokoh pemikir sejarah Taufik Abdullah, Profesor Mulyanto dari bidang kedokteran, ahli fisika Laksana Tri Handoko serta Pusat Penelitian Kelapa sawit di Medan.
Hamid mengatakan setiap pemenang akan mendapat hadiah uang Rp150 juta. Namun, diingatkannya bahwa uang itu tidaklah sebanding dengan dedikasi mereka selama puluhan tahun di bidangnya masing-masing. Penghargaan ini akan diserahkan dalam waktu dekat di Jakarta.
Mulyanto adalah seorang dokter yang melalui laboratoriumnya yang jauh di Mataram telah mengembangkan alat yang mampu mendeteksi penyakit Hepatitis B dan juga HIV.
Sementara itu, Laksana Tri Handoko dari LIPI termasuk salah satu ilmuwan langka di Tanah Air yang berkiprah di dunia internasional yang merintis usaha memburu partikel yang disebut "higgs". Pusat Penelitian Kelapa Sawit" juga mendapat penghargaan karena berhasil mengembangkan berbagai teknologi perkelapasawitan.
SejaK tahun 2003 hingga 2007, "Achmad Bakrie Award" ini pernah diberikan kepada sejumlah ilmuwan dan pakar antara lain Sapardi Djoko Darmono(sastra), Goenawan Kohammad (sastra), Sartono Kartodirdjo( pemikir sosial), Frans Magnis Suseno (pemikiran sosial) serta Arif Budiman (pemikiran sosial).
Hamid mengatakan jika sekarang penghargaan ini baru diberikan kepada para tokoh dalam bidang-bidang tertentu saja, maka di masa mendatang akan diperluas misalnya untuk bidang ekonomi. "Sekarang memang banyak analis atau komentator di bidang ekonomi, namun mereka belum menghasilkan teori-teori yang besar," kata Hamid sambil menolak menyebutkan nama-nama juri.
Hamid menjelaskan pula tim juri penghargaan ini terdiri atas tujuh orang terkemuka, namun sejak tahun pertama tahun 2003, jati diri atau identitas setiap anggota tim juri tidak pernah dipublikasikan atau diumumkan secara terbuka. "Sekalipun tim juri adalah anonim, tapi keputusan mereka pasti dapat dipertanggungjawabkan," kata Hamid.(ANT)
Published in
Freedom Institute (13 August 2008)
Ringkasan Alasan Juri Memberikan Penghargaan Achmad Bakrie 2008 kepada :
Sebagai seorang ilmuwan sosial, Taufik menyadari betul pentingnya pandangan multidimensional terhadap sejarah. Penulisan sejarah tak cukup hanya bermodalkan pengetahuan tentang kronologi peristiwa. Disiplin keilmuan seperti sosiologi, antropologi, politik, dan ekonomi, merupakan instrumen penting dalam melihat peristiwa kesejarahan di masa silam. Pendekatan multidimensional membantu sejarahwan melihat persoalan secara lebih utuh.
Sejarah yang baik adalah sejarah yang mengisahkan tentang keadaan yang sesungguhnya, bukan keadaan yang diinginkan atau dibayangkan seorang sejarahwan. Untuk itu diperlukan berbagai perspektif dan pendekatan dalam menulis sejarah. Pendekatan yang keliru akan menuju pada kesimpulan yang keliru.
Taufik Abdullah berpandangan bahwa sejarah harus dibiarkan sebagai wacana intelektual. Ia tidak boleh menjadi alat propaganda. Sejarahwan dan para pengajar sejarah harus terus mengingatkan bahwa sejarah adalah hasil rekonstruksi atas serpihan-serpihan peristiwa masa silam, yang penuh dengan kepentingan dan subyektifisme. Sejarah adalah berita pikiran hasil interaksi dan negosiasi penulisnya dengan realitas masa silam yang dihadapinya. Sebagai ~berita pikiran~ sejarah harus dibongkar, digugat, dan dipertanyakan terus-menerus, untuk kemudian dikonstruksi kembali menjadi narasi baru yang lebih sahih.
Dalam puisi Sutardji Calzoum Bachri, bahasa Indonesia tampak sangat modern, pascamodern, sekaligus purba. Kiprahnya adalah usaha yang tiada henti dalam merebut kembali hidup kata yang telanjur dibeku-bakukan dalam kamus dan konvensi.
Puisi Sutardji menyadarkan kita bahwa ada banyak modus komunikasi yang terjadi di luar bahasa. Justru dengan menggunakan kata, ia dengan ironis menyatakan apa yang tak bisa disampaikan oleh kata atau justru melampaui kata itu sendiri. Bahasa seakan dikembalikan kepada kondisinya sebelum ia tunduk kepada hukum tata bahasa. Kata dalam puisi Sutardji seperti pemain yang bergerak mencari kemungkinan arah dan tujuannya sendiri karena, antara lain, si penyair memainkan kelas kata~misalnya mengalih-gunakan katabenda jadi kata sifat, dan katakerja jadi katabenda.
Sutardji meradikalkan puisi bebas. Pada mayoritas penyair kita, puisi bebas sekadar upaya untuk membebaskan diri dari pola mapan; atau, puisi bebas sekadar puisi yang mendekat ke prosa. Pada Sutardji, puisi bebas adalah konsekuensi dari rangkaian kalimat atau frase yang tak stabil, yang saling membentur demi membentuk keseluruhan yang tak teramalkan.
Sutardji Calzoum Bachri menemukan kembali mantra. Di masa dahulu, mantra memberi tuah dan penyembuhan; di masa kini, mantra Sutardji memulihkan tenaga bahasa yang telanjur dimelaratkan oleh komunikasi massa.
Dokter Mulyanto membuktikan bahwa keahlian yang memenuhi standar akademis internasional, ketekunan, semangat untuk mengaitkan diri dengan komunitas ilmiah global, komitmen penuh pada bidang ilmunya, dan kegigihan untuk menyediakan sarana kesehatan yang terjangkau masyarakat miskin dapat membuahkan hasil yang hebat, sangat praktis, murah dan melampaui capaian para koleganya di negara-negara maju.
Selama tiga dekade, Mulyanto bekerja tekun di Laboratorium Hepatika di Mataram yang sepi dan jauh dari reputasi ilmiah. Ia mengembangkan penggunaan reagen dengan perangkat dipstick yang amat sederhana, tapi mampu mendeteksi penyakit yang masih lazim di masyarakat berkembang seperti malaria, juga hepatitis B dan hepatitis C, bahkan HIV.
Kepraktisan metode dan perangkatnya mampu memotong rantai proses di laboratorium uji klinis yang panjang, rumit dan mahal. Imunokromatografi hasil inovasi Mulyanto berupa kertas tipis nitroselulose berisi unsur cairan dan sel darah, antibodi, protein virus, antigen dan koloid emas, yang dibungkus kaset pipih berbahan plastik transparan sepanjang 8 cm, lebar 1 cm dan tebal 0,5 cm. Dengan alat sederhana itu, siapapun bisa melakukan tes sendiri. Dan imunokromatografi Mulyanto yang sederhana dan murah tersebut mencapai sensitifitas 100 persen, dengan tingkat akurasi 97 persen.
Laksana Tri Handoko adalah satu dari sejumlah fisikawan di dunia ini yang merintis usaha memburu partikel Higgs, yakni partikel hipotetis yang bisa menjawab pertanyaan ~dari mana asal-usul massa materi.~ Dirumuskan dalam bahasa umum, pertanyaan ini berbunyi ~mengapa benda mempunyai berat~.
Dalam ilmu fisika modern dikenal Model Standar yang dapat menjelaskan gejala alam di ranah mikroskopik di mana gaya-gaya elektromagnetik, nuklir lemah dan nuklir kuat bekerja. Sebanyak 16 partikel elementer yang diramalkan Model Standar ini sudah berhasil diobservasi berbagai eksperimen. Tapi, ada satu partikel hipotetis yang dinamakan partikel Higgs yang sampai saat ini belum terkonfirmasi.
Handoko memburu partikel Higgs dengan kajian matematika maupun eksperimen di laboratorium. Handoko memilih skenario perburuan partikel Higgs dengan memanfaatkan temuan bahwa neutrino (yakni partikel elementer yang tak bermuatan) ternyata bermassa. Instrumen matematik yang bernama Teori Supersimetri ia coba terapkan dalam konteks ini. Belasan publikasi di jurnal fisika tingkat dunia telah ia hasilkan baik berupa karya mandiri maupun dalam kolaborasi dengan fisikawan lain.
Dengan meneliti, menghimpun dan menemukan berbagai pengetahuan dan teknologi kelapa sawit, lembaga ini termasuk paling maju di dunia dalam bidangnya. Banyak negara mengandalkan rencana pengembangan perekonomian kelapa sawit kepadanya. Dengan sumbangannya pula, sejak 2007 Indonesia menjadi negara penghasil minyak sawit mentah terbesar di dunia, dan produk sawit menjadi komoditas ekspor terbesar negara kita setelah minyak dan gas alam.
Ditopang oleh koleksi plasma nutfah terlengkap di dunia, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menjadi lembaga yang paling subur memproduksi varietas baru. Di laboratorium kultur jaringan terbesar di dunia untuk jenisnya, PPKS meneliti teknologi pemuliaan sawit yang berpotensi mengubah masa depan industri sawit. Di samping itu, lembaga ini praktis meneliti segala hal yang berkaitan dengan perkebunan sawit dari hulu hingga ke hilir.
PPKS adalah contoh terbaik di Indonesia dalam hal pertautan antara riset ilmiah-teknologis dengan kegiatan bisnis dan non-bisnis. Dari sebagian hasil risetnya sendiri, PPKS sanggup mandiri secara finansial, sambil membantu sejumlah kegiatan riset pekebunan di tempat lain di Indonesia. Banyak buah karya PPKS yang siap tumbuh menjadi bisnis besar industri hilir yang potensial membentuk lapangan kerja dan mengangkat pendapatan negara.
Published in
KabarIndonesia (5 August 2008)
Asian Science Camp 2008 (ASC 2008) resmi dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Tampaksiring, Bali, Selasa (5/8).
Ketika menerima peserta di Istana Tampaksiring, Presiden memberikan tiga pertanyaan. Setiap pertanyaan dijawab oleh tiga peserta. Kemudian Prof. Yohanes Surya dan Rektor UGM, Soedjarwadi, memilih jawaban terbaik dari setiap pertanyaan untuk mendapatkan bingkisan dari Presiden.
Kegiatan ASC 2008 diikuti 365 peserta dari seluruh Indonesia dan 150 dari negara-negara Asia lainnya. ASC untuk pertama kalinya diadakan di Taiwan pada tahun 2007. Adapun pelaksanaan tahun ini merupakan yang kedua.
Asian Science Camp 2008 berlangsung di Hotel Inna Beach Bali dan dihadiri oleh sejumlah peraih Nobel. Antara lain Prof. Yuan Tseh Lee Ph. D. (Nobel Laureate in Chemistry 1986 dari Taiwan), Prof. Richard Robert Ernst Ph. D. (Nobel Laureate in Chemistry 1991, Swiss), Prof. Douglas D. Osheroff Ph. D. (Nobel Laureate in Physics 1996, Amerika Serikat), Prof. Chintamani Nagesa Ramachandra Rao F.R.S. (Hughes Medal by Royal Society 2000, CSIR Centre of Excellence in Chemistry, India), Prof. Masatoshi Koshiba Ph. D. (Nobel Laureate in Physics 2002 , Jepang), Prof. David Gross Ph. D. (Nobel Laureate in Physics 2004, Amerika Serikat).
Turut hadir Prof. Nelson Tansu, Ph.D. (Lehigh University, Amerika Serikat), Lim Yow Pin MD, Ph.D. (Brown Medical School, Amerika Serikat), Dr.rer.nat. Johny Setiawan (Max Planck Institute for Astronomy, Jerman), Rizal Fajar Hariadi B.S., Ph.D. cand. (California Institute of Technology, Amerika Serikat), Dr. Laksana Tri Handoko (LIPI), Dr. Teguh Triono (LIPI), Dr. Adi Santoso (LIPI), Dr. rer.nat. Heri Haerudin (LIPI).
ASC awalnya dilaksanakan atas ide dari Professor Yuan-Tseh Lee, peraih Nobel kimia 1986 dari Taiwan dan Professor Masatoshi Koshiba, peraih Nobel Fisika 2002 dari Jepang. Selanjutnya disampaikan bahwa tujuan ASC ini adalah untuk memberikan pencerahan sains pada generasi muda melalui diskusi dan dialog dengan para peraih Nobel dan ilmuwan tingkat dunia lainnya. Tujuan lainnya untuk mendorong kerja sama antara pelajar-pelajar terbaik calon pemimpin Asia.
Published in Republika (6 August 2008)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan generasi muda merupakan investasi bangsa yang diharapkan mampu memberi kontribusi bagi penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi di masa yang akan datang.
"Masalah yang dihadapi akan terus bertambah. Mari kita berinvestasi untuk menyiapkan jawaban dan juga memberikan solusinya," kata Presiden saat menerima sekitar 350 peserta Asian Science Camp (ASC) di ruang konferensi Istana Tampak Siring, Bali, Selasa malam.
Kepala Negara menjelaskan bila setiap orang memiliki kemauan maka tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.
"Kita harus optimistis dan berpikiran luas. Bila belum apa-apa sudah pesimis, berjiwa gelap dan tidak inovatif maka sulit untuk menyelesaikan masalah," tegas Presiden.
Presiden Yudhoyono yang dalam kesempatan itu didampingi oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono mengatakan potensi yang ditunjukkan para siswa Indonesia dengan memenangi sejumlah medali dalam berbagai olimpiade sains yang diselenggarakan memberikan harapan yang cerah bagi masa depan Indonesia.
"Namun dalam berbagai lomba, jangan semata-mata mengejar kemenangan dan medali namun juga bisa memberikan kontribusi pada permasalahan global," kata Yudhoyono.
ASC pertama kali diselenggarakan di Taiwan pada 2007 dan menjadi ajang tahunan tingkat internasional untuk memotivasi generasi muda Asia berusia 17-22 tahun untuk meraih prestasi bidang sains sekaliber peraih nobel dan ilmuwan dunia lainnya yang akan hadir.
Asian Science Camp 2008 berlangsung di Hotel Inna Beach Bali dan diikuti 350 peserta dan dihadiri oleh sejumlah peraih nobel antara lain Prof. Yuan Tseh Lee Ph. D. (1986 Nobel Laureate in Chemistry, Taiwan), Prof. Richard Robert Ernst Ph. D. (1991 Nobel Laureate in Chemistry, Swiss), Prof. Douglas D. Osheroff Ph. D. (1996 Nobel Laureate in Physics, Amerika Serikat),Prof. Chintamani Nagesa Ramachandra Rao F.R.S.(2000 Hughes Medal by Royal Society, CSIR Centre of Excellence in Chemistry, India), Prof. Masatoshi Koshiba Ph. D. (2002 Nobel Laureate in Physics, Jepang),Prof. David Gross Ph. D. (2004 Nobel Laureate in Physics, Amerika Serikat).
Selain itu hadir pula peneliti yang cukup mumpuni di bidangnya yaitu Prof. Nelson Tansu, Ph.D. (Lehigh University, Amerika Serikat), Lim Yow Pin MD, Ph.D. (Brown Medical School, Amerika Serikat), Dr.rer.nat. Johny Setiawan (Max Planck Institute for Astronomy, Jerman), Rizal Fajar Hariadi B.S., Ph.D. cand. (California Institute of Technology, Amerika Serikat), Dr. Laksana Tri Handoko (LIPI), Dr. Teguh Triono (LIPI),Dr. Adi Santoso (LIPI), Dr. rer.nat. Heri Haerudin (LIPI).
Major Donor dalam program tersebut adalah Tanoto Foundation, PT Perusahaan Gas Negara, PT Jamsostek, PT Pertamina, PT Medco Energi, PT Astra International, Bank NISP, PT Adaro Energy, Bakrie untuk Negeri, Yayasan Sutomo, Yayasan BPK Penabur, Yayasan IPEKA dan President University.ant
Published in inilah.com (5 August 2008)
Presiden SBY menyatakan generasi muda merupakan investasi bangsa yang diharapkan mampu memberi kontribusi bagi penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi di masa yang akan datang.
"Masalah yang dihadapi akan terus bertambah. Mari kita berinvestasi untuk menyiapkan jawaban dan juga memberikan solusinya," kata Presiden saat menerima sekitar 350 peserta Asian Science Camp (ASC) di ruang konferensi Istana Tampak Siring, Bali, Selasa (5/8) malam.
Kepala Negara menjelaskan bila setiap orang memiliki kemauan maka tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. "Kita harus optimistis dan berpikiran luas. Bila belum apa-apa sudah pesimis, berjiwa gelap dan tidak inovatif maka sulit untuk menyelesaikan masalah," tegas Presiden.
Presiden Yudhoyono yang dalam kesempatan itu didampingi oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono mengatakan potensi yang ditunjukkan para siswa Indonesia dengan memenangi sejumlah medali dalam berbagai olimpiade sains yang diselenggarakan memberikan harapan yang cerah bagi masa depan Indonesia.
"Namun dalam berbagai lomba, jangan semata-mata mengejar kemenangan dan medali namun juga bisa memberikan kontribusi pada permasalahan global," kata Yudhoyono.
ASC pertama kali diselenggarakan di Taiwan pada 2007 dan menjadi ajang tahunan tingkat internasional untuk memotivasi generasi muda Asia berusia 17-22 tahun untuk meraih prestasi bidang sains sekaliber peraih nobel dan ilmuwan dunia lainnya yang akan hadir.
Asian Science Camp 2008 berlangsung di Hotel Inna Beach Bali dan diikuti 350 peserta dan dihadiri oleh sejumlah peraih nobel antara lain Prof. Yuan Tseh Lee Ph. D. (1986 Nobel Laureate in Chemistry, Taiwan), Prof. Richard Robert Ernst Ph. D. (1991 Nobel Laureate in Chemistry, Swiss), Prof. Douglas D. Osheroff Ph. D. (1996 Nobel Laureate in Physics, Amerika Serikat),Prof. Chintamani Nagesa Ramachandra Rao F.R.S.(2000 Hughes Medal by Royal Society, CSIR Centre of Excellence in Chemistry, India), Prof. Masatoshi Koshiba Ph. D. (2002 Nobel Laureate in Physics, Jepang),Prof. David Gross Ph. D. (2004 Nobel Laureate in Physics, Amerika Serikat).
Selain itu hadir pula peneliti yang cukup mumpuni di bidangnya yaitu Prof. Nelson Tansu, Ph.D. (Lehigh University, Amerika Serikat), Lim Yow Pin MD, Ph.D. (Brown Medical School, Amerika Serikat), Dr.rer.nat. Johny Setiawan (Max Planck Institute for Astronomy, Jerman), Rizal Fajar Hariadi B.S., Ph.D. cand. (California Institute of Technology, Amerika Serikat), Dr. Laksana Tri Handoko (LIPI), Dr. Teguh Triono (LIPI),Dr. Adi Santoso (LIPI), Dr. rer.nat. Heri Haerudin (LIPI).
Major Donor dalam program tersebut adalah Tanoto Foundation, PT Perusahaan Gas Negara, PT Jamsostek, PT Pertamina, PT Medco Energi, PT Astra International, Bank NISP, PT Adaro Energy, Bakrie untuk Negeri, Yayasan Sutomo, Yayasan BPK Penabur, Yayasan IPEKA dan President University.[*/L6]
Published in Media Indonesia (5 August 2008)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima dan bertemu dengan para peserta Asian Science Camp 2008 di Istana Tampak Siring, Bali, Selasa malam.
Kepala Negara yang didampingi oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono bertemu dengan 350 siswa SMA dan perguruan tinggi yang ikut serta dalam kegiatan yang berlangsung sejak 3 Agustus 2008 hingga 9 Agustus 2008 tersebut.
Presiden Yudhoyono juga didampingi oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, Menkominfo Muhammad Nuh, Mendagri Mardiyanto, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.
ASC pertama kali diselenggarakan di Taiwan pada 2007 dan menjadi ajang tahunan tingkat internasional untuk memotivasi generasi muda Asia berusia 17-22 tahun untuk meraih prestasi bidang sains sekaliber peraih nobel dan ilmuwan dunia lainnya yang akan hadir.
Asian Science Camp 2008 berlangsung di Hotel Inna Beach Bali dan diikuti 350 peserta dan dihadiri oleh sejumlah peraih Nobel antara lain Prof. Yuan Tseh Lee Ph. D. (1986 Nobel Laureate in Chemistry, Taiwan), Prof. Richard Robert Ernst Ph. D. (1991 Nobel Laureate in Chemistry, Swiss), Prof. Douglas D. Osheroff Ph. D. (1996 Nobel Laureate in Physics, Amerika Serikat),Prof. Chintamani Nagesa Ramachandra Rao F.R.S.(2000 Hughes Medal by Royal Society, CSIR Centre of Excellence in Chemistry, India), Prof. Masatoshi Koshiba Ph. D. (2002 Nobel Laureate in Physics, Jepang),Prof. David Gross Ph. D. (2004 Nobel Laureate in Physics, Amerika Serikat).
Selain itu hadir pula peneliti yang cukup mumpuni di bidangnya yaitu Prof. Nelson Tansu, Ph.D. (Lehigh University, Amerika Serikat), Lim Yow Pin MD, Ph.D. (Brown Medical School, Amerika Serikat), Dr.rer.nat. Johny Setiawan (Max Planck Institute for Astronomy, Jerman), Rizal Fajar Hariadi B.S., Ph.D. cand. (California Institute of Technology, Amerika Serikat), Dr. Laksana Tri Handoko (LIPI), Dr. Teguh Triono (LIPI),Dr. Adi Santoso (LIPI), Dr. rer.nat. Heri Haerudin (LIPI). (Ant/OL-01)
Published in Antara (5 August 2008)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan generasi muda merupakan investasi bangsa yang diharapkan mampu memberi kontribusi bagi penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi di masa yang akan datang.
"Masalah yang dihadapi akan terus bertambah. Mari kita berinvestasi untuk menyiapkan jawaban dan juga memberikan solusinya," kata Presiden saat menerima sekitar 350 peserta Asian Science Camp (ASC) di ruang konferensi Istana Tampak Siring, Bali, Selasa malam.
Kepala Negara menjelaskan bila setiap orang memiliki kemauan maka tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.
"Kita harus optimistis dan berpikiran luas. Bila belum apa-apa sudah pesimis, berjiwa gelap dan tidak inovatif maka sulit untuk menyelesaikan masalah," tegas Presiden.
Presiden Yudhoyono yang dalam kesempatan itu didampingi oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono mengatakan potensi yang ditunjukkan para siswa Indonesia dengan memenangi sejumlah medali dalam berbagai olimpiade sains yang diselenggarakan memberikan harapan yang cerah bagi masa depan Indonesia.
"Namun dalam berbagai lomba, jangan semata-mata mengejar kemenangan dan medali namun juga bisa memberikan kontribusi pada permasalahan global," kata Yudhoyono.
ASC pertama kali diselenggarakan di Taiwan pada 2007 dan menjadi ajang tahunan tingkat internasional untuk memotivasi generasi muda Asia berusia 17-22 tahun untuk meraih prestasi bidang sains sekaliber peraih nobel dan ilmuwan dunia lainnya yang akan hadir.
Asian Science Camp 2008 berlangsung di Hotel Inna Beach Bali dan diikuti 350 peserta dan dihadiri oleh sejumlah peraih nobel antara lain Prof. Yuan Tseh Lee Ph. D. (1986 Nobel Laureate in Chemistry, Taiwan), Prof. Richard Robert Ernst Ph. D. (1991 Nobel Laureate in Chemistry, Swiss), Prof. Douglas D. Osheroff Ph. D. (1996 Nobel Laureate in Physics, Amerika Serikat),Prof. Chintamani Nagesa Ramachandra Rao F.R.S.(2000 Hughes Medal by Royal Society, CSIR Centre of Excellence in Chemistry, India), Prof. Masatoshi Koshiba Ph. D. (2002 Nobel Laureate in Physics, Jepang),Prof. David Gross Ph. D. (2004 Nobel Laureate in Physics, Amerika Serikat).
Selain itu hadir pula peneliti yang cukup mumpuni di bidangnya yaitu Prof. Nelson Tansu, Ph.D. (Lehigh University, Amerika Serikat), Lim Yow Pin MD, Ph.D. (Brown Medical School, Amerika Serikat), Dr.rer.nat. Johny Setiawan (Max Planck Institute for Astronomy, Jerman), Rizal Fajar Hariadi B.S., Ph.D. cand. (California Institute of Technology, Amerika Serikat), Dr. Laksana Tri Handoko (LIPI), Dr. Teguh Triono (LIPI),Dr. Adi Santoso (LIPI), Dr. rer.nat. Heri Haerudin (LIPI).
Major Donor dalam program tersebut adalah Tanoto Foundation, PT Perusahaan Gas Negara, PT Jamsostek, PT Pertamina, PT Medco Energi, PT Astra International, Bank NISP, PT Adaro Energy, Bakrie untuk Negeri, Yayasan Sutomo, Yayasan BPK Penabur, Yayasan IPEKA dan President University.(*)
Published in
AsiaNET (5 August 2008)
President Susilo Bambang Yudhoyono met with participants of the Asian Science Camp 2008 at the Tampak Siring Palace in Bali on Tuesday night.
The head of state in the company of First Lady Ani Yudhoyono held talks with 350 students of senior high schools and institutes of higher learning taking part in the week-long event which opened on Sunday.
Also present at the meeting were State Minister of Research and Technology Kusmayanto Kadiman, Communication and Information Minister Muhammad Nuh, Home Affairs Minister Mardiyanto and Cabinet Secretary Sudi Silalahi.
ASC which was for the first time held in Taiwan last year serves as an annual international event to motivate Asian younger generations to make as best achievements as Nobel laureates and world-renowned scientists have done in the field of sciences.
The ASC 2008 which is taking place at Hotel Inn Beach Bali is also attended by a number of Nobel laureates including Prof. Yuan Tseh Lee Ph. D. of Taiwan (1986 Nobel prize in chemistry), Prof. Richard Robert Ernst Ph. D. of Switzerland (1991 Nobel prize in chemistry), Prof. Douglas D. Osheroff Ph. D. of the United States (1996 Nobel prize in physics), Prof. Chintamani Nagesa Ramachandra Rao F.R.S. of India (2000 Hughes Medal by Royal Society, CSIR Centre of Excellence in chemistry), Prof. Masatoshi Koshiba Ph. D. of Japan (2002 Nobel prize in physics), Prof. David Gross Ph. D. of the United States (2004 Nobel prize in physics).
Also present at the event were world-renowned researchers including Prof. Nelson Tansu, Ph.D. (Lehigh University, the United States), Lim Yow Pin MD, Ph.D. (Brown Medical School, the United States), Dr.rer.nat. Johny Setiawan (Max Planck Institute for Astronomy, Germany), Rizal Fajar Hariadi B.S., Ph.D. cand. (California Institute of Technology, the United States), as well as Dr. Laksana Tri Handoko, Dr. Adi Santoso, Dr. rer.nat. Heri Haerudin, Dr. Teguh Triono, all from the Indonesian Institutes of Sciences (LIPI).
Published in
Kompas (5 August 2008)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan generasi muda merupakan investasi bangsa yang diharapkan mampu memberi kontribusi bagi penyelesaian masalah-masalah di waktu mendatang. "Masalah yang dihadapi akan terus bertambah. Mari kita berinvestasi untuk menyiapkan jawaban dan juga memberikan solusinya," kata Presiden saat menerima sekitar 350 peserta Asian Science Camp (ASC) di ruang konferensi Istana Tampak Siring, Bali, Selasa (5/8) malam.
Kepala Negara menjelaskan bila setiap orang memiliki kemauan maka tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. "Kita harus optimistis dan berpikiran luas. Bila belum apa-apa sudah pesimis, berjiwa gelap dan tidak inovatif maka sulit untuk menyelesaikan masalah," tegas Presiden.
Presiden Yudhoyono yang dalam kesempatan itu didampingi oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono mengatakan potensi yang ditunjukkan para siswa Indonesia dengan memenangi sejumlah medali dalam berbagai olimpiade sains yang diselenggarakan memberikan harapan yang cerah bagi masa depan Indonesia. "Namun dalam berbagai lomba, jangan semata-mata mengejar kemenangan dan medali namun juga bisa memberikan kontribusi pada permasalahan global," kata Yudhoyono.
ASC pertama kali diselenggarakan di Taiwan pada 2007 dan menjadi ajang tahunan tingkat internasional untuk memotivasi generasi muda Asia berusia 17-22 tahun meraih prestasi bidang sains sekaliber peraih nobel dan ilmuwan dunia lainnya yang akan hadir.
Asian Science Camp 2008 berlangsung di Hotel Inna Beach Bali diikuti 350 peserta dan dihadiri oleh sejumlah peraih nobel antara lain Masatoshi Koshiba (Nobel Laureate 2002, Fisika, Jepang), Yuan-Tseh Lee (Nobel Laureate 1986, Kimia, Taiwan), dan Douglas Osherroff (Nobel Laureate 1996, Fisika, Amerika Serikat). Selain itu, ada juga Richard Robert Ernst (Nobel Laureate 1991, Kimia, Swiss), dan David Gross (Nobel Laureate 2004, Fisika, Amerika Serikat).
Hadir pula peneliti yang cukup mumpuni di bidangnya yaitu Nelson Tansu (Lehigh University, Amerika Serikat), Lim Yow Pin (Brown Medical School, Amerika Serikat), Johny Setiawan (Max Planck Institute for Astronomy, Jerman), Rizal Fajar Hariadi (California Institute of Technology, Amerika Serikat), Laksana Tri Handoko (LIPI), Teguh Triono (LIPI), Adi Santoso (LIPI), dan Heri Haerudin (LIPI).
Published in Antara (5 August 2008)
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima dan bertemu dengan para peserta Asian Science Camp 2008 di Istana Tampak Siring, Bali, Selasa malam.
Kepala Negara yang didampingi oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono bertemu dengan 350 siswa SMA dan perguruan tinggi yang ikut serta dalam kegiatan yang berlangsung sejak 3 Agustus 2008 hingga 9 Agustus 2008.
Presiden Yudhoyono juga didampingi oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, Menkominfo Muhammad Nuh, Mendagri Mardiyanto dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.
ASC pertama kali diselenggarakan di Taiwan pada 2007 dan menjadi ajang tahunan tingkat internasional untuk memotivasi generasi muda Asia berusia 17-22 tahun untuk meraih prestasi bidang sains sekaliber peraih nobel dan ilmuwan dunia lainnya yang akan hadir.
Asian Science Camp 2008 berlangsung di Hotel Inna Beach Bali dan diikuti 350 peserta dan dihadiri oleh sejumlah peraih Nobel antara lain Prof. Yuan Tseh Lee Ph. D. (1986 Nobel Laureate in Chemistry, Taiwan), Prof. Richard Robert Ernst Ph. D. (1991 Nobel Laureate in Chemistry, Swiss), Prof. Douglas D. Osheroff Ph. D. (1996 Nobel Laureate in Physics, Amerika Serikat),Prof. Chintamani Nagesa Ramachandra Rao F.R.S.(2000 Hughes Medal by Royal Society, CSIR Centre of Excellence in Chemistry, India), Prof. Masatoshi Koshiba Ph. D. (2002 Nobel Laureate in Physics, Jepang),Prof. David Gross Ph. D. (2004 Nobel Laureate in Physics, Amerika Serikat).
Selain itu hadir pula peneliti yang cukup mumpuni di bidangnya yaitu Prof. Nelson Tansu, Ph.D. (Lehigh University, Amerika Serikat), Lim Yow Pin MD, Ph.D. (Brown Medical School, Amerika Serikat), Dr.rer.nat. Johny Setiawan (Max Planck Institute for Astronomy, Jerman), Rizal Fajar Hariadi B.S., Ph.D. cand. (California Institute of Technology, Amerika Serikat), Dr. Laksana Tri Handoko (LIPI), Dr. Teguh Triono (LIPI),Dr. Adi Santoso (LIPI), Dr. rer.nat. Heri Haerudin (LIPI).(*)
Published in
e-Indonesia (Vol. IV no. 26, 2008, L.T. Handoko)
Mendapatkan nomor ISSN untuk terbitan berkala mungkin tidak mudah bagi sebagian orang. Lebih dari itu pemanfaatan kodebar ISSN di masyarakat masih rendah dan berpotensi menimbulkan pemborosan yang tidak perlu. Untuk itulah ISSN Online diluncurkan...
Membuat majalah, atau lebih umum terbitan berkala ? Ah, itu sudah kuno alias jadul. Di jaman dijital ini setiap orang bisa mempublikasikan tulisannya tanpa melalui media formal. Meski pandangan ini tidak salah, tetapi media formal tetap memiliki peranan dan fungsi yang tidak bisa digantikan oleh sekedar blog di jaringan maya. Perbedaan utama adalah adanya proses editorial dan penilaian dari pihak ketiga sebelum disampaikan ke pembaca. Proses ini memastikan tingkat akurasi, atau setidaknya mengurangi kesalahan, isi sebuah artikel serta memberikan jaminan kebenaran informasi seperti diharapkan oleh pembaca.
Seluruh media yang dikelola dengan proses editorial seperti ini umumnya diterbitkan secara berkelanjutan sebagai terbitan berkala. Terbitan berkala resmi ditunjukkan dengan nomor registrasi yang dikenal sebagai ISSN (International Standard of Serial Number) yang berlaku secara global. Sebaliknya, terbitan tunggal seperti buku mengikuti nomor registrasi ISBN (International Standard Book Number). Nomor-nomor registrasi semacam ini ditujukan sebagai alat identifikasi atas aneka publikasi di seluruh dunia. Sistem penomoran ISSN dikelola secara terpusat oleh ISDS (International Serial Data System) yang berkedudukan di Paris, Perancis, dan diadopsi sebagai implementasi dari ISO-3297 di tahun 1975. Tentu saja tidak seluruh pemohon ISSN harus berurusan dengan ISDS di Paris, melainkan cukup dengan Pusat Nasional ISSN di negaranya masing-masing. Untuk Indonesia, ISSN dikelola oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah ~ Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI). Hal ini sebagai bagian dari tugas dan wewenang PDII LIPI untuk melakukan pemantauan atas seluruh publikasi terbitan berkala yang diterbitkan di Indonesia.
Mengikuti kecenderungan di era reformasi, sejak 1 April 2008 lalu seluruh proses pengajuan sampai penerbitan ISSN dilakukan secara online melalui situs ISSN Online (http://issn.pdii.lipi.go.id). Dengan sistem ini pengelolaan ISSN menjadi lebih mudah, murah, cepat dan transparan bagi publik.
Namun berbeda dengan sarana online untuk ISSN di negara lain, ISSN Online dari PDII LIPI tidak hanya menyediakan sarana terpadu untuk pengurusan administrasi ISSN, tetapi juga menyediakan perangkat lunak online untuk membuat kodebar (barcode generator) khusus ISSN. Dengan ini penerbit tidak perlu memiliki perangkat lunak pembuat kodebar yang cukup mahal.
Yang lebih penting, infomasi detail mengenai ISSN dan kodebar serta perangkatnya di ISSN Online diharapkan menjadi sumber rujukan penerbitan dan pemakaian ISSN di masyarakat. Meski kesadaran akan kepemilikan ISSN sudah cukup tinggi, pada prakteknya khususnya pemakaian kodebar ISSN masih rancu. Tidak heran bila kodebar yang dicetak di aneka publikasi berkala seperti majalah tidak terpakai. Akibatnya para distributor atau pusat pertokoan harus menempelkan kembali kodebar internal mereka untuk keperluan identifikasi barang dan harga. Ini terjadi karena pemakaian kodebar ISSN yang statis seperti nomor ISSN itu sendiri sebagai akibat kekurangpahaman akan kodebar ISSN.
Sejatinya, meski untuk nomor ISSN yang sama, kodebar ISSN bisa diubah tergantung variasi terbitan terkait perubahan isi dan harga. Karena nomor ISSN berlaku seterusnya selama ~nama terbitan~ tidak berubah, bahkan meski terjadi perubahan pemilik atau penerbit. Sehingga perubahan harga secara berkala atau edisi spesial dengan harga berbeda harus bisa diakomodasi oleh sistem kodebar ISSN. Fungsi kodebar ISSN adalah sama dengan kodebar pada produk lainnya, yaitu sebagai alat bantu identifikasi barang dan harga di level penjual.
Kodebar ISSN memakai standar EAN-13 yang terdiri dari 13 karakter, meski nomor ISSN hanya terdiri dari 8 karakter. Tiga karakter pertama selalu 977 yang menunjukkan kodebar ISSN. Diikuti oleh tujuh karakter pertama nomor ISSN, dua karakter untuk variasi terbitan dan terakhir karakter cek untuk EAN-13. Nomor ISSN sendiri sejatinya hanya tujuh karakter pertama saja, sedangkan karakter terakhir hanyalah karakter cek untuk mencegah kesalahan. Dua karakter tambahan inilah yang bebas dipakai oleh penerbit untuk membuat variasi kodebar sesuai dengan kebutuhannya guna membedakan produk terbitan yang sama tetapi memiliki harga berbeda. Karakter tambahan dua dijit ini bisa salah satu dari kombinasi angka 00~99. Selama ini, sebagian besar penerbit menganggap kodebar ISSN adalah statis seperti yang diberikan oleh PDII LIPI saat awal penerbitan nomor ISSN.
Dengan ISSN Online yang dilengkapi dengan barcode generator, setiap penerbit yang telah mendapatkan ISSN bisa membuat variasi kodebar sesuai kebutuhannya hanya dengan login ke ISSN Online. Para penerbit yang telah mendapatkan nomor ISSN-nya sebelum adanya sistem ini juga bisa turut memanfaatkan. Prosedur yang harus ditempuh untuk mendapatkan akses tertulis di situs ISSN Online. Dengan ini kodebar ISSN tidak hanya sebagai penghias di sampul depan terbitan, tetapi dapat lebih diberdayagunakan sesuai fungsi utamanya untuk identifikasi barang di level para penjual seperti layaknya produk manufaktur lainnya. Semoga !
Published in Inherent UI (3 Juni 2008)
|
Video Conference Pada sesi ke 8 membangun riset kita, akan kita bahas bersama tentang peran OPI dan Peneliti Muda dalam pengembangan IPTEK nasional di masa mendatang. Sebagai nara sumber akan hadir: Bagi para peneliti muda dan rekans semua yang ingin urun rembug dalam pengembangan penelitian di Indonesia, silahkan bergabung dalam wtw kita kali ini.
Pendaftaran peserta paling lambat hari Rabu, 4 Juni 2008 Pukul 16.00
Published in Inherent Dikti (5 Juni 2008, Nizam)
Remote Parties
Published in KabarIndonesia (21 April 2008, Muhibuddin) Tulungagung, Deputi bidang ilmu kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Ir Hery Harjono berharap, peserta Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) VII yang berasal dari berbagai penjuru tanah air nantinya bisa menembus International Exhibition for Young Inventor (IYEI) V di Taiwan. IYEI merupakan ajang internasional untuk memamerkan hasil inovasi para remaja dari berbagai belahan negara. "Kami berharap, dari peserta PIRN VII akan lahir inovasi-inovasi teknologi yang dapat dipamerkan di IYEI. Kami yakin diantara kalian dapat membuktikannya, sehingga bisa menjadi duta Indonesia dalam ajang internasional itu,?? ujar Hery Harjono saat membuka PIRN VII yang berlangsung di Ponpes Jawaahirul Hikmah (JH) Desa / Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Senin (21/4). Itu sebabnya, Hery meminta peserta hendaknya memanfaatkan moment PIRN VII dengan sebaik-baiknya untuk menambah wawasan, pengalaman dan menjalin persahabatan dengan rekan-rekannya dari berbagai daerah di Indonesia. " Moment PIRN ini hendaknya juga dimanfaatkan sebagai forum komunikasi antara para remaja. Guru pembimbing pecinta Iptek dan para ilmuwan,?? kata dia. Diingatkan Hery, masa remaja merupakan usia yang labil. Di usia ini, tambah dia, seorang anak mulai senang melakukan hal-hal yang baru, baik positif maupu negatif. "Kita yang lebih senior atau sebagai orang tua, hendaknya peka terhadap perubahan watak atau sifat para remaja tersebut. Karena itu, keingintahuan yang ada dalam diri remaja jangan sampai dibiarkan tanpa adanya bekal yang berarti,?? saran Hery Harjono yang asli dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, itu. Di lingkungan sekolah, Hery berharap, para guru harus mampu menggugah minat siswa dan menjawab rasa keingintahuan siswa. Pasalnya, tambah dia, jika dicermati peneliti-peneliti dunia rata-rata memulai kegiatan penelitiannya sejak usia muda. "Albert Einstein, penemu ilmu bidang Fisika, memulai penelitiannya pada usia menginjak remaja,?? kata Hery mencontohkan. Sementara itu, suasana pembukaan PIRN VII berlangsung meriah. Itu karena, Ponpes JH selaku tuan rumah juga menyuguhkan atraksi kesenian tradisional Reyog dan demontrasi marching band dari Ponpes Jawaahirul Hikmah yang sudah berhasil go internasional. Pembukaan PIRN juga dihadiri peneliti-peneliti dari LIPI yang akan memberikan bekal materi dalam kegiatan penelitian ilmiah. DR Neni Sintawardani, Kepala Biro Kerjasama Pemasyarakatan Iptek LIPI selaku Ketua Panitia PIRN VII melaporkan, peserta perkemahan ilmiah remaja kali ini diikuti 259 orang peserta yang terdiri dari 112 orang putra dan 147 orang putrid. Selain itu, PIRN VII juga diikuti sebanyak 102 orang guru pembimbing. Para peserta berasal dari 74 SMA dan 15 SMP serta satu kelompok ilmiah remaja. "Mereka berasal dari 27 propinsi yang tersebar di penjuru Indonesia,?? kata Neni. Selama menjalani perkemahan, kata dia, kegiatan yang dilakukan peserta meliputi ceramah, pembekalan materi dan bimbingan lapangan, diskusi, penyusunan laporan dan presentasi hasil penelitian. "Kami juga memberikan pembekalan metode penelitian kepada para guru pembimbing,?? papar Neni. Neni mengemukakan, instruktur dalam perkemahan ini berasal dari peneliti-peneliti LIPI dibantu peneliti dari Ponpes Jawaahirul Hikmah. "Khusus untuk materi robotika dimotori mahasiswa ITS Surabaya,?? terang dia. Usai pembukaan, peserta PIRN VII langsung mengikuti ceramah umum dengan topic kekayaan sumber daya alam Indonesia dan potensi kebencanaan (DR Hery Harjono, Deputi Bidang Ilmu Kebumian LIPI), Menumbuhkan budaya inovatif di kalangan remaja (DR. L.T. Handoko, peneliti LIPI) dan profil Ponpes Jawaahirul Hikmah (KH Muhammad Zaki, pengasuh Ponpes Jawaahirul Hikmah).
Published in NetSains.Com (28 Desember 2007, L.T. Handoko) Untuk apa riset? Kalau bisa membeli dengan harga lebih murah mengapa harus mengembangkan sendiri ? Apa kontribusi riset untuk masyarakat, apakah tidak hanya membuang dana saja? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jamak terdengar di berbagai kesempatan, bahkan di dalam gedung parlemen dari para wakil rakyat yang terhormat. Tidak hanya di Indonesia, di negara maju sekalipun kritik semacam ini sudah menjadi santapan sehari-hari para penentu kebijakan riset. Perbedaannya, khususnya di negara maju, kontribusi riset ke masyarakat sudah sangat riil dalam bentuk industri berbasis teknologi maju yang berujung pada peningkatan kemampuan kompetisi global dan kemakmuran. Sedangkan di Indonesia kontribusi masih sangat minim, karena komunitas dan budaya ilmiah yang masih dalam masa awal berkembang. Ditambah dengan 'kegagalan' Habibienomics di era Orba, lengkap sudah track record komunitas ilmiah di Indonesia. Apa yang harus kita lakukan dengan cercaan diatas, baik sebagai bagian dari komunitas ilmiah maupun penentu kebijakan riset di beragam level ? Cukupkah dengan menggerutu bahwa wakil rakyat 'cukup bodoh' untuk memahami pentingnya sains dan riset ? Tentu saja tidak ! Sebagai intermesso, penulis memiliki pengalaman saat awal melakukan rehaul total jaringan LIPI dan mendapat pertanyaan 'aneh' dari salah satu petinggi, "Dik, mengapa kita perlu email ? Dengan memakai email berapa persen sih peningkatan kinerja yang bisa dilakukan ?" Untuk komunitas TI, atau pemakai aktif TI, pertanyaan ini tentu menggelikan. Tetapi tidak seharusnya kita berpikir dari sudut pandang komunitas atau pemakai aktif TI, yang notabene hanya minoritas di masyarakat. Mayoritas masyarakat tidak memahami TI, demikian juga sivitas LIPI pada saat tersebut. Daripada menganggapnya sebagai 'pertanyaan bodoh', akan lebih baik bila memaknainya sebagai 'pertanyaan kritis'. Justru jawaban konkrit yang ditunjukkan dengan usaha riil harus dipikirkan. Kalau dievaluasi lebih lanjut, email merupakan teknologi internet paling primitif yang masih dominan pemakaiannya, lepas dari segala kelemahan yang ada. Habibienomic Untuk kasus LIPI, pertanyaan kritis tersebut akhirnya menggiring Tim Gabungan Jaringan ~ TGJ LIPI untuk mengembangkan sistem terpadu Intra LIPI (http://intra.lipi.go.id) yang memberikan solusi non-email untuk aneka aspek internal. Sehingga jaringan institusi tidak sekedar untuk browsing. Hasilnya justru banyak sivitas non-peneliti yang mengenal internet berawal dari pemakaian Intra LIPI. Bahkan akhirnya saat lengser, pertanyaan pertama dari mantan petinggi tersebut adalah : ~Di ruangan baru saya sudah ada koneksi internet ,". Padahal sebelumnya beliau bahkan tidak pernah memegang keyboard komputer. Kembali ke masalah awal, hal yang sama seharusnya dipikirkan oleh komunitas ilmiah untuk menjawab keraguan publik diatas. Bukan malah terbuai dengan 'kejayaan' era Habibienomic, atau menyalahkan pihak lain yang tidak mau atau bisa memahami. Kita harus memikirkan bagaimana membuat 'pihak luar' tersebut memahami pentingnya sains. Era Habibienomic telah membuktikan bahwa 'cantolan' politik dalam jangka panjang tidak mendidik, bahkan cenderung menjerumuskan komunitas ilmiah karena pemanjaan yang tidak terkontrol dan tidak berbasis kinerja riil. Kita seharusnya cukup pengalaman bahwa gelontoran dana tidak terkontrol hanya menggiring ke arah klaim berlebihan yang cenderung manipulatif untuk menutupi kekurangan serta konsekuensi atas penerimaan dana. Karena sains adalah sesuatu yang konkrit dan terukur, cepat atau lambat kelemahan dan kesalahan akan diketahui publik. Pada gilirannya hal ini menimbulkan krisis kepercayaan publik seperti kita alami saat ini. Lebih dari itu, proses pemanjaan yang berkepanjangan merongrong modal dasar saintis : kreatifitas dan ketekunan, yang berujung pada penurunan kemampuan saintis itu sendiri. Jadi ? Sebelum menuntut dukungan publik, khususnya dalam hal pendanaan, alangkah eloknya kalau kita melakukan pembenahan internal khususnya terkait evaluasi berbasis kinerja riil terlebih dahulu. Alat Pengukur Kinerja Permasalahan berikutnya adalah bagaimana mengukur kinerja riil aktifitas sains, serta mengkaitkannya dengan kepentingan publik, khususnya aspek finansial ? Tentu saja kurang efektif bila kita membeberkan dengan panjang lebar secara kualitatif keuntungan memakai email kepada pihak yang sama sekali belum pernah memegang keyboard. Sebaliknya tidak etis membeberkan sekedar 'potensi' sains ala tulisan populer untuk membuat justifikasi pendanaan atas suatu aktifitas riset. Seharusnya dipakai sebuah instrumen kuantitatif sederhana yang bisa menunjukkan sekaligus dua hal : track-record dan target kinerja ke depan sebagai modal utama justifikasi. Instrumen semacam ini sangat penting dalam manajemen riset, khususnya sebagai alat ukur yang relatif obyektif dan transparan sebagai bagian dari edukasi dan motivasi sivitas ilmiah untuk semakin meningkatkan kinerjanya. Untuk itulah pada tahun 2005 dicoba dikembangkan instrumen sederhana berbasis Model KOKI (Kalkulator Online Kinerja Ilmiah) [1]. Model ini dikembangkan sebagai alternatif jawaban atas polemik internal di LIPI saat itu terkait renumerasi berbasis kinerja. Khuusnya di LIPI, berbeda dengan lembaga penelitian lain, ada masalah keberagaman bidang kajian ilmu, mulai dari ilmu agama sampai dengan bioteknologi. Selain itu terdapat masalah apakah evaluasi dilakukan di level sivitas peneliti, pusat penelitian ataukah per-judul proyek penelitian. Dengan Model KOKI, evaluasi di seluruh level bisa dilakukan, dan selanjutnya bisa dikompilasi untuk mendapatkan hasil evaluasi jangka panjang. Sesuai dengan karakteristik sistem penganggaran di banyak negara, evaluasi ala KOKI dilakukan per-tahun anggaran. Karena itu pada model ini yang diperhitungkan hanya jumlah luaran saja. Sedangkan pengaruh suatu luaran ke masyarakat, seperti jumlah sitasi dan impact factor jurnal dari suatu karya tulis, atau tingkat komersialisasi dari suatu peten tidak diperhitungkan. Karena efek luaran semacam ini umumnya terjadi dalam jangka waktu cukup panjang, dan sulit menentukan lama periode penghitungannya karena karakteristik bidang ilmu yang berbeda. Sebagai contoh, waktu hidup (life-time) karya tulis bidang terapan umumnya sangat pendek dibandingkan dengan bisang teoritik yang bisa beberapa dekade. Uji Coba Namun sebagai alat ukur kinerja riil, kelemahan model KOKI ini tidak relevan. Khususnya terkait aspek finansial, seharusnya kuota pendanaan diberikan kepada sivitas dengan aktifitas tinggi 'saat ini'. Jadi bukan berdasar aktifitas masa lalu yang kebetulan memiliki efek besar saat ini, padahal saat ini pelaku sudah tidak aktif lagi. Tentu, terlepas dari instrumen berbasis KOKI bisa saja penghargaan khusus bisa diberikan dengan mekanisme tersendiri untuk luaran-luaran dengan efek jangka panjang semacam ini. Keuntungan lain model KOKI adalah, karena sifatnya yang murni matematis dan kuantitatif, secara prinsip model ini bisa dicangkokkan pada aneka database luaran ilmiah yang telah ada, sedang atau akan dikembangkan. Dengan demikian proses penghitungan kinerja tahunan untuk seluruh level bisa dilakukan secara otomatis. Sebagai ilustrasi telah dibuka versi online sederhana yang bisa diakses bebas di http://www.koki.lipi.go.id [3]. Untuk kasus LIPI, awalnya model ini akan diujicoba untuk dicangkokkan ke Intra LIPI yang sudah memuat beberapa modul manajemen baku seperti LAKIP (Laporan Kinerja Instansi Pemerintah) online yang di dalamnya mensyaratkan database publikasi dan kegiatan luaran ilmiah tahunan. Sayangnya sampai saat ini rencana ujicoba tersebut belum terealisir. Lebih jauh, pada perkembangannya ternyata model ini bisa dipakai untuk melakukan kategorisasi apakah seorang sivitas, sebuah lembaga atau sebuah judul proyek penelitian masuk dalam kategori sains murni atau terapan. Hal ini relevan karena, seperti juga di banyak negara, adanya 'peruntukan dana' atau kuota sesuai kategori yang sudah ditetapkan. Sehingga seringkali masalah kategori ini memicu polemik tersendiri yang tidak ada habisnya seperti di salah satu artikel pak KK di media ini [3]. Dengan model KOKI bisa dilakukan kategorisasi berbasis luaran ilmiah [4] untuk menghindari stigma berdasar penamaan semata atau bahkan feeling yang cenderung subyektif. Terlebih di era milenium ini diversifikasi bidang ilmu dan kajian multi-disiplin sudah sangat jamak. Dengan model KOKI, bukan sesuatu yang aneh apabila suatu jenis kajian atau pelaku yang sama bisa berubah kategori, dari sains murni ke terapan dan sebaliknya. Referensi
[2] KOKI, http://www.koki.lipi.go.id. [3] Riset Dasar: Masih Bermanfaat Atau Tidak?, http://www.netsains.com/index.php/page_info/pid_272. [4] Scientific and Financial Performance Measure : A Simultaneous Model to Evaluate Scientific Activities, http://arxiv.org/abs/physics/0508052.
Published in Seputar Indonesia (17 Desember 2007, Abdul Malik) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan komputer cluster (sejenis komputer super) berbiaya murah dan bisa diakses secara gratis oleh masyarakat umum. Peneliti Fisika Teori Dari Pusat Penelitian Fisika LIPI LT Handoko menyatakan, komputer super ini dirangkai bisa memanfaatkan perangkat komputer lama digabung dengan komputer yang baru. Komputer cluster atau disebut komputer ~~berjamaah~ ini merupakan rangkaian dari 35 komputer yang di tempatkan di Laboratorium Fisika LIPI di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong ini. Komputer itu memiliki kekuatan memori dan kecepatan setara dengan 35 komputer. ~~Selama ini komputer cluster hanya dikembangkan oleh beberapa lembaga swasta dan hanya bisa diakses oleh kalangan terbatas. Saat ini, kami mencoba menyediakan komputer sejenis untuk bisa diakses publik dan digunakan bagi seluruh masyarakat Indonesia,~ paparnya. Meskipun tidak khusus diperuntukkan bagi kalangan komputer mania, kenyataannya hampir 60 persen pengguna komputer super buatan LIPI itu merupakan mahasiswa yang sedang melakukan tugas akhir dan dari jurusan selain teknologi informasi. Selain itu, beberapa dosen juga tercatat sebagai memiliki identitas pengguna (user id) dari komputer paralel yang bisa diakses melalui internet ini. Komputer cluster memang masih tergolong jarang dikembangkan di Indonesia. Namun, kemampuannya sebagai komputer super mampu menjawab kebutuhan masyarakat akan komputer berkemampuan menyimpan yang super. Terutama, kegiatan ilmiah terkait bidang daftar gen di dunia untuk menyimpan jutaan bahkan miliaran jenis gen yang ada di dunia. Selain itu, komputer super tersebut akan sangat membantu bagi kegiatan perbankan dan akuntansi.
Published in Jurnal Nasional (12 Desember 2007, Agus Dwi Darmawan) HINGGA saat ini, Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hingga saat ini telah berhasil merakit 35 note komputer. Rangkaian komputer ini dijadikan satu membentuk satu cluster untuk kemudian difungsikan mengolah suatu data yang sangat kompleks. ~Kami menyebutnya kluster karena komputer ini dirakit jadi satu dari beberapa komputer,~ kata Laksana Tri Handoko, Peneliti Teori Fisika LIPI. Komputer ini meski dijadikan satu, namun tetap dapat dipecah dan difungsikan hanya sesuai note (komputer pc yang terangkai di dalam kluster) yang kita perlukan. Misalnya untuk mengolah data hanya butuh tiga hingga empat note, maka hanya jumlah note tersebut saja yang bisa dipakai, lainnya tidak. Handoko mengatakan bahwa fungsi kluster ini yang umum dikenal masyarakat adalah sebagai alat pembantu simulasi suatu model. ~kebanyakan adalah mahasiswa yang memanfaatkannya,~ kata Handoko. Hingga saat ini dari 35 note yang terpasang, telah lebih dari 60 orang yang memanfaatkannya. Kebanyakan mereka yang menggunakan adalah untuk kepentingan pemrograman, pendataan atau analisa misalnya untuk identifikasi DNA. ~Kami juga disini sudah memiliki gen bank,~ tembahnya. Kluster ini menurut Handoko, hampir sama dengan miliknya mesin pencari google. Bedanya jika google memiliki 1.000 note, maka LIPI hanya punya 35 note. Rencananya akan ditambah hingga 45 note. Kecepatannya untuk level superkomputer, kluster Puslit Fisika LIPI mencapai 150 gigaflops. Kecepatan ini masih berada pada kecepatan superkomputer terendah minimal sebesar 135 gigaflops.
Published in
Esquire Indonesia (Desember 2007)
Mengabdikan hidup dan menumpuk prestasi di dunia yang digeluti segelintir orang. Anda sakit perut, tetapi dokter salah mendiagnosa ? Kini kemungkinan salah penanganan tersebut bisa diminimalisir, karena teknologi telah memungkinkan dokter mengetahui metode penyembuhan secara pasti dan akurat ! Tunggu, paragraf diatas bukanlah breaking news dari dunia kedokteran. Namun itulah salah satu 'impian' yang bergelantung di pikiran Laksana Tri Handoko, peneliti di bidang fisika dan komputasi yang namanya semakin diperhitungkan di jagad ilmiah Indonesia. Saat ini, dirinya memang sedang sibuk melakukan penelitian bertajuk Pemodelan Dinamika DNA. Namun sebelum mengerti apa dan bagaimana penelitian tersebut, terlebih dahulu kita bisa perlihatkan mengapa Koko, begitu ia akrab dipanggil, dapat menjadi permata dalam dunia penelitian di Indonesia. Namanya mulai diperbincangkan ketika terpilih menjadi salah satu dari empat peneliti terbaik dalam ajang Pemilihan Peneliti Muda Indonesia (PPMI) ke-10 tahun 2002 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI). Upaya kerasnya mencari partikel Higgs, satu-satunya partikel yang belum dibuktikan secara praktik, diapresiasi LIPI sehingga memilihnya sebagai peneliti terbaik saat ia berusia 34 tahun. Ditahun yang sama, Koko bersama dua rekannya saat itu mendirikan Grup Fisika Teoritik dan Komputasi (GFTK) LIPI, sebuah komunitas ilmiah yang masih langka di Indonesia. Laksana semakin diperhitungkan ketika meraih BJ Habibie Award dari The Habibie Center pada tahun 2004. Ia dianggap berjasa dalam mengembangkan ilmu fisika teoritis di Indonesia. Setahun kemudian, ia mendapat penghargaan International Basic Sciences Programme (IBSP) dari badan dunia PBB, UNESCO. Seperti sudah mendarah daging, pria kelahiran Lawang, 7 Mei 1968 ini terus berkiprah dalam dunia fisika. Pemodelan Dinamika DNA yang disebutkan diatas, telah ia utak-atik bersama koleganya di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) LIPI sejak 2005 hingga sekarang. Terjadinya atau rusaknya DNA (Deoxyribonucleic Acid) sebagai cetak biru bagi segala aktifitas sel memang masih misterius hingga sekarang. Penelitian yang secara jelas menggambarkan fenomena itu relatif belum ada yang memuaskan. Koko pun tengah mengembangkan Teori Fluida untuk menjelaskan DNA. Ada alasan kuat mengapa Koko bersikeras meneliti DNA. Jika bisa memahami dinamika DNA, maka manusia akan lebih mudah menjelaskan bagaimana sesuatu hal dapat terjadi. Misalnya dalam soal memberi obat pada manusia, yang menurutnya selama ini masih bersifat trial and error. "Kalau 80 persen penderita hidup, sementara sisanya akhirnya meninggal, berarti obat itu relatif efektif untuk diberikan," ujarnya memberi contoh. Sifat seperti itu masih bisa terjadi karena manusia tidak tahu mekanisme proses biomateri. "Kalau tahu mekanisme, maka kita bisa tahu bagaimana DNA terdeformasi, apakah rusak atau terpengaruh luar sehingga berubah dan menyebabkan manusia menderita sakit," lanjutnya. Makanya, saat ini dokter selalu bilang 'kemungkinan', bukan 'pasti' setiap mendiagnosa penyakit, karena dasar mekanismenya belum diketahui. Sulitnya dunia kedokteran menuntaskan 'masalah klasik' ini menurut Koko karena ilmu kedokteran, biologi maupun fisika selama ini seperti berjalan sendiri-sendiri. "Fisika berbasis logika, sementara hayati berbasis trial and error sehingga lambat kemajuannya," jelasnya. Namun berkembangnya tren penelitian biofisika, bidang yang ia tekuni sekarang mulai menggabungkan berbagai dunia tersebut. Berbagai rencana jangka panjangpun sudah dimantapkan. Penelitian DNA ini akan ia publikasikan ke jurnal biological physics international. "Di masa depan, ketika kita sakit, kita akan tahu pasti metode penyembuhannya. Karena kita tahu masalah di level terkecil, yaitu DNA," ungkap Koko. Kehandalan Koko tidak hanya dalam bidang fisika. Urusan komputasi pun mumpuni. Sejak tahun 2004 ia telah membuat proyek public cluster, semacam mesin paralel yang memungkinkan banyak komputer dijadikan satu untuk digunakan memecahkan masalah-masalah di bidang matematika, fisika teori hingga bioinformatika. Koko mencontohkan masalah pemetaan antara DNA manusia dan hewan. Karena DNA jumlahnya milyaran, maka perlu waktu untuk membandingkan sehingga dibutuhkan banyak 'otak' dalam hal ini komputer yang dihubungkan secara paralel sehingga pembandingan dapat simultan dilakukan. "Untuk menemukan jawaban dari sebuah masalah komputasi (penghitungan) yang rumit bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan, maka sistem komputasi ini 'mengeroyok' sebuah pertanyaan dengan banyak personal computer sekaligus, sehingga yang tadinya bisa berbulan bisa jadi harian," jelas Koko. Berbagai prestasi ilmiah yang Koko raih tentu tidak ia dapat dengan mulus. Berbagai tantangan tetap ia temukan. Koko mengaku kerap tidak mendapat hasil pada taraf kalkulasi dan membuat rumus yang belum tentu mendapatkan hasilnya. Diskusi rutin dua kali dalam seminggu, mencari literatur-literatur yang sesuai, mencari ide-ide baru atau pengembangan metode alternatif terus ia lancarkan. "Kalau membuat sesuatu, memang tidak ada yang langsung sempurna," ungkapnya. Sifat 'tahan banting' yang dimiliki Koko memang tidak didapat secara instan. Ia sudah mencicipi beratnya beratnya medan ilmiah di Jepang selepas lulus SMA. Ia menerima beasiswa dari Overseas Fellowship Programme untuk mengenyam pendidikan di luar negeri. Jurusan Fisika Universitas Kumamoto pun menjadi pilihannya. Setelah lulus dari Kumamoto pada tahun 1993, kembali Koko mendapat beasiswa. Kali ini dari pemerintah Jepang untuk kuliah S2 di Universitas Hiroshima jurusan Fisika Teoritik. Usai mengambil master pada 1995, ia melanjutkan studi doktor bidang Fisika Teoritik di almamater yang sama dan selesai tahun 1998. Otaknya semakin matang ketika berturut-turut menjalani program Postdoctoral Researcher di Trieste, Italia, menjadi peneliti di The Abdus Salam International Center for Theoretical Physics hingga Postdoctoral researcher di Hamburg, Jerman. Berlatar belakang pendidikannya itu, tak aneh bila orangpun mengapresiasi kehebatan Koko dengan ganjaran berbagai penghargaan. Menyinggung berbegai penghargaan tersebut, Koko hanya menyebutnya sebagai 'sampingan'. "Penghargaan memang memacu kita untuk lebih berkarya. Tetapi apa yang kita lakukan bukan untuk mendapat pengakuan, apalagi dunia seperti ini jarang dipahami oleh publik dan mendapat apresiasi," jelasnya. Rumus Koko
Published in
e-Indonesia (Vol. III no. 22, 2007, L.T. Handoko)
Tidak diragukan lagi perkembangan teknologi informasi (TI), khususnya internet, di Indonesia dewasa ini cukup pesat. Tanpa ditunjukkan dengan angka-angka sekalipun semua orang meyakini hal tersebut sebagai realita sehari-hari yang kasat mata. Bila 10 atau bahkan 5 tahun yang lalu, masih banyak pihak merasa perlu bertanya, ~Mengapa harus memakai internet ?~, saat ini pertanyaan level tersebut sudah hampir tidak terdengar. Bahkan sebaliknya pernyataan semacam "Hare gene tidak pakai internet..." lebih dominan. Seluruh pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah serta birokrat di semua bidang dan level, seolah berlomba untuk turut serta memanfaatkan TI di lingkungannya. Terlepas dari efektifitas serta kesahihan metoda yang dipakai, euforia semacam ini patut disyukuri dalam konteks pengembangan TI di Indonesia. Kalaupun masih banyak kerancuan, kesalahan pemilihan sistem dan arsitektur dan sebagainya, hal tersebut masih bisa dianggap wajar mengingat transformasi ke TI merupakan salah satu bentuk transformasi budaya, lebih daripada implementasi teknis TI itu sendiri. Yang mulai mengkhawatirkan sebenarnya adalah substansi pemakaian dan konten TI dalam aplikasinya di masyarakat. Bisa dikatakan lebih dari 90 persen pemakaian lebar pita internet adalah koneksi global, dan sedikit sisanya yang termanfaatkan untuk mengakses konten lokal. Tentu saja tidak ada yang salah dengan dominasi pemakaian Yahoo! untuk surat elektronik, atau Google untuk mesin pencari. Dan sebaliknya bukan berarti kita harus membuat sarana semacam Yahoo! atau Google versi lokal. ~Lokalisasi~ konten global semacam itu hanya menunjukkan minimnya kreatifitas kita seperti saat awal boom industri konten internet sampai tahun 2000-an di Indonesia. Sangatlah tidak efisien, dan tidak perlu, untuk berusaha menyaingi Google dkk tersebut. Lantas apa yang bisa kita lakukan ? Gali dan kembangkan kreatifitas lokal yang mengacu pada konten dan karakteristik lokal. Setidaknya hal ini sudah berhasil dilakukan oleh detikcom serta beberapa situs media massa. Meski sebagai sebuah industri, situs berita ala media massa tersebut harus diakui masih sebagai pelengkap dan usaha menjaga brand image. Tentu harus dipahami bahwa kurangnya konten lokal tidak hanya disebabkan oleh masalah kreatifitas, tetapi juga oleh kemampuan pasar yang masih rendah. Namun seyogyanya pasar yang memble ini tidak harus menjadi alasan. Justru hal ini harus dijadikan input dalam melakukan pengembangan konten yang sesuai dengan karakteristik tersebut. Pendekatan yang dilakukan para operator telepon seluler mungkin bisa dijadikan inspirasi. Terbukti saat ini sudah hampir sepertiga populasi Indonesia memakai ponsel. Selain itu tidak semua segmen pasar harus dijadikan industri berbasis keuntungan. Khususnya untuk internet, justru jauh lebih banyak ceruk pasar yang merupakan niche market yang lebih pantas dikelola tidak dengan dogma ekonomi konvensional. Untuk kasus global bisa disebut Kiva (www.kiva.org) yang mengembangkan gerakan simpan pinjam global yang bukan merupakan lembaga nirlaba tetapi juga tidak masuk kategori bisnis murni. Untuk kasus lokal contohnya ARSIP (www.arsip.lipi.go.id) yang memberikan jasa data mirroring khusus untuk data ilmiah. Dalam konteks ini tidak selalu ~marjin~ berasal dari pemakai jasa langsung seperti layaknya hukum pasar konvensional. Tentu saja kita sudah memiliki misalnya situs IlmuKomputer.Com yang dikelola Romi dkk. Namun perlu diingat IKC menyasar target komunitas TI, atau minimal yang tertarik TI, sehingga tidak mengherankan bila langsung mendapat sambutan. Sama halnya dengan mirroring di kambing.vlsm.org yang dikelola parktisi TI di UI. Meski dalam konteks ini IKC lebih memiliki muatan lokal dan orisinalitas. Namun bagaimana dengan masyarakat non-TI yang notabene jauh lebih banyak ? Komunitas penikmat kuliner, peneliti fisika, praktisi medis dan lain-lainnya. Justru target pasar semacam ini jauh lebih sulit ditembus, karena memerlukan edukasi pasar yang panjang dan konsisten, serta kreatifitas dan kejelian melihat kebutuhan segmen tersebut. Itulah mengapa fisik@net (www.fisikanet.lipi.go.id) tidak tergoda untuk menjadi portal fisika populer, tetapi konsisten memilih jalur konten ilmiah terkait fisika. Hal yang sama bisa dilihat di Jurnal Online (www.jurnal.lipi.go.id) yang menyasar komunitas ilmiah lokal yang selama ini mengalami kesulitan menjaga kelangsungan penerbitan jurnal ilmiah lokal. Ternyata justru dengan TI, bisa direalisasikan penurun biaya yang sangat signifikan. Sebaliknya peningkatan aksesbilitas oleh pengguna meningkatkan tingkat partisipasi komunitas terkait. Ini dimulai dari menyadari bahwa komunitas ilmiah sebagian besar melek internet, meski persentasenya populasi Indonesia yang melek internet masih sangat minim. Kejelian semacam inilah yang diperlukan dalam melakukan pengembangan konten yang sesuai dengan karakteristik lokal dan target pasar yang dituju. Sehingga lebih daripada paradigma untuk membangun ~bisnis baru~ dengan TI, pada banyak kasus implementasi TI untuk meningkatkan efisiensi bisnis konvensional justru lebih realistis. Atau bahkan pelibatan internet untuk menunjang bisnis yang sudah ada. Contoh kasus ini adalah Public Cluster (www.cluster.lipi.go.id) yang merupakan terobosan baru untuk pemeliharaan mesin paralel. Dengan membukanya untuk publik, dukungan untuk pemeliharaan dan kesinambungan bisa diperoleh. Sebenarnya ada contoh konten lokal yang gagal meski bermuatan TI, menyasar komunitas TI dan memiliki visi dan target yang jelas, yaitu milis lokal Groups.or.id. Meski dimulai dengan cita-cita mulia untuk mengurangi pemakaian lebar pit aglobal akibat pemakaian Yahoo! Groups secara masif, akhirnya sarana ini praktis mati suri. Dari pengalaman penulis yang pernah memanfaatkan sarana ini di awal peluncurannya, kegagalan ini lebih dikarenakan pengelolaan yang tidak profesional. Meski tidak berbasis hukum ekonomi konvensional, pengembangan konten lokal harus tetap dikaji dan ditelaah secara profesional untuk menjaga kesinambungan. Penyediaan konten dan jasa secara cuma-cuma (terhadap pemakai akhir) tidak berarti bisa seenaknya. Seperti selalu disebutkan, loyalitas di dunia internet hanyalah sejauh gerakan tetikus. Pada kasus penulis di Groups.or.id, saat itu server terlalu sering ngadat. Dan pada saat keluhan, dan bahkan tawaran bantuan, disampaikan direspon dengan jawaban ketus agar membuat sendiri server milis... Hal semacam ini tentu saja tidak bisa dibenarkan. Padahal bila Groups.or.id dikelola dengan benar, tidak sulit untuk mendapatkan sponsor tetap dan dukungan luas komunitas. Karena pemakai milis Yahoo! Groups hakekatnya tidak selalu maniak Yahoo! dan aneka perangkatnya. Sehingga lokalisasi sarana milis sebenarnya sangat dibutuhkan semua pihak. Sebaliknya pengelolaan konten lokal yang amburadul malah berakibat buruk dalam jangka panjang karena menimbulkan keraguan dan malah meningkatkan ketidakpercayaan pada konten lokal. Mungkin bila tidak siap, lebih baik pengembangan konten lokal tersebut dihentikan saja dari awal. Pengembangan dan implementasi konten lokal, meski yang tidak bermuatan ekonomi murni sekalipun, tetap harus didasarkan pada prinsip kesinambungan dalam jangka panjang, Untuk itu sejak awal perencanaan sudah harus dikaji dengan matang business process ke depannya. Sudah saatnya komunitas TI Indonesia bangkit kembali. Masa membangun kepedulian publik dengan kemunculan selebritis-selebritis dan ~ahli-ahli seminar~ TI sudah cukup ! Bila tidak dilanjutkan dengan membangun substansi dengan konten yang memadai, maka bangsa ini hanya akan kembali dikenang sebagai ~bangsa pembangun~ namun tidak bisa memelihara terlebih mengembangkan. Lebih dari itu, komunitas TI Indonesia sudah saatnya keluar dari tempurung dan kembali menengok dunia luar untuk bergandengan tangan dengan komunitas lain dalam merealisasikan implementasi TI untuk membantu mengatasi masalah substansi di segala bidang.
Published in
Siaran Pers LIPI (6 November 2007)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ~ LIPI akan mengadakan ujian tes tertulis CPNS bagi pelamar yang telah melakukan registrasi hari ini dan kemarin. Ujian tertulis akan berlangsung di Gedung Herbarium dan Gedung Kusnoto Puslit Biologi LIPI, Bogor, Rabu 7 Nopember 2007. Dari pantauan yang dilakukan di lokasi pada saat registrasi siang tadi, masing-masing pelamar melakukan regristasi sangat cepat, kurang dari 2 menit. ~Koordinator panitia registrasi CPNS LIPI Dr. L. Handoko, mengatakan sampai pukul 16.30 WIB sore ini, telah tercatat sekitar 2.068 pelamar telah melakukan regristasi dari total 2.593 orang, ~jelasnya. ~Masing ~ masing peserta hanya perlu menunjukkan kartu peserta yang telah mereka print sendiri dari web CPNS LIPI, untuk selanjutnya di cocokkan dengan data di komputer, mendapatkan cap, nomer dan lokasi ujian, ~paparnya. Dengan cara ini para peserta terhindar dari situasi berdesak-desakan dan kelelahan fisik akibat harus antri terlalu lama. Kepala Biro Kepegawaian LIPI, Dr. Siti Nuramaliati Prijono menyatakan ada tiga bidang yang harus dikerjakan pelamar dalam ujian tulis yaitu: tes pengetahuan umum, tes bakat scholastik dan tes skala kematangan. ~ Materi ujian disiapkan oleh tim penyusun materi yang beranggotakan para peneliti LIPI dari berbagai disiplin ilmu, ~jelasnya. Menurut Kepala BOK ~ LIPI, dari ujian tertulis ini nantinya akan disaring lagi sekitar 5 kali formasi untuk dapat mengikuti tahap wawancara dan psikotes. ~Kita membutuhkan 221 pegawai baru, jadi nanti yang akan lolos ke tahap selanjutnya sekitar 1.000 orang, ~jelasnya. Data dari BOK memperlihatkan konfigurasi formasi dan peserta ujian tertulis sebagai berikut: SMA (13) ~ 95, D3 (63) - 841, SI (128) ~ 1.892, S2 (15) ~ 127. ~Sebenarnya kita membutuhkan formasi S3 Kimia dan S3 Geologi, namun tidak ada yang melamar ~tambahnya. Formasi kosong yang lain adalah dari D3 seni pahat, sedangkan formasi terbanyak adalah teknik elektro sebanyak 23 orang, dan Biologi sebanyak 19 orang. Tes wawancara dan psikotes bagi para peserta CPNS yang lolos akan dilaksanakan pada tanggal 12-16 Nopember di Jakarta.
Published in
Koran Tempo (31 Oktober 2007 & 2 November 2007, Wuragil)
Susah. Kata itulah yang pertama melompat dari mulut L.T. Handoko, peneliti fisika di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, ketika ditanyai bagaimana menentukan pemenang dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2007 yang digelar LIPI. Lomba yang dibagi dalam tiga kategori bidang ilmu itu berakhir Senin siang lalu. Handoko kebagian menjadi anggota tim juri untuk bidang ilmu pengetahuan teknik dan berperan menguji presentasi keempat finalisnya bersama Erzi Agson-Gani (Kepala Pusat Mesin Perkakas, Teknik Produksi dan Otomasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) serta Yudhi Dharma (pengajar di Fakultas MIPA Institut Teknologi Bandung). Mereka bertiga dibingungkan oleh dua finalis yang mengkristal karena faktor orisinalitas ide, inovasi, dan saintifik karya. Karya pertama adalah milik Puguh Sasi Rizky, siswa kelas II di SMA Unggulan BPPT Al-Fattah, Lamongan, Jawa Timur. Puguh dan dua kawannya, Kemal Khoirur Rahman dan Ziadatur Rohman, menawarkan pemanfaatan pegas, tuas pengunci, dan penahan untuk memodifikasi penyangga (standar) miring sepeda motor agar bisa pasif otomatis. "Temanku, Kemal, sering lupa standarnya (dipasifkan atau dilipat kembali) setiap kali naik sepeda motor," kata Puguh mengungkapkan latar belakang ide karyanya. Karya kedua diusung Astri Bestari Ciptaningrum dan Indra Surya Atmaja, keduanya siswa SMAN 6 Yogyakarta. Mereka mengangkat topik mi dari biji ketapang sebagai makanan alternatif berprotein tinggi. Tidak sampai di sana saja, Astri dan Indra juga berhasil memanfaatkan limbah kulit biji-biji ketapang sebagai briket. "Konsepnya zero-waste," kata Indra. Walhasil, Handoko dan anggota juri lainnya harus terus berpikir ulang menentukan pemenang di antara keduanya. Yang pertama unggul di segi inovasi dan sangat sempurna sebagai sebuah rekayasa teknik, sedangkan yang kedua begitu komprehensif dan mengekstrak data yang sangat lengkap dari A sampai Z. Sementara Smart Standard dianggap sebagai sebuah karya siap pakai, Bipang Mie adalah presentasi dari karya yang luar biasa ilmiah untuk padanan usia pelakunya. "Mereka sebenarnya seimbang," kata Handoko. "Tapi, karena ini adalah sebuah lomba karya ilmiah, kami akhirnya memilih Bipang Mie sebagai juara pertama kategori teknik." Jadilah, Senin malam lalu, karya duo Astri-Indra diumumkan sebagai karya ilmiah remaja terbaik tahun ini di bidang teknik. Mereka berhak atas paket hadiah, di antaranya beasiswa Rp 1 juta per bulan selama satu tahun, yang diberikan Yayasan Bhakti Tanoto. Malam itu diumumkan pula pemenang di bidang lainnya, yakni Louis Frints Wagatu dan dua temannya dari SMAN 1 Aba'a, Papua, di bidang ilmu pengetahuan alam serta Parameita Winnie Adhipuri dari SMA Santa Laurensia, Tangerang, Banten, di bidang pengetahuan sosial dan kemanusiaan. Louis dan timnya menggelar studi atas kepala arus Sungai Digul sebagai suatu fenomena alam langka di Kabupaten Mappi, sedangkan Winnie mengangkat tema "Implikasi Undang-Undang Kewarganegaraan Nomor 12 Tahun 2006 terhadap Masyarakat Keturunan Tionghoa dalam Hal Pengurusan Surat Kependudukan". Total mereka bertiga berhasil mengungguli 12 karya ilmiah finalis lainnya. Karya para finalis itu sebelumnya diseleksi dari 376 karya kiriman remaja dari 22 provinsi di Indonesia dan satu dari sekolah Indonesia di Kairo, Mesir. Di antara para finalis, terselip dua karya ilmiah kiriman pelajar sekolah menengah pertama. Sayang, keduanya, yang berlaga masing-masing di bidang teknik dan sosial, belum sukses.
Published in Jurnal Nasional (29 Oktober 2007) Dalam presentasi Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-39 bertempat di LIPI, senin (29/10), para peserta remaja banyak menampilkan karya yang sangat inovatif dan membuat juri tertegun mendengarkannya. Mereka adalah ke-13 siswa yang lolos setelah mengysihkan 376 karya ilmiah yang masuk dari 22 provinsi. Neni Sintawardani, Kepala Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek (BKPI) LIPI mengatakan, setelah seleksi tanggal 10 September lalu, kini tertinggal 13 finalis dari tujuh provinsi. ~Jawa Timur adalah pemegang rekor jumlah finalis yang berhasil lolos,~ katanya. Sebagai gambaran bahwa Juri saat menyeleksi sama sekali tidak mengetahui nama peserta dan asal mereka. Penilaian Juri dilakukan murni pada isi karya ilmiah berikut dengan nomer kodenya. Tak hanya pada isi, catatan Juri juga menemukan satu siswa gagal mengikuti final karena ditemukan karyanya plagiat (meniru karya lain) dan dua karya lainnya yang telah berhasil memenangkan lomba ditempat lain sehingga disarankan untuk mengundurkan diri. Doktor L T Handoko, salah satu Juri dari Bidang Fisika LIPI menuturkan karya-karya yang ditampilkan oleh siswa sudah semakin baik. Selain mampu menampilkan yang murni inovasi tetapi presentasi mereka juga menghasilkan karya yang aplikatif, contohnya dibidang teknik adalah Smart Standar (alat penumpu motor untuk berdiri/standing). Inovasi lainnya dalam hal makanan juga menampilkan sumber makanan baru. ~Penampilan dan orisinil karyanya sangat baik, meski beberapa diantaranya ada yang kurang mengusai materi,~ katanya. Profesor Doktor Lukman Hakim, Wakil Kepala LIPI, menyerukan kepada segenap siswa untuk terus melanjutkan minat danpenelitian mereka guna menghasilkan karya yang lebih baik. Hasil studi dan kunjungannya di beberapa negara beberapa waktu lalu disebutkan bahwa kunci keberhasilan Ilmu Pengetahuan Teknologi di suatu negara sangat ditentukan oleh generasi mudanya yang gemar memunculkan inovasi terbaru. ~Bukan tidak mungkin jika terus dibimbing dan difasilitasi, Indonesia bisa memunculkan karya terbaik dunia seperti dalam Olimpiade,~ katanya.
Published in Pustek Blog (18 Oktober 2007) LIPI sejak tahun 2005 mampu mengurangi human error yang terjadi selama proses penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) melalui sistem Informasi Penerimaan CPNS (SIPC) yang telah diimplementasikan pada penerimaan CPNS. Teknologi informasi ini mampu memberi solusi terhadap permasalahan yang selama ini terjadi. Dr Laksana Tri Handoko dari Tim Gabungan Jaringan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (TGJ-LIPI) sekaligus penanggung jawab SIPC menyatakan, ada dua jenis kesalahan yang sering terjadi selama proses penerimaan CPNS. Pertama adalah kesalahan administratif yang tidak disengaja yang lebih diakibatkan oleh buruknya sistem dan rendahnya kualitas panitia. Kesalahan kedua adalah manipulasi yang memang dengan sengaja dilakukan oleh oknum-oknum internal di instansi-instansi pemerintah. Kedua sumber kesalahan ini, kata Laksana, bisa terjadi karena memang dalam regulasi dan sistem penerimaan CPNS skala nasional tidak bisa dihilangkan, atau belum secara tegas diatur. "Di sinilah teknologi informasi diharapkan mampu memberikan solusi," jelasnya. Tidak hanya mengurangi kedua sumber kesalahan tersebut, menurut Laksana penggunaan teknologi informasi berpotensi menekan waktu pemrosesan serta biaya secara signifikan. Mulai tahun 2005, LIPI telah menerapkan SIPC sebagai cara cerdas dalam penerimaan CPNS. "Lebih dari sekadar sistem informasi, SIPC LIPI (http:www.cpns.lipi.go.id) merupakan sistem terintegrasi berbasis web, baik untuk front-office maupun back-office,'' ungkapnya. Lebih jauh Laksana menyatakan, seluruh proses penerimaan, dari registrasi oleh pelamar sampai proses administrasi seluruhnya dilakukan secara otomatis dan hampir tanpa intervensi manusia. "Dengan adanya sistem ini, maka pelamar tidak perlu berdesakan karena semuanya dilakukan melalui web,'' tegasnya. Proses itu, kata Laksana, kemudian dilanjutkan dengan pengiriman dokumen fisik melalui pos yang jumlahnya juga sangat minimal. Surat lamarannya pun cukup dicetak langsung dari web, dan dilampiri hanya tiga lembar kertas yang menjadi syarat dokumen fisik (salinan KTP, ijazah terakhir, transkrip nilai). Pada proses verifikasi fisik yang mengharuskan pelamar hadir langsung sehari sebelum ujian tulis, kata Laksana, bisa dilakukan dengan tertib dan hampir tanpa antrian sama sekali, karena verifikasi dan pencocokan data langsung dilakukan di depan terminal-terminal komputer sehingga bisa dilakukan dengan sangat cepat. "Sistem ini telah berhasil mendapatkan penghargaan dari Asia Pasific Information Communication and Technology (ICT) Award tahun 2006 di Indonesia, sekaligus menjadi wakil Indonesia di ajang tahunan mereka di Macao, untuk kategori e-government,'' tegasnya. (eye/rep)
Published in Joglo Semar (10 Oktober 2007) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menciptakan sistem rekruitmen secara online dengan nama Sistem Informasi Penerimaan CPNS (SIPC). Sistem ini bukan sekedar ~e-recruitment~ biasa. Sistem yang diciptakan Peneliti di Puslit Fisika LIPI, Laksana Tri Handoko ini, bersifat ~online~ dari hulu ke hilir. ~Sistem ini online mulai dari penerimaan berkas lamaran hingga pengumuman penerimaan CPNS. Setiap pelamar akan pendapatkan ~password~ login untuk terus mengikuti sistem ini sampai dia lulus seleksi,~ kata Doktor Fisika Teoritik dari Universitas Hiroshima Jepang itu. Handoko juga patut berbangga karena sistem yang diciptakannya itu telah mendapatkan penghargaan ~The Recognition Award 2006~ dari Asia Pacific Information and Communication Technology di Macao untuk kategori ~e-government~. ~Mereka terheran-heran Indonesia menggunakan sistem yang bisa mengelola sampai 30 ribu data pelamar, ini belum ada di dunia,~ katanya. Dia menambahkan seluruh proses penerimaan dari registrasi oleh pelamar sampai proses administrasi seluruhnya dilakukan secara otomatis dan hampir tanpa intervensi manusia, sehingga pelamar tidak perlu berdesakan karena semuanya dilakukan melalui koneksi internet. Pada proses verifikasi fisik di mana pelamar harus hadir langsung sehari sebelum ujian tulis, bisa dilakukan dengan tertib dan hampir tanpa antrean sama sekali, karena verifikasi dan pencocokan data langsung dilakukan di depan terminal-terminal komputer sehingga bisa dilakukan dengan sangat cepat. Sistem ini, ujarnya, selain mampu menghemat tenaga, waktu, dan uang juga menekan angka kesalahan sampai 100 persen. Sistem ini juga akan menghilangkan kemungkinan terjadinya manipulasi oleh pihak-pihak tertentu karena tingkat transparansinya yang sangat tinggi. Menurut dia, ada dua jenis kesalahan yang sering terjadi selama proses rekruitmen CPNS, yakni kesalahan administratif yang tidak disengaja dan lebih diakibatkan oleh buruknya sistem dan rendahnya kualitas panitia serta manipulasi yang memang sengaja dilakukan.
Published in Media Indonesia (9 Oktober 2007) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuka penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk 2007 dengan sistem online untuk 210 orang. "Jumlah ini terbagi untuk formasi peneliti, teknisi, dan tenaga administrasi dari berbagai tingkat pendidikan (SLTA, D3, S1, S2, S3) dengan berbagai latar belakang kajian ilmu," kata Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian (BOK) LIPI Siti Nuramaliati Prijono di Jakarta, Selasa (2/10). Penerimaan dimulai tanggal 1 Oktober sampai dengan 16 Oktober 2007 dengan sistem online melalui situs Sistem Informasi Penerimaan CPNS LIPI (SIPC) di website www.cpns.lipi.go.id. Terkait dengan perubahan proses penerimaan CPNS secara umum oleh Men PAN/BKN sejak 2004, LIPI sebagai salah satu lembaga pemerintah mendukung penuh sistem yang diberlakukan. Khusus untuk LIPI, diterapkan SIPC mulai 2005, yang terbukti sangat efektif baik dari segi waktu, dana, maupun tenaga, jelasnya. Penerapan SIPC dalam penerimaan CPNS LIPI menurutnya sangat relevan terkait dengan status LIPI sebagai lembaga ilmu pengetahuan utama di Indonesia. "Ini merupakan syarat mutlak bagi CPNS LIPI untuk selalu mengikuti aplikasi sistem informasi di era informasi ini," tambahnya. Penanggung jawab SIPC-LIPI Laksana Tri Handoko menambahkan, sistem SIPC yang berbasis web dinamis ini memungkinkan seluruh proses dilakukan secara online dan transparan bagi semua pihak terkait seperti pelamar, panitia/LIPI, dan masyarakat. "Kelebihan sistem ini selain mudah dipakai dan dipelihara oleh seluruh pihak terkait juga sangat transparan. Dengan sistem ini dimungkinkan kontrol internal yang ketat dan check and recheck antarbagian dan level," katanya. Penyimpangan hasil dari SIPC yang permanen dan dapat dipakai sepanjang tahun ini sangat kecil terjadi, karena terdapat sekuriti akses di setiap level, kata Peneliti Puslit Fisika LIPI itu. Lima tahapan akan dilalui dalam proses penerimaan CPNS LIPI yang terdiri dari: verifikasi administrasi (selama Oktober 2007), ujian tertulis (31 Oktober 2007), wawancara (12-14 November 2007), psikotes (14-16 November 2007), dan hasil final (30 November 2007). CPNS yang diterima di LIPI akan mulai aktif bekerja pada tanggal 1 Januari 2008. (Ant/OL-06)
Published in Koran Tempo (8 Oktober 2007, Wuragil) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merintis proses penerimaan pegawai negeri sipil yang lebih mudah dan, yang terpenting, transparan serta akuntabel. "Ini adalah sebuah terobosan besar dan LIPI sudah menempatkannya sebagai bagian dari pengembangan sumber daya manusia," kata Wakil Kepala LIPI Lukman Hakim, Jumat siang lalu. Proses itu bernama Sistem Informasi Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil, yang pernah diganjar Asia-Pacific Information and Communication Technology Award 2006 untuk kategori e-government. Lewat sistem terintegrasi berbasis web yang didesain otomatis hanya menyaring pelamar dengan kriteria indeks prestasi, keterampilan, dan perilaku tertinggi di setiap bidangnya itu, Lukman memang berharap LIPI bisa segera menyemai peneliti-peneliti baru yang mumpuni. "Ageing, ini adalah problem kami saat ini," ia menjelaskan. "Dalam lima tahun ke depan banyak peneliti senior pensiun sedangkan tenaga muda belum cukup memadai." SIPC LIPI pada 2005 sudah berperan menyaring 268 pegawai baru--sebagian adalah peneliti dan staf laboratorium--dari 33 ribu pelamar dari seluruh Indonesia. L.T. Handoko, peneliti fisika yang juga Ketua Tim Gabungan Jaringan LIPI, mengatakan tahun ini 6.337 pelamar sudah mendaftar per Jumat lalu. "Pendaftaran dibuka sejak Senin (1 Oktober) sore lalu hingga Selasa (16 Oktober) mendatang," katanya. Handoko memberikan garansi, proses pendaftaran secara online yang dibangunnya bersama tim internal LIPI itu menawarkan proses yang transparan dan peningkatan efisiensi tak hanya pada pelamar, tapi juga pada panitia. Dalam program yang berbasis open source itu proses penerimaan dan registrasi sampai proses administrasi dan penentuan urut kelulusan ditentukan secara otomatis dan hampir tanpa intervensi manusia. Kecuali ketika harus dilakukan verifikasi data. Tapi proses pencocokan data pun bisa dilakukan dengan tertib dan tanpa antrean karena langsung dilakukan di depan terminal komputer. "Efisien, biaya rendah, tingkat keamanan (data) pun tinggi," kata Handoko seraya menambahkan, "Tidak akan ada lagi human error dari panitia, seperti berkas atau foto pelamar yang hilang tercecer."
Published in
Technology Indonesia (5 Oktober 2007)
LIPI akan mempertahankan sistem online untuk proses penerimaan pegawai negeri sipil tahun ini. SIPC atau Sistem Informasi Penerimaan CPNS yang telah digunakan sejak 2005, dinilai mampu mengurangi human error selama proses penerimaan berlangsung. Hal ini disampaikan Dr. Laksana Tri Handoko dari Tim Gabungan Jaringan - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (TGJ-LIPI) sekaligus penanggung jawab SIPC dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (5/9). Laksana Tri menjelaskan, ada dua jenis kesalahan yang kerap terjadi selama proses penerimaan CPNS, yaitu kesalahan administratif yang tidak disengaja diakibatkan buruknya sistem dan rendahnya kualitas panitia. Selain itu, terjadi manipulasi yang sengaja dilakukan oknum internal di instansi pemerintah. 'Dalam regulasi dan sistem penerimaan CPNS skala nasional, hal itu belum diatur secara tegas. Sehingga teknologi informasi diharapkan mampu memberikan solusi terhadap masalah tersebut. Disamping itu, dapat mengeurangi waktu pemrosesan serta biaya secara signifikan,~ paparnya. SIPC yang menyabet penghargaan Asia Pasific Information Communication and Technology (ICT) Award 2006 ini, diterapkan LIPI dalam penerimaan CPNS sejak 2005. ~Sistem ini akan mengintergrasikan data berbasis web, baik untuk front-office maupun back-office,~ ungkapnya. Seluruh proses penerimaan, mulai registrasi pelamar sampai proses administrasi diilakukan secara otomatis. ~Dengan adanya sistem ini, maka pelamar tidak perlu berdesakan karena semuanya dilakukan melalui web,~ ujarnya. Proses tersebut, dilanjutkan dengan pengiriman dokumen fisik melalui pos yang jumlahnya sangat minimal. Surat lamarannya pun cukup dicetak langsung dari web, dan dilampiri hanya 3 lembar kertas yang menjadi syarat dokumen fisik (salinan KTP, ijasah terakhir, transkrip nilai). 'Pada proses verifikasi fisik dimana pelamar harus hadir langsung sehari sebelum ujian tulis, bisa dilakukan dengan tertib dan hampir tanpa antrian sama sekali, karena verifikasi dan pencocokan data langsung dilakukan di depan terminal-terminal komputer sehingga bisa dilakukan dengan sangat cepat,' ujarnya. (Lea)
Published in Siaran Pers LIPI (4 Oktober 2007) Sistem Informasi Penerimaan CPNS (SIPC) yang telah diimplementasikan pada penerimaan CPNS LIPI sejak tahun 2005 mampu mengurangi human error yang terjadi selama proses penerimaan CPNS. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Laksana Tri Handoko dari Tim Gabungan Jaringan - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (TGJ-LIPI) sekaligus penanggung jawab SIPC. Menurutnya ada dua jenis kesalahan yang sering terjadi selama proses penerimaan CPNS, pertama adalah kesalahan administratif yang tidak disengaja - lebih diakibatkan oleh buruknya sistem dan rendahnya kualitas panitia. Kesalahan kedua adalah manipulasi yang memang dengan sengaja dilakukan oleh oknum-oknum internal di instansi-instansi pemerintah. Kedua sumber kesalahan ini bisa terjadi karena memang dalam regulasi dan sistem penerimaan CPNS skala nasional tidak bisa dihilangkan, atau belum secara tegas diatur."Disinilah Teknologi Informasi (TI) diharapkan mampu memberikan solusi, " tegasnya. Tidak hanya mengurangi kedua sumber kesalahan diatas, menurutnya pemakaian TI berpotensi menekan waktu pemrosesan serta biaya secara signifikan. Mulai tahun 2005, LIPI telah menerapkan SIPC sebagai cara cerdas dalam penerimaan CPNS. "Lebih dari sekedar sistem informasi, SIPC LIPI (http://www.cpns.lipi.go.id) merupakan sistem terintegrasi berbasis web, baik untuk front-office maupun back-office", ungkapnya. Diungkapkannya, seluruh proses penerimaan, dari registrasi oleh pelamar sampai proses administrasi seluruhnya dilakukan secara otomatis dan hampir tanpa intervensi manusia. "Dengan adanya sistem ini, maka pelamar tidak perlu berdesakan karena semuanya dilakukan melalui web", tambahnya. Proses itu kemudian dilanjutkan dengan pengiriman dokumen fisik melalui pos yang jumlahnya juga sangat minimal. Surat lamarannyapun cukup dicetak langsung dari web, dan dilampiri hanya 3 lembar kertas yang menjadi syarat dokumen fisik (salinan KTP, ijasah terakhir, transkrip nilai). Pada proses verifikasi fisik dimana pelamar harus hadir langsung sehari sebelum ujian tulis, bisa dilakukan dengan tertib dan hampir tanpa antrian sama sekali, karena verifikasi dan pencocokan data langsung dilakukan di depan terminal-terminal komputer sehingga bisa dilakukan dengan sangat cepat. "Sistem ini telah berhasil mendapatkan penghargaan dari Asia Pasific Information Communication and Technology (ICT) Award tahun 2006 di Indonesia, sekaligus menjadi wakil Indonesia di ajang tahunan mereka di Macao, untuk kategori e-government", ungkapnya bangga.
Published in Republika (2 Oktober 2007) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk tahun 2007 dengan sistem online untuk lowongan 210 orang. "Jumlah ini terbagi untuk formasi peneliti, teknisi, dan tenaga administrasi dari berbagai tingkat pendidikan (SLTA, D3, S1, S2, S3) dengan berbagai latar belakang kajian ilmu," kata Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian (BOK) LIPI Dr Siti Nuramaliati Prijono di Jakarta, Selasa (2/10). Penerimaan dimulai tanggal 1 Oktober sampai dengan 16 Oktober 2007 dengan sistem online melalui situs Sistem Informasi Penerimaan CPNS LIPI (SIPC) di website www.cpns.lipi.go.id. Terkait dengan perubahan proses penerimaan CPNS secara umum oleh MenPAN/BKN sejak 2004, LIPI sebagai salah satu lembaga pemerintah mendukung penuh sistem yang diberlakukan. "Khusus untuk LIPI, diterapkan SIPC mulai tahun 2005, yang terbukti sangat efektif baik dari segi waktu, dana maupun tenaga," jelasnya. Penerapan SIPC dalam penerimaan CPNS LIPI menurutnya sangat relevan terkait dengan status LIPI sebagai lembaga ilmu pengetahuan utama di Indonesia. "Ini merupakan syarat mutlak bagi CPNS LIPI untuk selalu mengikuti aplikasi sistem informasi di era informasi ini," tambahnya. Penanggung jawab SIPC-LIPI Dr Laksana Tri Handoko menambahkan, sistem SIPC yang berbasis web dinamis ini memungkinkan seluruh proses dilakukan secara "online" dan transparan bagi semua pihak terkait seperti pelamar, panitia/LIPI, dan masyarakat. "Kelebihan sistem ini selain mudah dipakai dan dipelihara oleh seluruh pihak terkait juga sangat transparan. Dengan sistem ini dimungkinkan kontrol internal yang ketat dan 'check and re-check' antarbagian dan level," katanya. Penyimpangan hasil dari SIPC yang permanen dan dapat dipakai sepanjang tahun ini sangat kecil terjadi, karena terdapat sekuriti akses di setiap level, kata Peneliti Puslit Fisika LIPI itu. Lima tahapan akan dilalui dalam proses penerimaan CPNS LIPI yang terdiri dari: verifikasi administrasi (selama bulan Oktober 2007), ujian tertulis (31 Oktober 2007), wawancara (12-14 November 2007), psikotes (14-16 November 2007), dan hasil final (30 November 2007). CPNS yang diterima di LIPI akan mulai aktif bekerja pada tanggal 1 Januari 2008.
Published in
Siaran Pers LIPI (2 Oktober 2007)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuka penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk tahun 2007. Penerimaan dimulai tanggal 1 Oktober sampai dengan 16 Oktober 2007 dengan sistem online melalui situs Sistem Informasi Penerimaan CPNS LIPI (SIPC) di website www.cpns.lipi.go.id.
Kepala Biro Organisasi dan Kepegawaian (BOK) LIPI Dr. Siti Nuramaliati Prijono menyatakan, untuk tahun ini LIPI mendapatkan formasi dari MenPAN sebanyak 210 orang. ~Jumlah ini terbagi untuk formasi peneliti, teknisi, dan tenaga administrasi dari berbagai tingkat pendidikan (SLTA, D3, S1, S2, S3) dengan berbagai latar belakang kajian ilmu~, jelasnya.
Terkait dengan perubahan proses penerimaan CPNS secara umum oleh MenPAN / BKN sejak 2004, LIPI sebagai salah satu lembaga pemerintah mendukung penuh sistem yang diberlakukan. ~Khusus untuk LIPI, kami menerapkan SIPC mulai tahun 2005, yang terbukti sangat efektif baik dari segi waktu, dana maupun tenaga~, jelasnya.
Penerapan SIPC dalam penerimaan CPNS LIPI menurutnya sangat relevan terkait dengan status LIPI sebagai lembaga ilmu pengetahuan utama di Indonesia. ~Ini merupakan syarat mutlak bagi CPNS LIPI untuk selalu mengikuti aplikasi sistem infromasi di era informasi ini~, tambahnya.
Penanggung jawab SIPC-LIPI Dr. Laksana Tri Handoko menambahkan, sistem SIPC yang berbasis web dinamis ini memungkinkan seluruh proses dilakukan secara online dan transparan bagi semua pihak terkait (pelamar, panitia/LIPI, dan masyarakat). ~Kelebihan sistem ini selain mudah dipakai dan dipelihara oleh seluruh pihak terkait juga sangat transparan~, ungkapnya.
Dengan sistem ini dimungkinkan kontrol internal yang ketat dan check and re-check antar bagian dan level. ~Penyimpangan hasil dari SIPC yang permanen dan dapat dipakai sepanjang tahun ini sangat kecil terjadi, karena terdapat sekuriti akses di setiap level~, tegas Handoko, Peneliti Puslit Fisika LIPI.
Menurutnya lima tahapan akan dilalui dalam proses penerimaan CPNS LIPI yang terdiri dari: verifikasi administrasi (selama bulan Oktober 2007), ujian tertulis (31 Oktober 2007), wawancara (12 - 14 November 2007), psikotes (14 - 16 November 2007), dan hasil final (30 November 2007). CPNS yang diterima di LIPI akan mulai aktif bekerja pada tanggal 1 Januari 2008.
Published in
Situs KRT (21 Agustus 2007)
Itulah yang terkesan dari pembelajaran yang diberikan oleh para ilmuan kepada para murid-murid SD di wilayah DKI Jakarta dalam rangka gerakan Science for All. Science for All adalah merupakan gerakan yang dimaksudkan untuk menumbuhkan minat semua pihak (pelajar, mahasiswa, pemuda, guru, pengambil-kebijakan, dan seluruh masyarakat) agar lebih mencintai pelajaran Science. Kegiatan ini dimulai dari pendidikan dasar mulai program ilmuan berbagi ilmu dengan pelajar dengan moto: mempopulerkan Science yang asyik, mudah dan menyenangkan. Kegiatan yang telah dicanangkan di TMII pada 8 Mei 2007 ini adalah merupakan kerjasama antara Komisi Nasional Indonesia untuk Unesco (KNIU), Departemen Pendidikan Nasional, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Gubernur DKI Jakarta, serta didukung oleh Surya Institut dan PP Iptek. Dalam hal telah ditetapkan sebagai pilot project dari kegiatan Science for All dan akan dikembangkan secara luas ke seluruh wilayah Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari pencanangan dan deklarasi gerakan science for all pada 8 mei 2007 yang lalu, dimana Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman dan Wagub DKI Jakarta, Fauzi Bowo saat itu telah mengawalinya dengan memberikan pembelajaran berbagi ilmu kepada murid-murid SD di wilayah DKI Jakarta maka mulai hari ini, Selasa, 21 Agustus 2007 telah diimplementasikan gerakan Science for All dengan menerjunkan para ilmuwan untuk berbagi ilmu kepada murid-murid di SD di wilayah DKI. Hari ini 7 Ilmuan mengajar di 7 sekolah, mereka adalah M. Syamsuri, MS dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) mengajar matematika di SDN Benhil 09 Pg; Dr. L.T. Handoko dari Puslit Fisika LIPI mengajar IPA di SDN Karet Tersin 15 Pg; Drs. Zulkarnaen, Msc dari Lembaga Pengembangan Fisika Indonesia mengajar IPA di SDN Pademangan Timur 01 Pg; Drs. Juni Astel, Msc mengajar Matematika di SDN Cipinang Besar Utara 03 Pg; Dr Yohan dari KNRT mengajar IPA di SDN Cipinang Besar Utara 01 Pg; Dr. Puji Untoro mengajar IPA di SD Cipete Utara 12 Pg dan Drs. Perdamaian Sebayang Msc dari Pusat Penelitian Fisika LIPI mengajar IPA di SDN Slipi 03 Pg.
Published in THC Newsletter XXI Juli-September 2007 Ketika seluruh DKI Jakarta menyambut pesta demokrasi, Pemilihan Gubenur, panitia Habibie Award pun tengah melaksanakan rapat pemilihan pemenang Habibie Award. Sebagian panitia Habibie Award berdomisili di luar Jakarta, sehingga dapat menikmati lengangnya ibu kota kali ini. Panitia Habibie Award yang hadir adalah Prof. MT Zen dan Dr. Sukirno untuk Bidang Ilmu Dasar, Prof. Dr. Haryanto Dhanutirto Bidang Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi, Prof. Dr. M. Sahari Besari, Prof. Dr. Harijono Djojodihardjo, dan Prof. Dr. Said Jenie Bidang Ilmu Rekayasa, Dr. Sayuti Hasibuan untuk Bidang Ilmu Ekonomi, Sosial, Politik, dan Hukum. Prof. Dr. Quraish Shihab, Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Dr. Kunto Wibisono, Prof. Dr. I Made Bandem Bidang Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan. Sedangkan panitia Bidang Ilmu Dasar menerima dua anggota baru, yaitu Dr Terry Mart, pemenang Habibie Award tahun 2001, dan Dr Laksana Tri Handoko, pemenang Habibie Award tahun 2004. Pimpinan rapat, Prof. Wardiman Djojonegoro membahas pengajuan beberapa calon pemenang Habibie Award untuk tahun ini dari berbagai institusi di seluruh Indonesia. Untuk bidang Ilmu Dasar, yang diajukan adalah Prof. Dr. Sri Widyantoro dari Geofisika ITB, seorang peneliti topografi seismologi. Ia menemukan suatu model mitigasi bencana gempa. Kontribusinya secara tidak langsung akan berguna bagi penerapan ilmu itu untuk penyelamatan jiwa manusia. Sementara itu, dari ilmu Kedokteran dan Bioteknologi terpilih Elin Yulinah yang telah menemukan 2 mikroba, yaitu streptomyces indonesiansis dan streptomycses biceospiralis yang keduanya didepositkan di ATCC (American Type Culture and Collections) di Amerika. Sedangkan bidang Ilmu Sosial, panitia Habibie Award memilih Dr. H.C. Rosihan Anwar, yang diajukan karena konsistensi yang bersangkutan dalam berkarya di bidang jurnalistik. Rosihan juga banyak memberikan input sejarah kepada bangsa Indonesia dalam bentuk tulisan-tulisannya, mengenai keadaankeadaan sewaktu habis proklamasi, dsb. Sajak panjang tentang cinta tanah air yang ditulis oleh Jose Rizal sebelum dia ditembak oleh Spanyol, ditejermahkan oleh Rosihan Anwar, karena itulah banyak orang Padang yang bernama Jose Rizal, dan Rosihan Anwar mendapat Rizal Knight di Manila, Filipina. Dari bidang ilmu budaya, terpilih Taufiq Ismail yang diajukan karena kontribusinya dalam mengembangkan wacana kebudayaan; situasisituasi perjuangan, cita-cita, kegelisahan tahun 1966, dialah yang merumuskan, karena itu dia disebut sebagai penyair tahun 1966, ybs. juga terlibat dalam diskursus wacana kebudayaan dan salah seorang perumus dan tandatangan dari manifesto kebudayaan Panitia kelompok Ilmu Rekayasa menerima sebelas pengajuan calon, namun mereka mengharapkan agar para calon dapat mengajukan karya yang nyata untuk dinilai keberhasilannya dalam memecahkan suatu masalah, sehingga penilaian ilmu rekayasa untuk kali ini diundur ke tahun selanjutnya. (k-T)
Published in
Situs KRT (6 Juli 2007)
Superkomputer yang dimiliki LIPI saat ini posisinya berada di Pusat Penelitian Fisika Puspitek Serpong. Selain digunakan oleh para peneliti bidang Fisika dan peneliti lain, superkomputer yang menyala 24 jam ini juga ditawarkan untuk umum. Handoko menyebutkan, siapa saja yang akan melakukan hitungan dengan tingkat kesulitan tinggi dapat menggunakan superkomputer tersebut secara gratis. Bila dilihat dari jenisnya, superkomputer ini sangat langka dan terbilang cukup unik karena hasil rakitan sendiri. Rangkaiannya hanya ditempatkan pada boks kaca yang dibentuk seperti lemari dengan ukuran 1,5 x 2 meter. Keunikan lainnya adalah superkomputer yang dirakit oleh Handoko dan tim ini beberapa spare part-nya masih menggunakan model Pentium 486. "Pentium lama tetap kami pakai, karena pada dasarnya memang tugas komputer ini hanyalah melakukan penghitungan," ujarnya. Perangkatnya cukup sederhana dan merakitnya tidak sesulit yang dibayangkan. Kebutuhan perangkat yang dibutuhkan adalah jenis mother board, RAM dan LAN card. Sementara komponen lain seperti Hardisk, video grafis, modem dan lainnya tidak di gunakan. Meski begitu, kemampuan superkomputer rakitannya memiliki kecepatan yang cukup handal. Bila dimasukkan dalam kategori superkomputer dunia, rakitannya tersebut masih berada di atas tingkatan superkomputer terendah. "Diprediksi kecepatan superkomputer ini dapat mencapai 150 gigaflops. Sebagai perbandingan untuk jenis superkomputer terendah kecepatannya berada pada kisaran 135 gigaflops," ujar Handoko. Rakitan sendiri Super komputer pada dasarnya adalah gabungan dari beberapa komputer yang dijadikan satu. Perangkatnya sangat sederhana dan pada prinsipnya menyerupai jaringan komputer di kantor. Di perusahaan dan di bank-bank, biasanya sistem administrasi menggunakan model pengabungan komputer semacam ini, namun jumlahnya hanya beberapa dan tidak dirangkai untuk kepentingan perhitungan yang cepat. Untuk menjadikannya lebih cerdas dan memiliki kemampuan yang lebih cepat, komputer harus memiliki sistem yang dapat membagi-bagi suatu perintah. Sistem pembagi ini terdapat dalam satu perangkat PC. Selanjutnya tugas operasi dapat dibagi-bagikan ke rangkaian komputer lain yang disebut dengan note. Di Pusat Penelitian Fisika, jumlah komputer (note) mencapai 45 buah.(EV)
Published in
Tempo (Edisi 2-8 Juli 2007)
Rakitan komputer-komputer rongsokan melahirkan komputer dengan performa tinggi dalam proses perhitungan. Inilah hasil karya tim fisika teoretis dan komputasi Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Menurut salah satu perancangnya, L.T. Handoko, timnya mengumpulkan komputer model lama dengan prosesor 486 MHz sampai Pentium II. Lantaran komputer ini cuma untuk menghitung, tim itu hanya memanfaatkan motherboard dan memorinya. Tuntas dirakit pada tahun 2004, komputer ini bisa diakses melalui jaringan di situs internet yang beralamat www.cluster.lipi.go.id. "Siapapun bisa mengakses," kata Handoko kepada Tempo.
Published in
Koran Tempo (22 Juni 2007, Deddy Sinaga)
Sebuah rak besi beberapa tingkat berdiri di sudut ruangan berpenyejuk udara. Tingginya sekitar 2 meter, yang tersusun dari rangkaian pelat-pelat. Salah satu tingkatnya ditutup dengan kaca transparan bak akuarium. Deretan kipas listrik hitam berukuran kecil tertempel di permukaannya. Di dalamnya tampak berbagai peranti elektronik, tersusun dalam rak-rak vertikal. Di atas "akuarium" itu, terletak satu unit monitor komputer. Empat pria berkemeja rapi tampak beraktivitas di dekat rak yang penuh dengan untaian kabel listrik tersebut. Ada yang duduk di lantai sembari mengutak-atik berbagai peranti komputer. Ada pula yang berdiri dekat rak, mengamati layar komputer dan berbagai peralatan di sana. Itulah ruangan tempat supercomputer (komputer super) milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) beroperasi saban hari. Adapun komputer supernya, ya, rak besi rakitan dan "akuarium" tadi itu. Penampilannya memang tak mentereng seperti komputer buatan pabrik. Tapi fungsinya sama saja. Komputer super didesain melakukan proses penghitungan dengan performa yang tinggi, baik kecepatan maupun kapasitas penghitungan. Komputer rak besi itu dirancang dan dioperasikan oleh tim fisika teoritis dan komputasi di Pusat Penelitian Fisika LIPI di Serpong, Tangerang, sejak 2000. L.T. Handoko, salah seorang ahli fisika teoritis dan komputasi LIPI, mengatakan tujuan pembuatan komputer super itu pada awalnya adalah untuk memanfaatkan komputer-komputer rongsokan, berkapasitas kecil, dan memori yang cetek. "Kalau untuk windows mungkin sudah tidak mumpuni, tapi kalau menghitung masih bisa dimanfaatkan," ucapnya. Maka Handoko dan timnya mengumpulkan komputer-komputer model lama dengan prosesor mulai dari 486 MHz sampai Pentium II. Lantaran untuk penghitungan semata, mereka hanya memanfaatkan motherboard dan memorinya. Setelah tuntas dirakit pada Agustus 2004, komputer itu bisa diakses melalui jaringan Internet di situs Internet yang beralamat: www.cluster.lipi.go.id. "Siapa pun bisa mengakses," kata Handoko. Akses itu terbuka bagi siapa pun tanpa dipungut biaya sepanjang jaringan Internet pengakses mumpuni atau mendukung kapasitas jaringan pita besar (broadband). Menurut Handoko, inilah yang membuat komputer super LIPI menjadi unik dan berbeda dengan komputer super lain di Indonesia, contohnya komputer-komputer perusahaan perbankan. Handoko mengatakan komputer itu memang diciptakan terbuka untuk tujuan pendidikan bagi guru atau pelajar dan mahasiswa. Handoko berharap bisa tercetak ahli-ahli parallel programming, yang kian diperlukan dalam penelitian ilmiah di berbagai bidang. Komputer super LIPI adalah rakitan dari sejumlah computer processing unit (CPU) yang dirangkai secara paralel. Inilah rangkaian model cluster, "Yang masih jarang digunakan di Indonesia," ucap Handoko. Handoko menyatakan rangkaian paralel membuat biaya investasi bisa ditekan. Selain itu, rangkaian itu fleksibel terhadap perubahan teknologi komputer yang cepat. Masing-masing CPU yang terangkai menjadi satu itu lebih dikenal dengan istilah "node". Komputer super LIPI ini terdiri atas 45 node atau 45 CPU. Semakin besar jumlah node suatu komputer, semakin besar pula kapasitas dan kecepatan sang komputer dalam melakukan tugas-tugas komputasinya. Sebagai contoh, perusahaan mesin pencari yang terkenal, Google, menggunakan komputer yang terdiri atas 10 ribu node. Sejak diciptakan, kemampuan komputer super LIPI terus meningkat. Pada awalnya, komputer itu sanggup melakukan komputasi 20 Gflops (giga flops-floating point operations per second). Kini kemampuannya telah mencapai 150 Gflops. Zainal Akbar, seorang ahli teknik informatika di tim itu, mengatakan sistem cluster menggabungkan antara peranti keras dan lunak, yang akan memproses permintaan tugas yang dikirimkan pengguna lewat jaringan maya. Tugas-tugas yang dipesan pengguna, dihubungkan (interface) ke cluster oleh peranti lunak bernama MPI (message passing interface). Segala perhitungan pesanan pengguna lantas dieksekusi oleh program yang terkandung dalam library komputer super. Agar semua pengguna mendapat kesempatan, tim itu lantas membagi-bagikan node ke dalam sistem blok. Pengguna komputer akan diminta menyebutkan berapa jumlah node yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas yang dipesan. Adapun node yang tersisa akan diberikan kepada pengguna lain, juga dalam bentuk blok. Melalui cara ini, kata Zainal, node yang tersisa bisa dinonaktifkan sehingga menghemat sumber daya. "Berbeda dengan komputer di luar negeri yang aktif terus-menerus," katanya. Bagaimana tingkat keamanannya? Handoko mengatakan segala proses pekerjaan yang dilakoni sang komputer diawasi oleh timnya lewat Internet. Komputer super itu pun terhubung ke sebuah peranti master control yang bisa menutup atau meneruskan pekerjaan berdasarkan perintah administrator. "Selain secara manual, master control itu pun dioperasikan lewat Internet," katanya. Sebagaimana lazimnya komputer super, komputer LIPI juga dipakai untuk kepentingan perhitungan dalam skala besar. Sejauh ini, komputer itu telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari tugas-tugas sekolah sampai penelitian ilmiah. Zainal mengatakan komputer itu pernah dipakai menghitung kalkulus sampai pengujian teori Lattice Gauge Theory pada fisika partikel. Komputer itu juga pernah dipakai untuk simulasi cuaca hingga mengidentifikasi sebuah spesimen secara genetik.
Published in
e-Indonesia (Edisi 15 April - 14 Mei 2007, L.T. Handoko)
Masih segar dalam ingatan kita hingar-bingar pelaksanaan penerimaan PNS (Pegawai Negeri Sipil) di awal tahun ini. Dengan jumlah secara nasional sekitar setengah juta pelamar untuk memperebutkan beberapa puluh ribu posisi di ratusan instansi pemerintah, tidaklah mengherankan bila prosesi tahunan ini bahkan melebihi rutinitas tahunan penerimaan mahasiswa baru. Ditambah dengan aneka berita miring dan masalah yang menyertai, tidaklah mengherankan hajatan ini mampu mendominasi media massa dan menyedot perhatian masyarakat. Perubahan penerimaan PNS menjadi sebuah hajatan nasional sebenarnya baru terjadi dalam dua tahun terakhir, yakni pada penerimaan tahun anggaran 2004 dan 2005 yang dilaksanakan di awal tahun 2005 dan 2006. Perubahan ini terjadi sebagai salah satu buah reformasi birokrasi dengan idealisme untuk "membersihkan" proses penerimaan PNS sebagai langkah awal untuk menciptakan pemerintahan yang bersih menuju good government. Dengan sistem gabungan antara sentralisasi dan desentralisasi ini diharapkan terjadi peningkatan kualitas calon PNS sebagai SDM birokrat unggul di masa depan. Sentralisasi diberlakukan pada regulasi yang mengikat seluruh instansi pemerintah sampai pada proses ujian tertulis, sebaliknya kewenangan instansi ~pemakai~ PNS yang diterima diterapkan pada pada proses setelahnya, atau adanya tambahan syarat-syarat lain sesuai dengan kebutuhan instansi. Adanya persyaratan tambahan ini merupakan hal urgen khususnya pada instansi yang menuntut ~kualifikasi plus~ bagi calon pegawainya seperti lembaga akademis / riset (universitas negeri, LIPI, dll) serta departemen-departemen tertentu (Deplu, dll). Namun, seperti disebutkan diatas, pada pelaksanaannya masih banyak masalah yang timbul. Mulai dari indikasi kecurangan, manipulasi data maupun kesalahan administrasi biasa. Semua ini bisa berakibat sangat fatal tidak hanya bagi para calon PNS, tetapi juga berpotensi merusak citra seluruh sistem di mata publik. Padahal sistem baru ini selain diharapkan mampu menjaring SDM bermutu, juga untuk meningkatkan citra PNS yang dikenal lamban, manipulatif, berkualifikasi rendah dan segala cap jelek lainnya. Meski diakui sistem penerimaan baru ini jauh lebih baik daripada sistem sebelumnya, terlebih pada era Orde Baru, harus diakui bahwa masih ~terlalu banyak~ kesalahan maupun peluang kesalahan yang ada. Hal mana sebagian besar sebenarnya bisa dicegah, atau minimal dikurangi sampai batas terendah. Dari pengalaman penulis, secara umum ada dua jenis kesalahan. Pertama, kesalahan administratif yang tidak disengaja, dan lebih diakibatkan oleh buruknya sistem dan rendahnya kualitas panitia. Kedua, manipulasi yang memang dengan sengaja dilakukan oleh oknum-oknum internal di instansi-instansi pemerintah. Kedua sumber kesalahan ini bisa terjadi karena memang dalam regulasi dan sistem saat ini kedua sumber kesalahan ini tidak bisa dihilangkan. Apakah tidak ada cara untuk minimal mengurangi secara maksimal kedua sumber kesalahan diatas ? Apakah pengawasan ala PNS, semacam waskat (pengawasan melekat) dan sebagainya bisa menjadi solusi ? Tentu saja tidak ! Karena yang diperlukan adalah sistem terintegrasi yang mampu merealisasikan sistem pengawasan yang alami. Disinilah teknologi informasi (TI) diharapkan mampu memberikan solusi. Lebih daripada mengurangi kedua sumber kesalahan diatas, pemakaian TI berpotensi menekan waktu pemrosesan serta biaya secara signifikan. Hal ini telah dibuktikan oleh TGJ LIPI (Tim Gabungan Jaringan - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dengan Sistem Informasi Penerimaan CPNS (SIPC) yang telah diimplementasikan pada penerimaan PNS LIPI tahun 2005 lalu. Lebih dari sekedar sistem informasi, SIPC LIPI (http://www.cpns.lipi.go.id) merupakan sistem terintegrasi berbasis web baik untuk front-office maupun back-office. Sehingga seluruh proses penerimaan, dari registrasi oleh pelamar sampai proses administrasi seluruhnya dilakukan secara otomatis dan hampir tanpa intervensi manusia. Untuk melamar, calon pelamar tidak perlu berdesakan karena semuanya dilakukan melalui web. Kemudian dilanjutkan dengan pengiriman dokumen fisik melalui pos yang jumlahnya juga sangat minimal. Bahkan surat lamaran cukup dicetak langsung dari web, dan dilampiri hanya 3-4 lembar kertas yang menjadi syarat dokumen fisik (salinan KTP, ijasah terakhir). Pasfoto pelamar sekalipun tidak diperlukan, karena cukup di-upload setelah registrasi. Tidaklah mengherankan bila di instansi lain banyak berita antrian pelamar sampai pingsan, di LIPI hal tersebut sama sekali tidak terjadi. Bahkan pada proses verifikasi fisik dimana pelamar harus hadir langsung sehari sebelum ujian tulis, bisa dilakukan dengan tertib dan hampir tanpa antrian sama sekali ! Karena verifikasi dan pencocokan data langsung dilakukan di depan terminal-terminal komputer sehingga bisa dilakukan dengan sangat cepat. Dilain pihak, panitia melakukan verifikasi dokumen tanpa memiliki akses untuk melakukan ubahan pada isian registrasi. Cukup memberi tanda cek pada beberapa item yang dipersyaratkan (nama, tanggal lahir, jenis kelamin, pendidikan terakhir, dsb). Dengan cara ini tidak ada peluang manipulasi data oleh oknum panitia. Sebaliknya ini menghilangkan kemungkinan kesalahan memasukkan data, sehingga bila terjadi kesalahan pengisian sepenuhnya bersumber dari pelamar yang bersangkutan. Lebih dari itu, seluruh proses bisa diikuti oleh setiap pelamar setiap saat melalui halaman registrasi personal. Bahkan untuk pelamar yang tidak lolos verifikasi administrasi bisa memperbaiki kesalahannya selama belum melewati batas waktu yang ditentukan. Proses selanjutnya sampai penentuan ranking dilakukan secara otomatis dan proporsional sesuai dengan jumlah posisi yang dibuka. Pada tahap penentuan peserta yang berhak mengikuti ujian tertulis, ranking ditentukan dari nilai IP (indeks prestasi) dengan pemberian bobot sesuai universitas asal. Bagi pelamar yang lolos, kartu peserta ujian juga cukup dicetak sendiri secara langsung dari web. Sehari sebelum ujian tulis, untuk pertama kalinya para pelamar diwajibkan hadir untuk melakukan verifikasi fisik. Karena jawaban ujian tulis berupa pilihan ganda, seluruh proses penilaian bisa dilakukan secara otomatis dan nilai yang didapat langsung diintegrasikan ke SIPC LIPI untuk ditabulasi guna mendapatkan ranking. Setelah proses inilah, setiap instansi di bawah LIPI diberikan kewenangan untuk memilih sejumlah pelamar yang akan dipanggil dari total pelamar yang mendapatkan nilai diatas nilai minimum untuk setiap bidang. Selanjutnya hal yang sama diberlakukan saat pemilihan pelamar yang diterima. Disinilah letak ~harmonisasi~ antara aturan yang sentralistik di LIPI Pusat dan desentralisasi di level instansi. Pemberian otoritas ini perlu karena setiap instansi memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda dan tidak bisa dikuantisasi. Namun yang pasti pelamar yang bisa dipilih telah memenuhi syarat regulasi nasional, yaitu mendapatkan nilai diatas ambang batas yang ditentukan yang berarti telah memenuhi syarat sebagai calon PNS. Dengan ini, tidak ada lagi masalah ketidakcocokan PNS yang diterima dengan kebutuhan instansi pemakai. Perlu diketahui, proses pemilihan ini dilakukan oleh wakil-wakil dari setiap instansi melalui web yang sama. Logika dan sistem yang sama secara teknis bisa diberlakukan secara nasional. Yakni sampai proses ujian tulis dilakukan secara seragam dan otomatis penuh. Sedangkan proses selanjutnya (bila ada) sampai pemilihan pelamar yang diterima diserahkan ke setiap instansi yang bersangkutan. Untuk kondisi Indonesia saat ini, setidaknya sangat realisitis untuk mengimplementasikan sistem ini pada penerimaan PNS di instansi pemerintah pusat (selain pemda), baik departemen maupun non-departemen. Sistem ini di LIPI telah terbukti mampu menekan angka "kesalahan" (baik sengaja maupun tidak sengaja) di pihak panitia sampai 100% ! Terlebih seluruh proses tercatat secara otomatis sehingga bisa diketahui siapa melakukan apa. Ditambah dengan jumlah tenaga pelaksana verifikasi yang jauh lebih sedikit (cukup 20% dari cara konvensional), sehingga lebih mudah dilakukan kontrol internal. Semua ini mengakibatkan penghematan luar biasa pada pemakaian dana untuk seluruh proses penerimaan PNS. Karena sejak awal hampir tidak ada kertas yang diperlukan. Juga penghematan akibat adanya kepastian jumlah peserta ujian tulis, sehingga mengurangi pemborosan akibat penyediaan sarana ujian yang tidak perlu. Yang terpenting, sistem ini bisa menjadi modal awal untuk mendapatkan SDM terbaik calon birokrat sebagai langkah awal dan utama untuk menciptakan good government. Tidak ada good government tanpa good people (atau bahkan best people) yang bekerja di dalamnya...
Published in Jurnalnet.com (8 Februari 2007) Sebanyak 10 guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan 19 peneliti meraih penghargaan Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) ke-13 bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Pemberian penghargaan berlangsung di Ballroom Hotel Shangri-la, Jakarta, Kamis (8/2). Tampil dalam acara itu, pakar lingkungan Prof. Dr. Otto Soemarwoto sebagai invite speaker (pembicara yang diundang). Dia menyampaikan topik "Getting Sustainable Development Moving". Hadir di sana antara lain Dubes Jepang untuk Indonesia Shin Ebihara, Ketua ITSF Soefjan Tsauri, dan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdiknas Satriyo Soemantri Brodjonegoro. Ke-10 guru IPA itu adalah Asep Osad (guru Kimia SMAN 5 Bandung, Jabar), Bandu Suharjono (guru Biologi SMAN 1 Purwareja, Jateng), Christophorus S. (guru Biologi SMA Fransiskus Lampung), Hermanto Daifu (guru Biologi SMA Al Azhar 4 Bekasi, Jabar), Heru Suseno (guru Fisika SMAN 2 Madiun, Jatim), Muhammad Guriang (guru Kimia SMAN 1 Gedongtataan, Lampung), Ninik Agustini (guru Fisika SMAN 1 Kejayan Pasuruan, Jatim), Pantiyanti Bambang (guru Biologi SMAN 34 Jakarta), Suharyanto (guru Fisika SMAN 1 Minggiran Sleman, DI Yogyakarta), dan Tarmizi (guru Biologi SMAN 1 Simpang, NAD). Sementara itu, untuk penghargaan bidang iptek kategori peneliti, meliputi Laksana Tri Handoko (LIPI), Arief Cahyo Wibowo (UI), Ruslin Handanu (UGM), Farah Coutrier (The Eijkman Institute), Gandjar Kiswanto (UI), Irawan Wijaya Kusuma (Universitas Mulawarman), Nugraha Edhi Suyatma (IPB Bogor), Agus Jatnika Effendi (ITB), Bambang Prijamboedi (ITB), Roto (UGM), Upi Chairun Nisa (UI), Nurul Taufiqu Rochman ( (LIPI), Adrin Tohari (LIPI), Tri Agus Siswoyo (Universitas Jember), Mulawarman (Universitas Sriwijaya), Heri Kresnadi (LIPI), Agus Haryono (LIPI), Ana Indrayati (Universitas Galuh Ciamis, Jabar), dan Sri Agung Fitri Kusuma (Unpad Bandung). Ketua ITSF, Soefjan Tsauri menuturkan, penghargaan pendidikan IPA diserahkan kepada guru-guru Biologi, Kimia, dan Fisika SMA yang berdomisili di Indonesia yang telah menghasilkan suatu metode pembelajaran inovatif, kreatif. Atau, menggunakan alat-alat lain untuk belajar dan mempunyai pengaruh yang luar biasa bagi pembelajaran IPA di SMA. "Komite Seleksi telah menilai setiap pelamar diantara 171 calon dan diputuskan 10 pemenang," ujarnya. Total nilai penghargaan yang diserahkan kepada 10 pemenang ini sebesar Rp 175 juta. Halnya, hibah penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) diserahkan kepada peneliti muda yang penelitiannya mengandung tema-tema yang penuh harapan untuk pengembangan iptek masa depan. Dalam kaitan ini, Komite Seleksi telah memilih 19 peneliti dari 158 peserta. Hibah itu diserahkan kepada pemenang dengan total Rp 619,98 juta. Berdasarkan catatan, ITSF didirikan pada bulan Desember 1993 dengan dana sebesar Rp 3 miliar dari Toray Industries Inc. Jepang yang mempunyai 11 perusahaan patungan di Indonesia.***(rht)
Published in Kompas (8 Februari 2007) Sebanyak 19 peneliti mendapat penghargaan dan hibah penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF). Total dana yang dikeluarkan untuk ke-19 peneliti berjumlah Rp 619.977.960. "Hibah ini diserahkan kepada para peneliti muda yang penelitiannya mengandung tema-tema yang penuh harapan untuk pengembangan iptek masa depan," kata Ketua ITSF Prof. Dr. Soefjan Tsauri pada Penyerahan Penghargaan Iptek ITSF ke-13 di Jakarta, Kamis (8/2). Penyerahan tersebut dihadiri Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Satrio Sumantri Brojonegoro dan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Umar Anggara Jenie. Penghargaan bagi ke-19 peneliti muda itu merupakan hasil seleksi dari 158 peserta yang mengajukan proposal. Nilai hibah penelitian bervariasi dari Rp22 juta hingga Rp36,5 juta. Peneliti-peneliti yang memperoleh hibah tersebut yakni:
Dalam kesempatan yang sama, yayasan yang menyalurkan hibah penelitian dari Jepang itu juga menyerahkan penghargaan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam kepada 10 guru ilmu-ilmu biologi, fisika, dan kimia Sekolah Menengah Atas yang telah menghasilkan suatu metode pembelajaran yang inovatif, kreatif. Ke-10 guru ini adalah pemenang dari 171 calon dengan total hibah Rp175 juta.
Published in Antara (8 Februari 2007) Sebanyak 19 peneliti mendapat penghargaan dan hibah Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan jumlah total Rp619.977.960 dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF). "Hibah ini diserahkan kepada para peneliti muda yang penelitiannya mengandung tema-tema yang penuh harapan untuk pengembangan iptek masa depan," kata Ketua ITSF Prof Dr Soefjan Tsauri MSc pada Penyerahan Penghargaan Iptek ITSF ke-13 yang juga dihadiri Dirjen Dikti Depdiknas Satrio Sumantri Brojonegoro dan Kepala LIPI di Jakarta, Kamis. Penghargaan bagi ke-19 peneliti muda itu merupakan hasil seleksi dari 158 peserta yang mengajukan proposal dan mendapat hibah bervariasi dari mulai Rp22 juta hingga Rp36,5 juta. Ke-19 peneliti tersebut yakni, Dr Laksana Tri Handoko dari LIPI, Arief Cahyo Wibowo MS dari UI, Ruslin Handanu MSi dari UGM, Farah Coutrier PhD dari Lembaga Eijkman, Dr Gandjar Kiswanto MEng dari UI, Irawan Wijaya K MP, PhD dari Universitas Mulawarman, Dr Ir Nugraha Edhi S DEA dari IPB, Ir Agus Jatnika E PhD dari ITB, Dr Bambang Prijamboedi dari ITB, Dr Roto MSc dari UGM, Dr Upi Chairun Nisa dari UI, Dr Nurul Taufiqu Rochman MEng dari LIPI, Dr Adrin Tohari dari LIPI, Tri Agus S MAgr PhD dari Universitas Jember, Dr Mulawarman MSc dari Universitas Sriwijaya, Heri Kresnadi MEng dari LIPI, Dr Eng Agus Haryono dari LIPI, Ana Indrayati MSi dari Universitas Galuh, dan Sri Agung Fitri K dari MSi, Apt dari Unpad. Toray sebuah yayasan asal Jepang juga menyerahkan penghargaan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam kepada 10 guru ilmu-ilmu biologi, fisika dan kimia Sekolah Menengah Atas yang telah menghasilkan suatu metode pembelajaran yang inovatif, kreatif. Ke-10 guru ini adalah pemenang dari 171 calon dengan total hibah Rp175 juta.
Published in Kedaulatan Rakyat (9 Februari 2007) Sebanyak 10 guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan 19 peneliti meraih penghargaan ~Indonesia Toray Science Foundation~ (ITSF) ke-13 bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Penghargaan diserahkan di Ballroom Hotel Shangri-la Jakarta, Kamis (8/2). Ke-10 guru IPA itu terdiri Asep Osad (guru Kimia SMAN 5 Bandung Jabar), Bandu Suharjono (guru Biologi SMAN 1 Purworejo, Jateng), Christophorus S (guru Biologi SMA Fransiskus Lampung), Hermanto Daifu (guru Biologi SMA Al Azhar 4 Bekasi, Jabar), Heru Suseno (guru Fisika SMAN 2 Madiun Jatim), Muhammad Guriang (guru Kimia SMAN 1 Gedongtataan, Lampung), Ninik Agustini (guru Fisika SMAN 1 Kejayan Pasuruan Jatim), Pantiyanti Bambang (guru Biologi SMAN 34 Jakarta), Suharyanto (guru Fisika SMAN 1 Minggir Sleman), dan Tarmizi (guru Biologi SMAN 1 Simpang NAD). Sementara itu, untuk penghargaan bidang iptek kategori peneliti, diraih Laksana Tri Handoko (LIPI), Arief Cahyo Wibowo (UI), Ruslin Handanu (UGM), Farah Coutrier (The Eijkman Institute), Gandjar Kiswanto (UI), Irawan Wijaya Kusuma (Universitas Mulawarman), Nugraha Edhi Suyatma (IPB Bogor), Agus Jatnika Effendi (ITB), Bambang Prijamboedi (ITB), Roto (UGM), Upi Chairun Nisa (UI), Nurul Taufiqu Rochman ( (LIPI), Adrin Tohari (LIPI), Tri Agus Siswoyo (Universitas Jember), Mulawarman (Universitas Sriwijaya), Heri Kresnadi (LIPI), Agus Haryono (LIPI), Ana Indrayati (Universitas Galuh Ciamis, Jabar), dan Sri Agung Fitri Kusuma (Unpad Bandung). Ketua ITSF, Soefjan Tsauri menuturkan, penghargaan pendidikan IPA diserahkan kepada guru-guru Biologi, Kimia, dan Fisika SMA yang berdomisili di Indonesia yang telah menghasilkan suatu metode pembelajaran inovatif, kreatif. Atau, menggunakan alat-alat lain untuk belajar dan mempunyai pengaruh yang luar biasa bagi pembelajaran IPA di SMA. (KR)*
Published in Sinar Harapan (7 Februari 2007) Sedangkan 13 peneliti yang menerima penghargaan ITSF di bidang Iptek di antaranya adalah Laksana Tri Handoko (LIPI), Arief Cahyo Wibowo (UI). ...
Published in
e-Indonesia (Edisi 15 November - 14 Desember 2006, L.T. Handoko)
Di pagi hari yang cerah dan agak dingin akibat hujan malam sebelumnya, rombongan Indonesia dengan jumlah 34 orang sudah berkumpul lobi terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta. Rombongan dipimpin Bpk Riyanto Gozali dari Aspiluki, termasuk 4 orang juri (Jos Luhukay, Eko Indrajit, Sylvia Sumarlin, Richard Kartawijaya), 2 orang official dan 3 orang wakil Depkominfo. Setelah pembagian tas, tiket dan jaket seragam, rombongan langsung cek-in dan bergegas memasuki ruang tunggu pesawat. Perjalanan ke Hongkong dengan pesawat Garuda cukup singkat, hanya 4 jam. Namun, sesampainya di Bandara Internasional Hongkong pk 14, apa daya kami harus menunggu selama lk 4 jam karena feri menuju Macau pk 18. Perjalanan dengan feri ke Macau hanya 1 jam, namun dengan kepenatan selama menunggu di bandara, akses ke terminal feri yang sangat tidak nyaman, angin dingin yang cukup kuat, ditambah laut yang bergelora akibat air pasang dan sedikit badai, tak pelak membuat sebagian besar anggota rombongan dilanda mabuk laut. Akhirnya setelah naik bus jemputan selama lk 15 menit rombongan tiba di Regency Hotel yang menjadi pusat lokasi penyelenggaraan APICTA 2006. Panjangnya perjalanan yang diluar dugaan ditambah kondisi setengah mabuk laut membuat sebagian besar peserta lega saat mendapatkan "makan malam gratis" di salah satu restoran dengan hidangan masakan Cina yang hangat. Menurut informasi Ibu Carlia, makan malam tsb diadakan dengan dana sponsor dari Oracle Indonesia. Meski harus berdesakan karena hanya disediakan 3 meja, makan malam ini cukup membuat rombongan merasa segar dan kembali bisa melontarkan aneka guyonan segar. Praktis setiba di hotel lk pk 22 seluruh anggota rombongan bergegas cek-in agar segera bisa masuk kamar dan beristirahat melepas penat. Acara keesokan hari (tgl 2/11) praktis kosong dan hanya dilakukan registrasi. Acara bebas, kecuali ketua delegasi dan para juri yang memiliki beberapa agenda pertemuan pendahuluan. Beruntung seluruh acara utama, kecuali acara dinner, diselenggarakan dalam hotel sehingga praktis peserta tidak perlu keluar hotel. Sore hari seluruh peserta diundang menghadiri acara pembukaan dan dinner atas undangan pemerintah Macau. Acara diisi dengan pembukaan oleh Gubernur Macau, pertunjukan seni dan.... makan malam formal. Rombongan Indonesia diwakili oleh Ibu Loli dari Depkominfo. Tak lupa, segera setelah kembali ke hotel di malam hari, Ketua Delegasi mengumpulkan seluruh peserta untuk melakukan briefing terakhir. Pengarahan dan aneka tip berdasar pengalaman kompetisi sebelumnya diberikan oleh A. Arianto dan semua juri asal Indonesia. Saat itulah ketegangan mulai melanda sebagaian besar peserta. Betapa beban mental untuk membawa beberapa piala kemenangan ke Indonesia terasa semakin berat... Akhirnya acara puncak, yaitu kompetisi dimulai pada tgl 3 dan 4, sejak pagi sampai sore hari. Presentasi dilakukan secara paralel di 6 ruangan sesuai dengan kategori karya-karya yang dilombakan. Setiap peserta mendapatkan jatah presentasi selama 20 menit ditambah 10 menit tanya jawab dan 5 menit untuk persiapan sebelum presentasi. Praktis kedua hari puncak ini diisi dengan presentasi. Meski demikian tentu saja banyak anggota rombongan yang memanfaatkan waktu senggang, terlebih bagi yang sudah selesai presentasi, untuk pergi keliling Macau, atau bahkan ke Hongkong maupun Cina daratan ! Di antara waktu presentasi, delegasi Hongkong, Malaysia dan Singapore secara pro-aktif melakukan pameran mandiri serta membuka meja informasi yang menyediakan aneka brosur terkait dengan ICT di negaranya. Rasanya hal semacam ini perlu dicontoh oleh delegasi Indonesia dengan Aspiluki sebagai motornya. Terlebih motivasi utama acara APICTA awalnya adalah sebagai ajang ekspose dan promosi produk dan perusahaan terkait ICT ke luar negeri. Justru kompetisi aplikasi hanya merupakan jembatan untuk mencapai hal tersebut. Sehingga patut disayangkan bahwa teman-teman dari Aspiluki dan perusahaan perangkat lunak peserta kurang memanfaatkan ajang ini untuk pemasaran yang notabene sangat menguntungkan diri mereka. Bahkan delegasi Hongkong dan Malaysia mengadakan sesi Esperience Sharing dengan mengundang rekan-rekannya dari negara lain. Acara yang merupakan ajang promosi ini nampaknya benar-benar sangat direncanakan dan dimanfaatkan dengan baik oleh mereka untuk semakin mengokohkan posisi. Tidak mengherankan bila selama ini Malaysia dan Hongkong selalu merajai arena kompetisi ini sejak tahun 1999. Nampak sekali bahwa delegasi mereka sangat solid dan memiliki persiapan yang matang dengan dukungan penuh untuk mengikuti lomba ini. Ini kontras dengan delegasi Indonesia, dimana sebagian besar anggotanya yang merupakan pemenang APICTA 2006 Indonesia harus berpusing-pusing untuk mencari sumber dana untuk bisa ikut dalam delegasi. Tetapi sebagai perbandingan, mungkin Aspiluki dan Depkominfo bisa mencontoh TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) yang awalnya di tahun 1993 juga harus membanting tulang untuk bisa mendanai dan mencari bibit melalui kompetisi lokal, mempersiapkan dan memberangkatkan delegasi Indonesia ke ajang internasional. Akhirnya sejak tahun 2000-an kegiatan olimpiade fisika dan sains lainnya sudah mendapatkan dukungan permanen dari Depdiknas sehingga bisa menjadi kebanggaan nasional saat ini. Tentu saja ini semua bisa terjadi karena TOFI mampu membuktikan prestasi secara konstan sejak sebelum mendapatkan dukungan formal pemerintah. Seharusnya, Aspiluki dan Depkominfo bisa melakukan dengan lebih baik mengingat bidang ICT adalah bidang yang sangat pro-bisnis dan dekat dengan sumber ekonomi. Kalau perlu setiap peserta diberikan proses pelatihan dan pematangan karya jauh hari sebelum diberangkatkan. Ini persis seperti yang dilakukan oleh delegasi Malaysia menurut informasi dari beberapa anggota mereka. Bila telah mampu membuktikan bisa meraih prestasi, diyakini dukungan formil dari (misalnya) aneka pihak akan mengalir dengan jauh lebih mudah. Terlebih dengan rencana Indonesia untuk menjadi tuan rumah APICTA 2008 mendatang. Akhirnya acara puncak, yaitu pengumuman pemenang, pada tgl 5/11 bersamaan dengan gala dinner dan penutupan acara tiba. Pada acara ini Indonesia diwakili juga oleh Dirjen Telematika Depkominfo, Bpk Cahyana, yang tiba sehari sebelumnya. Saat tiba acara pengumuman pemenang, seluruh peserta dengan berdebar menyimak nama-nama yang diucapkan. Akhirnya Indonesia berhasil membawa 2 Merit Award untuk kategori Education and Training (PT Pesona Edukasi) dan Start-up (PT Sqiva System). Sayangnya tahun ini belum terjadi peningkatan prestasi untuk tim Indonesia sejak menjadi peserta APICTA. Selama ini Indonesia selalu menjadi kuda hitam, meski dari jumlah peserta selalu menjadi minimal 4 besar diantara 12 negara peserta. Keesokan harinya, tgl 6 pagi rombongan meninggalkan hotel untuk kembali ke Indonesia dengan membawa sejuta kenangan, pengalaman dan wawasan baru. Tak lain semua ini untuk membuat diri kita semua menjadi lebih baik. Minimal membuat Indonesia menjadi lebih diperhitungkan dan mampu berkiprah di bidang ICT, tidak kalah dengan negara-negara tetangga yang nampaknya sudah melewati masa lepas landas...
Published in
fisik@net (19 October 2006)
Segenap komunitas fisika energi tinggi menanti aktifasi awal mesin akselerator terbesar yang pernah dibuat umat manusia pada pertengahan tahun 2007. Akselerator dengan nama LHC (Large Hadron Collider) ini, sesuai dengan namanya, benar-benar berdimensi super raksasa. Yaitu berupa terowongan melingkar sepanjang 27 km pada kedalaman 50-175 meter di bawah tanah di perbatasan Swiss dan Perancis. Di antara akselerator dibangun 4 buah detektor (ditandai dengan lingkaran pada ganbar 1) dengan berbagai tujuan berbeda yang masing-masing memiliki diameter 5 kali tinggi orang dewasa. Dibangun sejak awal 1980 di kawasan pusat penelitian fisika energi tinggi CERN milik Uni Eropa, LHC merupakan hasil kolaborasi ribuan ilmuwan dari 43 negara dengan berbagai disiplin ilmu. Sehingga tak pelak, mesin raksasa ini ditahbiskan (ditandai dengan lingkaran di gambar 1) sebagai eksperimen terbesar dan termahal di dunia saat ini. LHC ditujukan untuk mencari partikel hipotetik yaitu partikel Higgs serta partikel baru lainnya selain yang telah diketahui dan diprediksi oleh teori Model Standar selama ini. Partikel Higgs ini merupakan satu-satunya partikel yang belum ditemukan dan diprediksi oleh trio Higgs-Brout-Engler pada tahun 70-an. Akibat proses produksi partikel Higgs memiliki probabilitas yang kecil, diperlukan akselerator dengan kemampun ekstra semacam LHC. LHC memiliki kemampuan memproduksi partikel dengan pusat massa sampai dengan 14 TeV (tera-electronvolt), yang merupakan hasil tumbukan antara proton dan positron dengan energi masing-masing 7 TeV. TeV merupakan satuan yang menunjukkan energi, 1 TeV setara dengan energi seekor nyamuk yang terbang. Namun ukuran proton hanya seper-triliun nyamuk. Sebuah proton dalam satu berkas akan berputar mengelilingi akselerator dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya sebanyak 11.245 putaran per-detik selama 10 jam. Sehingga total proton tersebut akan berjalan sejauh 10 milyar kilometer, lebih kurang setara dengan perjalanan ke Neptunus pulang pergi. Untuk mempercepat berkas proton dipergunakan 7000 magnet superkonduktor yang bekerja pada suhu -217 derajat Celcius (dipasang seputar lintasan di gambar 2). Dengan magnet jenis ini, diperoleh medan magnet yang luar biasa besar (8 Tesla) untuk mampu menjaga berkas proton tetap pada lintasannya. Sebagai ilustrasi, bila dipergunakan magnet konvensional akan diperlukan lintasan sepanjang 120 kilometer ! Dimanakah urgensi eksperimen semacam ini, yang menghabiskan dana dan sumber daya sedemikian besar ? Pertanyaan mendasar semacam ini, di era modern saat ini harus dijawab oleh para ilmuwan. Untuk itulah bila mengunjungi situs CERN (http://www.cern.ch) hal pertama yang ditampilkan adalah public-relation untuk publik. Disini diberikan detail penjelasan yang bermuara pada keinginan untuk mengetahui lebih jauh hukum alam semesta, yang kelak diharapkan bisa meningkatkan peradaban umat manusia. Pendekatan semacam ini mutlak dilakukan sebagai bentuk pertanggung-jawaban dan justifikasi atas pemakaian dana publik, berapapun itu besarnya. Hal ini penting, mengingat eksperimen ilmiah tidak selalu berakhir dengan happy-ending. Ada kalanya, dan malah seringkali, eksperimen tidak berhasil mendapatkan apa-apa. Meski kolaborasi LHC melibatkan ribuan ilmuwan, termasuk para teoritikus seperti penulis yang bergabung dalam Working Group LHC, semua kemungkinan bisa terjadi. Sebagai teoritikus, yang juga membuat salah satu Teori Penyatuan Agung (Grand Unified Theory, GUT) seperti telah dipublikasikan di Physical Review D71 (2005) 095013, beban moral semacam ini sangatlah terasa. Selama pertemuan yang sedang diikuti penulis sejak pertengahan September ini, dibicarakan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Namun tentu saja, semua teori tidak bisa dijamin benar, karena teori seyogyanya hanyalah penjelasan atas kemungkinan yang bisa terjadi berdasarkan asumsi dan pengetahuan yang dimiliki semacam ini. Dilain pihak eksperimen semacam LHC ditujukan untuk menguji kebenaran aneka teori yang ada, sehingga bisa diperoleh teori yang paling "mendekati kebenaran". Demikian juga dengan teori GUT penulis yang berbasis simetri SU(6) dan mensyaratkan ada beberapa jenis partikel Higgs, tidak hanya satu seperti diprediksi oleh Model Standar. Dengan dimulainya eksperimen di LHC tahun depan, dalam beberapa tahun kita akan melihat apakah model GUT pertama made-in Indonesia (bahkan Asia Tenggara dan Australia( ini akan bertahan atau tidak... Catatan : seluruh gambar berasal dari CERN LHC Project.
Published in DM Corner (15 Agustus 2006, Philips Kokoh Prasetyo) Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong pertumbuhan data di dunia. Berbagai fenomena alam semakin mudah diobservasi dan didokumentasikan. Keberadaan data sebagai nyawa dari tumbuh dan berkembangnya teknologi menjadi sangat mudah diperoleh. Apalagi perkembangan teknologi hardware dan software yang semakin pesat dan semakin murah, membuat proses dokumentasi menjadi semakin mudah. Faktor-faktor ini akhirnya menyebabkan terjadinya ?ledakan data? di berbagai bidang. Misalnya kalau di biologi, pertumbuhan pesat data genome dapat dilihat di situs genbank (http://www.ncbi.nih.gov/Genbank/genbankstats.html) Sedangkan informasi yang berupa teks, pertumbuhannya tidak kalah pesat. Di situs Medline, jumlah abstrak yang didokumentasikan tahun 2003 dilaporkan sekitar 12 juta. Kalau satu abstrak terdiri dari 200 kata, maka sekitar 2.4 milyar kata terekam di Medline. Data dan teks yang melimpah ini tidak akan ada artinya, bila tidak ada metode komputasi efektif yang mampu mengolah data berskala besar, dan menggali informasi terpendam di dalamnya. Datamining adalah solusi yang ditawarkan oleh teknologi komputasi agar informasi yang selama ini terpendam di tumpukan data itu dapat digali dan dimanfaatkan. Aplikasi datamining sangat luas dan terdapat di berbagai bidang. Bagi pelaku bisnis misalnya, datamining bermanfaat untuk mengetahui kecenderungan perilaku konsumen di supermarket maupun toko online, sehingga mereka dapat merancang strategi jitu untuk meningkatkan pelayanan pada konsumen. Pentingnya data dan teknologi datamining ini telah dirasakan oleh kalangan iptek Indonesia. Upaya penyediaan data ilmiah, misalnya dengan pengadaan mirror scientific data (L.T. Handoko dkk.) yang beralamatkan di http://www.arsip.lipi.go.id/. Beberapa data penting di bidang bioteknologi, bioinformatika, dan fisika seperti GenBank, Protein Data Bank (PDB), Particle Data Group (PDG), telah dapat diakses mudah dari Indonesia. Walau masih terbatas, tapi setidaknya telah dimulai upaya untuk mempermudah akses komunitas Indonesia ke berbagai data ilmiah penting. Bagaimana dengan teknologi datamining ? Akhir-akhir ini seminar, pelatihan, workshop mengenai datamining telah dilakukan di berbagai instansi, antara lain STTTelkom, ITB, Politeknik ITS, dsb. Ini adalah berita yang menggembirakan, dan menunjukkan bahwa potensi datamining telah mulai diperhatikan di Indonesia. Namun demikian, upaya untuk menyelenggarakan seminar berbasis internet di bidang ini masih dirasakan kurang kalau tidak dapat dikatakan belum pernah dilakukan oleh komunitas internet Indonesia. Padahal umumnya kalangan mahasiswa, peneliti dan praktisi teknologi di Indonesia telah terbiasa berkomunikasi lewat internet, dan persentase mereka cukup besar. Menurut Onno Purbo porsi diskusi keilmuan di internet berada pada kisaran 19% dari keseluruhan posting di internet. Angka ini termasuk jumlah yang signifikan, dan menempati peringkat kedua setelah posting yang sifatnya silaturahmi (21.9%). Pornografi yang selama ini dikhawatirkan ternyata berada pada prosentase yang lebih kecil yaitu 12.9%. Penelitian Onno yang dimuat di situs ilmukomputer.com ini, memberikan harapan segar bahwa ternyata perhatian masyarakat terhadap perkembangan iptek cukup besar. Dalam hal ini, komunitas softcomputing Indonesia (sc-ina@yahoogroups.com) dan komunitas datamining Indonesia (http://groups.yahoo.com/group/indo-dm) bekerja sama menyelenggarakan e-kolokium bertemakan datamining dan text-mining, yang akan disajikan oleh dua peneliti Indonesia yang aktif melakukan riset di bidang ini. Jadwal dan tema presentasi adalah sbb:
Makalah presentasi dan diskusi (tanya jawab) akan diforward ke dua milis (indo-dm@yahoogroups.com & sc-ina@yahoogroups.com). Dengan mengikuti kegiatan ini diharapkan peserta dapat memahami konsep teknologi datamining dan text mining, yang mungkin akan bermanfaat bagi riset dan bidangnya masing-masing. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi perkembangan iptek di Indonesia. Alamat milis :
Published in
Berita Iptek (31 Juli 2006, Romi Satria Wahono)
Sejak akhir tahun 2005, kebetulan saya diminta membantu Kementrian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) dalam kegiatan pembuatan buku putih penelitian dan pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia. Sebenarnya kegiatan KNRT untuk pembuatan buku putih tidak hanya dalam bidang TIK, tetapi juga beberapa bidang lain yang disebut dengan 6 bidang prioritas pembangunan Iptek 2005-2025, yang terdiri dari:
Dan pada tanggal 26 Juli 2006 diadakan acara penyempurnaan draft final buku putih untuk ke 6 bidang diatas (download), dimana Menristek (pak Kusmayanto Kadiman) dalam keynote speechnya memaparkan beberapa panduan dan filosofi kenapa buku putih harus ada. Tentu dalam tulisan ini saya tidak akan mengupas isi buku putih ke 5 bidang lain selain TIK, karena tugas saya memang hanya di buku putih TIK. Ada satu catatan menarik bahwa sedikit perdebatan hangat terjadi pada pertemuan tanggal 26 Juli 2006, khususnya tentang posisi buku putih ini sendiri. Pak Kusmayanto menyebut bahwa muara kerangka pikir buku putih berasal dari Jakstranas Iptek 2005-2009 (download) dan Agenda Riset Nasional (ARN) . Sedangkan pemikiran rekan-rekan penyusun ARN, bahwa justru ARN yang seharusnya disusun berdasarkan Buku Putih, karena lingkup tahun buku putih yang lebih panjang yaitu 2005-2025. Well, kedua pemikiran ini berlandaskan pada dokumen yang resmi, meskipun saya sendiri kurang jelas, mana madzab yang lebih shohih ;)
Penyusunan buku putih yang lengkapnya bernama ~Buku Putih Penelitian Pengembangan dan Penerapan Iptek Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi tahun 2005-2025~, sempat tertatih-tatih dan mengalami beberapa pergantian tim nara sumber. Saya mengikuti beberapa pertemuan yang diadakan di Jakarta akhir tahun 2005 dan kemudian camp selama 2 hari di Bandung di awal tahun 2006. Tim yang terdiri dari 22 orang, cukup lengkap dan berimbang karena ada wakil dari KNRT (pak Engkos Koswara dan pak Richard Mengko), LIPI (pak Tigor Nauli, pak L.T. Handoko, pak Mashuri dan saya sendiri), Depkominfo (pak Ashwin Sasongko dan pak Hadwi Sanjoyo), BPPT (pak Sulistyo dan pak Hary Budiarto), dari Universitas ada pak Abdullah Alkaf (ITS), ada juga wakil dari BATAN, LAPAN, dan yang menarik diundang juga beberapa wakil vendor misalnya pak Harry Kaligis (Sun Microsystems) dan pak Goenawan Lukito (Oracle). Saya secara pribadi juga ingin memberi applaus khusus kepada pak Agus Sediadi, pak Sabartua Tampubolon, pak Kemal Prihatman dan teman-teman di KNRT yang bekerja secara underground menyusun dan mengedit narasi sehingga berbentuk draft yang matang.
Tentu dalam pembahasan terjadi tarik ulur dan diskusi hangat, yang saya pikir terjadi karena pengaruh beragamnya latar belakang bidang pendidikan, core competence dan institusi tempat kerja. Pengaruh lain adalah seperti saya duga di awal, sangat sulit membuat grand design penelitian sampai 25 tahun ke depan untuk bidang yang sangat (terlalu) cepat berkembang seperti TIK. Sampai detik inipun saya belum yakin 100% bahwa poin-poin yang disusun sudah menggambarkan peta penelitian yang sebaiknya dilakukan sampai 2025 di Indonesia. Saya pikir sifat buku putih ini lebih dinamis dan memungkinkan terjadinya revisi ketika kebutuhan dan teknologi berkembang di luar lingkup yang dibahas di buku putih. Draft awal pada pertemuan di Jakarta diperbaiki secara menyeluruh dengan mengubah format dan poin-poin utama pembahasan pada pertemuan (camp) 2 hari di Bandung.
Saya mencatat hal menarik dari buku putih TIK ini, yang pertama bahwa hasil penelitian TIK di Indonesia diharapkan mampu berperan dalam:
Dapat kita simpulkan bahwa para peneliti bidang TIK diharapkan lebih melihat user needs (kebutuhan pengguna atau stakeholder), lebih membumi dan memprioritaskan penelitian ke arah mencari solusi kebutuhan riil masyarakat. Tentu peneliti bidang TIK akan semakin sibuk karena disamping harus memilih tema penelitian yang siap terap untuk masyarakat, juga unggul dan dapat bersaing secara internasional, dan apabila diperlukan dapat membantu mewujudkan sistem pemerintahan yang bersih.
Bahasa lainnya, penelitian yang dilakukan harus menjawab kepentingan beberapa stakeholder, yaitu:
Kemudian apa prioritas tema penelitian TIK yang direkomendasikan dalam buku putih tersebut? Ada 5 prioritas utama yang masing-masing memiliki bidang garapan seperti di bawah:
Informasi lengkap masing-masing tema dapat didownload langsung dari draft buku putih yang ada di situs KNRT
(download)
Di Indonesia sebenarnya dokumen-dokumen semacam Jakstranas Iptek, ARN dan buku putih ini masih menyisakan pekerjaan rumah. Diantaranya yang paling mencolok adalah bagaimana kita bisa mensinkronkan arah penelitian dan pengembangan, karena beberapa kementrian maupun departemen lain juga membuat kajian, kebijakan dan buku putih yang meskipun bertema sama tetapi sering isinya berbeda dan susah mencari titik temunya. Masalah kemudian adalah sosialisasi, mungkin perlu dipikirkan teknik sosialisasi yang lebih efektif secara kualitas dan kuantitas, karena seminar dan workshop sepertinya agak kurang efektif dalam proses diseminasi informasi dari kebijakan-kebijakan pemerintah.
Draft dokumen buku putih ini dapat didownload melalui situs http://www.ristek.go.id. Terutama bagi peneliti yang bergerak di bidang TIK, mudah-mudahan bisa menjadi bahan rujukan dalam penentuan tema dan prioritas penelitian. Saat ini KNRT masih membuka diri untuk menerima masukan berhubungan dengan buku putih ini, masukan dapat dilayangkan melalui URL:
disini.
Published in
Kompas (Juni 2006)
Apa perbedaan antara Finlandia dengan Indonesia? Tentu banyak sekali perbedaan antara keduanya. Yang jelas banyak sekali pembalap ~ pembalap hebat berasal dari Negara skandinavia ini seperti Mika Hakkinen dan Kimi Raikkonen dari ajang balap Formula 1 ataupun Tommi Makinen dari ajang World Rally Championship (WRC). Jika di Indonesia mungkin hanya Ananda Mikola yang paling menonjol di dunia balap.
Selain menghasilkan banyak pembalap ~ pembalap hebat kelas dunia, Finlandia memang dikenal dengan industri telepon seluler nomor satu dunia, Nokia. Tentu orang di Indonesia (terutama pemakai telepon seluler) tidak ada yang tidak kenal dengan Nokia. Keunggulan Nokia dengan berbagai inovasi, kemajuan teknologi, dan daya tarik komersial harus diakui telah membuat Finlandia unggul atau setara dengan Negara ~ Negara yang selama ini dikenal berteknologi maju, seperti Jepang, Jerman, maupun Amerika Serikat.
Ada beberapa aspek yang menyebabkan Finlandia kini sejajar dengan Negara ~ Negara maju lainnya. Salah satu aspek yang menyebabkan Finlandia kini memiliki industri kelas dunia seperti Nokia adalah komitmen mereka terhadap riset (penelitian) dan pengembangan. Dengan riset dan pengembangan, terutama dalam menghasilkan produk ~produk yang bernilai tambah dan mempunyai daya saing global, Finlandia diyakini bisa tampil lebih mantap dalam persaingan pasar dunia.
Dengan komitmennya tersebut, konsekuensinya anggaran untuk riset dan pengembangan cukup tinggi yaitu sekitar 3,5% - 4% dari produk domestic bruto. Sekitar 5,5 miliar euro atau sekitar 60,5 triliun rupiah, sebuah angka yang cukup besar untuk Indonesia.
Aspek kedua adalah bahwa tingkat korupsi yang sangat rendah di Finlandia. Berdasarkan indeks yang dikeluarkan majalah The Economist pada tahun 2001, menempatkan Finlandia pada peringkat pertama Negara paling tidak korup sedangkan Indonesia berada pada peringkat 88 dari total 91 negara. Di Finlandia, jangankan korupsi, berbohong saja sudah tidak disukai rakyat. Hal ini seperti yang terjadi pada kasus mundurnya Perdana Menteri (PM) perempuan pertama Finlandia, Anneli Jaatteenmaki. PM perempuan tersebut mundur pada bulan Juni 2003 setelah dituduh berbohong kepada parlemen, dan rakyat menyangkut kebocoran informasi politik yang peka selama kampanye. Coba bandingkan dengan keadaan di Indonesia. Sudah menjadi tersangka pun kadang tidak mau mundur dari jabatannya.
Aspek nol korupsi yang diakumulasikan dengan kemampuan riset dan pengembangan (R&D) yang hebat membuat daya saing bisnis maupun daya saing Finlandia secara umum berada di posisi teratas di antara Negara ~ Negara di dunia. Untuk indeks daya saing bisnis, pada tahun 2005, Finlandia berada pada peringkat kedua di bawah Amerika serikat, diikuti berikutnya Jerman, Denmark, dan Singapura. Sedangkan untuk indeks daya saing pertumbuhan pada tahun yang sama Finlandia berada pada peringkat pertama diikuti Amerika Serikat, Swedia, Denmark, dan Taiwan.
Apa yang terjadi di Finlandia ternyata hampir bertolak belakang dengan kondisi yang terjadi di Indonesia. Di Indonesia, kegiatan riset dan pengembangan tidak seperti yang terjadi di Finlandia. Di samping terbatasnya sarana dan prasarana untuk riset dan pengembangan komitmen pemerintah terhadap riset dan pengembangan juga dipertanyakan karena anggaran untuk riset dan pengembangan sangat kecil.
Salah satu lembaga riset dan pengembangan di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong, Jawa Barat, fasilitasnya serbaterbatas, dan gedungnya tampak suram tak terpelihara. Gaji atau penghargaan yang diberikan kepada peneliti pun tidak layak, sehingga tidak banyak para peneliti dari Indonesia mau mendedikasikan ilmunya demi kemajuan ilmu pengetahuan Indonesia kecuali mereka ~ mereka yang mempunyai idealisme tinggi demi kemajuan bangsa Indonesia dan dihargai di mata dunia.
Meskipun dengan kondisi sarana dan prasaran yang serbaterbatas dan gaji atau penghargaan kurang layak, saya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap para ilmuwan Indonesia yang memiliki komitmen tinggi untuk tetap menekuni riset, mengembangkan ilmu, dan mencapai reputasi di tingkat internasional seperti Adi Santoso, ahli biologi molekuler, yang sedang meneliti produksi human EPO yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah, LT Handoko, ahli fisika partikel, dan astronom Mezak Ratag.
Pengorbanan sejumlah ilmuwan yang bekerja tanpa lelah, tanpa terganggu oleh godaan jangka pendek dan konsumerisme tidak akan cukup untuk mengangkat ketertinggalan bangsa ini dalam bidang ilmu dak teknologi. Untuk menarik orang ~ orang muda terbaik di negeri ini menjadi ilmuwan dan peneliti memang harus dimulai dengan pemberian penghargaan yang pantas bagi kerja para peneliti. Dan persoalannya bukan pada ketiadaan uang di negeri ini, tetapi lebih kepada tidak adanya komitmen dan visi para pemimpin untuk membudayakan ilmu.
Seperti yang dikatakan oleh Wakil Ketua LIPI, Lukman Hakim, kepada kompas ~Di Korea orang bangga dengan keberhasilan ilmuwan mereka menciptakan robot HUBO Einstein yang bisa mengekspresikan sedih dan tertawa. Ketika ditanya apa manfaatnya, dijawab nothing. Di Indonesia bukan main orang melecehkan ilmuwan. Kerja yang mereka lakukan dinilai tidak ada gunanya.~
Berikutnya berbicara mengenai korupsi di Indonesia. Jika di Finlandia tingkat korupsi sangat kecil, bahkan bisa dikatakan nol korupsi, di Indonesia korupsi sudah merajalela dimana ~ mana. Hampir di semua aspek kehidupan tidak lepas dari praktek korupsi. Bahkan mungkin korupsi sudah menjadi ~budaya~ di Indonesia. Sehingga sangat sulit sekali untuk memberantas praktek korupsi di Indonesia. Meskipun sudah ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sampai saat ini tingkat korupsi di Indonesia masih sangat tinggi dan koruptor ~ koruptor kelas kakap pun belum tersentuh oleh hukum.
Korupsi sudah mem~budaya~ di Indonesia. Oleh karena itu sangat sulit untuk mengubah ~budaya~ buruk tersebut, karena sebagaimana kita tahu bahwa untuk mengubah sesuatu yang sudah menjadi budaya masyarakat tertentu sangat sulit. Mungkin dibutuhkan waktu hingga satu generasi untuk menghilangkan sama sekali ~budaya~ korupsi dari negeri ini. Itu pun jika generasi berikutnya tidak mengikuti ~budaya~ tersebut.
Jika kedua aspek tersebut (komitmen dan visi yang jelas terhadap riset dan pengembangan dan nol korupsi) belum dimiliki negeri ini, jangan bermimpi jika Indonesia ingin seperti Finlandia yang sudah bisa sejajar dengan Negara ~ Negara maju lainnya di dunia. Mungkin untuk mengurangi jumlah korupsi di negeri ini dapat dimulai dengan hal ~ hal kecil seperti jujur pada diri sendiri dan orang lain sehingga tercipta saling percaya satu sama lain. Dan masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Ayo!!!Apa perbedaan antara Finlandia dengan Indonesia? Tentu banyak sekali perbedaan antara keduanya. Yang jelas banyak sekali pembalap ~ pembalap hebat berasal dari Negara skandinavia ini seperti Mika Hakkinen dan Kimi Raikkonen dari ajang balap Formula 1 ataupun Tommi Makinen dari ajang World Rally Championship (WRC). Jika di Indonesia mungkin hanya Ananda Mikola yang paling menonjol di dunia balap.
Selain menghasilkan banyak pembalap ~ pembalap hebat kelas dunia, Finlandia memang dikenal dengan industri telepon seluler nomor satu dunia, Nokia. Tentu orang di Indonesia (terutama pemakai telepon seluler) tidak ada yang tidak kenal dengan Nokia. Keunggulan Nokia dengan berbagai inovasi, kemajuan teknologi, dan daya tarik komersial harus diakui telah membuat Finlandia unggul atau setara dengan Negara ~ Negara yang selama ini dikenal berteknologi maju, seperti Jepang, Jerman, maupun Amerika Serikat.
Ada beberapa aspek yang menyebabkan Finlandia kini sejajar dengan Negara ~ Negara maju lainnya. Salah satu aspek yang menyebabkan Finlandia kini memiliki industri kelas dunia seperti Nokia adalah komitmen mereka terhadap riset (penelitian) dan pengembangan. Dengan riset dan pengembangan, terutama dalam menghasilkan produk ~produk yang bernilai tambah dan mempunyai daya saing global, Finlandia diyakini bisa tampil lebih mantap dalam persaingan pasar dunia.
Dengan komitmennya tersebut, konsekuensinya anggaran untuk riset dan pengembangan cukup tinggi yaitu sekitar 3,5% - 4% dari produk domestic bruto. Sekitar 5,5 miliar euro atau sekitar 60,5 triliun rupiah, sebuah angka yang cukup besar untuk Indonesia.
Aspek kedua adalah bahwa tingkat korupsi yang sangat rendah di Finlandia. Berdasarkan indeks yang dikeluarkan majalah The Economist pada tahun 2001, menempatkan Finlandia pada peringkat pertama Negara paling tidak korup sedangkan Indonesia berada pada peringkat 88 dari total 91 negara. Di Finlandia, jangankan korupsi, berbohong saja sudah tidak disukai rakyat. Hal ini seperti yang terjadi pada kasus mundurnya Perdana Menteri (PM) perempuan pertama Finlandia, Anneli Jaatteenmaki. PM perempuan tersebut mundur pada bulan Juni 2003 setelah dituduh berbohong kepada parlemen, dan rakyat menyangkut kebocoran informasi politik yang peka selama kampanye. Coba bandingkan dengan keadaan di Indonesia. Sudah menjadi tersangka pun kadang tidak mau mundur dari jabatannya.
Aspek nol korupsi yang diakumulasikan dengan kemampuan riset dan pengembangan (R&D) yang hebat membuat daya saing bisnis maupun daya saing Finlandia secara umum berada di posisi teratas di antara Negara ~ Negara di dunia. Untuk indeks daya saing bisnis, pada tahun 2005, Finlandia berada pada peringkat kedua di bawah Amerika serikat, diikuti berikutnya Jerman, Denmark, dan Singapura. Sedangkan untuk indeks daya saing pertumbuhan pada tahun yang sama Finlandia berada pada peringkat pertama diikuti Amerika Serikat, Swedia, Denmark, dan Taiwan.
Apa yang terjadi di Finlandia ternyata hampir bertolak belakang dengan kondisi yang terjadi di Indonesia. Di Indonesia, kegiatan riset dan pengembangan tidak seperti yang terjadi di Finlandia. Di samping terbatasnya sarana dan prasarana untuk riset dan pengembangan komitmen pemerintah terhadap riset dan pengembangan juga dipertanyakan karena anggaran untuk riset dan pengembangan sangat kecil.
Salah satu lembaga riset dan pengembangan di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong, Jawa Barat, fasilitasnya serbaterbatas, dan gedungnya tampak suram tak terpelihara. Gaji atau penghargaan yang diberikan kepada peneliti pun tidak layak, sehingga tidak banyak para peneliti dari Indonesia mau mendedikasikan ilmunya demi kemajuan ilmu pengetahuan Indonesia kecuali mereka ~ mereka yang mempunyai idealisme tinggi demi kemajuan bangsa Indonesia dan dihargai di mata dunia.
Meskipun dengan kondisi sarana dan prasaran yang serbaterbatas dan gaji atau penghargaan kurang layak, saya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap para ilmuwan Indonesia yang memiliki komitmen tinggi untuk tetap menekuni riset, mengembangkan ilmu, dan mencapai reputasi di tingkat internasional seperti Adi Santoso, ahli biologi molekuler, yang sedang meneliti produksi human EPO yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah, LT Handoko, ahli fisika partikel, dan astronom Mezak Ratag.
Pengorbanan sejumlah ilmuwan yang bekerja tanpa lelah, tanpa terganggu oleh godaan jangka pendek dan konsumerisme tidak akan cukup untuk mengangkat ketertinggalan bangsa ini dalam bidang ilmu dak teknologi. Untuk menarik orang ~ orang muda terbaik di negeri ini menjadi ilmuwan dan peneliti memang harus dimulai dengan pemberian penghargaan yang pantas bagi kerja para peneliti. Dan persoalannya bukan pada ketiadaan uang di negeri ini, tetapi lebih kepada tidak adanya komitmen dan visi para pemimpin untuk membudayakan ilmu.
Seperti yang dikatakan oleh Wakil Ketua LIPI, Lukman Hakim, kepada kompas ~Di Korea orang bangga dengan keberhasilan ilmuwan mereka menciptakan robot HUBO Einstein yang bisa mengekspresikan sedih dan tertawa. Ketika ditanya apa manfaatnya, dijawab nothing. Di Indonesia bukan main orang melecehkan ilmuwan. Kerja yang mereka lakukan dinilai tidak ada gunanya.~
Berikutnya berbicara mengenai korupsi di Indonesia. Jika di Finlandia tingkat korupsi sangat kecil, bahkan bisa dikatakan nol korupsi, di Indonesia korupsi sudah merajalela dimana ~ mana. Hampir di semua aspek kehidupan tidak lepas dari praktek korupsi. Bahkan mungkin korupsi sudah menjadi ~budaya~ di Indonesia. Sehingga sangat sulit sekali untuk memberantas praktek korupsi di Indonesia. Meskipun sudah ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sampai saat ini tingkat korupsi di Indonesia masih sangat tinggi dan koruptor ~ koruptor kelas kakap pun belum tersentuh oleh hukum.
Korupsi sudah mem~budaya~ di Indonesia. Oleh karena itu sangat sulit untuk mengubah ~budaya~ buruk tersebut, karena sebagaimana kita tahu bahwa untuk mengubah sesuatu yang sudah menjadi budaya masyarakat tertentu sangat sulit. Mungkin dibutuhkan waktu hingga satu generasi untuk menghilangkan sama sekali ~budaya~ korupsi dari negeri ini. Itu pun jika generasi berikutnya tidak mengikuti ~budaya~ tersebut.
Jika kedua aspek tersebut (komitmen dan visi yang jelas terhadap riset dan pengembangan dan nol korupsi) belum dimiliki negeri ini, jangan bermimpi jika Indonesia ingin seperti Finlandia yang sudah bisa sejajar dengan Negara ~ Negara maju lainnya di dunia. Mungkin untuk mengurangi jumlah korupsi di negeri ini dapat dimulai dengan hal ~ hal kecil seperti jujur pada diri sendiri dan orang lain sehingga tercipta saling percaya satu sama lain. Dan masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Ayo!!!
Published in
Kompas (3 Mei 2006, P. Bambang Wisudo dan Indira Permanasari)
Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia yang hampir-hampir berada pada titik nadir, sejumlah ilmuwan tetap setia dan tekun bergulat dengan keilmuannya.
Mereka tidak menyerah dengan fasilitas yang serbaterbatas, gedung yang suram tak terpelihara, atau gaji dan penghargaan yang tidak layak. Adi Santoso, ahli biologi molekuler, merupakan salah satu di antaranya.
Pagi-pagi ia sudah ada di Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Cibinong, Jawa Barat. Begitu pagi ia datang sampai kadang-kadang harus membangunkan dulu petugas satpam untuk membukakan pintu gerbang.
Ia menghabiskan lebih dari 12 jam sehari di ruang kerja yang sekaligus dipergunakan sebagai laboratorium pribadinya. Ia sedang bergulat meneliti produksi human EPO yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah.
Penelitian ini akan bermanfaat bagi pengembangan obat untuk para penderita gagal ginjal, kanker, dan HIV/AIDS. Para peneliti yang terkait dengan produksi obat berbasis bioteknologi sedang berlomba-lomba melakukan riset seperti ini.
Adi baru meninggalkan laboratoriumnya sekitar pukul 19.00, saat suasana kantor dan science park LIPI Cibinong gelap gulita dan hampir-hampir tidak ada kehidupan lagi. Kawasan itu terkesan menyeramkan. Beberapa waktu lalu ditemukan mayat korban perampokan sepeda motor dengan luka parah di leher.
"Saya selalu keasyikan di laboratorium dan pulang malam. Kadang seram juga, apalagi pernah ada kasus pembunuhan di sini," ujar Adi santai.
Berkutat dengan sampel-sampel gen, bahan-bahan kimia, alat ukur, dan tabung-tabung kaca sudah menjadi kegairahan hidup Adi. Laboratorium pribadi itu dibangunnya sendiri, tahap demi tahap.
Sejak dikirim ke Amerika Serikat (AS) melalui program beasiswa OFP pada 1988 hingga memperoleh gelar doktor dan bekerja sebagai visiting fellow di AS total selama 15 tahun ia selalu berada dalam laboratorium yang nyaman, yang membuatnya betah bekerja dari pukul 08.00 sampai pukul 04.00 pagi berikutnya.
Laboratorium pribadinya sekarang, tempatnya mengerjakan riset yang menjadi salah satu andalan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, ia bangun sendiri. Pulang ke Indonesia pada 2003 hampir-hampir ia frustrasi. Tak ada ruangan, tak ada meja-kursi, tidak tahu persis apa yang bisa dilakukannya. Ia akhirnya mendapatkan sebuah ruangan tempat menyimpan biji-bijian yang menjadi sarang tikus.
Dari dana riset yang dilakukannya, ia pelan-pelan membangun ruang kerjanya menjadi laboratorium pribadi. Ia menggabungkan beberapa meja sekretaris menjadi kotak segi enam, di tengah-tengahnya rak kaca untuk menyimpan bahan-bahan kimia. Di sekelilingnya kursi- kursi plastik murahan. Sekilas seperti warung tegal. Akan tetapi, di ruangan itulah ada prospek muncul penemuan yang bernilai ekonomi tinggi.
Tahun 1999 perputaran uang dalam bidang tersebut mencapai 18 miliar dollar AS di dunia. Penelitian mengenai hormon mendominasi sekitar 51 persen, dan di dalamnya human EPO sumbangannya mencapai 21 persen. Angka itu mengalahkan insulin yang sebelumnya menjadi primadona penelitian di bidang ini.
Selama di AS Adi berkecimpung dalam riset ilmu dasar. Namun, ia mencoba bersikap realistis ketika pulang ke Indonesia.
Penghasilan yang diperoleh dari kerja kerasnya di Indonesia memang tidak ada artinya jika dibandingkan dengan yang diperolehnya di AS. Di sana ia memperoleh gaji sekitar 4.000 dollar AS atau Rp 36 juta setelah dipotong pajak.
Ia juga memperoleh asuransi kesehatan yang menjamin penuh semua biaya pengobatan. Di sini sebagai pegawai negeri ia mendapatkan gaji sekitar Rp 1,2 juta.
Selain itu, ia mendapatkan honor bulanan dari tiga proyek yang tengah dikerjakannya. Akan tetapi, itu juga tidak seberapa. Apalagi tiap malam, ia biasa mengajak makan malam sejumlah asisten peneliti sebelum diantarkannya ke rumah masing-masing.
Adi tidak sendiri. Ada sejumlah ilmuwan sains di Indonesia yang memiliki komitmen tinggi untuk tetap menekuni riset, mengembangkan ilmu, dan mencapai reputasi di tingkat internasional.
Keterbatasan tidak menghalangi orang-orang seperti fisikawan UI Terry Mart, ahli fisika partikel LT Handoko, dan astronom Mezak Ratag. Di bidang ilmu-ilmu sosial masih ada tokoh-tokoh seperti Thee Kian Wie dan Lie Tek Tjeng dari LIPI atau sejarawan Sartono Kartodirdjo yang sudah uzur.
Akan tetapi, pengorbanan sejumlah ilmuwan yang bekerja tanpa lelah, tanpa terganggu oleh godaan jangka pendek dan konsumerisme tidak akan cukup untuk mengangkat ketertinggalan bangsa ini dalam bidang ilmu dan teknologi. Untuk menarik orang-orang muda terbaik di negeri ini menjadi ilmuwan dan peneliti memang harus dimulai dengan pemberian penghargaan yang pantas bagi kerja para peneliti.
Tidak perlu seperti Menteri Federal Riset dan Sains Atta-ur- Rahman yang menuntut empat kali lipat gaji menteri untuk para peneliti. Andaikata saja gaji peneliti di Indonesia sama dengan gaji politisi di Senayan, kebangkitan ilmu dan teknologi di Indonesia tinggal menunggu waktu.
Persoalannya bukan pada ketiadaan uang di negeri ini, tetapi lebih kepada tidak adanya komitmen dan visi para pemimpin untuk membudayakan ilmu.
"Di Korea orang bangga dengan keberhasilan ilmuwan mereka menciptakan robot HUBO Einstein yang bisa mengekspresikan sedih dan tertawa. Ketika ditanya apa manfaatnya, dijawab nothing. Di Indonesia bukan main orang melecehkan ilmuwan. Kerja yang mereka lakukan dinilai tidak ada gunanya," kata Wakil Ketua LIPI Lukman Hakim.
Tidak satu pun orang berpendidikan meragukan bahwa kemajuan masa mendatang ditentukan oleh ilmu dan teknologi. Keputusan bangsa inilah yang akhirnya akan menentukan apakah Indonesia akan menjadi negara yang gagal atau sebaliknya, naik kelas menjadi bangsa yang disegani.
Published in
Koran Tempo (15 Februari 2006)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia untuk pertama kalinya menyelenggarakan sistem penerimaan calon pegawai negeri sipil secara online pada 2006.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia untuk pertama kalinya menyelenggarakan sistem penerimaan calon pegawai negeri sipil secara online pada 2006. Dinamai Sistem Informasi Penerimaan CPNS LIPI, yang memungkinkan pelamar melakukan pendaftaran, mengecek hasil verifikasi, dan mencetak kartu peserta ujian melalui situs web: http://cpns.lipi.go.id.
Formulir pendaftaran tersedia sejak 20 Desember 2005 hingga 15 Januari 2006. Pelamar diberi nomor lamaran yang unik beserta password untuk mengakses informasi terkait dengan lamarannya. Pelamar juga harus mengirimkan berkas--misalnya salinan ijazah dan transkrip nilai melalui pos--untuk dicocokkan oleh panitia dengan data yang terisi di formulir.
Peserta yang memenuhi syarat administrasi diumumkan di situs pada 4 Februari 2006. Pelamar tersebut harus mencetak kartu peserta ujian yang ada di situs untuk proses daftar ulang di kantor LIPI.
Menurut Kepala Biro Organisasi Kepegawaian LIPI Dr Siti Nurmaliati Priyono, "Sistem registrasi melalui Internet ini untuk memenuhi keinginan publik atas keterbukaan proses penerimaan."
Memang, sistem ini membatasi orang yang mampu mengakses Internet saja yang bisa memanfaatkannya. L.T. Handoko, yang bertanggung jawab atas sistem ini, mengatakan, "Syarat mutlak CPNS LIPI 2006 ini adalah orang yang melek komputer dan Internet."
Sistem ini, menurut Handoko, menutup kemungkinan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme karena tak ada campur tangan pihak lain selain pelamar.
Dari sekitar 33.281 formulir lamaran, berkas yang memenuhi syarat sebanyak 17.832. Setelah diverifikasi berdasarkan formasi dan nilai indeks prestasi kumulatif, sebanyak 4.301 pelamar berhak mengikuti tes tertulis. DODY
Published in
Koran Tempo (12 Februari 2006)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) periode 2005/2006 dengan komputerisasi sebagai jawaban atas keinginan publik akan transparasi atau keterbukaan.
"Penerimaan CPNS LIPI tahun ini memang jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Sistem registernya melalui internet untuk memenuhi keinginan publik atas keterbukaan atau transparansi proses penerimaan CPNS LIPI," kata Kepala Biro Organisasi Kepegawaian (BOK) LIPI Siti Nurmaliati Priyono di Jakarta, Sabtu (11/2).
Menurut dia, dengan komputerisasi tersebut, LIPI juga ingin meningkatkan kualitas pegawainya dengan ketatnya seleksi penerimaan.
Sementara itu penanggung jawab sistem komputer penerimaan CPNS LIPI LT Handoko mengatakan mekanisme komputerisasi LIPI mempunyai keunggulan yaitu mulai pendaftaran sampai proses pemanggilan ujian tertulis dilakukan melalui komputer (internet).
"Sistemnya itu register, pada register juga sudah ada rambu-rambunya. Kalau tidak sesuai maka ia tidak bisa masuk. Pendaftaran, foto, surat lamaran, kartu ujian tertulis semuanya lewat komputer," katanya.
Dengan cara itu, kata dia, tidak akan ada campur tangan pihak lain selain pelamar itu sendiri, sehingga bisa dikatakan bahwa praktek KKN benar-benar dapat dihindarkan.
Sistem komputerisasi, kata dia, mempunyai kelebihan karena berkas-berkas lamaran yang bertumpuk dapat dihindari. "Disamping itu sistem ini memberikan kemudahan bagi pelamar karena mereka tidak perlu mondar-mandir, antri dan bahkan berdesak-desakan hanya untuk mengambil kartu CPNS, semuanya tinggal klik," katanya.
Saat disinggung mengenai hanya orang-orang yang dapat mengakses komputer saja yang dapat ikut mendaftar di LIPI, dia mengatakan bahwa itu justru merupakan syarat mutlak CPNS LIPI 2006. "Kita membutuhkan CPNS yang maju, orang-orang yang tidak ketinggalan teknologi," katanya.
Data Biro Kepegawaian LIPI menyebutkan jumlah pelamar CPNS LIPI melalui internet sekitar 33.281 orang, kemudian untuk berkas melalui pos berjumlah 21.322 di mana setelah verifikasi yang memenuhi syarat ada 17.832.
Setelah dilakukan verifikasi berdasarkan formasi dan indeks prestasi komulatif (IPK) melalui komputer maka disepakati bahwa yang berhak mengikuti tes tertulis 4.301 orang .
Berdasarkan formasi dan izin Menteri Negara Pedayagunaan Aparatur Negara (PAN), LIPI berhak menyediakan 300 formasi. Untuk periode 2006 Pusat Penelitian Biologi LIPI paling banyak membutuhkan pegawai. Pengumuman kelulusan akan dilakukan pada 15 Maret 2006. (Ant/OL-06)
Published in
Pemda Sumut (12 February 2006)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) periode 2005/2006 dengan komputerisasi sebagai jawaban atas keinginan publik akan transparasi atau keterbukaan.
"Penerimaan CPNS LIPI tahun ini memang jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Sistem registernya melalui internet untuk memenuhi keinginan publik atas keterbukaan atau transparansi proses penerimaan CPNS LIPI," kata Kepala Biro Organisasi Kepegawaian (BOK) LIPI Siti Nurmaliati Priyono di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, dengan komputerisasi tersebut, LIPI juga ingin meningkatkan kualitas pegawainya dengan ketatnya seleksi penerimaan.
Sementara itu penanggung jawab sistem komputer penerimaan CPNS LIPI LT Handoko mengatakan mekanisme komputerisasi LIPI mempunyai keunggulan yaitu mulai pendaftaran sampai proses pemanggilan ujian tertulis dilakukan melalui komputer (internet).
"Sistemnya itu register, pada register juga sudah ada rambu-rambunya. Kalau tidak sesuai maka ia tidak bisa masuk. Pendaftaran, foto, surat lamaran, kartu ujian tertulis semuanya lewat komputer," katanya.
Dengan cara itu, kata dia, tidak akan ada campur tangan pihak lain selain pelamar itu sendiri, sehingga bisa dikatakan bahwa praktek KKN benar-benar dapat dihindarkan.
Sistem komputerisasi, kata dia, mempunyai kelebihan karena berkas-berkas lamaran yang bertumpuk dapat dihindari.
"Disamping itu sistem ini memberikan kemudahan bagi pelamar karena mereka tidak perlu mondar-mandir, antri dan bahkan berdesak-desakan hanya untuk mengambil kartu CPNS, semuanya tinggal klik," katanya.
Saat disinggung mengenai hanya orang-orang yang dapat mengakses komputer saja yang dapat ikut mendaftar di LIPI, dia mengatakan bahwa itu justru merupakan syarat mutlak CPNS LIPI 2006.
"Kita membutuhkan CPNS yang maju, orang-orang yang tidak ketinggalan teknologi," katanya.
Data Biro Kepegawaian LIPI menyebutkan jumlah pelamar CPNS LIPI melalui internet sekitar 33.281 orang, kemudian untuk berkas melalui pos berjumlah 21.322 di mana setelah verifikasi yang memenuhi syarat ada 17.832.
Setelah dilakukan verifikasi berdasarkan formasi dan indeks prestasi komulatif (IPK) melalui komputer maka disepakati bahwa yang berhak mengikuti tes tertulis 4.301 orang.
Berdasarkan formasi dan izin Menteri Negara Pedayagunaan Aparatur Negara (PAN), LIPI berhak menyediakan 300 formasi. Untuk periode 2006 Pusat Penelitian Biologi LIPI paling banyak membutuhkan pegawai. Pengumuman kelulusan akan dilakukan pada 15 Maret 2006.
Published in
Suara Merdeka (12 February 2006)
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penerimaan
Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) periode 2005/2006 dengan komputerisasi. Sistem ini
memiliki banyak kelebihan dibanding cara manual.
"Penerimaan CPNS LIPI tahun ini memang jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Sistem registernya melalui internet untuk memenuhi keinginan publik atas keterbukaan atau transparansi proses penerimaan CPNS LIPI," kata Kepala Biro Organisasi Kepegawaian (BOK) LIPI Siti Nurmaliati Priyono di Jakarta, Sabtu (11/2).
Menurut dia, dengan komputerisasi tersebut, LIPI juga ingin meningkatkan kualitas pegawainya dengan ketatnya seleksi penerimaan.
Sementara itu penanggung jawab sistem komputer penerimaan CPNS LIPI LT Handoko
mengatakan mekanisme komputerisasi LIPI mempunyai keunggulan yaitu mulai pendaftaran sampai proses pemanggilan ujian tertulis dilakukan melalui komputer (internet).
"Sistemnya itu register, pada register juga sudah ada rambu-rambunya. Kalau tidak sesuai maka ia tidak bisa masuk. Pendaftaran, foto, surat lamaran, kartu ujian tertulis semuanya lewat komputer," katanya.
Dengan cara itu, kata dia, tidak akan ada campur tangan pihak lain selain pelamar itu sendiri, sehingga bisa dikatakan bahwa praktek KKN benar-benar dapat dihindarkan.
Sistem komputerisasi, kata dia, mempunyai kelebihan karena berkas-berkas lamaran yang bertumpuk dapat dihindari. "Disamping itu sistem ini memberikan kemudahan bagi pelamar karena mereka tidak perlu mondar-mandir, antri dan bahkan berdesak-desakan hanya untuk mengambil kartu CPNS, semuanya tinggal klik," katanya.
Saat disinggung mengenai hanya orang-orang yang dapat mengakses komputer saja yang dapat ikut mendaftar di LIPI, dia mengatakan bahwa itu justru merupakan syarat mutlak CPNS LIPI 2006. "Kita membutuhkan CPNS yang maju, orang-orang yang tidak ketinggalan teknologi," katanya.
Data Biro Kepegawaian LIPI menyebutkan jumlah pelamar CPNS LIPI melalui internet sekitar 33.281 orang, kemudian untuk berkas melalui pos berjumlah 21.322 di mana setelah verifikasi yang memenuhi syarat ada 17.832.
Setelah dilakukan verifikasi berdasarkan formasi dan indeks prestasi komulatif (IPK) melalui komputer maka disepakati bahwa yang berhak mengikuti tes tertulis 4.301 orang
.
Berdasarkan formasi dan izin Menteri Negara Pedayagunaan Aparatur Negara (PAN), LIPI berhak menyediakan 300 formasi. Untuk periode 2006 Pusat Penelitian Biologi LIPI paling banyak membutuhkan pegawai. Pengumuman kelulusan akan dilakukan pada 15 Maret 2006.
Published in
Nakita (354/VII, 14/01/2006)
Setiap Bulan Pasti Beli (Laksana Tri Handoko (37), ayahanda Arsya Asharhadi (7 tahun, kelas 2 SD Islam Al-Fikri, Depok))
"Sejak satu tahun lalu anak saya gemar bermain HotWheels. Setiap bulan saat kami belanja bulanan dia pasti mampir ke konter khusus untuk membeli mobil-mobilan itu. Jumlah koleksinya sekarang 24 buah. Ada mobil balap, sedan, mobil futuristik dan lainnya. Selain itu, Arsya masih memiliki koleksi mobil-mobilan lain yang jumlah keseluruhannya hampir 100 buah.
Kegemaran Arsya itu menurun dari saya karena saya senang sekali dengan dunia otomotif. Kalau saya sedang membaca majalah otomotif Arsya selalu nimbrung. Senangnya Arsya pada HotWheels ada manfaatnya kok. Selain menjadi sarana hiburan, dan memuaskan minatnya, juga bagus untuk memperluas wawasan dan sosialisasinya.
Published in
Faculty of Integrated Arts and Sciences, Hiroshima Website
Published in
Tempo (44/XXXIV, 26/12/2005 - 01/01/2006, Yandhrie Arvian - Sunudyantoro - Ayu Cipta)
Ribuan kecelakaan di jalan raya terjadi akibat pecah ban. Penyebabnya sepele tapi sering dilupakan pada saat liburan seperti sekarang ini.
TITIK-titik keceriaan meletik di wajah-wajah yang berlindung di dalam bus Arimbi Jaya. Joyo, 30 tahun, ada di antara deretan kepala yang penuh senyum serta bangku-bangku usang bus.
Sabtu pagi pada awal December itu adalah hari melepas segala kesumpekan hidup buat Joyo dan kawan-kawannya, yang bekerja di pabrik speaker. Kecilnya upah untuk sementara dilupakan dalam laci-laci kantor serikat buruh. Di kepala mereka cuma melayang-layang bayangan aroma kebun teh dan dinginnya udara kawasan Puncak, Bogor. Itulah hari pelesiran bagi 48 karyawan PT Inti Karya Utama.
Dari wilayah pinggiran Tangerang, bus pun meluncur dengan memboyong serta tawa dan kebahagiaan Joyo dan teman-teman. Tapi gelak tawa itu hanya berlangsung dalam hitungan menit. Baru beberapa ratus meter lepas dari pintu tol Cikupa, Tangerang, menuju Jakarta, tiba-tiba terdengar suara letusan. Dar!
Sejurus kemudian mereka terkejut melihat sebuah truk penuh pipa besi, dari arah berlawanan, oleng, menerobos pagar pembatas tol dan akhirnya terkapar di jalur tol yang berlawanan. Posisinya persis melintang di depan bus Arimbi yang melaju kencang.
"Awas!" suara Joyo melengking. Tapi Dulgani, sopir Arimbi, tak sempat menginjak rem. Tabrakan hebat pun terjadi saat pagi baru mekar. Delapan orang tewas seketika. Di antara puing-puing kaca dan jok bus terserak korban yang merintih-rintih. Joyo selamat.
Petugas Jasa Marga segera turun tangan. Setelah mengevakuasi korban, mereka menyelidiki asal-muasal tabrakan. Rupanya, truk mencelat karena pecah ban, yang letusannya terdengar sebelum truk menghantam pagar tol.
Kecelakaan yang terjadi pada awal December itu menambah deret petaka akibat pecah ban. Sepanjang 2004, menurut hitungan Jasa Marga, telah terjadi 673 kecelakaan di jalan tol akibat pecah ban. Bahkan, dalam lima tahun terakhir, kecelakaan itu berjumlah 3.287 kasus. Jumlah itu meliputi seluruh ruas tol yang ada di Jawa dan tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa, Sumatera Utara.
"Jumlah kecelakaan di jalan tol akibat ban meletus menempati urutan kedua, setelah kelalaian pengemudi," kata Zuhdi Siregar, Kepala Humas PT Jasa Marga (Persero).
Ironisnya, meskipun faktor ini sering menjadi pencabut nyawa, banyak pengemudi yang tak acuh terhadap kondisi ban. Banyak pengemudi yang menjalankan mobil, meskipun ban sedikit kempis.
Padahal, menurut Suwito Sumargo, pakar ban dari Surabaya, kebanyakan penyebab ban meletus di jalan tol adalah akibat tekanan angin kurang. "Sehingga ban tidak kuat lagi menahan beban, lalu pecah," kata Suwito, Kepala Bidang Standardisasi dan Pelatihan Ikatan Teknisi Otomotif Indonesia cabang Jawa Timur.
Mengapa ban kurang angin menjadi gampang pecah? Pria yang menggeluti ban sejak SMP itu punya jawabannya. Kata dia, bila tekanan angin kurang, dinding ban bagian bawah akan menggelembung. Namun, ketika ban bagian bawah ini berputar ke atas, dinding ban kembali normal. Bila ban berputar cepat, gerakan menggelembung dan menutup akan terjadi bergantian dengan cepat. Gerakan inilah yang membuat ban mudah retak, lapisan benang putus, dan akhirnya, buum!
Penyebab lain pecah ban adalah panas. Menurut L.T. Handoko, pakar fisika teori dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), panas di dalam ban akan meningkat karena gaya gesek antara permukaan jalan dan telapak ban. Semakin cepat ban berputar, udara di dalam ban semakin panas. Bahkan, tak jarang suhunya bisa mencapai 50 hingga 60 derajat Celsius.
"Suhu yang meningkat itu akan membuat udara memuai dan tekanan angin di ban naik," kata Handoko, yang juga penggemar otomotif. Udara yang memuai di dalam ban akan berbahaya bila kondisi ban sudah tipis atau terdapat tambalan.
Di jalan berlapis beton seperti di tol Jakarta-Bandung, Cipularang, gaya gesek permukaannya akan lebih besar ketimbang jalan aspal. Gaya gesek besar itu bisa mendatangkan petaka. Gesekan itu bukan hanya membuat ban cepat tipis tapi juga bisa menarik tambalan sehingga robek kembali. "Proses perobekan," kata Handoko, "akan semakin cepat bila mobil berkecepatan tinggi." Itulah yang membuat ban meletus.
Sebenarnya, cara mengatasi memanasnya suhu ban itu bisa dengan mengisikan nitrogen murni ke dalam ban dan bukan udara biasa. Bila seseorang mengisi ban dengan udara biasa, hakikatnya dia memasukkan nitrogen 70 persen, oksigen 20 persen, dan sisanya gas-gas lain.
"Sifat nitrogen murni itu cepat melepas panas," kata Handoko. Alhasil, ban berisi nitrogen tidak mudah panas. Ini cocok untuk sopir yang punya kebiasaan ngebut atau bepergian jauh.
Menurut Suwito, ban yang berisi nitrogen murni juga terasa lebih empuk ketimbang ban biasa. "Rasanya seperti efek pegas pada kasur busa," ujarnya. Hal ini karena molekul nitrogen lebih besar dan renggang ketimbang molekul oksigen. Besarnya ukuran molekul juga membuat nitrogen tak mudah menembus pori-pori ban. "Tak aneh jika ban nitrogen jarang kempis, kecuali tertusuk paku."
Sayangnya, kata Suwito, saat ini banyak pengendara yang cuek bebek terhadap kondisi ban. Mereka sering kali langsung memacu mobilnya tanpa memeriksa ban. Padahal, mengecek ban adalah hal vital, terutama saat bepergian jauh atau pelesiran di musim liburan seperti sekarang ini.
Published in
Hiroshima News (25 December 2005, Mie Hirota)
Published in
Pikiran Rakyat (15 December 2005, Muhtar Ibnu Thalab)
MESKI sama-sama sebagai pilar utama perkembangan sains modern, dalam praktiknya fisika teori dan bioscience adalah dua kajian ilmu tidak saling bersinggungan. Ada kesan, keduanya berjalan sendiri-sendiri, sesuai kaidah yang dimilikinya. Bahkan, dalam beberapa peristiwa, keduanya memperlihatkan wujud yang tak bersahabat. Dari sinilah muncul pertanyaan, mungkinkah keduanya bisa bekerja sama dan berkonvergensi pada level kuantum dan organisme elementer sehingga kelak akan muncul sebuah era biokuantum?
Pertanyaan inilah yang coba dicari jawabannya oleh Dr. Tri Laksana Handoko bersama koleganya di Grup Fisika Teoritik dan Komputasi Pusat Penelitian Fisika LIPI. Teori ke arah fusi dua ilmu dasar itu pun dipaparkan Handoko di depan peserta "Meeting of Indonesian Scientist in the 21st Century: Toward Bright and Brilliant Indonesia" di Widya Graha LIPI Jakarta, 18-19 November 2005. Puluhan ilmuwan hadir dan mendengarkan teori tersebut, termasuk Prof. Douglas Dean Osheroff, guru besar fisika Universitas Stanford, AS, yang juga peraih Nobel Fisika 1996.
Menurut Handoro, seluruh teori sains berbasis teori interaksi di fisika partikel. Teori interkasi ini sudah diaplikasikan sejumlah ilmuwan fisika sejak awal abad ke-20. Mereka mencoba menggali pemahaman baru dinamika organisme hidup elementer seperti DNA. Asumsinya, seluruh materi makroskopis pasti terbentuk dari materi mikroskopis. Atau dengan kata lain, teori pada level mikroskopis bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena makroskopis.
"Selama ini perkembangan ilmu hayati (bioscience) mengacu pada trial and error, semuanya selalu harus melalui percobaan karena tak tahu sifat dasar. Makanya, perkembangan ilmu hayati relatif lamban. Nah, dengan sifat dasar fisika pada level elementer, kita bisa memahami mekanisme organisme elementer dan fenomena organisme hidup bisa dijelaskan dan diprediksi dengan akurat," kata Handoko.
Pendekatan yang sama coba dilakukan Handoko dan grup fisikanya. Dalam hal ini, pendekatan dilakukan berbasis interaksi dan dinamika fluida non-linier. Handoko berhasil mengembangkan metoda baru penanganan dinamika fluida dengan metoda yang telah dikenal di fisika partikel. Dengan memodelkan DNA sebagai materi yang berada dalam suatu medium yang dimodelkan sebagai fluida, diperoleh penjelasan teoritik penurunan besaran amplitudo dinamika DNA yang berperilaku sebagai gelombang soliton.
"Hasil ini merupakan satu contoh kecil kemungkinan konvergensi antara fisika teori dan bioscience pada level kuantum (fisika) dan organisme elementer (ilmu hayati). Ini bahkan berpotensi kemungkinan integrasi antara keduanya," kata pria yang hobi jalan-jalan ini.
HANDOKO dilahirkan 7 Mei 1968 dan dibesarkan di Lawang, sebuah kota kecil dekat Malang, Jawa Timur. Sejak kecil ia sangat menyukai fisika sehingga tak heran nilai mata pelajaran tersebut selalu tinggi. Hal sebaliknya, ia kurang menyukai kimia dan biologi. "Mungkin karena kimia terlalu banyak praktikumnya, sedangkan fisika teori, tidak ada. Makanya, saya pilih fisika," kata Handoko.
Setelah lulus SMA, Handoko diterima di Departemen Fisika ITB. Namun, ia hanya tiga bulan mengenyam bangku kuliah di "kampus Ganesha" itu. Tawaran beasiswa dari Yayasan Habibie lebih menarik perhatiannya. Meninggalkan ITB, Handoko pun menghabiskan seluruh masa studinya di bidang fisika teori partikel elementer sejak S1 sampai dengan S3 di Jepang. Ia lulus S1 Fisika dari Universitas Kumamoto, Jepang (1993). Setelah itu, lulus S2 (1995) dan S3 (1998) Fisika Partikel Elementer Teoritik di Universitas Hiroshima, Jepang.
Tak hanya di kedua universitas tersebut, Handoko kemudian berkelana menuai pengalaman di sejumlah lembaga riset terkemuka di bidang fisika partikel. Sebut saja DESY di Hamburg (Jerman), ICTP Trieste (Italia), KEK Tsukuba (Jepang), dan CERN Jenewa (Swiss). Sampai saat ini ia masih terus melakukan interaksi dengan komunitas global. Termasuk menjadi anggota sejumlah organisasi profesi seperti Japan Physical Society (JPS), American Physical Society (APS), Japan Theoretical Particle Physicist Group, Himpunan Fisika Indonesia (HFI), dan Grup Fisikawan Teoritik Indonesia (GFTI). Karena itu, tidak mengherankan bila dalam setahun selalu beberapa kali ke luar negeri untuk melakukan kunjungan riset maupun seminar.
Handoko juga memimpin Grup Fisika Teoritik dan Komputasi Pusat Penelitian Fisika LIPI, yang merupakan grup penelitian ilmu dasar satu-satunya di lembaga riset pemerintah di Indonesia. Bersama anggota grup tersebut, Handoko melakukan riset berbasis pengetahuan di fisika partikel. Antara lain kajian teoritik fenomena non-linier, komputasi lanjut dan manajemen data selain bidang utamanya di fisika partikel.
Selain di LIPI, Handoko juga aktif di grup penelitian yang sama di Fisika Universitas Indonesia (UI). Grup penelitian tersebut berada di bawah Grup Fisika Nuklir dan Partikel. Grup penelitian di Fisika UI memfokuskan penelitian fisika partikel. Sedangkan grup penelitian di LIPI fokus pada komputasi dan manajemen data. Bahkan, bersama dengan salah satu mahasiswa S3-nya, Andreas Hartanto, Handoko telah mempublikasikan satu-satunya model Teori Penyatuan Agung (Grand Unified Theory) 'made-in ASEAN' dalam sejarah. Teori ini sudah dipublikasikan di jurnal terkemuka Physical Review D71 (095013) tahun ini.
Sejumlah penghargaan pun ia raih. Salah satunya adalah Habibie Award untuk Bidang Ilmu Dasar 2004. Selain itu, Handoko juga menerima penghargaan APICTA Indonesia untuk kategori Research & Development (2004) dan kategori Education & Training (2003). Sebelumnya, pada 2002 ia dinobatkan sebagai Peneliti Muda Indonesia untuk Bidang Ilmu Dasar.
Dengan prinsip open-minded dan tidak segan belajar hal baru bahkan dari mahasiswa, Handoko banyak berkiprah di bidang yang tampaknya "berbeda". Namun, dari yang "berbeda" itu menghasilkan aneka inovasi baru yang sebenarnya merupakan hasil aplikasi dari "pola pikir" dan pengetahuan dasar sebagai fisikawan teoritik. "Salah satunya adalah sistem database dan manajemen data yang telah diaplikasikan di aneka sarana ilmiah berbasis TI milik LIPI," jelas Handoko.
Jangan heran jika grup penulis di LIPI telah mendapatkan aneka penghargaan terkait TI, seperti APICTA 2003 dan 2004. Selain itu, grup tersebut juga menerima banyak mahasiswa tugas akhir dari jurusan informatika UI, STT Telkom, dan lain-lain. "Sampai-sampai bagi sebagian orang, saya lebih dikenal sebagai praktisi TI. Sebenarnya kajian terkait bioscience juga merupakan hasil interaksi aktif dengan mahasiswa S2 saya bernama A. Sulaiman," katanya.
Handoko sangat membanggakan para mahasiswanya. Bahkan kebanggaan tersebut lebih besar daripada terhadap karyanya sendiri. Ia mewajibkan seluruh mahasiswa S1 di bawah bimbingannya melanjutkan studi ke S2. Untuk kemudian melanjutkan studi ke luar negeri melalui aneka beasiswa yang diperjuangkan bersama untuk memperolehnya. Hasil pernikahannya dengan Laila Andaryani, seorang wartawan di sebuah majalah wanita ibu kota, Handoko dikaruniai seorang anak, Ashar Hadi (7).
Informasi lebih detail bisa dilihat di http://lt.handoko.net
Published in
Pikiran Rakyat (15 December 2005)
Fisika teori ? Bioscience ? Tentu siapapun, minimal pembaca setia media massa, sudah terbiasa mendengarnya. Tak pelak lagi, fisika teori yang merupakan kajian ilmu eksakta tertua telah jamak dikenal sebagai dasar dari semua peradaban manusia modern dewasa ini. Tak heran artikel populer fisika bertebaran di seantero dunia dengan topik beragam untuk berbagai tingkatan pembaca dan usia. Di Indonesia saja, setidaknya tercatat lebih kurang 500 artikel populer telah diterbitkan di berbagai media massa sejak tahun 2000 seperti tercatat di portal fisik@net (http://www.fisika.net). Ini masih ditambah dengan aneka buku populer untuk anak-anak serta aneka kegiatan lapangan, kompetisi fisika yang dimotori oleh kelompok Yohanes Surya dkk. Bahkan pada tahun-tahun terakhir ini seolah menjadi gelombang baru yang berpotensi mengubah cara pandang masyarakat awam terhadap fisika.
Dilain sisi, bioscience yang meliputi seluruh aspek kajian ilmu hayati (biologi, pertanian, kedokteran, dll) memiliki sejarah yang lebih panjang lagi, bahkan mungkin sejak awal keberadaan manusia. Manusia seolah ditakdirkan untuk selalu berupaya memahami diri dan mahkluk hidup di sekitarnya sebagai bagian dari tuntutan hidup untuk bertahan menghadapi keganasan alam. Namun, dibandingkan dengan tingkat kecepatan perkembangan teknologi yang dimulai dari fisika teori sejak era Newton, perkembangan pemahaman manusia akan dinamika dan mekanisme organisme sangat lambat. Bahkan sampai detik ini, pemahaman akan mekanisme organisme didasarkan pada kebiasaan, statistik maupun observasi langsung yang tentu saja bersifat subyektif. Ini bisa dilihat pada misalnya ilmu pengobatan, sehingga tidaklah mengherankan bila proses pengembangan suatu obat baru memerlukan waktu sangat lama dan percobaan dengan frekwensi dan sample dalam jumlah besar. Tidakkah ada cara lebih baik untuk mengatasi hal-hal semacam ini yang berujung pada produk akhir (misalnya obat) yang berharga mahal ?
Untuk itulah bioscience memasuki era baru di abad ini, yaitu dengan berusaha memahami mekanisme organisme hidup pada level yang lebih elementer seperti DNA dan gen. Hal ini bukan suatu hal mudah, tetapi penuh tantangan dan menjadi trend-setter dunia sains. Bahkan dewasa ini, melalui rekayasa biologi dan bioteknologi banyak dilakukan ujicoba pemakaian DNA untuk substitusi alat elektronik seperti transistor DNA dsb. Terobosan-terobosan semacam ini bahkan telah dirintis sebelum mekanisme DNA dalam organisme hidup dipahami sempurna. Inilah salah satu bentuk efek sampingan dari terobosan penelitian dasar.
Dipercaya bahwa memahami mekanisme organisme hidup akan jauh lebih mudah dengan mulai dari memahami elemen dasar pembentuknya seperti DNA diatas. Pola pikir semacam ini sebenarnya persis sama dengan apa yang dilakukan oleh para fisikawan teoritik pada awal perkembangan fisika partikel di awal abad 20. Dengan memahami partikel-partikel elementer pembentuk materi dan interaksi-interaksi yang bekerja diantaranya, manusia akhirnya mampu menjelaskan aneka fenomena alam. Ini bisa dipahami dengan mudah karena jumlah partikel elementer sangat terbatas, hanya 16 buah yang telah dikenal, dibandingkan dengan misalnya jumlah unsur kimia yang lebih dari seratus. Karena pada prinsipnya seluruh materi makroskopis pasti terbentuk dari materi mikroskopis, maka teori pada level mikroskopis harus bisa dipakai untuk menjelaskan fenomena makroskopis. Sehingga tidaklah mengherankan bila seluruh teori sains berbasis teori interaksi di fisika partikel.
Memasuki abad bioteknologi ini kemudian banyak melahirkan pionir-pionir yang mengimplementasikan teori interaksi di fisika partikel untuk menggali pemahaman baru akan dinamika organisme hidup elementer semacam DNA. Usaha ini banyak dirintis oleh para fisikawan teori dengan modal pola pikir diatas. Diyakini dengan pemahaman akan mekanisme organisme elementer, kelak diharapkan fenomena makroskopis organisme hidup bisa dijelaskan dan diprediksi dengan akurat dan mudah.
Hal yang sama juga dilakukan oleh penulis dengan memakai pendekatan baru berbasis interaksi dan dinamika fluida (cairan) non-linier. Dinamika fluida non-linier merupakan salah satu dari masalah pelik dalam fisika yang belum terpecahkan hingga saat ini. Meski demikian teori dan pemahaman dinamika fluida secara umum sudah dikenal luas dan diaplikasikan di berbagai aspek kehidupan umat manusia. Mulai dari teknik konstruksi yang terkait dengan air (bendungan, dll) maupun teknik penanganan bahan khusus (minyak, gas, dll).
Namun berbeda dengan pendekatan fluida umumnya yang berbasis mekanika klasik di era Newton, grup penelitian penulis sejak awal tahun 2005 telah berhasil mengembangkan metoda baru penanganan dinamika fluida dengan metoda yang telah dikenal di fisika partikel. Meski awalnya pengembangan ini dimotivasi oleh masalah terkait dengan kosmologi, pada perkembangannya salah satu anggota grup, A. Sulaiman, menemukan salah satu aplikasi sampingan di biofisika. Yaitu untuk menjelaskan perlambatan gerak DNA dalam suatu medium. Dengan memodelkan DNA sebagai materi yang berada dalam suatu medium yang dimodelkan sebagai fluida, diperoleh penjelasan teoritik penurunan besaran amplitudo dinamika DNA yang berperilaku sebagai gelombang soliton.
Hasil ini merupakan satu contoh kecil kemungkinan konvergensi antara fisika teori dan bioscience pada level kuantum (fisika) dan organisme elementer (ilmu hayati). Ini bahkan berpotensi kemungkinan integrasi antara keduanya. Selama ini, meski kedua kajian ilmu ini merupakan pilar utama sains modern, pada prakteknya keduanya tidak bersinggungan dan bahkan terkesan berjalan sesuai dengan kaidahnya sendiri-sendiri. Namun dengan kecenderungan mutakhir, niscaya era 'ketidaksahabatan' ini akan segera berakhir demi kemajuan peradaban umat manusia di era 'biokuantum'. Semoga !
Published in
Koran Tempo (17 November 2005, Tjandra)
"Sebanyak 16 peneliti muda bertemu dengan peraih Nobel. Ajang penularan ide, inovasi, dan gaya kreasi."
Merayakan Tahun Ilmu Pengetahuan Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menggelar Pertemuan Peneliti Indonesia Abad Ke-21 dengan tema "Menyongsong Indonesia yang Cerdas dan Cemerlang" pada 18-19 November 2005 di Jakarta. Ketua panitia, Masbah Rotuanta Tagore Siregar, menyatakan bahwa lembaga itu telah mengundang peraih Hadiah Nobel Bidang Fisika pada 1996, Douglas Dean Osheroff, untuk memberikan ceramah.
Wakil Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lukman Hakim menyatakan, usaha untuk mendatangkan peraih Nobel berkebangsaan Amerika itu tidak mudah karena adanya peledakan bom yang beberapa kali terjadi di Indonesia. Namun, setelah mempertimbangkan potensi mengembangkan ilmu pengetahuan di Indonesia, Osheroff akhirnya bersedia datang.
"Ini kehormatan bagi Indonesia," kata Lukman. "Diharapkan para periset nasional, terutama di bidang energi, akan sangat tertarik dengan penjelasannya: mencairkan gas alam dengan teknologi kriogenik."
Selain mengundang Osheroff, LIPI mengumpulkan 16 peneliti ilmu pengetahuan dan teknologi dalam negeri sebagai pembicara. Semuanya muda usia dan prestasi mereka diakui di tingkat internasional.
Beberapa di antara peneliti itu adalah peserta delegasi Indonesia dalam Nobel Laureate's Meeting ke-55 di Lindau, Jerman. Masbah berharap, para peneliti muda yang cemerlang ini dapat bertukar ide, pengalaman, dan pengetahuan serta mengembangkan dunia ilmu pengetahuan di Indonesia dan dunia.
"Susah juga memilih karena ilmuwan muda Indonesia jumlahnya banyak, tapi yang dapat award tak banyak. Itu yang kami pilih," kata Masbah.
Profil 16 ilmuwan muda Indonesia
Doktor fisika lulusan Universitas Hiroshima, Jepang, ini meraih Habibie Award 2004 untuk penelitiannya di bidang fisika partikel. Riset pria kelahiran Lawang, Malang Jawa Timur, 7 Mei 1968, ini difokuskan pada subbidang flavor physics menyangkut beragam jenis quark - partikel pembentuk materi paling elementer saat ini.
Sebulan sebelum memenangi Habibie Award, ia memenangi penghargaan sebagai juara terbaik dalam research and development APICTA Indonesia.
Published in
Koran Tempo (30 September 2005, Yandhrie Arvian)
Ide ini bermula dari kondisi pasar yang sedikit kumuh, yang letaknya tak jauh dari Kebun Raya Cibodas, Bogor. Sampah-sampah tampak berserakan oleh pengunjung yang membludak, apalagi jika musim libur tiba. Melihat hal itu, Albert Halim, 16 tahun terus berpikir keras bagaimana mengatasi sampah di tengah indahnya Kebun raya Cibodas.
Di tengah dingin yang mengurung, Albert semakin tergerak setelah tahu bahwa Kebun raya Ciboadas - seluas 135 hektar - juga banyak menghasilkan sampah organik. "Dalam satu hari sampah dedaunan kering bisa menggunung hingga satu truk", kata pelajar kelas II SMAK Petra 2 Surabaya itu. Kondisi inilah yang membuat Albert mencri ide untuk membuat alat yang tak hanya dapat mengatasi unggunan sampah itu, tapi sekaligus mengatasi dinginnya Cibodas, yang bisa mencapai 18 derajat Celcius.
Tiba-tiba sebuah ide melintas. Ia bersama tujuh rekan lainnya - dari sekolah yang berbeda - terinspirasi membuat sebuah pemanas air dengan memanfaatkan bantuan sinar matahari. Tapi ini bukan pemanas biasa. Selain hemat listrik, alat pemanas itu sengaja didesain agar dapat mempercepat proses pembuatan pupuk kompos, khususnya di daerah dingin. "Kedua fungsi itu dimungkinkan karena adanya perpindahan kalor yang berasal dari pemanas air dan yang dihasilkan oleh bakteri pengurai kompos", ucapnya.
Saat melakukan penelitian, Albert bersama timnya memanfaatkan seng sebagai konduktor. Seng ini digunakan untuk membuat tabung pemanas air setinggi 60 cm. Pemanas air itu, menurut Albert, diletakkan diantara sampah organik yang berada di dalam sebuah kotak. Kotak tersebut digunakan sebagai tempat pembuatan kompos. Adapun kotak berukuran 54 x 54 x 25 cm. "Kerangka gabus dibungkus dengan plastik hitam penuh", kata Albert. Warna hitam sengaja dipilih agar panas dari sinar matahari terserap.
Adapun sampah organik yang dicampur dengan tanah humus sebagai bahan dasar pembuatan kompos. "Perbandingan kompos dengan humus empat banding satu", katanya. Penambahan humus itu, ujar Albert, agar mikroba pengurai yang berada di dalam sampah memiliki makanan yang cukup dan optimal. Hal ini dapat mempercepat proses pembuatan kompos.
Setelah melakukan penelitian selama tiga hari, pembuatan kompos terbukti dapat dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalor dalam pemanas air. "Prinsip kerja alat ini juga terbukti paling dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalor dalam pemanas air. "Prinsip kerja alat ini juga terbukti saling memberikan kalor, yang akhirnya dapat mempercepat proses pengomposan sekaligus pemanasan air", katanya.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa proses pembuatan pupuk kompos mencapai suhu optimal pada 30-40 derajat Celcius. Panas ini, menurut Albert, cocok bagi mikroba saat bekerja. Sebab, suhu yang terlalu panas akan membuat mikroba mati. Tapi, jika suhu terlalu dingin, mikroba justru tak bisa bekerja optimal.
Ternyata alat ini yang bekerja berdasarkan perpindahan kalor bolak-balik itu mengantarkan Albert bersama timnya menjadi yang terbaik di bidang teknologi pada Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional IV. Perkemahan ini berlangsung pada 18-24 September 2005 di Kebun Raya Cibodas. Ini adalah ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Perkemahan kali ini diikuti oleh 115 peserta dari SMP dan SMA yang berasal dari 22 propinsi.
Albert tak menduga jika ia bersama kelompoknya bakal menjadi yang terbaik. "Saya sempat kaget juga", kata juara pertama Science is Fun yang diadakan Kedutaan Besar Australia Februari lalu. Secara individu, Albert juga berhasil meraih predikat terbaik II dari semua peserta. Prestasi itu membuatnya berhak mewakili kelompoknya untuk memasukkan makalah penelitian tersebut pada Lomba Karya Ilmiah remaja (LKIR) 2005 pada October.
Albert sudah membuat skema rancangan untuk mengaplikasikan prototipe pemanas dengan pompa air, pipa dan keran air. Kini dia tengah mencari tempat di Jawa Timur yang kira-kira memiliki ketinggian dan suhu yang sama seperti di Cibodas untuk menguji coba alat tersebut. Semua itu bagian dari persiapnnya menghadapi LKIR 2005.
Pemanas dua fungsi sangat feasible
Bagi Laksana Tri Handoko dari Pusat Penelitian Fisika LIPI Serpong, Tangerang, ide pembuatan alat yang dikembangkan Albert Halim bersama kelompoknya sangatlah menarik. "Ide itu cukup orisinal", kata Handoko, instruktur sekaligus juri di Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional IV. Pasalnya, kata dia, alat tersebut tak hanya dapat digunakan untuk mempercepat pembuatan kompos, tapi juga memiliki fungsi lain sebagai pemanas air. Uniknya, Handoko menambahkan, ide itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tapi tak semua orang dapat memikirkannya.
Keunggulan itu juga diperlihatkan pada saat proses pelaksanaan. Padahal, selama perkemahan ilmiah berlangsung, peralatan yang dipakai setiap peserta sengaja dibatasi. "Ini menuntut peserta lebih kreatif dalam melakukan terobosan dari apa yang ada di sekitar", katanya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa keunggulan alat ini belum bisa dinilai atau dibandingkan dengan pembuatan kompos lainnya. Hal ini karena keterbatasan waktu penelitian, yang hanya berlangsung tiga hari. Namun Handoko menilai, ide pembuatan pemanas dua fungsi ini sangat feasible dan mudah diaplikasikan. "Fungsi pembuatan kompos dan pemanas air itu saling melengkapi, bisa mempercepat proses, dan menjaga suhu agar tetap hangat", katanya.
Cara kerja alat
Pemanas ini tak berdiri sendiri. Albert Halim pun sudah membuat skema untuk mengaplikasikan prototipe pemanas dengan pompa air, pipa dan keran air. Sayangnya, karena keterbatasan waktu penelitian, Albert belum sempat menguji skema rancangannya saat perkemahan ilmiah berlangsung di Cibodas pekan lalu. Tapi rancangan ini terus dia teliti sebagai persiapan untuk mengikuti Lomba Karya Ilmiah Remaja pada October mendatang.
Cara kerja pemanas
Published in
Metro TV (25 September 2005, 15:00-15:30 WIT)
Host : Berlina
Published in
Indopos (7-8 September 2005, xxxxxx)
xxxxx
Published in
News Letter no. 50 (1 September 2005)
Published in
Bisnis Indonesia (22 Agustus 2005)
Penghargan Sarwowo Prawirohardjo ini diberikan kepada lima ilmuwan karena jasa dan pengabdianya serta mempunyai reputasi baik nasional maupun internasional dalam ilmu pengetahuan. Tiga orang peneliti penerima penghargaan International Basic Science Program UNESCO pada April di Bangkok. Mereka adalah Hery Haerudin (Pusat Penelitian Kimia LIPI), Julisasi Tri Hadiah (Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI), Sri Sulandari (Pusat Penelitian Biologi LIPI). Ketiga peneliti dari Indonesia itu berhasil menyisihkan 252 usulan penelitian dari seluruh dunia. Ketiganya termasuk dalam lima usulan penelitian yang direkomendasikan dari Asia. Sedangkan dua peneliti LIPI lainnya yang akan mendapat penghargaan tersebut adalah Anto Tri Sugiarto dari Puslit Kimia dan L.T Handoko dari Puslit Fisika. Selain itu, tahun ini LIPI juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan pertemuan Nobel Lauratus Lindau pada Juni-juli. Tiga peneliti LIPI hadir pada acara the Nobel Prize Meeting in Lindau Jermany. Mereka adalah Arief Budi Witarto dari Puslit Bioteknologi bidang Obat-obatan; Anto Tri Sugiarto (Puslit bidang kimia) dan Nurul Taufikurochman (Puslit Bidang Fisika). Arief dan Nurul juga mendapat penghargaan dari PII.
Published in Media Indonesia (20 Agustus 2005) LIMA dari tujuh peneliti di Asia Pasifik, yang mendapat penghargaan International Basic Sciences Programme (IBSP) UNESCO, berasal dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namun, LIPI menyatakan Indonesia belum kondusif bagi para peneliti untuk mengembangkan ilmunya. "Lima peneliti yang mendapat penghargaan internasional itu dari LIPI itu karena usulan penelitiannya menjadi proyek Scientific Board dari IBSP UNESCO," Prof Dr Umar Anggoro Jenie, Kepala LIPI pada jumpa pers menjelang perayaan hari ulang tahun ke-38 LIPI di Jakarta, kemarin. Kelima peneliti itu terdiri Dr Hery Haerudin dari Pusat Penelitian Kimia LIPI, yang menjadikan penelitian berjudul Study of Surfactact as Templating Agent for the Synthesis on Nano Structured Pillared Montmorillonite. Dr Julisasi Tri hadiah dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya dengan judul penelitian Diversity and Phylogeny of Elatostema (Urticaceae) in Thailand and Peninsula Malaysia. Dr Sri Sulandari dari Pusat Penelitian Biologi LIPI dengan judul penelitian Improvement of Capacity Building on Genetic Resources Management Through Development of DNA Data Bank in Indonesia. Sementara itu, dua penelitian dari LIPI yang mendapatkan penghargaan yang sama adalah Dr Anto Sigiarto dari Pusat Penelitian KIM dan Dr LT Handoko dari Pusat Penelitian Fisika.(Drd/H-3).
Published in Kompas (4 July 2005, L.T. Handoko)
Pertunjukan kolosal yang tertata apik, profesional, dan sangat inspiratif tidak hanya bagi pencinta seni tetapi juga bagi penulis yang sehari-hari hanya mengenal "bahasa cacing" (matematika) dan sama sekali awam dengan bahasa seni. Bagaimana memaknai nama Megalitikum Kuantum? Ini pertanyaan pertama saya sejak memutuskan hadir dalam konser perayaan 40 tahun Harian Kompas itu. Ternyata, menurut penjelasan salah satu tim pengarah konser, nama ini merefleksikan perjalanan seni musik Nusantara dari zaman batu (megalitikum) ke zaman mendatang sebagai era kuantum. Entah disadari entah tidak, ini sungguh suatu penamaan yang tepat mengingat tahun ini adalah warsa Relativitas Einstein, bapak fisika dunia, dan kuantum adalah pilar utama fisika modern dewasa ini. Einstein sebenarnya adalah penentang utama teori kuantum sampai akhir hayatnya. Padahal, Einstein justru mendapatkan Nobel Fisika atas prediksi teoretiknya untuk efek fotolistrik (bukan teori relativitas) yang menjadi inspirator utama bagi Heisenberg untuk mengembangkan mekanika kuantum pada tahun 1920-an. Berbeda dengan mekanika Newton (klasik) di mana setiap gerak materi dinyatakan dalam fungsi posisi dan waktu, pada mekanika kuantum gerak materi dinyatakan dalam probabilitas keadaannya. Ini konsekuensi alami karena mekanika kuantum ditujukan untuk menggambarkan dinamika partikel yang berukuran kecil seperti elektron. Karena ukuran tak kasat mata, tidak dimungkinkan mengukur posisi maupun waktu. Untuk itulah diperkenalkan postulat prinsip ketidakpastian yang menunjukkan ketidakmampuan pengukuran atas posisi dan waktu secara akurat bagi partikel. Perkembangan teori kuantum terus berlanjut sampai era Schrodinger yang berhasil membangun persamaan gerak untuk dinamika kuantum, serta Klein Gordon dan Dirac yang kemudian memformulasi persamaan gerak kuantum relativistik. Persamaan ini merupakan cikal-bakal teori medan serta membidani lahirnya teori unifikasi interaksi alam (interaksi elektromagnetik, lemah dan kuat) yang dikenal sebagai model standar partikel elementer dewasa. Bagaimana teori ini terkait dengan era mendatang, padahal teori sudah dibangun lebih dari tiga perempat abad silam? Inilah perbedaan mendasar ilmu dasar dengan sains aplikatif yang segera bisa dilihat aplikasinya namun lifetime-nya pendek seperti teknologi informasi. Itu pula yang sering menggiring publik mengacuhkan ilmu dasar. Padahal, seperti elektron yang menjadi dasar seluruh peradaban manusia yang berbasis teknologi (elektronika), ilmu itu dikembangkan Maxwell pada abad ke-19. Tanpa mengetahui partikel elementer bermuatan-yang kemudian dinamakan elektron-sebagai pembawa muatan listrik bila ada beda potensial, tidak akan pernah ada elektronika serta logika dua bit dan seluruh turunan produknya. Dengan mengetahui sifat tersebut, manusia bisa mengembangkan aneka peranti untuk pertukaran informasi dengan basis dua bit ketika informasi dikonversi dalam kombinasi angka 0 dan 1. Mikro ke nano Dengan adanya tuntutan untuk memperkecil peranti, tidak hanya sebatas ukuran mikro (mikro-elektronik), saat ini dikembangkan peranti nano. Sayangnya, dengan sifat kuantum elektron tidak dimungkinkan membuat peranti nano karena akan terjadi interferensi antar gelombang elektron yang ada. Inilah yang memotivasi para peneliti melirik partikel elementer lain yang disebut foton. Meski sudah dikenal sejak era Planck dan Einstein di awal abad ke-20, penjelasan konsisten mengenai keberadaan foton ini merupakan pencapaian awal yang membuktikan kebenaran teori medan pada era 1960-an. Sifat gelombang yang mengakibatkan interferensi pada elektron terjadi karena elektron adalah partikel bermassa. Sebaliknya, foton tidak bermassa sehingga sifat gelombangnya bisa diabaikan dan tidak memungkinkan terjadinya interferensi dalam suatu peranti. Namun, masalah berikutnya adalah foton tidak bermuatan sehingga tidak bisa dilakukan proses perpindahan dengan memberikan beda muatan seperti pada elektron. Karena itulah pada barang elektronika selalu ada dua kutub, positif dan negatif, untuk memberikan beda muatan. Sebaliknya pada peranti fotonik, seperti peranti komunikasi dengan serat optik, tidak dikenal dua kutub dengan beda muatan. Sebagai gantinya, dipakai sumber foton buatan dengan energi tinggi, yaitu laser. Meski peranti semacam ini sudah memakai foton, algoritma transfer informasi masih berbasis dua bit. Itu sebabnya pada serat optik diperlukan minimal satu pasang serat yang dipakai untuk mengirim dan menerima pulsa foton pada kedua sisinya. Tentu saja untuk peranti nano tidak dimungkinkan memakai laser konvensional seperti yang dikenal karena ukurannya terlalu besar. Lebih jauh, diperlukan pengembangan algoritma baru untuk peranti nano, tidak bisa sekadar sistem dua bit yang linier, namun sudah memasuki wilayah nonlinier karena adanya fenomena soliton. Dengan keberhasilan teknologi berbasis foton ini diharapkan loncatan teknologi tidak hanya untuk nanoteknologi, tapi juga teknologi komunikasi konvensional berbasis foton yang jauh lebih efisien. Sebenarnya teknologi berbasis efek kuantum semacam inilah yang menjadi cikal-bakal nanoteknologi. Jadi bukan sekadar efek mekanis dari miniaturisasi ukuran materi sampai level nano. Karena istilah nano sudah jadi jargon populer, ada kecenderungan perluasan pemakaian istilah yang sama untuk aneka hal. Sama seperti aneka kontes yang marak di televisi akhir-akhir ini. Dengan segala kelebihan itu, teknologi fotonik merupakan kunci teknologi masa depan. Mulai dari aspek aplikatif seperti material fotonik dan peranti fotonik, sampai aspek teoretik seperti non-linier optik dan informasi kuantum untuk mencari algoritma baru yang lebih sesuai dengan sifat foton. Dengan sendirinya pemahaman dasar mekanika kuantum menjadi mutlak. Karena itu tidaklah mengherankan bila di luar negeri kuliah mekanika kuantum diwajibkan bagi mahasiswa teknik (khususnya elektro dan material) meski hanya satu semester. Ini sangat kontras dibandingkan dengan Indonesia, yang bahkan ada kecenderungan mengurangi mata kuliah wajib mekanika kuantum untuk mahasiswa fisika! Padahal, mata kuliah mekanika kuantum (dan fisika matematika) inilah yang membedakan lulusan fisika dan teknik kelak. Sebaliknya, di Indonesia pun sudah semestinya mulai diperkenalkan mata kuliah wajib mekanika kuantum untuk mahasiswa teknik meski hanya satu semester demi menyongsong era kuantum yang semakin dekat. Tentu saja hal di atas tidak berarti kelak jurusan elektro akan dilikuidasi dan berganti menjadi "jurusan foto". Karena bagaimanapun, barang elektronik akan tetap diperlukan dan sebaliknya tidak semua akan berganti menjadi fotonik. Sama halnya dengan teori mekanika klasik Newton yang terus dipakai untuk konstruksi sipil meski sudah ada mekanika kuantum. Justru kombinasi keduanyalah yang akan memberikan warna baru pada peradaban manusia mendatang. Hal ini persis dianalogikan pada pertunjukan Megalitikum Kuantum yang meramu dengan apik musik era Megalitikum yang diwakili antara lain oleh musik Nias yang impresif, dengan era Kuantum yang direpresentasikan oleh Agnes Monica dengan performanya yang dinamis dan energik dan tidak mungkin bisa ditiru oleh para fisikawan, kecuali bila ingin patah tulang. Tampak sekali para seniman kita sudah lama lepas landas dari era megalitikum dan telah jauh memasuki era kuantum, bahkan sudah mampu meramunya dengan sangat cerdas. Demikian pula dengan Kompas yang sudah berani memproklamasikan diri telah memasuki era kuantum di usianya yang ke-40. Nah, bagaimana dengan para ilmuwan dan teknokrat kita? Akankah kita segera memasuki era kuantum ataukah masih terlena dan memilih bernostalgia dengan kekayaan alam Indonesia yang berlimpah di era megalitikum?
Published in Kompas (1 June 2005, Salomo Simanungkalit)
DUA hal dari kegiatan penting ini menyangkut satu nama: almarhum Hans Jacobus Wospakrik. Yang pertama adalah anugerah Fisikawan Terbaik. Yang kedua, peluncuran buku ilmiah populer, Dari Atomos Hingga Quark, yang menandai kelahiran Penerbit Unika Atma Jaya. Opus posthumous Hans ini diterbitkan bersama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Dewan Penimbang, yang antara lain, terdiri dari Dr Jorga Ibrahim (Departemen Astronomi ITB), Dr Terry Mart (Jurusan Fisika, Fakultas MIPA UI), dan Dr LT Handoko (LIPI) dalam keputusannya menyebut Hans yang semasa hidupnya mengajar di Departemen Fisika ITB dianugerahi sebagai Fisikawan Terbaik "atas pengabdian, konsistensi, dan dedikasinya yang tinggi dalam penelitian di bidang fisika teori yang memberi sumbangan berarti kepada komunitas fisika dunia berupa metode-metode matematika untuk memahami fenomena fisika dalam partikel elementer dan Relativitas Umum Einstein melalui publikasinya di jurnal-jurnal internasional terkemuka, seperti Physical Review D, Journal of Mathematical Physics, Modern Physics Letters A, dan International Journal of Modern Physics A". Tentu saja komunitas fisika mengerti bahwa Physical Review D dan Journal of Mathematical Physics adalah media terkemuka tempat sebagian riset fisikawan pemenang Nobel dipublikasikan. Yang menarik, yang justru mengapresiasi karya-karya penelitian berskala internasional dari seorang Hans (1951-2005) adalah sebuah perguruan tinggi di mana Hans tidak pernah terlibat dalam kegiatan penelitian maupun mengajar, bukan pemerintah atau Departemen Pendidikan Nasional yang struktural langsung membawahkan ITB tempat Hans sebagai pengajar dan peneliti. Dengan tujuh hasil penelitian yang menembus jurnal internasional terkemuka, tiga hasil penelitian diterbitkan jurnal online yang bersifat internasional, tak terhitung penelitiannya yang diterbitkan jurnal dan prosiding dalam negeri, serta menghabiskan waktu sebagai pegawai negeri mengajar dan membimbing mahasiswa di ITB, Dr Hans J Wospakrik yang meninggal pada 11 Januari 2005 dihargai pemerintah hanya sampai golongan IV-A, lektor kepala! Barangkali ada yang salah dengan sistem merit versi pemerintah. Dr Jorga Ibrahim ketika memberikan alasan betapa Hans layak mendapat anugerah ini, mengutip fisikawan teori Prof Dr Ryu Sasaki dari Institut Fisika Teori Yukawa di Kyoto, Jepang, bahwa bila menggunakan syarat-syarat di Jepang, Hans adalah satu dari sedikit ilmuwan di Indonesia yang berhak mendapat gelar profesor. Komentar Sasaki ini, menurut Jorga, disampaikan ketika berkunjung di ITB 17 tahun lalu. Setelah mengetahui publikasi Hans yang menembus Physical Review D-padahal waktu itu Hans masih dengan gelar sarjana, belum PhD-Sasaki geleng-geleng kepala mengetahui Hans hanya dihargai pemerintah dengan golongan pangkat yang tidak memadai. Pihak Atma Jaya sendiri, menurut salah seorang pengurus yayasannya, tertarik memberi penghargaan setelah membaca berita meninggal Hans di koran. Di sana disebutkan reputasi fisikawan yang putra Papua ini berkali-kali berhasil menembus jurnal fisika internasional terkemuka. Untuk memperkuat laporan surat kabar itu, pihak Atma Jaya mengundang beberapa fisikawan sebagai Dewan Penimbang. Dengan penghargaan Fisikawan Terbaik ini, Atma Jaya memotivasi dosen-dosennya supaya giat dalam penelitian hingga hasil riset mereka dapat diterbitkan jurnal bidang masing- masing yang reputasinya mendunia, internasional. Momentumnya, ya, lustrum kesembilan inilah. FISIKAWAN Terbaik. Saya pikir predikat ini tidak melulu untuk prestasi Hans sebagai akademikus, tapi juga sebagai seorang manusia dalam interaksinya dengan sesama. Inilah yang ingin saya bagi kali ini. Tentang keilmuwanan seorang Hans, saya tidak akan mengulangi apa yang terungkap secara panjang lebar dalam Pengantar Editor bukunya, Dari Atomos Hingga Quark, yang diluncurkan hari ini juga. Santun, ramah, dan penolong. Saya pikir inilah kesan yang dibawa setiap orang yang pernah berjumpa dengan Hans. Sikap ini tidak hanya diperlihatkannya horisontal secara alami kepada rekan-rekannya sesama pengajar, tetapi juga vertikal secara alami kepada mahasiswa-mahasiswanya. Sebagian besar kawan-kawannya dan mahasiswanya yang saya jumpai mengatakan belum pernah melihat Hans marah. Paling-paling dia diam kalau ada yang tidak berkenan di hatinya. Diam itu pun biasanya segera cair. Dalam pengenalan saya sejak dua puluh tahun yang lalu, citra santun, ramah, dan penolong itulah yang terekam dan selalu terkenang. Itu barangkali sebabnya, ketika menulis profilnya di harian ini dua tahun lalu, kesan itu terbawa-bawa. Sebagai wartawan, tentu ada perasaan bersalah kalau kami hanya memperlihatkan kebaikan-kebaikan seseorang dalam suatu penulisan profil. Seolah-olah setiap orang adalah malaikat. Ada nasihat baik tentang penulisan profil yang pernah saya dengar dari seorang wartawan senior. Katanya, "Kalau seseorang itu Anda anggap layak jadi panutan, tulislah 80 persen mengenai kebaikan-kebaikannya, tapi sisakan 20 persen untuk memperlihatkan bahwa orang itu manusia juga, ada sisi-sisi buruknya." Maka, ketika Karlina Supelli mengirimkan SMS bahwa ia sangat terkesan dengan profil Hans yang terbit 5 September 2003 di harian ini, saya langsung menjawab, "Apakah saya tidak berlebihan?" Karlina menjawab, "Tidak, itu juga Hans yang saya kenal." Karlina adalah adik kelas Hans di ITB. Karlina di Departemen Astronomi, Hans di Departemen Fisika. Keduanya mendalami kosmologi. Keduanya menulis skripsi dengan pembimbing yang sama: Dr Jorga Ibrahim. Keduanya lulus cum laude. Hans pada tahun 1976, Karlina pada tahun 1981. Beberapa hari setelah jenazah Hans dimakamkan di Jayapura, saya berkunjung ke rumah keluarganya di Bandung. Istrinya, Regina Wospakrik-Sorentau, bercerita bahwa profil itu pun sempat menggelisahkan Hans. Ia membaca berulang-ulang. Kata Hans seperti dikutip istrinya, "Ma, apakah tulisan ini tidak akan mengganggu teman-teman? Saya dilukiskan seperti bintang." Istrinya menjawab, "Tidak. Saya kira Pak Salomo menulis apa adanya. Papa sendiri bagaimana melihatnya, apa ada yang salah ditulis di sana?" Respons Hans, "Tidak ada yang salah, tapi bisa disalahartikan." Dalam kunjungan di Bandung itu saya mendapat banyak cerita tentang Hans dan keluarga, Hans dan mahasiswa, yang dituturkan orang yang paling dekatnya dalam 24 tahun terakhir. Ketika studi di Universitas Durham, Inggris, untuk mendapatkan PhD (1999-2002), Hans membawa istri dan kedua anaknya. Beasiswa pas-pasan. Istri dan anak-anak harus bekerja. Sebagai seorang bidan, Regina mendaftar bekerja di rumah sakit. Willem dan Marianette, kedua anaknya yang waktu itu masih SMP dan SMA, kalau ada waktu luang mencari kerja sambilan. Lumayan juga penghasilan mereka. Bisa menabung. Uang tabungan itulah yang mereka gunakan merayakan kelulusan Hans sebagai PhD keliling Eropa daratan. Sekali peristiwa, Fitri Armalivia, mahasiswa bimbingannya, mendaftar untuk mengikuti kuliah triwulan pendek di Universitas Durham. Perguruan tinggi itu memang punya program beasiswa mengundang mahasiswa dari berbagai negeri selama beberapa minggu untuk berkunjung dan belajar. Armalivia butuh rekomendasi. Orang yang tepat memberikan itu tentulah Hans. Pendaftaran sudah dilakukan, tapi panggilan belum datang juga. Armalivia menduga Hans belum menulis rekomendasi. Waktu itu Hans disibukkan dengan memeriksa ujian. Suatu hari guru dan murid ini berpapasan. Armalivia seperti menghindar. Hans semula tidak mengerti, tapi akhirnya mafhum bahwa biang keladinya pastilah rekomendasi itu. Di rumah ia bercerita kepada istrinya, "Armalivia mungkin kecewa, tapi saya akan 'kerjain' dia seolah-olah saya tidak menulis rekomendasi." Keesokan harinya ia langsung menulis surat-e ke Durham. Namun, setelah itu Armalivia selalu duduk di belakang saban mengikuti kuliah-kuliahnya Hans. Untunglah, dalam tempo yang singkat sesudah Hans melayangkan rekomendasinya, Durham memberi tahu bahwa Armalivia diterima mengikuti program triwulan pendek itu. "Keusilan Pak Hans itu paling-paling segitu," kisah Regina. Hubungan murid dan guru itu pulih kembali. Dengan seorang dosen senior, Hans pernah konflik. Yang senior mendiamkannya setahun, entah karena apa. Tidak saling tegur sapa. Ketika ada tanda-tanda hubungan membaik, justru Hans yang balik mendiamkannya. "Setahun saya didiamkan, sekarang saya tambah setahun, saya yang mendiamkannya," kata Hans seperti dikisahkan Dr Freddy P Zen, rekannya di Kelompok Keahlian Fisika Teori. SEBAGAI pegawai negeri, Hans memperlihatkan hubungan berbanding langsung antara gaji dan kehidupan. Pada sebagian besar pegawai negeri, hubungan gaji dan kehidupan adalah berbanding terbalik sebab dengan gaji kecil (gaji pokok pegawai dengan golongan tertinggi IV-E tidak lebih dari Rp 4 juta), banyak pegawai negeri punya rumah lebih dari satu, mobil lebih dari satu, deposito dalam orde miliar rupiah. Hans selama hidupnya sebagai pegawai negeri tidak sempat memiliki rumah, tidak pernah memiliki mobil, bahkan sepeda motor. Setiap tahun ia harus memperbarui kontrak rumahnya, ke kampus naik angkot. Tak jarang ia pulang malam dari kampus jalan kaki setelah menempuh tujuh kilometer sebab angkot menuju rumahnya sudah tidak beroperasi lagi. Dalam hal ini, satu lagi predikat harus disematkan ke pundaknya: Pegawai Negeri Terbaik. Kebaikan-kebaikannya inilah yang menumbuhkan pilu ketika menyaksikan bagaimana rumah sakit memperlakukan seorang fisikawan Indonesia yang luar biasa ini di akhir hidupnya. Menurut penuturan istri dan keluarganya, karena kekurangan uang panjar, dua hari pertama Hans yang menderita leukemia itu tidak mendapatkan obat dari rumah sakit tempat ia terakhir dirawat. Begitu ada uang tambahan, barulah rumah sakit mulai memberikan obat. Beberapa jam setelah itu Hans mengembuskan napasnya yang terakhir. Di kamar jenazah, tubuh Hans harus menunggu suntik formalin karena keluarga harus pontang-panting mengumpulkan uang sebanyak Rp 1 juta. Kartu kredit tidak berlaku di ruang jenazah itu. Dokter menunggu uang terkumpul. Untung ada Karlina Supelli yang bertanya ke dokter, "Saya punya beberapa dollar dan rupiah yang kalau dikumpulkan sekitar Rp 1 juta. Apakah ini dapat diterima?" Sang dokter langsung memungut uang itu dan formalin seketika disuntikkan.
Published in Kompas (19 May 2005, Salomo Simanungkalit) SENIN, 2 Mei lalu, lebih dari 100 dosen, peneliti, dan mahasiswa yang menggumuli fisika teori dan kosmologi dari seluruh Indonesia mengikuti Lokakarya Fisika Teori 2005 di Kampus ITB. Topik-topik yang disajikan dalam lokakarya itu tergolong berada di garda terdepan fisika dan astronomi masa kini. Timbul pemikiran, setelah pemerintah memberi perhatian pada biologi molekuler dalam zaman Habibie sebagai Menristek, katakanlah dengan mendirikan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Jakarta, mengapa pemerintah SBY tidak mencoba mendukung bidang ini sebagai unggulan iptek Indonesia saat ini? DANA yang diperlukan tidak tergolong banyak. Untuk fisika teori dan kosmologi fundamental, misalnya, "modal" selanjutnya yang diperlukan adalah langganan jurnal, buku-buku terbaru, fasilitas internet, dan-tentu ini sangat perlu-gaji yang memadai. Sumber daya manusianya Indonesia sudah punya, menyebar di beberapa lembaga pendidikan dan penelitian. Untuk fisika teori fenomenologis, selain yang disebut tadi adalah dukungan pemerintah kepada para peneliti untuk bisa menumpang eksperimen di laboratorium-laboratorium negara maju. Bidang ini asalkan didukung secara finansial yang ordenya tergolong amat kecil dibandingkan dengan apa pun (apalagi korupsi para petinggi negara) sangat membuka peluang ilmuwan Indonesia mendapat Nobel dalam fisika. Paling tidak, memberi sumbangan berarti melalui jurnal-jurnal internasional terkemuka. Dari lokakarya ini terlihat, ternyata cukup banyak manusia Indonesia (113 orang dari berbagai angkatan) yang mau bekerja di "tempat yang sepi", menggeledah rahasia Alam dengan mengoptimalkan nalarnya menggunakan rute-rute yang telah dirintis pendahulu mereka di berbagai belahan dunia. Ketekunan mereka di sektor ini membuka peluang juga merintis rute-rute baru dalam "proyek" penggeledahan rahasia Semesta ini. Negara-negara yang sekarang didefinisikan sebagai negara maju-seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat, Kanada, dan Jepang- boleh dibilang bisa mencapai tingkat tersebut setelah mereka membangun fisika teori lebih dulu. Bahkan, negara yang belum sampai pada tahap maju, seperti Rusia atau Uni Soviet dulu, memberi perhatian yang luar biasa dalam bidang ini sampai ada di antara fisikawannya yang mendapat Nobel. Israel sebagai negara kecil jangan ditanya berapa fisikawan teori mereka yang menyebar di seluruh dunia. Raksasa China dan India dalam konteks jumlah penduduk, demikian pula Pakistan yang kurang lebih searas dengan Indonesia dalam perekonomian, lebih awal memberi perhatian dalam bidang ini. Binatang apakah fisika teori itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, dua nama tokoh dari golongan ilmuwan yang sudah kadung digolongkan sebagai selebritis mungkin akan membantu. Kedua ilmuwan selebritis itu adalah Albert Einstein dan Stephen Hawking. Tak ada yang tak mengenal kedua nama ini. Mereka sama-sama besar karena pemikiran dan pekerjaan mereka yang luar biasa dalam bidang yang sekarang disebut sebagai fisika teori dan kosmologi. Einstein, misalnya, melahirkan banyak gagasan, tapi mungkin yang paling banyak peranannya membuat dunia yang kita tinggali ini bisa berkomunikasi dengan internet melalui komputer adalah efek fotolistrik yang mendasari pendirian mekanika kuantum. Lapangan kerja bagi fisikawan teori maupun kosmologiwan adalah seluruh Alam Semesta, dari jagat amat renik sampai jagat amat raksasa. Nama lain untuk kedua kosmos ini adalah mikrokosmos dan makrokosmos atau fisika partikel elementer dan kosmologi. Jalur mereka untuk menggeledah rahasia mikrokosmos dan makrokosmos secara kasar dapat dibagi dua: fisika teori fundamental dan fisika teori fenomenologis. Keduanya sama-sama bermodalkan instrumen analitis yang disebut matematika. Tidak sembarang matematika, tapi matematika murni. Tidak jarang seorang fisikawan teori fundamental malah ikut mengembangkan matematika murni. Kalangan fisikawan teori fundamental lebih mengikuti jalur Maxwell dalam riset-riset mereka. Ada keyakinan kuat pada komunitas ini bahwa bila gagasan mereka membongkar rahasia Alam dapat dipertanggungjawabkan secara matematika, ada peluang besar bahwa kelak eksperimen akan membuktikannya. Kalangan fisikawan teori fenomenologi berpikir bukti eksperimental adalah hakim terakhir untuk suatu gagasan. Kedua kalangan sama- sama punya kebanggaan pada "hakimnya" masing-masing. Tak jarang mereka saling mencemooh, tapi tetap dalam batas- batas perkawanan. Pokoknya, belum tercatat mereka saling tonjok seperti yang terjadi di rapat paripurna DPR atau parlemen Taiwan, misalnya. Di luar fisika teori, banyak sekali cabang fisika. Fisika zat padat, fisika material, fisika bumi, fisika komputasi, fisika biologi, fisika kedokteran, sampai fisika keuangan, dan lain-lain. Sejak jurusan fisika di tingkat perguruan tinggi dimulai di Indonesia pada pertengahan tahun 1940-an, baru mulai awal tahun 1960-an ada orang Indonesia yang menggumuli fisika teori sampai di tingkat doktor. Nama-nama seperti Achmad Baiquni, kini almarhum, dan Mohammad Barmawi adalah angkatan pertama. Keduanya doktor lulusan Amerika Serikat. Setelah itu muncul nama Pantur Silaban dan Tjia May On yang mengajar di ITB, Darmadi di UI, dan H Muslim di Universitas Gadjah Mada. Di angkatan selanjutnya ada Armahedi Mahzar, Hans Jacobus Wospakrik, kini almarhum, dan Erwin Sucipto yang dalam lima tahun belakangan mengajar di beberapa universitas di Amerika Serikat. Angkatan berikutnya LT Handoko (LIPI), Terry Mart (UI), Freddy P Zen, Triyanta, Alexander Iskandar, Bobby E Gunara, dan Jusak Kosasih di ITB, Husin Alatas di IPB, dan Agus Purwanto di ITS. Selain mereka, masih puluhan mahasiswa dari tingkat S3 sampai S1 yang memilih bidang ini menyebar di belasan perguruan tinggi di Indonesia. Sampai angkatan Hans Wospakrik, fisikawan teori Indonesia lebih banyak bekerja sendiri. Ini dapat dipahami sebab anggota komunitas ini amat sedikit. Baru pada angkatan Handoko, Terry Mart, dan Freddy Zen kegiatan merangkul sesama fisikawan teori ke dalam sebuah komunitas mulai digarap. Salah satu bentuk usaha merangkul itu adalah kegiatan bernama Lokakarya Fisika Teori (LFT) yang dimulai kali pertama pada tahun 2004. Diselenggarakan di UI pada 19 Mei 2004, LFT merupakan embrio dan satu-satunya pertemuan ilmiah tahunan khusus untuk fisika teori di Indonesia maupun ASEAN. Pertemuan ini dikelola oleh konsorsium fisikawan teori Indonesia yang tergabung dalam Grup Fisikawan Teoretik Indonesia (GFTI) dan merupakan perwakilan seluruh institusi yang memiliki kegiatan ilmiah di bidang terkait. Berbeda dengan pertemuan ilmiah pada umumnya, menurut LT Handoko, LFT tidak dikelola dan dimiliki oleh lembaga tertentu, melainkan oleh konsorsium yang saat ini mewakili ITB, UI, LIPI, Batan, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Udayana, Universitas Syiah Kuala, IPB, Universitas Gadjah Mada, dan ITS. Karena itu, tempat penyelenggaraannya akan bergilir di kalangan anggota konsorsium dengan panitia lokal personel di institusi penyelenggara. LFT kedua berlangsung 2 Mei lalu di ITB. Diikuti 113 peserta, LFT dengan tema Frontiers in Theoretical Physics, Astrophysics and Cosmology ini terbagi atas dua sesi paripurna dan dua sesi paralel. Sesi paripurna pertama diisi dengan ceramah fisikawan teori senior Prof H Muslim: Einstein's 1905 Legacy in Special relativity and Quantum Physics, Its Contextual Development as Modern Physics Paradigms. Selain sebagai lokakarya, LFT kedua memang diadakan dalam rangkaian perayaan 100 Tahun Relativitas Khusus Einstein dan Tahun Fisika seperti yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sesi paripurna kedua diisi dengan ceramah fisikawan teori senior Prof Pantur Silaban, Symmetry of Elementary Interactions. Sebanyak 28 pembicara ditampilkan dalam dua sesi paralel, yang masing-masing terdiri dari empat kelas. Sesi paralel ini memperlihatkan betapa fisikawan teori Indonesia mengikuti semua perkembangan terbaru fisika. Di kawasan partikel elementer, misalnya, dua jalur besar diisi masing-masing oleh kaum fundamentalis yang dimotori Freddy P Zen dan Bobby Gunara dan kaum fenomenologis yang dimotori LT Handoko dan Terry Mart. Kaum fundamentalis partikel ini masih dapat digolongkan ke dalam tiga mazhab - point particle, string particle, dan skyrmion particle - dengan riset-riset mereka yang terutama menawarkan metode-metode matematika untuk memahami fenomena fisika dalam partikel elementer. Kaum fenomenologis partikel mengemukakan sejauh mana hasil-hasil eksperimen mereka mengonfirmasikan teori-teori yang berkembang pesat di pelataran partikel elementer ini. Di kawasan kosmologi aspek paradigma lebih menonjol seperti Constrains on Dark Energy from Weak Leasing dari Premana W Premadi (Astronomi ITB) dan The General Theory of Relativity under the Fock- Schwinger Gauge Condition dari Triyanta (Fisika ITB). Ihwal eksistensi pentaquark, partikel yang terdiri dari lima quark-biasanya partikel seperti nukleon dan lain-lain terdiri dari tiga quark-banyak menarik perhatian dalam LFT kali ini. Terry Mart yang bersama komunitas fisikawan dunia terlibat dalam eksperimen pencarian pentaquark ini mengisahkan bahwa sampai awal tahun 2005 ini jumlah eksperimen yang menjanjikan adanya pentaquark dan yang mengatakan bahwa tidak ada pentaquark sampai saat ini seimbang: sama-sama 10 eksperimen. Dalam LFT ini Terry menceritakan bagaimana pentaquark ditemukan. Tampaknya ada kaitan dengan energi yang dibutuhkan dalam proses pencarian itu. LFT tahun 2006 direncanakan diadakan di Yogyakarta. Penentuan tempat ini melalui musyawarah. Semangatnya adalah biaya yang dikeluarkan peserta untuk mengikuti LFT sekecil-kecilnya. Untuk tahun ini, misalnya, biaya pendaftaran Rp 25.000 buat mahasiswa, termasuk makan, dan Rp 50.000 buat nonmahasiswa, termasuk makan. LFT tampaknya diproyeksikan dapat diikuti peserta dari luar Indonesia. Maka sejak dini nama lokakarya ini sudah dibuat menginternasional: Workshop on Theoretical Physics. Menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, judul-judul presentasi hampir semua dalam bahasa Inggris. Penyelenggaraannya 2 Mei lalu diberi nama WTP 2K5 dan oleh Boby Gunara sudah didaftarkan sebagai kegiatan ilmiah ke laboratorium fisika terkenal di Stanford, AS: SLAC, Stanford Linear Accelerator Center. "WTP 2K5 sudah kami masukkan ke dalam pangkalan data Konferensi SLAC," tulis Georgia Row pada 3 Februari lalu. Sistem penyelenggaraan lokakarya dengan konsorsium ini, menurut LT Handoko, diharapkan bisa menghilangkan sekat dan ego lembaga serta melanggengkan pelaksanaan LFT. Organisasi GFTI dan konsorsium ini pun bersifat cair, tidak mengenal kepengurusan. Semua anggota adalah sama dan virtual. "Dengan sistem manajemen modern dan terbuka serta berbasis profesionalisme semata, relatif kelanggengan bisa terjaga dan tidak ada beban kerja berlebihan pada sebagian anggota," kata LT Handoko. "Sistem organisasi dan pertemuan ilmiah semacam ini juga sudah diadopsi oleh organisasi profesi ilmiah lain, seperti Masyarakat Komputasi Indonesia dan Masyarakat Nano Indonesia." Freddy P Zen selaku chairman lokakarya ini mengatakan bahwa lokakarya ini mengumpulkan fisikawan teori dari angkatan yang pernah ada. "Jadi, angkatan Pak Silaban dan Pak Muslim mengantar kami yang muda-muda ini memulai pertemuan ilmiah yang profesional," katanya. Melihat suasana pertemuan yang produktif dan topik-topik yang sedang dikerjakan para fisikawan teori ini yang semuanya di deretan frontier, tidak keliru tampaknya disarankan kepada pemerintah supaya memberi perhatian pada bidang yang memprasyaratkan daya nalar, power of reason ini.
Published in
komput@si (17 January 2005)
Pada era tahun 80 sampai dengan pertengahan 90-an, komputasi tingkat lanjut sangat tergantung pada fasilitas komputer super (supercomputer). Komputer super ini didesain untuk melakukan proses penghitungan dengan performa tinggi, baik kecepatan | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||